Cinta Terlarang Berujung Kutukan

1127 Kata
500 Tahun Silam, Langit kerajaan Wiranagari diselimuti awan kelabu, seakan menyimpan kesedihan yang tak terkatakan. Di tengah istana yang megah, seorang wanita muda berdiri di hadapan cermin perak. Wajahnya begitu jelita, kulitnya sehalus pualam, dan matanya menyimpan bara api yang membakar. Dia adalah Gayatri, putri tunggal dari Patih Wira Kusuma, penguasa tertinggi setelah raja. Namun, keindahan wajahnya tak sebanding dengan hatinya yang dipenuhi gejolak. Gayatri sedang jatuh cinta, cinta yang begitu dalam, begitu membutakan, hingga ia rela melakukan apa pun untuk memilikinya. Pria yang menguasai hatinya bukanlah seorang pangeran, bukan pula bangsawan bermahkota emas. Dia hanyalah seorang pendekar muda dan telah memiliki istri, putra seorang pertapa, bernama Raka. Raka adalah pria yang gagah, tubuhnya kokoh seperti pahatan dewa, matanya tajam seperti mata elang. Sejak pertama kali melihatnya, Gayatri tahu, pria itu harus menjadi miliknya. Namun, berkali-kali dia mencoba mendekati Raka, berkali-kali pula Raka menolak cintanya. “Aku hanya seorang rakyat jelata, Putri lagi pula aju telah memiliki istri. Bagaimana mungkin aku pantas untukmu !?” Ujar Raka suatu malam di taman istana. Gayatri mendekat, matanya menyala penuh gairah. “Pantas atau tidak bukan urusanmu, Raka. Aku menginginkanmu. Itu saja yang perlu kau tahu.” Ucap Gayatri sembari mengibaskan ujung selendangnya. Raka menundukkan kepala. Dia bukan pria yang tidak mengerti perasaan. Jujur, di dalam hatinya pun ada kekaguman terhadap Gayatri. Tapi dia tahu, dia tak bisa membalasnya. Bukan karena dia tak suka pada Gayatri, tapi karena perbedaan mereka bagai langit dan bumi. “Aku tak bisa, Gayatri…” Kata Raka menundukkan wajahnya. "Bagimu bukan suatu halangan tapi... bagi gusti patih dan keluarga kerajaan sudah pasti menolak, aku dan ayahku tak ingin di permalukan." Sambung Raka. Penolakan itu menusuk jantung Gayatri seperti belati. Amarah membakar hatinya, tapi dia tidak akan menyerah. Jika Raka tidak bisa mencintainya dengan suka rela, maka dia akan memastikan pria itu tidak bisa lari darinya. Beberapa bulan setelah penolakan itu, Gayatri berdiri di balairung istana, tubuhnya gemetar, air mata mengalir di pipinya. “Ayah… aku telah dinodai…” Suaranya lirih namun cukup untuk membuat ruangan itu membeku. Patih Wira Kusuma yang duduk di singgasananya mengernyit. “Apa maksudmu, Gayatri !!?” Tanya Patih Wira Kusuma dengan syara tegas. Gayatri menggigit bibirnya, menundukkan kepala seolah menahan malu. “Raka… putra Empu Jaka Wuning… Dia memaksaku... Sekarang aku mengandung anaknya.” Ucap Gayatri berusaha meyakinkan semua yang hadir di balairum saat itu. Seketika istana gempar. Para prajurit saling berpandangan, para bangsawan berbisik, dan sang Patih bangkit dengan wajah merah padam. “k*****t !!!” Suaranya menggelegar. “Tangkap Raka, Bawa dia ke hadapanku sekarang juga !!!” Suara lantang dan tegas Patih Wira Kusuma. Dalam waktu singkat, para prajurit menyerbu rumah Raka di pinggiran kerajaan. Pemuda itu ditangkap tanpa diberi kesempatan membela diri. Dia dibawa ke istana dalam keadaan terikat, lututnya dipaksa menekuk di depan singgasana Patih Wira Kusuma. "Apa betul pemuda itu yang telah menodai kamu !!?" Tanya Patih Wira Kusuma dengan suara tegas pada Gayatri. "Batul, Gusti. Dia yang telah melakukannya !?" Ucap Gayatri tertunduk tanpa melihat pada Raka. “Apa kau berani menyangkal tuduhan putriku, wahai pendekar rendahan !!?” Suara sang Patih penuh kemarahan. Raka mengangkat kepalanya, matanya penuh kebingungan. “Hamba tidak pernah melakukan hal yang dituduhkan itu, Gusti…” Ucap Raka berusaha mentangkal tuduhan. “Pembohong !!!” Gayatri menangis tersedu di sudut ruangan. “Kau memaksaku, lalu membuangku begitu saja !!?” Sambungnya sambil terisak. Para pejabat istana menatap Raka dengan jijik. Tidak ada yang mempertanyakan kebenaran kata-kata Gayatri. “Kau akan dihukum mati !!!” Seri Patih Wira Kusuma dengan wajah memerah di rasuki amarah. Namun, ada satu orang yang tidak bisa tinggal diam. Jaka Wuning, ayah Raka, seorang pertapa yang dihormati, datang ke istana dan memohon pengampunan untuk putranya. “Gusti Patih, mohon dengarkan kata-kata hamba.” Suaranya lembut namun penuh wibawa. “Anak hamba tidak bersalah. Biarkanlah kebenaran terungkap.” Ucap Jaka Wuning dengan lembut. Namun, sang Patih yang dipenuhi amarah tidak ingin mendengar. “Anakmu telah menodai darah biru kerajaan. Kau pun harus mati bersamanya !!!” Kata Patih Wira Kusuma dengan geram. "Tangkap orang tua ini, dia sama saja seperti anaknya. Hukum mati juga !!?" Seru Patih pada para pengawalnya. Tanpa perlawanan Jaka Wuning langsung menjulurkan ke dua tangannya, membiarkan para pengawal mengikatnya. Jaka Wuning menghela napas. Dia tahu waktunya sudah habis. Namun sebelum algojo menghunuskan pedangnya, dia mengangkat tangan dan menatap Gayatri dengan sorot mata yang tajam. “Dengarkan aku, Putri Gayatri,” Suaranya bergema di seluruh istana. “Kau telah menghancurkan hidup anakku dengan kebohonganmu. Kau mungkin tertawa degan fitahmu hari ini, tapi kutukanku akan mengikutimu sampai akhir zaman.” Seru Jaka Wuning di sertai suara guruh yang menggelegar dengan kilat yang meliuk menerangi sepuraran istana Patih Wira Kusuma. Gayatri menatap Jaka Wuning dengan ketakutan. “Apa maksudmu !?” Ucapnya. Jaka Wuning tersenyum tipis. “Aku mengutukmu, Putri Gayatri. Kau akan hidup dalam kegelapan, haus akan cinta yang tak pernah bisa kau dapatkan. Kau akan menjadi Dewi Kegelapan, dan rohmu tidak akan pernah menemukan kedamaian.” Seketika, udara di dalam balairung menjadi dingin. Petir menggelegar di luar, angin bertiup kencang. Gayatri terbelalak. “Tidak, Tidak mungkin !!” Teriak Gayatri sembari memeluk para dayang di sampingnya. "Lakukan !!!" Perintah sang Patih dengan suara lantang pada algojo. Namun, sebelum Gayatri bisa berbuat sesuatu, pedang algojo melayang tinggi dan menebas Jaka Wuning serta Raka dalam satu ayunan. Darah membasahi lantai istana dan di saat itu juga, kutukan Jaka Wuning mulai bekerja. Sejak hari itu, Gayatri tak pernah bisa tidur dengan tenang. Suara Raka dan Jaka Wuning terus menghantuinya. Dia mulai melihat bayangan, mendengar bisikan, merasakan hawa dingin yang menyelimutinya setiap saat. Setiap pria yang mencoba mendekatinya akan mengalami nasib buruk, mereka jatuh sakit, kehilangan akal, bahkan mati secara misterius. Lambat laun, orang-orang mulai menyebutnya sebagai wanita terkutuk. Namun, bukan itu yang paling menakutkan. Pada malam bulan purnama, tepat setahun setelah kematian Raka dan Jaka Wuning, tubuh Gayatri mulai berubah. Kulitnya menjadi pucat, matanya menghitam, dan rambutnya berwarna kelam pekat. Kegelapan mengalir dalam nadinya, dan dia menyadari bahwa dia bukan lagi manusia biasa. Dia adalah sesuatu yang lebih kuat. Lebih abadi. Sejak saat itu, Gayatri menghilang dari istana. Legenda mengatakan bahwa dia pergi ke gunung terlarang, mendalami ilmu hitam, dan menjadi sosok yang dikenal sebagai Dewi Kegelapan. Dia tidak pernah melupakan Raka. Cintanya pada pria itu tidak pernah padam, meskipun Raka telah mati. Namun, dia bersumpah bahwa suatu hari, dia akan mendapatkan cintanya kembali. Dengan kekuatan yang dimilikinya, dia mulai mencari reinkarnasi Raka, menunggu saat yang tepat untuk membuatnya menjadi miliknya… selamanya. Kembali ke Masa Kini Di dalam vila tua, Rindra terbangun dengan napas memburu. Mimpi itu… bukan sekadar mimpi. Itu adalah kenangan. Kenangan dari masa lalu dan dia kini tahu siapa Dewi Kegelapan sebenarnya. Dia adalah Gayatri. Dan dia telah kembali… untuk mengambilnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN