“Dewi Renisia,” panggil Gu Heng. Langkah cepat Dewi Renisia mendadak terhenti ketika mendengar seseorang memanggil namanya. Membuat wanita cantik itu membalikkan tubuhnya, lalu membungkuk hormat. Gu Heng mengangguk pelan. “Kemarilah! Aku ingin mengatakan sesuatu.” Tanpa pikir panjang Dewi Renisia pun melangkah mendekat. Akan tetapi, wanita itu tetap berdiri sembari menumpukan kedua tangannya sigap. Salah satu kebiasaan hormat yang selama ini dirinya pelajari ketika melihat tamu-tamu terhormat datang. “Apa kau merasa kesepian di sini?” tanya Gu Heng. Dewi Renisia terdiam sesaat. “Sedikit.” “Kalau begitu, nanti malam minta Jun’er untuk menemanimu ke istana. Di sana banyak sekali orang yang datang. Kau bisa menikmatinya juga,” ucap Gu Heng menatap wanita cantik di hadapannya dengan seri

