Setelah mengendap-endap agar tak diketahui asal kemunculannya, kedua orang tersebut mulai meyusuri jalan pinggiran kota yang mulai menampakkan aktifitasnya. Memang belum ramai seperti biasa, tapi setidaknya telah terlihat tanda-tanda geliat kehidupan. Sesaat, Surya Kelana memandangi bagian depan bangunan kosong tersebut untuk menghapalnya.
Selesai mencermati posisi gedung terlantar itu, ia merogoh ke dalam saku ransel dan mengeluarkan sebuah benda mirip sebuah jam tangan. Beberapa detik, ia mengamati sambil menghapalkan angka-angka di layar digital tersebut. Puas, ia menekan beberapa tombol dan mengembalikan benda itu ke dalam saku tas ransel.
Si gadis yang memperhatikan setiap gerakan lelaki tersebut, hanya diam saja tanpa komentar. Otaknya yang cerdas segera memahami bahwa Surya Kelana sedang menandai bangunan itu dalam posisi angka geografisnya.
Ia hanya bisa menduga jika apa yang dilakukan sang laki-laki adalah sebuah antisipasi standar operasi dalam mencacat posisi sesuatu benda. Dalam hal ini, tentu saja untuk menandai posisi barang-barang milik lelaki tersebut yang ditinggalkan dalam bangunan.
---
Tanpa bisa menggunakan moda transportasi apapun, mereka berjalan kaki. Sesekali, keduanya menengok ke kanan dan kiri untuk mencari tahu apabila ada angkutan yang bisa mereka tumpangi.
Hingga setelah agak lama melangkah, sebuah bis kota yang terlihat kosong melaju mendekati mereka dari seberang jalan yang berlawanan arah. Dengan cepat, Surya menggandeng tangan Meillyana untuk mengajaknya lari menyeberang, sambil melambaikan tangan pada kendaraan yang ingin mereka tumpangi.
***
Bus kota melaju dengan santai, tidak seperti biasanya yang terlihat selalu ngebut dan ugal-ugalan. Nampaknya, hanya terdapat beberapa penumpang di dalamnya. Hal tersebut seperti menunjukkan bahwa keadaan memang belum pulih sepenuhnya. Apalagi dari suara-suara berbisik antar penumpang yang berani membuka mulut, mereka mendapatkan informasi jika semua perkantoran masih ditutup entah sampai kapan.
Dari kondektur dan sopir yang berbincang dengan sedikit takut-takut, Surya Kelana juga bisa mengetahui kalau pada bagian lain dari ibu kota masih terjadi kerusuhan. Namun cerita tersebut jadi membawa sedikit berita melegakan, saat terdengar pula bahwa di tempat kini mereka berada masih berada dalam suasana kondusif terkendali.
Sambil sesekali menatap secara sembunyi layar ‘jam tangan’ yang sesekali dikeluarkan, Surya terus memantau arah tujuan serta koordinat dimana mereka berada. Hal tersebut memang dilakukan sebagai sebuah antisipasi jika mereka akan kembali lagi menuju bangunan mangkrak yang tak beralamat. Sesekali, ia mengeluarkan sebelah earphone untuk mendengarkan entah apa dari speaker mini tersebut.
Untuk memastikan nama daerah yang mereka tinggalkan tadi, Surya mencoba berbincang singkat dengan sang kondektur saat orang tersebut mendekat untuk mengambil ongkos. Keduanya pura-pura tersesat, lalu bertanya tentang wilayah yang kini tengah mereka lalui. Tak lupa, mereka juga menanyakan tentang angkutan umum yang bisa dipergunakan untuk kembali ke arah mereka datang tadi.
Setelah cukup mendapatkan informasi, Surya segera mengakhiri percakapan sambil tak lupa berucap terima kasih. Kini ia jadi sedikit tenang, karena sudah memastikan nama daerah serta angkutan umum yang dapat dipergunakan untuk menuju bangunan terlantar persembunyian mereka.
---
Tiba-tiba, mata Surya menangkap suasana ramai yang menunjukkan tanda-tanda geliat kegiatan manusia. Dan benar saja, tak lama kemudian ia melihat deretan warung makan, lalu ... jasa foto serta afdruk kilat. Kemudian ... dugaannya tak salah lagi, karena tempat seperti itu pasti menunjukkan aktifitas sekumpulan perkantoran ataupun kampus.
Tepat di sebelah kiri bus yang melaju perlahan, Surya Kelana menangkap sebuah tulisan dalam papan nama besar yang menunjukkan bahwa tempat tersebut adalah sebuah kantor kecamatan. Tak mau membuang waktu, ia segera menyentuh lengan si gadis yang duduk di sebelah kursinya. Dengan sebuah anggukan kepala sambil menatap mata, si lelaki memberi isyarat jika mereka akan turun.
“Stop depan, Bang ...,” kata Surya Kelana kepada sang kondektur.
Bus kota berhenti, mereka turun di pinggir jalan dan langsung berbaur dengan hilir mudik manusia yang terlihat berada dalam suasana agak sedikit tegang. Mata keduanya mengawasi sekeliling, lalu mendapati ada beberapa toko yang buka.
Tak heran jika masih banyak yang berani beraktifitas di situ, karena komplek perkantoran tersebut adalah merupakan pusat kecamatan dimana terdapat kantor kepolisian sektor kota dan Koramil juga berada. Karena hal itulah, banyak pengusaha toko yang berani membuka gerainya. Mereka merasa aman serta terlindungi dengan adanya markas keamanan di tempat itu.
---
“Kita ke sana, kebetulan ada toko pakaian yang sekaligus menjual tas. Jika ada yang heran serta ingin tahu, bilang saja kalau kita adalah pasangan pengantin baru yang datang ke ibu kota. Ceritakan sedikit jika semua barang kita hilang dijarah saat terjadi huru-hara kemarin. Tapi jangan katakan apapun jika mereka tidak bertanya.” demikian pesan si lelaki pada MeilLyana sebelum mereka bergerak mendekati sebuah toko yang berada tepat di depan kantor Polsek kota.
“Iya, baiklah ...”
“Pilih semua pakaian yang kau suka. Uangku tak akan habis untuk membeli semuanya,” dengan mantap, si lelaki kembali memberi arahan.
“Hmmm ... hitung saja itu sebagai sebuah hutang yang akan ku bayar nanti,” jawab si gadis tanpa maksud merendahkan.
“Memangnya, kau punya uang?” tanya Surya sambil tersenyum.
“Hari ini, aku belum bisa mengatakan itu. Tapi, beberapa hari lagi aku pasti bisa mengembalikan semua uang yang kau keluarkan untuk membelajakan pakaian buatku,” dengan senyum misterius, Meilyana menjawab manis pertanyaan dalam nada bergurau tadi.
---
“Selamat pagi ... Mari, silakan melihat-lihat ... butuh apa?” dengan ramah, Babah pemilik toko yang berjaga hanya bersama istrinya itu mempersilakan dua orang ‘tamu nyasar’ yang tampaknya hanya mengenakan pakaian seadanya.
“Selamat pagi, Om ... kami butuh beberapa potong pakaian lengkap dan tas untuk mengemasnya,” jawab Surya dengan wajah sedikit dibuat sedih serta pasrah. Ia juga sengaja berbicara dalam logat medok daerah untuk menyesatkan dugaan sang pemilik toko.
“Ohhh ... tampaknya anda berdua bukan orang sini ...” tukas sang pemilik toko yang ternyata cukup cerewet karena penasaran.
“Yahh ... pengantin baru, berniat mencari peruntungan di Jakarta karena ekonomi daerah terasa sulit. Kami tinggal di sekitar Jakarta Barat. Tak tahunya ...” dengan wajah sedih, si lelaki muda menjawab sekenanya.
“Ahhh ... sungguh kasihan. Barang-barang kalian diambil orang?” tanya Babah si pemilik toko lagi.
“Semuanya, bahkan sampai pakaian dalam ...” tanpa di duga, si gadis ikut menjawab disertai sedikit kata nakal. Tampaknya ia menyukai sedikit hiburan dengan menggoda seseorang.
“Wah, wah ... kalau begitu, nanti saya kasih diskon yang banyak. Silakan ambil seperlunya. Eh, ngomong-ngomong, apakah uang kalian tidak ikut dicuri?” tanya sang Babah sambil menatap dengan sedikit sangsi. Ternyata, dalam rasa kasihan juga tersimpan kekhawatiran jika harus merugi.
“Tenang saja, Om ... semua uang saya simpan di tempat aman. Tas inilah satu-satunya barang yang tidak hilang ...” dengan mantap, Surya menjawab kekhawatiran sang Engkoh itu.
“Ohhh, baiklah ... silakan pilih-pilih ...”
“Baik, Om ... minta tolong dicarikan sebuah tas yang cukup kuat dan agak besar,” tukas si lelaki muda.
“Tas kulit? Itu mahal ...” jawab sang Babah.
“Tidak masalah, uang kami cukup untuk membeli itu ...”
“Hayaaa ... baik, baik ... nanti saya cariin ...”
***