BAB I Permintaan Fantasy
Sebuah keluarga yang damai dan tentram adalah idaman semua wanita. Begitupun dengan diriku. Diusia pernikahan kami yang hampir memasuki usia ketiga belas tahun sudah banyak hal yang terjadi dalam biduk rumah tangga kami. Dari mulai pertengkaran, perselingkuhan bahkan perjudian. Setiap rumah tangga pasti tidak pernah luput dari sebuah pertengkaran, pun begitu yang kualami. Kami sering cekcok meski permasalahan itu hanyalah sebuah permasalahan kecil. Dua tahun belakangan entah apa yang merasuki pikiran suamiku, dia menyampaikan keinginanannya untuk berfantasy dalam s*x. Aku sebagai seorang istri benar-benar kaget ketika mendengarnya. Dia menjelaskan kepadaku bahwa fantasy s*x itu beberapa macam. Ada swing (bertukar pasangan dengan pasangan suami istri lain), ada threesome (b******a dengan dua laki-laki). Dan keduanya bisa dilakukan secara soft maupun hard. Aku bingung, bahkan mendengar penjelasannya pun aku sampai mengerutkan dahiku. What...bertukar pasangan?? b******a dengan dua laki-laki?? Mario, anggap saja itu nama suamiku seorang laki-laki penyabar, perparas tampan dan seorang ASN. Dan aku juga seorang ASN guru disalah satu sekolah negeri didaerah. Sebutlah namaku adalah shela.
"Gila...kamu bener-bener sudah gila ya?? Kamu tau kan hal itu dilarang didalam agama??" ujarku sambil berlalu meninggalkan kamar.
Keesokan harinya mario mendekatiku lagi, dia bilan ada pasutri (pasangan suami istri) yang ingin melakukan video call untuk berkenalan denganku.
"Video call apa? jawabku acuh sambil memainkan handphoneku.
"Video call biasanya ma, cuma mau ngobrol biasa. Mana tau mama nyaman ngobrol dengan pasutri ini" jawabnya sambil.menyerahkan handphonenya untum melakukan video call demgan pasangan suami istri tersebut.
Dan pada akhirnya aku melakukan video call dengan pasangan suami istri tersebut. Pasutri tersebut berasal dari pulau jawa. Bisa dibilang sebuah keluarga sederhana, hal ini kulihat dari tampilan rumah mereka yang bisa terbilang cukup sederhana.
Siistri dari pasangan itu anggap saja bernama Nida. Dia begitu ramah dan bisa kubilang sok akrab dengan diriku. Mungkin hal ini dia lakukan agar diriku tidak merasa singkuh dan kaku saat VC. Nida bertanya padaku, gimana mbak apakah sudah siap berfantasy?? Fantasy?? "ah belom mbak belom kepikiran, bagitu jawabku"
Ia lalu bertanya lagi "kenapa? Fantasy itu asik lo mbak, yang hal tersebut dilakukan secara terbukda dalam pasangan itu sendiri dalam arti pasangan harus terbuka menyampaikan keinginannya untuk berfantasi dan jika memang sama setuju maka fantasy baru bisa lalukan mbak. Jika salah satu pasangan masih ada yang belum setuju atau merasa nyaman makan fantasi tidak bisa dilakukan.
"Oh gitu y mbak? Lalu mbak sudah pernah berfantasi belom mbak? fantasi apa yang sudah mbak lakukan??" cecarku ke Nida karena merasa penasaran atas fantasi apa saja yang sudah mereka lakukan.
Nida pun menjawab "kami baru sebatas swing mbak, dan itu pun yang dekat-dekat saja?"