Singgasana yang diduduki oleh Dewa Neox terasa memancarkan aura dingin mengintimidasi. Dengan seorang wanita cantik berdiri dengan mata yang menyalang tajam. Seakan mereka sama-sama memancarkan aura permusuhan. “Ayah, aku tidak suka dengan serangan yang dijalankan kemarin. Itu sangatlah licik dan hanya orang-orang pecundang saja melakukannya,” tolak Dewi Renisia terang-terangan. “Mengapa kau selalu membela manusia licik itu? Apa semua ini karena Gu Sheng Jun?” sinis Dewa Neox kembali menyebutkan sebuah nama spesial di hati Dewi Renisia. Namun, wanita itu sebisa mungkin tidak mengungkapkan kebenarannya. Karena di dalam masih ibunya, Jenderal Elmios, Primus dan dirinya yang melakukan beberapa perbincangan serius. “Jangan membawa nama dia, Ayah. Itu sama sekali tidak benar!” sanggah Dewi

