Pernikahan Tanpa Hati
Lonceng Katedral St. Jude berdentang dua belas kali, suaranya berat dan bergema di antara gedung-gedung pencakar langit V-Metropolis yang tertutup kabut tipis. Bagi penduduk kota, itu adalah penanda tengah hari. Namun bagi Marco Vandeborg, suara itu terdengar seperti vonis mati yang dijatuhkan di atas altar marmer yang dingin.
Marco berdiri di depan cermin setinggi plafon di ruang sakristi yang remang-remang. Setelan jas hitam custom-made yang ia kenakan melekat sempurna di tubuh tegapnya, menyembunyikan otot-otot yang tegang dan luka parut lama di balik kain sutra Italia yang mahal. Jemarinya yang panjang bergerak mekanis, merapikan letak dasi sutranya dengan presisi yang hanya dimiliki oleh seorang prajurit. Di balik jas itu, tepat di bawah ketiak kirinya, sebuah pistol semi-otomatis kaliber 9mm terselip dalam holster kulit tipis—sebuah pengingat bahwa di gedung suci ini pun, nyawa adalah komoditas yang murah.
"Marco," sebuah suara berat memecah kesunyian ruangan.
Marco tidak menoleh. Ia mengenali pantulan pria tua di cermin itu. Don Hugo Vandeborg berdiri di ambang pintu, dikelilingi oleh kepulan asap cerutu yang aromanya memenuhi ruangan dengan bau tembakau kuno dan kekuasaan. Hugo menatap putra angkatnya dengan mata elang yang tidak pernah benar-benar menunjukkan belas kasihan.
"Keluarga Syailendra sudah tiba," ucap Hugo, suaranya serak namun penuh otoritas. "Ingat tujuan kita, Marco. Pernikahan ini bukan tentang cinta. Ini adalah penyerahan diri secara legal. Gadis itu adalah jaminan bahwa ayahnya tidak akan membocorkan jalur distribusi kita ke otoritas federal. Perlakukan dia sebagai sandera yang berharga, tapi jangan pernah biarkan dia menyentuh rahasia keluarga ini."
Marco berbalik perlahan, wajahnya datar seperti topeng marmer yang dipahat sempurna. "Aku tahu tugasku, Don. Aku akan menjaganya dalam jangkauan sensor kita."
Hugo mengangguk puas, lalu berbalik pergi tanpa kata-kata tambahan. Begitu ayahnya menghilang, Marco menarik napas panjang. Di balik topeng "Marco Vandeborg" yang dingin, Inspektur Arkan dari unit taktis kepolisian sedang menghitung risiko. Misi penyamarannya selama lima tahun telah membawanya ke titik ini—menjadi menantu dari dua dinasti kriminal terbesar untuk menghancurkan mereka dari dalam. Namun, menikahi putri musuh adalah variabel yang tidak pernah ia duga sebelumnya.
Prosesi pernikahan itu lebih mirip upacara militer daripada perayaan suci. Katedral telah dikosongkan dari warga sipil. Di setiap baris kursi kayu jati, pria-pria berjas hitam dengan earpiece berdiri siaga, tangan mereka tidak pernah jauh dari balik jas. Keluarga Vandeborg duduk di sisi kiri, memancarkan aura predator yang tenang, sementara keluarga Syailendra di sisi kanan tampak seperti sekumpulan orang yang sedang menunggu di depan regu tembak.
Musik organ mulai meraung, memainkan melodi yang seharusnya agung namun terasa mencekam. Pintu besar katedral terbuka perlahan, membiarkan cahaya matahari yang pucat masuk ke dalam ruangan yang remang-remang.
Alea Syailendra muncul di sana.
Dia tampak seperti hantu porselen di tengah kegelapan gereja. Gaun pengantinnya putih bersih, dengan potongan klasik yang menutup hingga ke leher, namun cadar tipis yang menutupi wajahnya tidak bisa menyembunyikan ketegangan pada bahunya. Dia berjalan perlahan didampingi ayahnya yang tampak layu, langkahnya ragu namun kepalanya tetap tegak.
Saat Alea tiba di altar, ayahnya menyerahkan tangan wanita itu kepada Marco. Marco merasakan jemari Alea yang sedingin es menyentuh kulitnya. Ada getaran halus di sana, sebuah ketakutan yang coba disembunyikan dengan martabat yang rapuh. Marco menggenggam tangan itu dengan kekuatan yang pas—cukup kuat untuk menunjukkan kepemilikan, namun cukup dingin untuk menegaskan bahwa tidak ada ruang bagi empati di antara mereka.
"Saudara-saudara," suara uskup bergema, terdengar gemetar di bawah tatapan tajam para mafioso. "Kita berkumpul di sini untuk menyatukan Marco Vandeborg dan Alea Syailendra dalam ikatan suci..."
Marco tidak mendengarkan khotbah itu. Matanya lurus menatap ke depan, namun seluruh indranya terfokus pada wanita di sampingnya. Dia bisa mencium aroma mawar yang samar dari parfum Alea, namun ada bau lain yang lebih tajam—bau ozon dan alkohol pembersih yang hanya bisa dikenali oleh seseorang yang terbiasa bekerja dengan sirkuit elektronik. Ia teringat laporan intelijen tentang seorang peretas bernama "Oracle" yang memiliki ciri-ciri serupa. Apakah gadis yang sedang dinikahinya ini adalah ancaman digital yang dicari banyak negara?
"Marco Vandeborg, apakah kau menerima..."
"Aku terima," potong Marco dengan suara yang lugas dan kering. Tidak ada emosi dalam nada bicaranya. Baginya, ini adalah pembacaan protokol operasi.
"Alea Syailendra, apakah kau menerima..."
Jeda itu terasa abadi. Seluruh ruangan menahan napas. Marco melirik Alea dari sudut matanya, melihat bagaimana d**a wanita itu naik-turun dengan cepat. Akhirnya, suara lembut namun tajam terdengar dari balik cadar.
"Aku terima."
Saat uskup memberikan tanda untuk ciuman pernikahan, Marco mendekat. Ia mengangkat cadar tipis itu perlahan. Untuk pertama kalinya, ia menatap wajah Alea tanpa penghalang. Wanita itu cantik, namun kecantikannya terasa seperti senjata yang diasah tajam. Matanya yang gelap tidak memancarkan kesedihan, melainkan kecurigaan yang mendalam.
Marco tidak mencium bibirnya. Ia hanya menempelkan bibirnya di kening Alea—sebuah gestur formal yang dingin, sebuah tanda kekuasaan yang mutlak di depan para saksi.
"Selamat datang di keluarga, Alea," bisik Marco, sangat pelan hingga hanya wanita itu yang bisa mendengarnya. "Cobalah untuk tetap hidup."
Alea tidak membalas. Dia hanya menatap Marco dengan kilatan mata yang seolah berkata bahwa dia tidak butuh izin siapa pun untuk bertahan hidup.
Resepsi di aula katedral berlangsung seperti perjamuan para monster. Tidak ada tawa yang tulus, hanya denting gelas kristal dan bisik-bisik tentang wilayah kekuasaan dan jalur penyelundupan. Marco berdiri di samping Alea di atas panggung kehormatan, bertindak sebagai pilar yang kokoh namun tak tersentuh.
Ratusan orang menyalami mereka, namun Marco menyadari bahwa tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar memberikan selamat. Para Vandeborg memandang Alea sebagai piala perang yang harus dijaga ketat, sementara para Syailendra memandang Marco sebagai pemangsa yang baru saja menelan putri mereka.
Interaksi personal antara pengantin baru itu nihil. Mereka berdiri bersisian selama berjam-jam tanpa bertukar kata. Jika tangan mereka bersentuhan secara tidak sengaja, Alea akan segera menariknya seolah-olah kulit Marco adalah bara api. Marco sendiri lebih fokus memantau pintu keluar dan posisi para pengawal Don Hugo. Ia menyadari bahwa di hari pernikahannya sendiri, dia adalah target sekaligus pelindung.
"Kau tampak sangat menikmati ini, Marco," sebuah suara sinis menyapa dari barisan tamu.
Marco menoleh dan menemukan Silas, salah satu eksekutor paling brutal di keluarga Vandeborg, berdiri di sana dengan seringai meremehkan. Silas menatap Alea dengan pandangan yang membuat Marco merasa ingin segera mencabut senjatanya.
"Ini adalah perintah Don Hugo, Silas," jawab Marco dingin. "Jika kau punya keluhan, sampaikan padanya, bukan padaku."
Silas terkekeh, lalu mencondongkan tubuhnya ke arah Alea. "Berhati-hatilah, Gadis Syailendra. Di rumah kami, orang-orang yang tidak berguna biasanya berakhir di dasar pelabuhan."
Alea tidak mundur. Dia justru mendongak, menatap Silas dengan keberanian yang mengejutkan. "Terima kasih atas sarannya. Aku akan memastikan bahwa akulah yang memegang tali jemurannya saat itu terjadi."
Marco mengerutkan kening. Keberanian Alea tidak seperti yang ia duga dari seorang putri mafia yang "dijual". Wanita ini memiliki taring yang tersembunyi di balik gaun putihnya.
Malam mulai turun menyelimuti V-Metropolis saat iring-iringan mobil hitam mewah membawa mereka menuju Mansion Vandeborg. Suasana di dalam Rolls-Royce yang membawa Marco dan Alea terasa lebih menyesakkan daripada di gereja. Mereka duduk di kursi belakang yang luas, dipisahkan oleh jarak yang cukup untuk satu orang lagi.
Alea menatap ke luar jendela, melihat lampu-lampu kota yang memudar saat mereka mulai memasuki kawasan perbukitan yang terisolasi. Marco memperhatikan pantulan wajah istrinya di kaca jendela. Dia melihat bagaimana jemari Alea terus mengetuk-ngetuk paha secara ritmis—sebuah pola yang aneh, seolah-olah dia sedang mengetik kode di udara.
"Mansion itu berada di atas tebing," Marco akhirnya memecah keheningan. "Satu-satunya jalan masuk dan keluar adalah gerbang utama yang dijaga sensor biometrik. Jangan berpikir untuk berjalan-jalan di malam hari jika kau tidak ingin berakhir sebagai target latihan menembak para penjaga."
Alea menoleh perlahan, menatap Marco dengan ekspresi datar. "Aku tahu tempat seperti apa yang kau huni, Marco. Ayahku menghabiskan seluruh hidupnya mencoba membongkar sistem keamanan keluargamu. Aku tidak cukup bodoh untuk mencoba kabur lewat pintu depan."
"Bagus," sahut Marco singkat. "Karena aku tidak akan membuang waktu untuk mencarimu di hutan jika kau hilang."
Mobil berhenti di depan pintu utama Mansion Vandeborg yang megah namun mencekam. Bangunan batu besar itu berdiri tegak, diterangi lampu sorot yang memberikan kesan seperti penjara kuno yang mewah. Para pelayan berbaris menyambut mereka, namun mata mereka tetap tertunduk, tidak berani menatap mata tuan mereka yang baru.
Marco turun lebih dulu, tidak membukakan pintu untuk Alea. Ia membiarkan pelayan melakukannya sementara ia melangkah masuk ke dalam aula utama. Alea mengikuti di belakang, langkahnya terasa berat saat melewati lantai marmer hitam yang dingin.
"Bawa barang-barangnya ke kamar utama," perintah Marco pada seorang kepala pelayan. Ia lalu menoleh pada Alea, tangannya menunjuk ke arah tangga melingkar yang menuju lantai atas. "Kamarmu ada di sana. Kamar kita."
Kata "kita" terasa pahit di lidah Marco.
Mereka menaiki tangga dalam keheningan yang tegang. Sesampainya di depan pintu kamar utama, Marco membukanya dan membiarkan Alea masuk terlebih dahulu. Kamar itu sangat luas, didominasi warna gelap dan furnitur kayu eboni yang berat. Sebuah ranjang besar berdiri di tengah ruangan, tampak seperti altar lain yang menunggu korban berikutnya.
Alea berdiri di tengah ruangan, tampak kecil dan terasing di antara kemegahan yang dingin itu. Dia menoleh pada Marco, menantikan apa yang akan terjadi selanjutnya dalam ritual pernikahan paksa ini.
Marco tidak mendekatinya. Ia hanya melepaskan jas hitamnya dan melemparnya ke atas kursi. Ia berdiri di sana dengan kemeja putih yang lengannya sudah disingsingkan, memperlihatkan jam tangan taktis yang sebenarnya adalah pemancar sinyal rahasia.
"Aku punya urusan di bawah," kata Marco tanpa emosi. "Kau bisa menggunakan kamar mandi. Ada pakaian di lemari. Jangan mencoba menyentuh komputer atau jaringan telepon di ruangan ini. Semuanya dipantau."
Tanpa menatap Alea lagi, Marco berbalik dan melangkah keluar dari kamar. Ia menutup pintu dengan suara klik yang tegas, meninggalkan istrinya sendirian di dalam kamar yang akan menjadi penjara barunya.
Berdiri di koridor yang sunyi, Marco menyentuh earpiece kecil di telinganya. "Arkan di sini. Operasi 'Legacy' dimulai sekarang. Target sudah dalam pengawasan. Pastikan jalur data dari kamar utama dialihkan ke server pribadiku."
Pernikahan telah usai, namun perang yang sesungguhnya baru saja dimulai di balik dinding tebal Mansion Vandeborg. Marco tahu, mulai malam ini, ia tidak hanya harus mengawasi musuh-musuhnya, tapi juga wanita yang kini berbagi nama belakang dengannya.