BAB 1 - Keluarga Bahagia

1181 Kata
DUA PULUH TAHUN KEMUDIAN ... "Cinta kasih tanpa kekuatan, adalah kelemahan. Tetapi, kekuatan tanpa cinta kasih adalah merupakan sebuah kezaliman. Ingat selalu kata bijak yang ayah ajarkan padamu semenjak kecil itu." Demikian lelaki paruh baya bertubuh kekar itu memberi wejangan pada anaknya. "Siap, Ayah ... Bagas akan selalu mengingat pesan itu," jawab sang anak dengan tegas. Joko Putranto memandangi sang anak sambil merangkul bahu istrinya yang masih sangat cantik walaupun sudah menginjak usia empat puluh tahunan. Di depan mereka berdua, duduk seorang anak laki-laki dan perempuan. Si pemuda, bertubuh tinggi kekar dengan ketampanan sang ayah. Sementara kulit kuning langsat serta raut manis yang ia miliki, adalah warisan langsung dari ibundanya. Mata anak yang baru beranjak menuju usia dewasa itu, benar-benar sangat tajam menyerupai tatapan elang yang penuh wibawa dan cermat mengawasi. Wajahnya lembut, namun tersimpan ketegaran dari buah tempaan hidup semenjak kecil. Alis matanya yang tebal berbentuk golok, adalah merupakan sebuah pertanda jika ia memiliki kejujuran dan ketulusan hati. Dan pribadi luar biasa tersebut, semuanya terbalut dalam sosok gagah yang cerdas namun pendiam yang selalu saja terlihat serius. Duduk disebelah pemuda itu, seorang anak perempuan yang menyandar manja di bahunya sambil memeluk lengan kokoh si anak lelaki yang terlihat amat disayanginya. Bocah  berambut hitam lurus serta tebal tersebut, kira-kira masih berusia sekitar 14 tahun. Jika diamati, ia terlihat benar-benar memiliki kecantikan yang didapatkan sebagai perpaduan antara sang ayah dan ibunda yang sama-sama memiliki wajah rupawan. Hanya saja, kulitnya terlihat lebih bersih dan terang dibanding sang kakak. Tentu saja, gen itu didapatkannya dari sang ibu yang memang merupakan keturunan dari leluhur yang memiliki kulit bersih. --- “Sekolahmu sudah selesai, dan sekaranglah saat bagimu untuk menggapai cita-cita yang lebih tinggi dengan menimba ilmu,” demikian sang ayah melanjutkan. “Ya, ayah ...” jawab “Pergilah nanti ke Jakarta. Segeralah mendaftarkan diri untuk kuliah. Ayah dan Ibumu mungkin hanya bisa memberi bekal yang tidak banyak,” sang ibu juga ikut memberi nasehat. “Sekalipun engkau sudah menguasai  beragam cara untuk mendapatkan uang tunai secara mudah, tapi lakukan hal itu jika kamu benar-benar dalam keadaan terdesak saja,” sang ayah menambahkan. “Baik, Yah. Aku akan selalu mematuhi semua aturan main yang telah kita sepakati.” “Bagus. Karena, ayah tak ingin jika keserakahanmu akan membuka semua masa lalu kita,” jelas sang ayah pada si anak yang hanya tertegun saat mendengarnya. ---   Bukan sekali ini ia mempertanyakan latar belakang mereka yang terlihat aneh. Karena, sebagai keluarga terpelajar, ia sering merasa penasaran mengapa selama ini mereka dipaksa untuk hidup di tengah hutan belantara yang sangat terpencil. Bahkan dengan semua senjata yang kini telah ia kuasai berkat didikan sang ayah, ia juga berulangkali telah memikirkan berbagai kemungkinan. Namun karena kepatuhan dan rasa percaya kepada kedua orangtua yang sangat menyayangi mereka, hal tersebut sama sekali tidak menjadi masalah baginya. Karena, sebenarnya ia juga merasa sangat bahagia dengan tinggal menyepi sebagai keluarga yang saling mengasihi. --- “Kamu harus segera membuka rekening saat berada di kota nanti. Pakai identitas lain. Kamu pasti sudah menguasai caranya.” “Siap, ayah ...” “Jangan lupa. Safety Box, kamu juga harus menyewanya di sebuah Bank.” Sang ibu menyahut. “Ya, Bunda ...” “Hal-hal lain, akan kita bicarakan nanti secara empat mata. Karena ayah memandang jika engkau sudah cukup dewasa, sudah selayaknya cerita masa lalu akan dibukakan bagimu. Bukan maksud ayah untuk membebani dirimu, semua itu hanya agar kamu mengerti asal-usul keluargamu.” Kata sang ayah kembali. “Setelah ayah menceritakan kisah masa lalunya, gantian Bunda akan menceritakan sesuatu. Karena, itu akan menjadi sangat penting bagi bekal hidupmu di ibu kota nanti,” sang ibu juga menambahkan pesan pada si anak lelaki. Sang anak hanya mengangguk dengan patuh. Sementara, adik perempuan yang terlihat begitu manja pada kakaknya itu hanya menyimak tanpa mengeluarkan suara. Walaupun masih remaja, kedua anak tersebut sangat mengerti bagaimana sayangnya kedua orangtua terhadap mereka. Namun satu yang mereka juga memahami, ketegasan serta disiplin sang ayah telah membentuk mereka sebagai pribadi dewasa yang penuh tanggungjawab dan patuh pada perintah. ---   “Lintang ... usiamu masih cukup jauh dari dewasa nanti. Sekarang ini, belum tiba saatnya bagimu untuk mengetahui keseluruhan kisah kedua orangtuamu. Bersabarlah, nanti kamu juga akan tahu awal mula yang menyebabkan kita bisa sampai menetap di daerah yang sangat terpencil ini.” “Ya, ayah ... Aku paham, dan tentu saja akan selalu sabar menunggu hingga harinya tiba.” Sahut si anak gadis yang suaranya terdengar begitu merdu. “Anak baik. Dan karena kakakmu nanti akan meninggalkan kita, tentu saja kamu tak memiliki kawan lagi untuk berangkat dan pergi ke sekolah,” kata sang bunda menambahkan. “Aku nggak takut, Bunda. Jalan yang setiap hari aku lalui, tak mungkin akan pernah membuatku gentar.” “Ha-ha ... kamu sangat pemberani. Persis seperti Bunda yang tak pernah surut selangkahpun saat menghadapi bahaya. Tapi ... Ayah dan Bunda tak akan pernah tega untuk membiarkanmu sendiri di jalan sana,” tukas sang ayah saat mendengarkan jawaban si anak perempuan. “Terus, ayah yang akan mengantarkan Lintang?” si gadis muda bertanya dengan ekspresi wajah berseri. “Ha-ha-ha ... iya, betul. Ayah dan bunda yang akan mengantarmu sekolah. Tapi, bukan dengan setiap hari bolak-balik.” “Lalu?” “Tanya pada Bunda. Ha-ha-ha ...” tertawa sang ayah itu begitu bahagia. Karena kali ini ia akan menyampaikan sebuah kejutan yang pasti akan membahagiakan anak-anaknya. “Bagaimana, Bunda? Ayah malah tertawa seperti itu. Hi-hi ... sepertinya, kalian sudah bersekongkol untuk memberi kejutan pada kami.” Sang Ibu yang pada dasarnya adalah wanita periang, kini hanya tersenyum lebar tanpa suara sambil memandang kedua anaknya dengan penuh cinta. Mata wanita itu berbinar-binar, menandakan bahwa apa yang akan disampaikannya juga merupakan sebuah warta gembira untuk semuanya. “Bersenang-senanglah, Nak ... karena, kita akan segera pindah rumah ke kota sebelum kakakmu mulai pergi untuk kuliah.” Jawab sang Ibunda sambil tetap dalam senyumnya yang teramat manis. “Haahh?? Kita pindah ke kota?” kedua anak serempak berteriak gembira. --- Selanjutnya, keempat manusia yang merupakan ayah ibu dan anak itu jadi ramai membicarakan tentang rencana kepindahan mereka. Dijelaskan secara singkat bahwa demi masa depan sekolah sang adik, mereka memang harus memiliki rumah yang keberadaannya tak jauh dari sekolah-sekolah terbaik. Meskipun bukan sebuah rumah mewah yang berada di tengah kota, namun tabungan kedua suami istri sudah lebih cukup untuk membeli hunian yang sangat layak dan memiliki letak strategis di tepi jalan besar. Alasan lain tentang kepindahan itu sendiri, adalah jaman yang saat ini telah berubah total kondisinya. Sang ayah yang rutin setap dua kali dalam seminggu untuk mengunjungi kota, sekarang sudah bisa memastikan jika kondisi jaman memang telah jauh berbeda dibandingkan masa itu. Berdasarkan pertimbangan itu, timbullah satu pemikiran untuk memiliki rumah yang lebih dekat dengan akses informasi. Karena, feeling sang ayah telah kembali mengatakan jika semua orang telah melupakan keberadaan dua seorang yang pernah menjadi saksi sebuah kebiadaban di masa lalu. Rencananya, mereka tak akan meninggalkan begitu saja rumah yang sekarang mereka tinggali. Hunian di tengah rimba terpencil yang telah  begitu banyak memberikan kebaikan bagi mereka, tentu saja akan tetap dipelihara baik oleh sang ayah yang memiliki sejuta kenangan indah di sana. ***  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN