Sarang Ular Vandeborg

1504 Kata
Suara kunci yang berputar di balik pintu jati besar itu bergema di seluruh penjuru kamar, meninggalkan kesunyian yang mencekam. Alea Syailendra berdiri mematung di tengah ruangan yang luasnya nyaris menyamai apartemen lamanya. Ia tidak bergerak selama beberapa menit, membiarkan telinganya menangkap sisa-sisa langkah kaki Marco Vandeborg yang menjauh di koridor marmer. Begitu suara itu benar-benar lenyap, Alea mengembuskan napas panjang yang telah ia tahan sejak di altar. Gaun pengantin putih yang melilit tubuhnya kini terasa seperti kain kafan yang terlalu berat. Dengan jemari yang sedikit gemetar, ia mulai melepas kancing-kancing mutiara di pergelangan tangannya. Matanya menyapu seisi kamar. Interiornya adalah perpaduan antara kemewahan Barok dan modernitas yang dingin—dinding abu-abu gelap, lantai marmer hitam yang mengilat, dan furnitur kayu eboni yang tampak angkuh. Ini bukan sekadar kamar tidur; ini adalah sel berlapis emas. Alea melangkah menuju jendela besar yang menghadap ke arah tebing. Di bawah sana, ombak laut menghantam batu karang dengan suara menderu yang konstan, menciptakan kabut air yang tertiup angin malam. Di halaman mansion, lampu-lampu sorot menyapu permukaan rumput setiap tiga puluh detik sekali dengan presisi militer. "Sarang ular," bisik Alea pelan. Bibirnya yang dipulas merah darah membentuk lengkungan sinis. Ayahnya, Don Syailendra, selalu mengatakan bahwa keluarga Vandeborg membangun rumah mereka di atas fondasi paranoia. Sekarang Alea mengerti alasannya. Setiap sudut ruangan ini terasa seperti memiliki mata. Ia mendongak, menatap langit-langit yang dihiasi ukiran rumit. Di balik bayangan ukiran itu, ia yakin ada lensa kamera pinhole yang sedang merekam setiap gerakannya. Ia tidak boleh terlihat mencurigakan. Alea berjalan menuju meja rias, mulai melepas perhiasan berliannya satu per satu. Ia menatap pantulannya di cermin—seorang wanita yang tampak tenang, namun di balik mata gelapnya, sebuah prosesor mental sedang bekerja dengan kecepatan tinggi. Sebagai 'Oracle', ia tidak melihat ruangan ini sebagai tempat tinggal, melainkan sebagai sebuah sistem keamanan yang harus diretas. Marco Vandeborg adalah variabel yang paling sulit diprediksi. Pria itu meninggalkannya sendirian di malam pertama mereka tanpa sepatah kata pun yang hangat. Bagi wanita lain, itu adalah penghinaan. Bagi Alea, itu adalah peluang. Namun, ada sesuatu pada cara Marco menatapnya tadi—sebuah kewaspadaan yang tidak biasa. Pria itu tidak menatapnya seperti seorang suami yang menginginkan istrinya, tapi seperti seorang predator yang sedang mengamati predator lain. Sementara itu, dua lantai di bawah kamar utama, Marco Vandeborg melangkah masuk ke dalam ruang kerja pribadi Don Hugo. Ruangan itu berbau cerutu mahal dan kayu tua yang lembap. Hugo duduk di balik meja besar, diterangi oleh lampu meja yang memberikan efek bayangan dramatis pada wajahnya yang penuh keriput kekuasaan. "Kau meninggalkannya sendirian secepat ini?" tanya Hugo tanpa mendongak dari tumpukan berkas di depannya. "Dia tidak akan lari ke mana-mana, Don," jawab Marco datar. Ia berdiri dengan sikap sempurna, tangan di belakang punggung. "Penjaga di sektor luar sudah ditambah, dan sensor di balkon kamar utama sudah diaktifkan. Dia aman di sana." Hugo terkekeh, suara yang terdengar seperti gesekan amplas. "Jangan meremehkan seorang Syailendra, Marco. Terutama gadis itu. Intelijen kita menyebutkan bahwa putri bungsu Syailendra memiliki IQ yang jauh melampaui kakaknya. Dia mungkin terlihat seperti bunga hiasan, tapi dia bisa menjadi duri yang meracuni sistem kita dari dalam." "Aku akan mengawasinya secara pribadi," Marco menegaskan. "Dia tidak akan menyentuh perangkat elektronik apa pun tanpa seizinku." "Bagus. Karena mulai besok, kau harus mulai menekan ayahnya melalui dia. Aku ingin akses ke jalur pengiriman laut mereka di sektor timur. Jika gadis itu harus menderita sedikit agar ayahnya bicara, lakukanlah." Marco merasakan rahangnya mengeras, namun ekspresinya tetap stoik. "Aku mengerti." Setelah meninggalkan ruang kerja Hugo, Marco tidak langsung kembali ke kamar. Ia berjalan menuju ruang kendali keamanan di sayap kiri mansion. Di sana, deretan layar monitor menampilkan setiap sudut properti Vandeborg. Ia berdiri di depan monitor yang menampilkan kamar utama. Di layar, ia melihat Alea sedang mengganti gaunnya dengan gaun tidur satin hitam. Gerakannya anggun dan tenang, seolah dia tidak sadar sedang diawasi. Namun, Marco memperhatikan cara Alea menyentuh dinding saat berjalan menuju kamar mandi—sebuah sentuhan yang terlalu lama, seolah dia sedang mencari sesuatu di balik wallpaper mewah itu. "Apa yang kau cari, Alea?" gumam Marco pada layar dingin itu. Sebagai Inspektur Arkan, ia seharusnya merasa senang jika Alea melakukan kesalahan yang bisa ia gunakan sebagai umpan. Tapi sebagai Marco Vandeborg, ada insting lain yang berteriak di kepalanya. Wanita ini tidak takut. Dan di dunia mafia, seseorang yang tidak memiliki rasa takut adalah seseorang yang memiliki rencana cadangan yang mematikan. Kembali di kamar utama, Alea telah mematikan lampu meja, menyisakan hanya cahaya remang dari lampu dinding. Ia berbaring di atas ranjang yang terlalu luas, menatap langit-langit. Pikirannya tidak berhenti berputar. Ia baru saja menemukan sesuatu saat mengganti pakaian tadi. Di sudut lemari pakaian, tersembunyi di balik barisan jas mahal Marco, ada sebuah pelat logam kecil yang menempel pada dinding kayu. Itu bukan bagian dari furnitur. Itu adalah kotak distribusi kabel untuk sensor tekanan di lantai lorong. Vandeborg mungkin ahli dalam kekuasaan fisik, tapi sistem keamanan mereka masih menggunakan arsitektur lama yang terpusat. Jika ia bisa menyadap kabel itu, ia bisa menciptakan loop pada rekaman CCTV di lantai ini. Namun, ia butuh alat. Alat yang saat ini masih tersimpan di dalam tumit sepatunya yang ditinggalkan di lobi bawah. Tiba-tiba, suara pintu terbuka kembali. Alea tidak bergerak, ia memejamkan mata dan mengatur napasnya agar terdengar seperti orang yang sedang tidur lelap. Ia mendengar langkah kaki yang berat namun terukur masuk ke dalam ruangan. Aroma parfum maskulin yang tajam bercampur dengan bau wiski samar menyapa indranya. Marco telah kembali. Langkah kaki itu berhenti di samping ranjang. Alea bisa merasakan kehadiran pria itu di dekatnya. Marco berdiri di sana cukup lama, cukup untuk membuat bulu kuduk Alea berdiri. Apakah pria ini akan menuntut haknya sebagai suami? Atau apakah dia baru saja menerima perintah untuk menghabisinya? Namun, yang terjadi justru di luar dugaan. Marco menarik selimut yang tadinya tersingkap dan menutupi bahu Alea dengan gerakan yang kasar namun efisien. "Aku tahu kau tidak tidur, Alea," suara Marco rendah, hampir seperti bisikan di tengah kegelapan. Alea membuka matanya perlahan. Dalam keremangan, ia melihat siluet Marco yang menjulang tinggi. Pria itu telah melepas dasinya, dan dua kancing teratas kemejanya terbuka, memperlihatkan guratan otot leher yang tegang. "Sulit untuk tidur ketika kau merasa seperti harimau yang sedang diawasi oleh pawangnya," sahut Alea tenang, ia mendudukkan diri di atas ranjang, membiarkan rambut hitamnya terurai jatuh ke bahu. Marco berjalan menuju sofa di sudut ruangan, melempar jam tangannya ke meja kecil, dan duduk di sana. "Mulai malam ini, ini adalah duniamu. Kau tidak akan keluar dari mansion ini tanpa izin dariku atau Don Hugo. Kau akan makan apa yang kami berikan, dan kau akan bicara hanya saat ditanya." Alea terkekeh pelan, sebuah suara yang terdengar merdu namun pahit. "Kau berbicara seolah-olah kau sendiri punya pilihan di rumah ini, Marco. Kita berdua hanya pion di papan catur ayahmu. Bedanya, kau adalah pion yang memegang pedang, dan aku adalah pion yang dikorbankan." Marco menatapnya tajam. "Jangan mencoba menganalisisku. Kau tidak tahu apa-apa tentang apa yang kulakukan di rumah ini." "Aku tahu satu hal," Alea mencondongkan tubuhnya, mata gelapnya mengunci mata Marco. "Kau benci pernikahan ini sama besarnya denganku. Dan kau benci harus menjagaku seperti penjaga penjara. Kenapa kita tidak membuat kesepakatan? Kau beri aku ruang untuk bernapas, dan aku tidak akan membuat masalah yang akan membuatmu ditegur oleh Don Hugo." Marco bangkit dari sofa, melangkah mendekat hingga lututnya menyentuh pinggiran ranjang. Ia menunduk, wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Alea. "Di keluarga Vandeborg, kesepakatan hanya dibuat dengan darah. Jika kau ingin ruang, buktikan bahwa kau tidak sedang merencanakan sesuatu untuk menghancurkan kami." Alea bisa merasakan napas Marco di wajahnya. Ada ketegangan listrik di antara mereka—sebuah kombinasi antara kebencian, kecurigaan, dan ketertarikan primitif yang tidak diinginkan. Untuk sesaat, topeng mereka masing-masing retak. Alea melihat kilatan keletihan di mata Marco, sementara Marco melihat api pemberontakan di mata Alea. "Tidurlah," perintah Marco tiba-tiba, suaranya kembali dingin. Ia menarik diri dan kembali ke sofa. "Aku akan berada di sini. Jangan mencoba meninggalkan kamar ini. Sensor di lorong tidak akan membedakan antara istri tuan muda atau penyusup." Alea kembali berbaring, memunggungi Marco. Ia merasa terasing di rumah yang seharusnya menjadi rumah barunya. Mansion ini bukan sekadar bangunan; ini adalah organisme hidup yang dirancang untuk menelan siapa pun yang lemah. Ia bisa merasakan tatapan Marco di punggungnya, sebuah beban yang membuatnya sulit untuk benar-benar terlelap. Di sisi lain ruangan, Marco menyandarkan kepalanya di sofa, menatap kegelapan. Tangannya meraba saku celananya, menyentuh koin perak kecil—sebuah jimat keberuntungan dari masa pelatihannya di kepolisian. Ia berada di sarang ular, berbagi kamar dengan putri musuh, dan menjalankan misi yang bisa meledak kapan saja. Ia tidak boleh merasa iba pada Alea. Ia tidak boleh tertarik padanya. Karena di dunia ini, perasaan adalah kelemahan pertama yang akan dimanfaatkan musuh untuk menarik pelatuk. Malam itu, di bawah atap Mansion Vandeborg yang megah, dua orang asing tidur dalam satu ruangan dengan rahasia yang lebih tajam daripada belati. Alea dengan rencana peretasannya, dan Marco dengan misi penyamarannya. Mereka berdua adalah mata-mata yang saling mengintai dalam kegelapan, menunggu siapa yang akan membuat kesalahan pertama di sarang ular yang mematikan ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN