Bab 8: Si Calon Perusak Hubungan Orang

1803 Kata
*** Jalur belakang itu memang nikmat Tapi sampai mana memang nikmatnya? *** Hari ini seperti biasa kegiatan yang di lakukan oleh Khalila hanya bergelut di balik selimutnya setelah dia begadang semalaman mencoba menyelesaikan skripsinya yang tinggal sedikit lagi. Bab empat sudah resmi di acc oleh dosen pembimbingnya kemarin. Semalam Khalila mencoba menyelesaikan bab lima dan dia juga udah mengirim file-nya pada dosen pembimbingnya. Sekarang Khalila tinggal menunggu balasan email dari dosen pembimbingnya, syukur-syukur tidak ada yang perlu di perbaiki. Jika itu sampai terjadi, jelas Khalila akan merasa sangat bersyukur sekali. Dia semakin banyak memiliki waktu untuk rebahan. Lagu dari salah satu boy grup favorit dari Korea Selatan mengalun begitu saja. Ya, Khalila juga seorang fangirl. Dia juga aktif dia di fandom boy grup itu. Khalila bahkan pernah menonton konser secara langsung, membeli merchandise boy grup. Itu adalah kesenangannya. "Suara suami gue adem banget, gila sih, suara-suara minta di halalin!" seru Khalila di balik selimut. Menurut Khalila menganggumi sesuatu itu bukan sebuah kesalahan. Lagian Khalila selalu merasa senang ketika melakukannya. Gadis itu memilih menyingkirkan selimutnya, merenggangkan otot-ototnya kemudian melangkah ke arah pintu balkon sembari merapikan gaun tidurnya ketika mendengar suara gaduh di luar sana. Mata Khalila mengerjab perlahan ketika melihat teman-teman kantor Angga yang pernah Khalila temuai di pesta pernikahan ada di rumah Angga pagi menjelang siang ini. Mereka semua kompak memakai pakaian yang cukup santai. "Acara kantor, kah?" gumam Khalila pelan. Gadis itu mengamati semuanya dengan sangat lekat dari atas. Dia mendengus ketika melihat Manika si sok paling manis dan paling baik mengobrol sok akrab dengan tante Rinjani. Entah mengapa, sejak bertemu dengan Manika si bukan kedelai pihan itu perasaan Khalila sudah menjadi tidak enak, dia merasakan aura-aura negatif dari dalam diri Manika. "Ciuh, mereka semua sekarang main di rumah mas Angga. Gue kasih lihat sama lo semua betapa banyak duitnya seorang Khalila Wikasita. Enak aja hari itu ngata-ngatain gue doyan sama mas Angga hanya karena duitnya doang. Duit bonyok sama abang gue berlimpah noh!" seru Khalila. Gadis itu tersenyum miring kemudian dengan langkah cepat masuk ke dalam kamarnya. Khalila baru saja mendapatkan ide cemerlang tentang apa yang harus dia lakukan hari ini. Rebahan bahkan mendadak tidak menarik lagi. Alih-alih masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri, Khalila justru mengambil pakaian ganti untuk dia pakai setelah mandi nanti. Ya, di pagi hari menjelang siang ini Khalila akan numpang mandi di rumah tetangganya. Sedikit bertingkah pagi ini Khalila pikir bukan masalah. Dia ingin membungkam mulut semua orang yang ada di rumah tetangganya. Lagian di rumah itu juga ada mbak Satya yang jelas akan satu kubu dengannya. "Dek, mau kemana?" Khalila bertemu dengan Rayner di tangga. Abangnya itu sudah terlihat rapi, pasti abangnya itu ingin berangkat bekerja. "Ke rumah tetangga kita. Abang mau kerja? Hati-hati di jalan. I love you!" seru Khalila, gadis itu kemudian menuruni anak tangga dengan sangat cepat membuat Rayner menahan napasnya sendiri, takut jika Khalila tiba-tiba tergelincir kemudian patah. "Lila, hati-hati!" seru Rayner. Khalila hanya melambaikan tangannya di udara, tanpa berpikir panjang gadis itu langsung menyebrang jalan dan tanpa permisi juga dia langsung masuk ke dalam rumah tetangganya. Itu sudah menjadi kebiasaan Khalila sejak dulu. "Lila!" seru Angga dengan wajah yang terlihat sedikit terkejut membuat tatapan semua orang yang sedang duduk di ruang tamu itu tertuju pada Khalila. Gadis itu langsung tersenyum pada Angga. Khalila merasa sangat puas ketika melihat wajah terkejut teman-teman kantor Angga yang super julid itu. Reaksinya persis seperti apa yang Khalil bayangkan sebelumnya. "Selamat pagi yang kesiangan mas Angga," sapa Khalila dengan senyum polosnya. "Lila, sudah sarapan, Nak?" tanya Rinjani membuat Khalila langsung mneggeleng. Dia mengecup pipi Rinjani super kilat. "Belum, Tante. Lila ke kamar mbak Satya, ya. Kita ada urusan darurat yang harus di lakukan. Buat teman-teman mas Angga selamat menikmati masakan tante Jani. Itu udah yang paling enak," ucap Khalila dengan senyum sok manisnya. "Kamu ada urusan apa sama mbak Satya?" tanya Angga sembari mencekal pergelangan tangan Khalila. Gadis itu tersenyum manis. "Urusan yang jelas nggak meguntungkan untuk mas Angga," jawab Khalila setelah itu gadis itu langsung melesat ke lantai atas di mana kamar Satya berada. Rinjani hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Khalila. Dia kemudian mempersilahkan teman-teman Angga untuk menikmati sarapan. "Cewek yang sama lo ke acara nikahan Arfan, Ga?" tanya Dinda, teman kantor Angga yang juga merupakan sahabat Manika. "Iya itu dia, pacar gue," jawab Angga. Dia duduk di samping Arfan. Di kantor, orang yang paling akrab dengan Angga memang Arfan. Angga dengan Arfan sama dengan dia dan Bhanu. Sudah seperti saudara sendiri. Kalau tingkat kenyamanan jelas Angga lebih nyaman menceritakan apapun dengan Bhanu. "Dia seakrab itu sama keluarga kamu?" tanya Manika. Angga mengangguk sambil tersenyum. "Dia udah kayak anak bontot di keluarga gue, jadi nggak usah heran kalau dia keluar masuk sesuka hati ke rumah ini. Tidur sama nyokap gue bahkan kadang jadi hal rutin yang di lakukan Khalila," jawab Angga. "Kok bisa seakrab itu?" tanya Dinda dengan cukup sinis. Sejak hari itu ketika Khalila memperkenalkan diri sebagi pacar Angga di acara nikahan Arfan, Dinda mendadak tidak menyukai Khalila. "Kami tumbuh bersama sejak kecil. Rumah Khalila tepat ada di seberang rumah gue." Semua orang yang ada di ruang tamu itu kompak menoleh ke rumah seberang rumah Angga. Manika terlihat meringis pelan begitu juga dengan dua teman Angga yang lain bernama Aldi dan Doni. Dua orang itu lebih tua empat tahun di bandingkan Angga. Jejeran koleksi mobil mewah keluarga Wikasita terlihat jelas dari ruang tamu ketika gerbang rumah itu terbuka. Sosok Rayner terlihat masuk ke dalam salah satu mobil itu. Angga tersenyum puas melihat ekspresi teman-temannya itu. "Khalila nggak butuh uang gue. Dia bahkan kebingungan menghabiskan uangnya sendiri," ucap Angga. Dia tahu apa yang di katakan teman-temannya pada Khalila saat menghadiri acara pernikahan Arfan. Bukan Khalila yang menceritakan padanya tapi Rindu dan Karlita. Jadi Angga jelas sangat mengerti dengan perasaan Khalila malam itu. Wajar Khalila melarikan diri dari pesta pernikahan dan marah padanya. Melihat teman-temannya mendadak diam, Angga memecah keheningan. Mereka kemudian mulai membicarakan tentang pekerjaan dan juga rencana liburan akhir tahun mereka nanti. Khalila langsung melompat ke tempat tidur Satya setelah selesai mandi. Satya sendiri masih bergelut di bawah selimut, terlihat sangat malas bangun. "Lila kenapa pagi-pagi lo udah sampai kamar gue," gumam Satya dengan suara serak di balik selimut. Khalila tersenyum. "Gue sedang membuat calon pelakor memanas, Mbak," ucap Khalila. Satya langsung menyibak selimutnya ketika mendengar kata pelakor keluar dari mulut Khalila. "Pelakor?" tanya Satya sembari menguap pelan. Sumpah terkadang ini yang membuat Khalila merasa iri pada Satya. Satya selalu terlihat cantik dalam keadaan apapun itu bahkan dalam keadaan menguap sekalipun. Sungguh Satya yang sangat beruntung. "Hooh orang yang ngatain gue pacaran sama mas Angga karena uang jajan yang di kasih sama Mami kurang, enak aja itu mulutnya. Kesel nggak sih, Mbak. Temen kantor mas Angga benar-benar julid semua. Tuh lagi ada di ruang tamu orangnya!" seru Khalila sembari meremas boneka milik Satya. "Serius lo di katain gitu sama mereka?" tanya Satya. Gadis itu terlihat sedikit emosi. Secara tidak langsung teman-teman kantor Angga sudah mengatakan adik kecil yang dia sayangi sepenuh hati adalah gadis murahan. Satya jelas tidak terima sama sekali. "Kayaknya kita memang harus bangun lebih awal. Lila, dandan yang cantik. Kita basmi pelakor hari ini. Tunjukkan pada mereka betapa mahalnya kita. Angga awas aja, gue jambak rambutnya setelah ini. Yok, Dek, dandan yang cantik. Gue mandi dulu," ucap Satya sembari menakup pipi Khalila setelah itu gadis dua puluh delapan tahun itu langsung masuk ke dalam kamar mandi. Khalila tersenyum miring. Benar kan apa yang dia katakan, apapun yang dia rencakan di dalam kamar Satya jelas tidak akan menguntungkan untuk Angga. "Lo lihat ya Manika bukan si kedelai pilihan. Sebenarnya gue sama sekali nggak berniat pamer seperti sekarang. Tapi karena lo dan teman-teman lo sudah mengusik jiwa tenang gue. Yaudah gue terabas aja. Gue mau kasih lihat Dior asli sama lo!" seru Khalila, gadis itu sibuk mencari baju di lemari Satya yang entah berapa pintu. Khalila juga tidak habis pikir baju Satya memang sebanyak itu. Ini baru yang ada di Yogyakarta belum yang ada di Jakarta. Satya pernah mengatakan bahwa ini karena tuntutan profesi dan Khalila percaya dengan itu. Satya kan memang seorang model. "Gimana, Mbak?" tanya Khalila sembari berdiri di dahapan Satya. Gadis yang sedari baru saja selesai membersihkan diri itu langsung mengangkat jempolnya. Dia mempercepat acara siap-siapnya. "Sekarang kita tunjukkan siapa sebenarnya yang murah!" seru Satya. Dua gadis itu menyampirkan tas mahal di pundak mereka kemudian melangkah keluar dari kamar. "Mau kemana, Kak?" tanya Rinjani ketika melihat Satya menggandeng tangan Khalila sembari menuruni satu persatuanak tangga. "Membasmi calon pelakor sebelum merajalela, Mam," jawab Satya, dia mengecup singkat pipi Rinjani kemudian melangkah santai melewati ruang keluarga kemudian langkah mereka terhenti di ruang tamu. "Teman-teman Angga?" tanya Satya. Orang-orang di ruang tamu itu langsung mengangguk dan sepeti biasa, setiap orang baru yang bertemu dengan Satya pasti akan di buat takjub dengan kecantikan gadis itu itu. Khalila yakin Manika si bukan kedelai pilihan dan Dinda itu akan merasa sangat minder setelah melihat Satya. "Iya, Mbak," jawab mereka dengan kompak. Satya mengangguk-anggukkan kepalanya pelan. "Yaudah lanjutin, have fun. Maaf menyela waktu kalian sebentar. Ga, gue izin bawa Lila pergi hari ini. Nggak usah di cariin," ucap Satya. Agga langsung menatap Khalila dengan penuh tanda tanya tapi Khalila langsung menggeleng pelan. Dia mengikuti langkah Satya. Langsung masuk ke dalam mobil gadis itu kemudian mereka meninggalkan rumah. "Lucu banget reaksi teman-teman si Angga!" seru Satya dengan senyum puasnya. "Gue yakin mereka sekarang sedang di serang syok kayak teman-teman mas Angga sebelum-sebelumnya. Pulang-pulang ngaca deh tuh membandingkan wajahnya dengan wajah lo, Mbak!" seru Khalila. Satya terkekeh pelan, sebenarnya dulu Satya merasa kasihan pada Angga karena setiap teman cewek yang Angga bawa ke rumah akan selalu bersikap seperti itu setelah melihatnya. Akan merasa minder kemudian hilang begitu saja. "Tapi, Mbak, gue merasa teman-teman mas Angga kali ini beda banget. Mereka tipe orang yang merasa paling benar. Merasa paling sempurna. Gue kadang ngerasa takut. Mereka mungkin akan memberikan efek yang buruk pada hubungan gue dan mas Angga di masa depan. Tapi nggak tahu juga sih, bisa jadi itu hanya perasaan gue aja," ucap Khalila. "Angga kadang memang suka b**o kebangetan, La. Nggak pekaan dan kadang juga terlampau baik sama orang lain tanpa dia sadar kalau dia hanya sedang di manfaatkan. Gue berharap lo nggak meninggalkan Angga tapi jika suatu hari lo merasa sangat lelah dengan sikap Angga, lo boleh tinggalin dia," ucap Satya. Khalila mengangguk pelan Dia meminta Satya untuk berhenti di depan gerai boba yang ada di perumahan mereka. Jadilah dua gadis itu di ledekin oleh mas-mas boba karena menggunakan pakaian yang berkualitas tinggi hanya untuk membeli boba tapi Khalila menanggapi ledekan itu jadilah mereka mengobrol lebih lama. Jangan pernah meninggalkan Angga jika lo belum benar-benar capek Khalila akan mengingat ucapan Satya sepanjang waktu. Dia akan bertahan di samping Angga sekuat yang dia bisa tapi jika suatu hari nanti Khalila merasa lelah. Dia akan meninggalkan Angga.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN