“Minum dulu, kopimu ... heh ... maaf, kita harus barengan lagi dalam satu cangkir.” Kata Surya yang tampaknya sudah selesai menyeduh kopi dan menghangatkan kaleng makanan.
“Oh, iya ... terimakasih. Nggak masalah, aku menikmatinya, kok. Bahkan kalau memang hanya kau beri sisa minumanmu juga, pasti akan aku minum ...” jawab gadis itu sambil tersenyum penuh syukur.
Mendengar jawaban demikian, sontak seluruh simpati Surya segera tergugah untuk ditumpahkan pada si gadis. Kini, ia benar-benar merasa harus bertanggungjawab pada sosok belia cantik yang menurut pengakuannya telah sebatangkara.
“Hmmm ... ladies first. Ayo, kau minum dulu selagi masih hangat. Lalu, kita ganjal perut dengan sekaleng makanan istimewa seperti kemarin.”
“Hu-um. Terimakasih, seolah aku menjadi tambahan bebanmu saja. Bukankah makanan tersebut menjadi bekal untukmu bertahan selama beberapa hari? Jika aku ikut memakannya, apakah nantinya tidak akan cepat habis?” tanya Meilyana dengan lugu.
“Ha-ha ... itu tidak betul. Mungkin kalau di sebuah lautan dan tengah terobang-ambil dalam perahu, iya! Tapi, kita ada di kota. Di luar sana, banyak makanan yang bisa kita beli dengan uang ...,“ dengan geli, laki-laki itu mentertawakan kepolosan sang gadis.
“Oh, iya ... aku lupa. Tapi, apakah engkau membawa uang untuk membelinya?” dengan tersenyum lucu, si gadis balas bertanya sambil mulai menguapkan makanan dalam mulut mungilnya.
“Cukup kalau hanya untuk membeli makanan, pakaian, serta kebutuhan lain yang akan kita butuhkan.”
“Kebutuhan apa?” tanya Lian dengan penasaran.
“Hmm ... misalkan saja, satu atau dua buah tas yang lebih umum dipakai sebagai orang yang sedang melakukan perjalanan jauh. Tas yang kumiliki, rasanya terlalu mencolok jika dipakai dalam kondisi sekarang ini,” jawab Surya menjelaskan.
“Hi-hi ... seperti tas untuk berangkat berperang ...” kini si gadis baru tersadar tentang hal tersebut.
“Ya, benar. Itu akan terlalu mencolok saat dilihat aparat keamanan yang berjaga. Pakaian juga, kita harus menggantinya dengan yang lebih umum,”
“Terutama aku ...”
“Ya ... terutama engkau ...”
---
Saat matahari mulai naik lebih tinggi, mereka sudah menyelesaikan keperluan pagi. Surya Kelana segera mengajak sang gadis untuk pergi meninggalkan tempat tersebut. Karena upaya untuk mencari berbagai keperluan hari ini begitu mendesak, maka mereka memutuskan untuk melakukan penyamaran.
“Kulitmu terlalu putih dan bersih untuk ukuran orang biasa yang hilir mudik di jalanan dan tempat umum. Apalagi, kita juga belum mengetahui bagaimana situasi di luar sana,” demikian komentar si lelaki sambil memperhatikan profil Meilyana yang sangat sulit untuk disembunyikan kecantikannya.
Dari radio komunikasi yang selalu ia pantau, informasi bersifat rahasia telah menyampaikan tentang beberapa berita perkosaan yang terjadi. Dan apa yang akan ia lakukan saat itu pada Meillyana, adalah dengan maksud agar si gadis tak terlihat seperti layaknya wanita keturunan yang menjadi mangsa dalam perkosaan massal bersifat sporadis tersebut.
“Terus gimana?”
“Hmm .. sebentar,” jawab Surya sambil membuka tas ransel kecilnya. Beberapa saat mengaduk-aduk isi benda tersebut, ia mengeluarkan satu botol kecil cairan yang entah apa beserta pernak-pernik lain yang mirip dengan peraalatan rias kecantikan.
“Apa itu?” tanya Meillyana dengan penasaran.
“Semacam alat make up untuk penyamaran.” Jawab si lelaki sambil terus sibuk mempersiapkan peralatan.
Lalu, “maaf, kamu harus diberi sedikit polesan agar terlihat lebih natural,”
Tanpa basa-basi, Surya Kelana segera memegang tangan gadis itu dan mengusapkan kapas yang sudah ia olesi dengan cairan dari botol yang dicampur dengan sedikit air. Tanpa bicara, ia sibuk mengoleskan cairan tersebut pada kedua tangan serta kaki si gadis. Hingga kemudian, si lelaki memandang kembali dengan sedikit rasa puas.
“Sepertinya, sekarang terlihat lebih pantas untuk berjalan bersamaku,” demikian katanya tanpa bernada sarkas ataupun melecehkan.
“Hi-hi ... kamu hebat. Aku malah lebih nyaman seperti ini. Dari mana engkau mendapatkan keahlian seperti ini?” sang gadis malah menanggapi dengaan nada ringan dan terdengar gembira.
“Penyamaran adalah salah satu kemampuan yang aku pelajari,” jawab Surya dengan singkat.
“Terus, bagaimana dengan wajahku? Bukankah harus diberi warna juga?”
“Benar sekali. Bukan hanya memberi sedikit nuansa gelap, tapi aku akan merubah sedikit profil wajahmu. Demikian juga dengan wajahku nanti. kita menyamar, sebisa mungkin jangan sampai dikenali oleh seorangpun,” tegas si lelaki untuk memberi pengertian jika hal tersebut perlu dilakukan sebagai usaha dalam menjamin keselamatan mereka.
“Terserah bagaimana engkau mau melakukannya. Aku hanya menurut saja,” jawab gadis itu.
“Tapi aku perlu meminta ijin darimu. Tak elok rasanya kalau tanganku menyentuh wajahmu tanpa perkenan,” jawab si lelaki kembali.
“Apapun yang akan kau lakukan, aku akan memberi ijin sepenuhnya,” Meilyana menatap dengan penuh kepasrahan saat mengatakan hal tersebut.
---
Bukannya Surya tak paham arti pandangan mata si gadis ... ia mengerti dan benar-benar memahami jika Meilyana benar-benar telah memasrahkan seluruh nasib di tangannya. Tapi ia hanya menanggapi penyerahan tersebut dengan sebuah anggukan kepala. Kemudian, lelaki itupun mulai merias wajah gadis tersebut tanpa bicara lagi.
---
“Hi-hi ... sekarang ini, bahkan Papa dan Mama pasti tak akan mengenaliku lagi ...,” begitu komentar Meillyana ketika ia menatap wajahnya sendiri di dalam cermin kecil milik Surya.
Namun, mendadak wajah si gadis berubah menjadi sedih. Seketika, tiba-tiba saja ia teringat pada kedua orangtuanya yang telah terbunuh kemarin malam. Hampir saja air mata menetes jatuh ke pipi. Dengan sekuat hati, sang gadis menahan segala perasaan yang menyakitkan hatinya. Karena, ia telah bertekad untuk tetap bertahan serta hidup, dan membalas dengan setimpal setiap perbuatan keji yang dilakukan oleh orang itu!
Perubahan yang terjadi dengan mendadak itu, semua tak terlepas dari tatapan tajam si lelaki. Ia paham tentang kesedihan sang gadis, meskipun belum sedikitpun mengetahui permasalahan apa yang kini menimpa. Yang bisa ia lakukan, hanyalah sedikit menghibur sambil memberikan perlindungan rasa aman untuk Meilyana.
“Engkau tetap cantik ... hanya kulitmu saja yang sedikit berubah,” kata Surya yang bingung untuk mengucapkan kata.
“Hi-hi ... wajahku jadi berubah. Kau begitu pintar, lihat ... mataku, bibir dan garis hidung ... semua kau rubah. Meski sedikit, wajahku jadi terlihat berbeda.” Sahut si gadis yang sedang mencoba mengusir kesedihan.
“Tapi tetap cantik ...,” timpal Surya tanpa bermaksud merayu.
“Hi-hi ... terimakasih ...” jawab Meillyana sambil tersenyum malu.
Sebuah topi, kini benar-benar menyamarkan wajah kedua orang tersebut. Sang gadis mengenakan topi rimba sebagi penutup kepala, sementara si lelaki menutupi rambutnya dengan topi baseball.
---
Sebuah perdebatan singkat terjadi sebelum mereka melangkah keluar gedung terbengkalai itu. Meilyana merasa keberatan saat Surya Kelana memberikan saran untuk meninggalkan tas yang selalu saja dibawanya.
“Tidak ... aku tak akan pernah membiarkan tas ini jauh dari badan,” demikian si gadis menjawab tegas saat menerima saran.
“Tas itu terlihat sangat berat. Mungkin saja bisa menganggu langkah kita nanti,” demikian Surya berargumen.
“Biarlah. Aku yang akan membawanya kemanapun. Mungkin memang berat, tapi aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja di sini,” Jawab si gadis menentang.
“Kita cari tempat menyembunyikan benda itu dengan aman.”
“Tidak bisa. Aku tak mau ...” si gadis bersikeras.
---
Akhirnya, Surya Kelana mengalah. Ia mencari sebuah tempat tersembunyi dan sulit dicapai orang biasa untuk menyembunyikan barang-barangnya sendiri yang memang sangat berat. Sebagai jalan keluar, ia mengosongkan ransel kecil miliknya, lalu memberikan sebuah pilihan yang sulit bagi sang gadis,
“masukkan tasmu dalam ransel ini. Agar bisa berjalan dengan cepat, biarlah aku yang membawanya. Aku berjanji untuk tak sedikitpun berusaha mencari tahu apa isi dari tas itu. Kau boleh mempercayaiku atau bisa memilih untuk tinggal disini saja bersama tas milikmu, sementara aku pergi sendiri,” dengan tegas, Surya meberikan sebuah solusi.
“E-eh ... bukannya aku tidak mengijinkan. Tapi, itu pasti akan merepotkan engkau. Aku rasa ... biarlah kubawa sendiri saja.”
“Jangan, itu terlalu berat untukmu. Bukankah kau selalu ada di sampingku? Tak usah khawatir jika aku akan lari membawa milikmu. Biarkan aku menggendongnya dalam ransel, karena aku telah terbiasa membawa beban yang lebih berat lagi,” kali ini, Surya Kelana bersikeras.
“Baiklah ... sekali lagi, aku minta maaf. Bukan karena tidak percaya, tapi lebih karena aku tak mau meninggalkan satu-satunya milik keluarga yang tersisa,” jawab Meilyyana kembali dengan nada memelas.
“Aku tahu ... its oke, biarkan aku yang mencangklong di pundak. Pasti tak akan seberat membawa barang-barangku sendiri ...”
***