"Segera lakukan rencana itu karena aku tidak mau menunda lebih lama lagi kehancuran Stella," kata megan melanjutkan.
Senyum menyeringai Megan terbit saat penjelasan yang diberikan sangat sesuai dengan keinginannya.
"Baik. Aku tunggu kabar selanjutnya darimu. Hanya dengan keberhasilan sempurna aku akan memberikan hadiah yang tak terkira padamu." Megan memutuskan sambungan telepon mereka.
Wanita itu tersenyum sinis pada Stella, tetapi api kemarahan tetap terlihat jelas di matanya. Terlebih pria yang dia inginkan terlihat sangat mesra bersama Stella.
"Nikmati harimu saat ini, Stella karena aku tidak yakin kamu bisa menghirup udara bebas esok hari," lanjutnya, lalu meninggalkan tempat itu sembari membawa kecemburuan yang besar.
***
'Megan sudah pergi. Itu artinya aku tidak perlu lagi seperti ini,' kata Stella dalam hati setelah memastikan Megan tidak terlihat dalam pandangan matanya.
"Aku menyukaimu yang agresif, Stella. Seperti malam itu ketika kamu dikuasai alkohol, mungkin aku akan melakukan hal yang sama saat kamu menolakku," goda Erlan mengedipkan sebelah mata genitnya.
"Jangan berharap, Erlan, karena aku tidak akan mau minum apapun pemberian. Ingat itu!" hardik Stella kesal.
Getaran ponsel Stella mengalihkan perhatiannya. Stella mendapatkan pesan dari Elena, asistennya.
Elena : 'Stella, ternyata Erlan sangat romantis padamu. Pria dingin anti wanita yang digosipkan gay, bisa sangat mesra melebihi pria normal.' Stella hampir menyemburkan tawanya membaca pesan Elena, tetapi setelah melihat lirikan mata Erlan, Stella mengurungkan niatnya.
Stella : 'Elena, jangan bicara sembarangan. Aku sedang bersama Erlan.' Tidak lama kemudian balasan dari Elena datang.
Elena : 'Aku tahu, media sudah menyebarkan berita kalian yang sedang berkencan saat ini. Bahkan, foto Erlan saat menggodamu tersebar luas dan menghebohkan jagat maya.'
Stella terkejut. Foto Erlan yang menggodanya, yang mana? pikir Stella bingung.
'Sejauh yang aku ingat Erlan tidak melakukan apapun,' batinnya.
Stella memilih membuka akun sosial media miliknya sendiri. Dan benar saja, begitu terbuka Stella langsung disambut dengan foto Erlan yang tersenyum tipis dan mengedipkan sebelah mata genitnya padanya.
Berhenti di sana Stella segera membuka ribuan komentar yang masuk kurang dari satu jam foto itu tersebar.
"Tuan Grissham sangat tampan."
"Stella beruntung bisa mendapatkan Tuan Grissham."
"Stella menjadi wanita paling beruntung di dunia setelah berhasil mencairkan gunung es Tuan Grissham."
"CEO BTA sangat cocok dengan Stella."
"Aku tidak pernah melihat pria paling tampan, misterius, tapi sangat romantis seperti Tuan Grissham."
Masih banyak lagi komentar yang ditujukan untuk Stella dan Erlan. Walaupun ada yang memberikan komentar negatif, tetapi sebagian besar mendukung hubungan mereka.
Stella tidak sadar kalau sejak dia membuka sosial medianya, Erlan yang tinggi dapat melihat dengan mudah dari samping.
"Siapa yang tidak akan percaya pada akting sempurna seorang Stella? Hanya dengan sedikit kata-kata, seluruh dunia akan mempercayaimu tanpa bisa melihat kebenarannya," ujar Erlan mengomentari.
"Maksudmu, aku orang yang pandai bersilat, begitu?" sindir Stella.
"Ayo, kita pergi, Stella. Sudah cukup main-main siang ini. Media sudah terlalu banyak mendapatkan berita tentang kita. Aku tidak berminat lagi bersandiwara untuk hari ini," ajak Erlan sembari beranjak. Stella mengerutkan keningnya.
"Siapa yang ingin terus bersandiwara? Kalau kamu lelah bermain akting, sebaiknya segera akhiri hubungan tak masuk akal ini. Aku merasa sangat berat menanggungnya," timpal Stella juga berdiri dan menghadap Erlan.
"Kamu pikir aku mau menjalaninya terlalu lama?" Erlan menyipitkan matanya dan menatap sinis.
"Jangan hanya karena kita pernah bercinta kamu merasa keberadaanmu sangat penting untukku. Sebelum ada kamu, aku sudah terbiasa sendiri. Hanya dengan menjentikkan jari aku bisa memanggil perempuan manapun dan melempar mereka kapanpun," sombong Erlan membanggakan dirinya sendiri.
"Yah, aku sangat percaya pada kata-katamu karena kamu tidak ada bedanya dengan gigolo yang menjajakan diri. Hanya saja, mungkin derajatmu sedikit lebih tinggi dari mereka karena kamu CEO BTA," tandas Stella.
'Ada apa dengan Erlan? Tadi, dia manis, hangat, dan bersahabat, tapi sekarang tiba-tiba dingin tak tersentuh,' batin Stella bertanya-tanya.
"Aku harap kamu bisa memperbaiki lagi kata-katamu, Stella. Jangan sampai kamu menyesalinya di masa depan karena penghinaan itu," tegurnya.
Stella tersenyum miring. Dia mengambil tas dan hendak melangkah pergi.
"Tidak ada yang perlu disesali karena aku mengatakan semua kebenaran sesuai dengan fakta yang ada," balas Stella, lalu pergi meninggalkan Erlan.
Stella sudah pergi beberapa langkah dari Erlan, tetapi dia kembali setelah mengingat sesuatu.
Stella memajukan wajahnya dan mencium bibir Erlan sekilas, kedua pipinya, dan berakhir di hidung mancung pria itu.
"Terpaksa karena tadi kita pergi berdua dan harus berpisah di tempat umum seperti ini. Kalau bukan karena banyak media yang menyorot, aku tidak akan melakukannya," bisik Stella di depan bibir pria itu.
Setelah memberikan senyuman manisnya, Stella benar-benar pergi dan meninggalkan Erlan sendirian di tempat itu. Dengan caranya yang berpisah dari Erlan menggunakan berbagai ciuman, maka media tidak akan berpikir buruk.
Media hanya akan mengira kalau mereka memiliki urusan masing-masing yang tidak dapat ditunda sampai harus berpisah di tempat umum. Stella sangat cerdik. Kepiawaiannya di dunia akting di praktekkan langsung dalam kehidupan nyata.
***
Pagi hari.
Kantor Bara Talent Agency, New York City, USA.
"Di mana Megan?" tanya Stella pada Cristine, asisten Megan.
"Megan sedang berganti pakaian, ada apa Stella?" Cristine mencoba bermuka dua. Dia tidak mungkin menunjukkan ketidaksukaannya pada Stella secara langsung.
"Ada apa Stella? Kamu mencariku?" Megan kembali setelah dari ruang ganti.
Stella berjalan cepat mendekati Megan. Dia tidak mungkin mengatakan maksudnya di depan para aktris yang lain.
Stella tidak akan mengambil resiko merusak nama baiknya maupun nama baik megang sendiri. Karena kekompakan semua aktris di BTA agency sangat diutamakan. Walaupun sebenarnya terdapat bumbu-bumbu kecemburuan yang melekat.
"Apa maksudmu malam itu, Megan?" Stella menatap datar pada Megan.
"Maksudku? Apa? Aku tidak mengerti apa yang kamu bicarakan," jawab Megan sembari menggeleng.
"Jangan berpura-pura bodoh, Megan. Aku melihat semua yang kamu lakukan pada Erlan malam itu. Kamu menyuntikkan obat perangsang pada Erlan. Apa maksudmu melakukan itu?" geram Stella dengan suara tertahan.
"Jangan menuduhku sembarangan, Stella. Hanya karena kamu menjadi kekasih Erlan, bukan berarti kamu memiliki hak untuk menuduhku seperti itu," kelit Megan dengan suara yang tidak kalah dingin, tetapi wajahnya tetap menampilkan senyuman yang dapat dilihat oleh para aktris yang lain.
Hailey dan Emily hanya diam di tempatnya melihat Stella dan Megan dari jauh. Semua orang di dalam tidak ada yang tahu hal apa yang dibicarakan oleh Megan dan Stella, tetapi melihat wajah senyum Megan dan wajah dingin Stella, mereka dapat menebak kalau keduanya hanya membicarakan hal biasa.
"Aku masih menahan diri tidak memberitahu Erlan yang sebenarnya. Dan sekarang kamu tidak mau berkata jujur padaku? Apa perlu aku meminta Erlan mengecek seluruh CCTV yang ada di apartemennya?" ancam Stella membuat Megan gelisah.
Namun, berusaha menguasai diri agar kegelisahan di dalam hatinya tidak disadari oleh Stella.
"Sudah menjadi rahasia umum kalau seluruh aktris di bawah naungan Bara Talent Agency sangat mengidolakan Erlan, apa menjadi masalah buatmu kalau aku termasuk salah satu dari mereka yang mengidolakan Erlan?" Megan menatap Stella dengan wajah sedih. Dia sengaja menunjukkan ekspresi itu untuk membuat para aktris yang melihat mereka bertanya-tanya.
"Aku tidak masalah siapapun mengidolakan Erlan, tapi tidak dengan caramu yang memalukan. Menghalalkan segala cara dan mengambil kesempatan dalam ketidakberdayaan Erlan. Kamu siap dengan apa yang akan dilakukan Erlan jika dia mengetahui perbuatanmu?" Stella mengingatkan dengan tegas.
'Damn! Aku tidak mungkin melawan Stella lebih dari ini atau apa yang aku lakukan pada Erlan malam itu beresiko bocor. f**k you, Stella!' umpat Megan dalam hati.
"Kenapa diam, Megan? Cepat jawab aku!" desak Stella saat Megan justru mengabaikannya.
'Aku tidak punya pilihan lain. Aku harus menghindar dari Stella dengan memanfaatkan keadaan. Tidak akan aku biarkan Stella lolos begitu saja tanpa memberikan kesan buruk pada yang lain,' batin Megan.
Megan melirik ke seluruh ruangan yang luas itu. Dan benar saja kalau mereka dua sedang menjadi pusat perhatian.
Para aktris yang lain sangat penasaran dengan pembicaraan dua orang aktris wanita terbaik yang dimiliki BTA tahun ini. Karenanya mereka tidak ingin ketinggalan momen yang bisa saja memberikan keuntungan.
"Stella, bukan begitu maksudku," kata Megan.
Stella mengerutkan keningnya melihat Megan masih tetap mempertahankan senyum di wajahnya, tetapi maju ke depan seolah ingin memberitahu sesuatu padanya.
"Stella, aku memang menginginkan Erlan, tapi kamu harus tahu kalau Erlan selalu menginginkan wanita lebih dari satu di sampingnya. Karena itu aku berada di sana karena permintaan Erlan sendiri," kata Megan berbisik tepat di telinga Stella. Bahkan Megan juga mengangkat kedua tangannya seolah akan memeluk Stella.
Namun, belum sempat Megan dan Stella berpelukan, Megan mundur kuat seperti orang yang baru saja didorong sampai terjatuh di lantai.
"Stellar, kenapa kamu mendorongku?" tanya Megan dengan wajah sedih seperti wanita paling tersakiti karena perbuatan Stella sangat buruk padanya.
"Stella, jangan mendorong Megan seperti itu," tegur seseorang yang langsung mendekati keduanya.
"Keterlaluan kamu Stella, beraninya mendorong Megan padahal dia bagian dari kantor ini!" bentak orang itu.