Seperti layaknya sepasang pengantin baru, mereka berdua saling membantu untuk memilih pakaian yang cocok bagi masing-masing. Beberapa kali, Surya Kelana menegaskan jika uangnya lebih dari cukup untuk membeli apapun yang diinginkan Meillyana. Sehingga tanpa ragu lagi, si gadis kembali mengambil beberapa potong pakaian berikut semua yang dibutuhkan selama perjalanan esok.
Dua tas untuk masing-masing juga sudah terbeli. Dan kini, mereka sudah keluar dari toko tersebut sebagai dua manusia berbeda. Si lelaki semakin bertambah tampan dengan gaya anak muda masa itu, sedangkan sang gadis pasti akan semakin terlihat bertambah cantik bila topi penyamarannya sengaja dibuka.
Meski sekarang sudah bisa membaur dengan orang-orang di sekitar, dua orang tersebut tetap saja menyusuri keramaian dengan hati-hati dan sewajarnya. Sampai akhirnya, Surya Kelana mengajak Meillyana untuk singgah di sebuah warung makan yang terlihat tidak terlalu ramai. Di sana, mereka memesan makanan serta minuman untuk memuaskan rasa lapar semenjak tadi malam
---
Sang pemilik warung adalah ibu-ibu yang ramah dan terlihat baik hati. Dengan penuh perhatian ia juga menanyakan tentang asal muasal kedua orang tamunya. Langsung saja sang ibu menjadi begitu terharu, saat mendengar kisah sedih sama dengan seperti cerita yang dituturkan pada pemilik toko tadi.
“Kasihan sekali ... terus, apa rencana kalian nanti?”
“Mungkin kami akan mencari indekos untuk sementara. Karena orang yang menampung kami untuk bekerja, juga ternyata sudah pergi entah kemana,” demikian dengan fasih, Surya membuat kisah palsu untuk diceritakan pada sang ibu warung.
Mereka berdua memang mengatakan jika kedatangannya ke Jakarta adalah atas panggilan kerja seseorang. Namun karena kerusuhan itu, ternyata kerabat yang akan menampung telah pergi entah kemana setelah pondokan mereka dijarah masa.
“Kasihan sekali ... seandainya ibu punya rumah besar, kalian bisa numpang untuk beberapa waktu lamanya,” demikian kata pemilik warung makan.
“Tak usah, Bu ... nanti merepotkan,” demikian jawab Surya.
“Ohh... bagaimana kalau kalian beristirahat dulu di tempat ini? Ibu punya sebuah kamar di belakang, mungkin bisa dipakai sebagai tempat melepas penat. Kasihan istrimu, sepertinya dia terlihat pucat dan kurang sehat karena kelelahan,”
“Ohh ... atau begini saja. Bagaimana kalau dia numpang beristirahat di sini sementara saya mencari tempat indekos? Bagaimana, Lian? Kamu mau?” kata Surya kembali sambil terus menanyakan pendapat pada Meillyana. Saat si gadis menatapnya, sang lelaki mengerdipkan sebelah mata dengan cepat.
---
Secara kebetulan, kedua orang muda tersebut mendapat pertolongan dari seseorang yang tak dikenal. Merasa yakin dan percaya akan niat baik sang pemilik warung, akhirnya Surya dan Meillyana sepakat untuk berpisah selama beberapa jam.
Sambil berbisik-bisik, si lelaki menceritakan secara singkat tentang rencana yang akan dilakukannya nanti. Surya Kelana akan pergi untuk mencari identitas palsu bagi mereka, karena kedua orang tersebut memang sama sekali tidak memiliki tanda pengenal.
Dalam setiap operasi yang ditugaskan pada lelaki itu, membuang semua identitas adalah sebuah kewajiban yang harus dilakukan. Walaupun seumpama ia memegang sebuah tanda pengenal yang dikeluarkan oleh lembaganya bekerja, Surya juga tak mungkin akan sebodoh itu untuk mempertunjukkan pada orang lain.
Begitu juga dengan Meillyana, ia juga tak membawa sepotongpun tanda pengenal. Kepergiannya bersifat darurat mendesak. Dan kondisi saat itu, adalah pilihan antara hidup dan mati. Saat sekarang inipun, ia juga tak mau dikenali sebagai orang dengan identitas lamanya.
Kedua orang tersebut memang sudah bersepakat untuk menggunakan nama lain sebagai penyamaran. Mereka berharap, orang yang memiliki hubungan akan menganggap jika keduanya telah mati dan terkubur entah dimana. Jejak harus hilang, mereka harus lenyap ... dan, pembalasan dendam akan dilakukan setelah keadaan menjadi normal kembali.
Jika sang pembuat bencana sudah melupakan keberadaan mereka di dunia ini, pasti akan lebih mudah untuk melakukan sebuah pembalasan.
***
Perkantoran masih tutup, dan Surya teringat jika kerusuhan itu akan berimbas kemanapun arah. Mungkin saja mereka memang tidak buka sesuai jadwal, atau malah tutup karena sebagian orang sibuk bergerak ke pusat kekacauan.
Yang jelas, lelaki itu harus tetap berhati-hati untuk mengamati gedung kantor kecamatan dengan tanpa kentara. Bangunan milik pemerintah daerah tersebut memang terletak saling berjajaran di sepanjang jalan. Dan bagi si lelaki muda, hal itu adalah sebuah penghematan waktu. Karena, bersebelah pagar tempok di samping kiri kantor kecamatan adalah KUA. Tentu saja, a harus menyempatkan diri untuk mampir ke sana. Sebab, ia juga membutuhkan beberapa ‘souvenir’ di kantor tersebut.
---
Pada sebuah sudut, lelaki berbadan tegap itu duduk dengan santai sambil menikmati segelas es campur yang dijajakan oleh seorang pedagang keliling. Dengan ramah, ia mengajak bicara sang pedagang yang tampaknya juga tak keberatan untuk berbincang.
Cerita punya cerita, Surya Kelana telah berhasil memancing si penjual es untuk menceritakan kondisi di sekitar tempat tersebut,
“Jadi ... panjenengan dari Jawa juga, Mas?” tanya sang pedagang yang merasa telah menemukan teman se-daerah.
“Benar, Pak ... tadinya mau bekerja di sini. Tak tahunya malah ada kekacauan. Sekarang saya jadi bingung mau kemana lagi,” jawab Surya sambil memainkan perannya.
“Wah ... kasihan sekali. Terus rencananya mau bagaimana?”
“Ya bagaimana nanti saja, Pak. eh ... ngomong-ngomong, Bapak memang dah biasa jualan di sini?” tanya si pemuda.
“Betul, Mas. Setiap hari saya berdagang di depan kantor kecamatan ini.”
“Ohh ... rame, pak?”
“Lumayan, Mas. Yang penting bisa buat makan dan bayar kontrakan. Biasanya lebih rame lagi kalau kantor itu buka. Kan banyak orang datang untuk mengurus surat-surat kependudukan,” begitu cerita pedagang setengah baya yang ternyata senang berbincang.
“Kenapa tutup? Ohhh ... ini hari Sabtu, kan?”
“Bukan karena itu, Mas. Senin sampai Sabtu, kantor ini tetap buka. Hanya saja, kerusuhan kemarin telah membuat mereka tutup hari ini.”
“Kenapa?”
“Saya lihat kemarin, semua karyawan pergi secara berombongan. Dari salah satu pegawai, saya dapat bocoran kalau semua yang ada di kantor itu ditarik untuk diperbantukan ke kantor Walikota.”
“Ohh ... kantor Walikota kena rusuh juga?”
“Sepertinya tidak. Hanya saja, mungkin memerlukan tenaga tambahan sebagai pengamanan kantor pusat mereka.”
“Berarti, kantor kecamatan itu sekarang kosong?”
“Sepertinya iya. Biasanya saya lihat penjaga keamanan duduk di depan situ. Tapi dari pagi kok belum terlihat batang hidungnya,” demikian pedagang es menambahkan informasi sambil menunjuk pada suatu tempat yang merupakan posisi sang penjaga keamanan.
Lokasi gerobak pedagang es campur tersebut memang terletak persis di depan pagar depan kantor kecamatan. Dari tempat dirinya duduk, Surya bisa mengamati dengan jelas keadaan sekitar halaman dan gedung yang nampak sepi.
Lelaki itu menganalisa, lalu mengambil kesimpulan jika ia pasti akan dengan mudah memasuki kantor tersebut. Tapi bagian tersulitnya, adalah melompat pagar halaman tanpa diketahui oleh orang yang lalu-lalang serta banyaknya pedagang di sekitar itu.
***