Tidak terasa hampir setahun Arletta kembali ke Indonesia. Rencananya juga telah berjalan lima puluh persen. Kehidupan di Indonesia tidak seburuk yang ia pikirkan. Apalagi dengan identitas barunya, membuatnya lebih leluasa dan tidak merasa terancam.
Siang ini Arletta tengah bersantai. Dia main ke salah sahabatnya yang telah bersahabat dengannya sedari kecil. Alexandra, sosok wanita yang berpenampilan modis meski telah memiliki dua orang anak dan saat ini ia telah berumur tiga puluh tahun. Arletta sedang bermain dengan mereka, ia jenuh di apartemen hanya seorang diri.
“Lo serius dengan rencana lo, Ar? Gue susah-susah jauhin lo dari mereka, justru lo mendekat,” cerca Alexandra yang tengah santai membaca majalah.
“Kamu udah ibu-ibu, masih aja pakai lo-gue,” tegur Arletta mengindahkan pertanyaan Alexandra.
Alexandra menghela nafas kasar. Arletta tetaplah Arletta si gadis keras kepala dan susah ditebak.
“Aku serius, Ar. Aku gak setuju kalau sampai kamu benaran lakuin rencana kamu yang gak waras itu,” ucap Alexandra serius.
“Aku gak butuh persetujuan siapa pun,” balas Arletta enteng.
Ingin sekali Alexandra melempar majalahnya itu ke arah Arletta. Namun, ia harus bersikap baik di hadapan anak-anaknya agar mereka tidak mencontoh tingkah bar-barnya. Arletta yang sedang bermain ular tangga bersama Max, anak pertama Alexandra, menghentikan permainannya sejenak untuk menerima telefon dari seseorang.
“ … “
“Saya ke sana sekarang.”
Arletta bangkit, ia menyambar kunci mobilnya yang berada di atas meja. Sementara Alexandra menatap Arletta bingung saat wajah wanita itu tampak begitu cemas.
“Mommy mau ke mana?” tanya Max saat Arletta hendak pergi.
“Mau ke mana kamu?”
“Michele masuk ICU, Al. Aku harus ke rumah sakit sekarang,” jawab Arletta yang kemudian pergi begitu saja.
Alexandra menahan Max yang ingin menyusul Arletta. “Max, Mommy harus ke rumah sakit untuk bekerja,” ujar Alexandra agar Max tidak lagi mengejar Arletta.
“Kerja?” beo Max menggemaskan.
“Mommy ‘kan dokter sayang. Jadi Mommy kerjanya di rumah sakit,” terang Alexandra yang untung saja Max bisa mengerti.
Arletta mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi. Pikirannya kalut dengan kondisi Michele saat salah satu orang kepercayaannya mengatakan bahwa wanita itu tengah kritis dan saat ini berada di ICU.
Setahun ini Arletta memantau Michele dengan intensif. Sepertinya tidak ada waktu lagi untuk mengulur waktu. Arletta harus segera menjalankan misinya. Ia takut jika ia terlalu lama mengulur waktu yang ada dia justru terlambat.
Setelah dua puluh menit, akhirnya Arletta sampai di rumah sakit. Ia langsung ke ruangan Dokter Myree untuk bertanya langsung kondisi dan perkembangan wanita itu. Tubuh Arletta lemas saat mengetahui jika ternyata Michele telah berhenti melakukan pengobatan selama dua bulan, bahkan wanita itu telah sebulan tidak lagi meminum obatnya.
Saat ini kondisi Michele sangat lemah, Dokter Myree juga mengatakan bahwa sel kanker di tubuh Michele mulai menjalar di beberapa organ vitalnya.
“Lakukan yang terbaik untuk dia. Saya akan bayar Dokter lima kali lipat untuk dia,” desak Arletta.
“Dokter Adrea, saya sudah melakukan sebaik yang saya bisa. Kondisi Ibu Michele memang sangat lemah untuk saat ini. Kita berdoa saja semoga Ibu Michele bisa melewati masa kritisnya dan kita bisa melakukan kemoterapi kembali,” urai Dokter Myree.
“Kalau gitu, saya permisi,” pamit Arletta.
Melihat tidak adanya Louis maupun orang suruhan Louis, Arletta bergegas memasuki ruang ICU. Ia menatap sahabatnya yang tengah terbaring lemah tak sadarkan diri tersebut. Arletta menggenggam tangan ringkih milik Michele. Tubuh wanita itu sangat kurus bahkan lebih kurus dari saat mereka pertama bertemu kembali enam bulan lalu.
“Michele, kumohon bertahanlah. Michele … “
Arletta terisak pelan. Ia merasa bersalah telah membiarkan Michele dirawat oleh pria b******k itu. Seandainya saja dia tahu semuanya dari awal, Arletta akan membawa Michele dan menjaga wanita itu tidak akan berada dalam genggaman Louis.
“Michele, aku di sini. Bangunlah, Arletta di sini, Michele.”
Arletta mengecup pelan punggung tangan Michele, kemudian dia menempelkan punggung tangan Michele di pipi tirusnya. Arletta tidak dapat menahan tangisannya, hatinya sangat teriris menatap kondisi sahabatnya tersebut.
“Maafkan aku Michele. Seharusnya aku tidak membiarkan kamu bersama Louis. Michele kumohon, bertahanlah demi aku. Aku sudah ada di sini. Arletta di sini sekarang Michele,” ucap Arletta yang terus meminta Michele untuk sadar.
Mukjizat datang, seakan mendengar ucapan Arletta dan meresponnya, Arletta merasakan jika Michele membalas genggamannya. Arletta menghapus air matanya kasar menatap paras pucat pasi milik Michele yang masih menutup matanya.
“Aku di sini, Michele. Arletta di sini,” ucap Arletta sekali lagi untuk memberi sugesti kepada Michele agar wanita itu bisa bangun dari komanya.
Perlahan Michele mulai membuka matanya. Ia menatap seorang dokter cantik dengan iris abu-abu yang sangat mirip dengan mendiang sahabatnya. Namun, tadi ia mendengar jika Arletta memanggilnya. Di manakah sahabatnya itu?
“Ar … Arle … Arletta,” panggil Michele lemah.
Arletta tersenyum manis, dia sangat senang saat mengetahui Michele bisa melewati masa kritisnya.
“Aku Arletta, Michele. Maaf sudah membohongimu dan maaf sudah meninggalkanmu. Aku berjanji, setelah ini aku tidak akan meninggalkanmu.”
Tangan Michele meraba lemah paras ayu milik Arletta. Apakah benar di hadapannya ini adalah Arletta? Namun bukankah Arletta telah meninggal sebelas tahun lalu? Bahkan hampir setiap minggu ia selalu mengunjungi makam Arletta. Lantas siapa yang berada di dalam makam itu jika yang di hadapannya ini adalah Arletta.
Tangan Michele berhenti di mata Arletta. Arletta itu beriris mata hitam pekat, sedangkan iris Adrea itu abu-abu.
“A … Ar … Arletta?” Arletta mengangguk semangat.
“Aku Arletta, Chele. Aku selamat dari kecelakaan itu, bahkan aku berhasil sembuh setelah mendapat transpalasi ginjal saat di rawat di Amerika. Namun, aku harus kehilangan ingatanku. Tapi empat tahun lalu, aku berhasil mengingat semuanya. Aku di sini kembali untuk kamu. Aku tidak akan mengingkari janjiku untuk tidak meninggalkanmu,” terang Arletta.
“Arletta?” panggil Michele sekali lagi sambil air matanya yang mulai menetes.
“Iya, Chele. Ini aku Arletta.”
Arletta memeluk Michele erat, kemudian setelah itu dia memanggil Dokter Myree untuk memeriksa Michele. Arletta cukup terkejut saat keluar dari ICU ia bertemu dengan Louis yang tengah menunggu di kursi tunggu.
“Dokter Adrea,” sapa Louis sopan.
“Pak Louis, saya permisi ya,” balas Arletta yang masih terlihat baik-baik saja.
Diam-diam Louis mengikuti Arletta. Ia tidak memedulikan Michele, toh di sini juga sudah ada dokter dan suster. Louis bergegas mengambil mobilnya untuk membuntuti ke mana mobil Arletta akan pergi.
Hampir setahun ia mencoba mencari tahu mengenai Adrea. Namun, Louis hanya mendapatkan alamat di mana wanita itu tinggal. Louis tidak bisa mendapatkan informasi lebih, karena sangat sulit mencari tahu identitas wanita itu. Hal itu membuat Louis frustrasi dan hari ini nekat untuk mengikuti Adrea.
Mobil milik Adrea memasuki kawasan Komplek elite. Wanita itu menghentikan mobilnya di sebuah rumah berlantai empat yang lebih tepatnya di sebut dengan mansion karena keluasannya. Alamat ini, Louis masih ingat betul. Adrea baru saja memasuki mansion milik keluarga Charlos. Apakah Adrea memang benar-benar Arletta?
Sementara itu Arletta yang baru saja turun dari mobilnya menatap mansion di hadapannya dengan lekat. Sudah belasan tahun ia tidak pernah menginjakkan kakinya di mansion itu. Banyak sekali kenangan di sana, meski kebanyakan adalah luka-lukanya. Arletta menghela nafas kasar, sedetik setelah ia hendak melangkah masuk seseorang membuatnya mengurungkan niat.
“Saya tahu, kamu Arletta. Sebelas tahun Saya menunggumu, apa hukuman itu belum cukup?”
Arletta menghentikan langkahnya. Ia terkejut saat mendengar suara Louis. Apakah laki-laki itu mengikutinya? Itu artinya apa lebih baik semuanya terungkap hari ini? Namun, itu lebih baik. Itu artinya ia bisa merencanakan misinya segera.
“Saya Adrea, Mr. Smith,” elak Arletta yang masih kekeh dalam permainannya.
“Berhentilah berpura-pura, kamu tidak bisa membohongi saya, Miss Charlos.”
Louis melangkah untuk mengikis jarak antar keduanya. “Saya tahu penantian saya tidak akan sia-sia. Jadi maukah kamu menikah dengan saya?”
Arletta tersenyum miring, bahkan sebelum memulai permainannya, Louis berbaik hati langsung menyerahkan dirinya.
“Saya mau, tapi saya menginginkan perjanjian pranikah untuk Tuan.”
“Apa pun yang kamu inginkan pasti akan saya berikan. Tidak peduli berapa yang harus saya keluarkan, asal saya bisa mendapatkanmu seutuhnya.”