Bab 7: Si Anak Penurut

1964 Kata
"Pagi." Khalila melangkah menuruni tangga dengan sebuah ransel di pundaknya. Semua orang yang sedang berkumpul di meja makan kompak menoleh kearahnya. Mereka cukup kaget melihat seorang Khalila Wikasita tampil sangat rapi ketika weekend seperti sekarang. "Mau kemana, Dek?" tanya Rayner dengan kening yang sedikit berkerut. "Urusan darurat, Bang. Abang free nggak?" tanya Khalila, dia duduk di samping Rayner. Pria itu mengangguk sembari menikmati sarapan buatan sang Mami. "Free, memang mau kemana?" tanya Rayner. "Ke rumah dosen pembimbing, dia semalam chat dan bilang hari ini bisa bimbingan," jawab Khalila, bibirnya sedikit mengerucut, tentu saja Khalila merasa kesal karena dosen pembimbingnya mengatur waktu sesuka hati. Khalila yang memang butuh mautidak mau haruk mengiyakan semuanya. "Oke, Abang antar. Tumben nggak sama Angga, kalian berantem lagi?" tanya Rayner. Khalila langsung menggeleng. "Mas Angga ada acara sama temen kantornya hari ini jadi jelas nggak bisa antar dan juga lagi nggak berantem tapi nggak tahu sih kalau nanti kita lihat aja," jawab Khalila dengan santai. Berantem sepertinya memang sudah menjadi bumbu penyedap paling banyak dalam hubungan Angga dan Khalila. Rayner, Citra dan Abyaz hanya menggeleng mendengar ucapan Khalila. Gadis itu memang seperti itu. Mereka kadang sulit percaya bahwa Khalila sudah menjadi mahasiswa semester akhir sedangkan tingkah gadis itu masih kekanakan sekali. "Jadi, Abang bisa antar nggak?" tanya Khalila. Jejeran mobil jelas ada di garasi kediaman keluarga Wikasita bahkan koleksi mobil mewah Rayner ada yang di simpan beberapa di garasi rumah ini tapi sayang sekali Khalila belum diizinkan mengemudi walau sudah sangat jelas usianya sudah sangat cukup untuk mengemudi. Untuk itu Khalila benar-benar ingin menyelesaikan pendidikannya lebih cepat karena Khalila ingin mendapatkan kebebasan dalam hidupnya . Jika orang-orang di luar sana sudah mendapatkan semua izin ketika berusia tujuh belas tahun maka Khalila harus menunggu wisuda strata pertama terlebih dahulu. Salah satunya adalah mengemudi motor atau mobil walau sudah jelas Khalila bisa melakukan semuanya dengan sangat baik tapi sampai hari ini dia belum mendapatkan izin. "Bisa," jawab Rayner. Khalila langsung mengangguk cepat, gadis itu sempat-sempatnya mengedipkan matanya pada Abyaz untuk menggoda papinya itu. "Papi tumben di rumah pagi ini. Nggak golf, Pi?" tanya Khalila. Abyaz langsung mengangguk. "Setelah sarapan Papi berangkat," jawab Abyaz santai. Khalila langsung mengangguk mengerti. Bermain golf setiap weekend jika sedang berada di rumah jelas adalah hal yang di lakukan oleh Abyaz, Khalila sudah sangat hapal dengan jadwal Papi-nya itu. "Mami punya kegiatan apa hari ini? Rumah sakit?" tanya Khalila. Citra langsung mengangguk. "Nanti siang Mami ke rumah sakit, pulang sore. Malam ini semua orang free kamu mau makan malam dimana?" tanya Citra. Sebagai orangtua, Citra maupun Abyaz sangat tahu Khalila pasti sangat kesepian karena mereka lebih sering berada di luar rumah dan menghabiskan waktu untuk bekerja di bandingkan waktu di rumah untuk bersama Khalila. Khalila benar-benar tidak pernah protes tentang itu membuat rasa bersalah Citra dan Abyaz semakin besar. Khalila akan selalu bersikap seperti sekarang pada mereka, bersikap santai dan sangat ceria. Anak itu bahkan sangat peurut. Apapun yang mereka kataka Khalila pasti akan menurut begitu saja. "Mami serius?" tanya Khalila dengan mata yang sangat berbinar. Citra langsung mengangguk. "Serius Dek, kamu mau makan malam di mana? Biar mami pesan tempatnya sekarang," jawab Citra. "Papi terakhir kali Papi makan di restoran mana? Enak nggak?" tanya Khalila. Abyaz terlihat berpikir keras kemudian menyebutkan salah satu restoran yang cukup terkenal di Yogyakarta. "Nah, kita makan di situ, Mi, kayaknya wajah Papi sangat meyakinkan kali ini," ucap Khalila dengan sangat cerita. Citra langsung mengangguk. Ketika Rayner muncul dari tangga dengan pakaian yang lebih rapi dan juga kunci mobil di tangannya. Khalila langsung bangkit dari kursi. "Abang free juga kan, malam ini?" tanya Khalila. Rayner langsung meganngguk. "Mami bilang ada acara makan malam keluarga hari ini. Jadi gue stay di rumah. Kenapa, Dek?" tanya Rayner. Khalila langsung menggeleng. "Nggak papa," jawap Khalila, gadis itu kembali mengambil ranselnya, menyampirkan di puncak kemudian berpamitan pada Citra dan juga Abyaz dengan mengecup pipi keduanya. Rayner juga melakukan hal yang sama kecuali dengan Abyaz, mereka justru bertos ria layaknya seorang teman. Mereka memang seperti itu sejak dulu. Abyaz adalah sosok ayah yang sangat sayang pada keluarga dan tidak pernah memaksakan kehendak pada anaknya membuat hubungannya dengan anak-anaknya sangat baik bahkan nyaris tanpa batasan sedikitpun. "Yaudah, Mami dan Papi. Aku sama Abang berangkat sekarang," ucap Khalila. Kemudian dia dan Rayner langsung melangkah keluar dari rumah. "Abang benar-benar di rumah seharian ini, nggak ke showroom?" tanya Khalila ketika dan Rayner sudah duduk dengan nyaman di dalam mobil. "Iya di rumah, udah janji sama Mami nggak akan pergi kemana-mana hari ini. Nanti kalau bimbingannya selesai dan perlu jemputan jangan lupa telpon gue," ucap Rayner. Khalila langsung mengangguk setuju. "Siap, Abang," jawab Khalila dengan sangat cepat, terkadang inilah alasan Khalila tidak menuntut banyak pada kedua orangtuanya atau pada Rayner, sekesepian apapun dia di rumah dan sekangen apapun Khalila pada moment-moment bersama dengan keluarganya karena pada waktu tertentu mereka pasti akan memberikan waktu mereka untuk Khalila contohnya adalah hari ini. "Abang, makasih ya," ucap Khalila, gadis itu langsung turun dari mobil Rayner. Gadis itu melambai, saat mobil Rayner bergerak menjauh, Khalila menarik napasnya pelan kemudian tersenyum pada teman-teman satu dosen pembimbing dengannya yang ternyata sudah datang lebih awal. Hari ini akan menyenangkan, Khalila harus melewati bimbingan kali ini dengan hati yang lebih lapang, sabar yang lebih banyak dan tekad yang lebih kuat. *** "Kok mas Angga yang jemput?" tanya Khalila dengan bingung ketika dia sudah masuk ke dalam mobil Rayner yang ternyata di kemudikan oleh Angga. "Tadi aku ke rumah kamu dan bang Ray bilang kamu lagi bimbingan yaudah aku menawarkan diri untuk jemput kamu, gimana bimbingannya?" tanya Angga. Khalila menaruh tasnya di kursi belakang, matanya sedikit berbinar ketika dia melihat satu cup minuman favoritnya ada di sana bahkan ada cilok favoritnya. Khalila langsung mengambil dua benda itu dan tersenyum cerah pada Angga. "Lancar kok, Mas, walau kepala aku kayaknya mau meledak tapi nggak papa sekarang aku mendapatkan boba dan cilok," jawab Khalila. Gadis itu mulai menikmati cilok yang bumbunya terasa sangat pas. Sepertinya Angga mengingat takaran bumbu cilok favorit Khalila dengan sangat baik. Angga menggelengkan kepalanya pelan melihat tingkah Khalila, "ngomong-ngomong gimana acara makan siang kamu sama teman kantor, lancar?" tanya Khalila, dia merubah posisi duduknya sedikit miring pada Angga. Angga langsung mengangguk, "lancar, itu semacam acara makan siang untuk keberhasilan proyek yang kita kerjakan, abis dari sana aku tadi juga ambil bahan baku untuk B&W Coffe yang mulai habis," jawab Angga. Khalila langsung mengangguk mengerti. "Malam ini mas Angga ada acara?" tanya Khalila. "B&W Coffe, aku berencana untuk meracik menu baru bareng anak-anak di sana, kenapa? Kamu mau ikut?" tanya Angga. "Aku nyusul deh ya nanti abis makan malam sama keluarga. Mami, Papi dan bang Ray ngajakin aku makan malam di luar hari ini. Akhirnya banget mereka punya waktu luang buat aku," ucap Khalila dengan semangat. Angga tersenyum dengan itu. Walau terkenal manja dan tidak pernah memiliki tujuan untuk hidupnya Khalila Wikasita adalah anak yang sangat penurut pada orangtuanya, anak yang tidak pernah melawan dan membangkang. Gadis itu benar-benar hanya akan mengatakan iya pada kedua orangtuanya, kepada abangnya. "Oke, nanti chat aku kalau mau ke kafe. Happy dinner with you familly, Lila" ucap Angga, Khalila langsung mengangguk. "Oke siap, Mas, aku cukup penarasan sebanyak apa proses yang akan kalian lalui untuk mendapatkan satu menu kopi yang akan di nikmati oleh banyak orang," ucap Khalila. "Btw, ini mas Angga beli ciloknya di mana, mau coba nggak?" tanya Khalila sambil mengarahkan cilok ke mulut Angga. Angga langsung saja membuka mulutnya. Terbiasa bersama Khalila membuat Angga juga lebih sering makan cilok atau jenis jajanan lain yang sering Khalila beli dan kemudian jajanan itu juga menjadi favorit Angga. "Itu tempat biasa kamu beli. Kamu selalu bilang kalau cilok di perumahan tetangga adalah cilok paling enak seduania, yaudah tadi aku langsung beli," ucap Angga. "Dan boba-nya? Ini rasanya agak beda, pasti belinya nggak di tempat biasa ya, Mas?" tanya Khalila. Angga meringis pelan kemudian mengangguk. "Aku pikir karena minuman itu berasal dari franchise yang sama rasanya akan sama juga, tapi beda ya?" tanya Angga. Boba yang dia beli hari ini memang dari merek yang sama tapi di gerai yang berbeda, Angga pikir rasanya memang akan sama saja tapi ternyata berbeda. "Secara keseluruhan sih sama aja, Mas rasanya tapi tetap aja lebih enak yang dekat perumahan kita. Mungkin ini yang di maksud beda tangan akan beda rasa kali ya, Mas," ucap Khalila. Angga mengangguk setuju. "Setuju sih dengan itu, beda tangan akan beda rasa," ucap Angga. Soal menilai rasa makanan Khalila itu salah satu yang terbaik. Entah kenapa, lidah gadis itu sangat peka terhadap makanan mungkin karena hobi khalila selain rebahan adalah jajan. Angga membelokkan mobilnya ketika mereka sudah sampai di kediaman keluarga Wikasita. Mata mereka kompak mengerjab pelan ketika melihat Rayner dan Satya sedang mengobrol di teras bersama. "Mbak Satyaaa!" Khalila langsung turun dari mobil tanpa mengambil ranselnya terlebih dahulu dari kursi belakang. Gadis itu berlari ke arah Satya dan memeluk gadis itu dengan sangat erat bahkan cup boba masih ada di genggaman tangnnya. Angga menggelengkan kepalanya melihat tingkah Khalila, gadis itu memang akan selalu bersikap manja pada Satya yang merupakan kakak perempuan Angga. Angga lebih memiliih mengambil ransel Khalila di kursi belakang kemudian barulah dia menyusul Khalila ke teras rumah, gadis itu masih asik memeluk Satya dengan sangat erat. "Mbak lo kapan sampai? Gimana Sumatera bagus ngggak, Mbak?" tanya Khalila, dia duduk di kursi yang masih kosong, menatap Satya dengan sangat penasaran. "Baru banget sampai, itu oleh-oleh titipan lo," ucap Saya sambil melirik beberapa paper bag yang ada di atas meja. Senyum Khalila lagi-lagi mengembang dengan sempurna, dia kembali memeluk Satya erat-erat. "Thank you, mbak Satya," ucapnya. Rayner dan Angga hanya menggeleng pelan. Satya yang mendapatkan serangan pelukan berkali-kali dari Khalila membalas pelukan gadis itu dengan sangat erat. Ini adalah salah satu yang Satya rindukan ketika dia sedang tidak ada di Yogyakarta. Khalila. Khalila selalu menjadi adik kecil untuk Satya sampai hari ini. "Sama-sama. Gimana skripsi lo, udah tiga bulan gue tinggal seharusnya hampir selesai," ucap Satya. Khalila melirik Rayner dan Angga sebentar kemudian mengangguk pada Satya. "Gue pastikan selesai bulan ini, Mbak, lo harus percaya sama gue," ucap Khalila penu dengan tekad. Satya mengangguk. Walaupun Satya adalah seorang model dan hidup dengan sangat glamor tapi Satya tidak pernah mengabaikan pendidikannya. Gadis itu bahkan sudah menyelesaikan strata duanya dua tahun yang lalu di tengah kesibukannya yang sangat padat. "Gue pegang omongan lo, ingat tiket liburan dan mobil mewah dari mas Ray," ucap Satya dengan senyum menggoda pada Khalila. Gadis mengerucutkan bibirnya. "Ngomong-ngomong mas Angga belum pernah ngasih tahu aku mau kasih hadiah apa kalau wisuda?" tanya Khalila. Dia langsung menatap Angga. Satya memilih pamit untuk mengistirahatkan diri. Rayner juga memilih masuk ke dalam rumah. Tidak ingin menyaksikan interaksi Angga dan Khalila yang kadang manis tiada tara tapi terkadang juga bikin sakit kepala. "Kamu mau minta apa?" tanya Angga. "Beneran boleh pilih?" tanya Khalila, Angga langsung mengangguk. "Wisata alam, entah naik gunung atau cuma jalan santai kayak main ke curug gitu. Nanti aku akan kabarin mas Angga lagi," ucap Khalila. Dia cukup merindukan kembali ke alam. Angga yang memilki jiwa petualang dan sering naik gunung jelas adalah teman yang cocok. "Kalau ada hadiah yang lainnya jangan lupa bilang aku. Semangat skripsinya oke!" seru Angga. Dia menepuk puncak kepala Khalila beberapa kali. Hari sudah beranjak sore. "Aku pamit pulang. Kamu masuk dan siap-siap buat makan malam sama keluarga. Sampai ketemu nanti malam anak gadis bapak Abyaz!" seru Angga. Khalila terkekeh pelan. "Hati-hati nyebrangnya anak lanang bapak Rajendra, ngeri kesandung!" seru Khalila. Angga terkekeh pelan mendengar itu lalu dia melambai pada Khalila dan langsung menyebrang jalan lalu sampai ke rumah. Angga bahkan sempat meneriaki Khalila untuk segera masuk ke dalam rumah ketika dia sedang menutup gerbang rumahnya dan Khalila langsung membalas dengan teriakan yang tidak kalah keras dari Angga. Orang-orang dalam rumah bahkan satpam hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah dua orang itu. Mereka sudah sangat terbiasa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN