Bab 6: Si Sulit di Temui

1622 Kata
*** Mungkin menurut kamu sebuah pesan itu nggak ada artinya apa-apa, tapi buatku itu penting banget, apa salahnya sih kasih kabar? *** Angga langsung menghalangi langkah Khalila ketika gadis itu ingin masuk ke dalam rumahnya. Napas Angga benar-benar tersenggal. “Minggir!” seru Khalila namun Angga langsung menggeleng dengan tegas dan menatap Khalila dengan penuh permohonan. “Lila, kita bicara di gazebo aja ya,” ucap Angga, Khalila langsung menggeleng dengan tegas dan menatap Angga dengan sengit. “Nggak usah manggil Lila…Lila… Lila! Sok akrab banget lo, kenal aja enggak!” seru Khalila. Gadis itu mendorong Angga sedikit kemudian langsung masuk ke dalam rumah Angga. Kalau Khalila sudah memanggil Angga dengn sebutan ‘lo’ maka itu pertandanya keadaan mereka sedang tidak baik-baik saja. Angga mengacak rambutnya dengan frustasi kemudian pria yang pagi ini menggunakan baju yang sangat-sangat santai itu langsung mengikuti langkah Khalila yang sedang memanggil-manggil nama Mama-nya. Satu hal yang bisa Angga lakukan sekarang hanya pasrah dan berdoa dalam hatinya. “Kenapa, Sayang? Bukannya mas Angga nyusul kamu ke rumah?” pertanyaan Rinjani membuat langkah Angga langsung terhenti seketika, dia melihat Khalila sudah memeluk Rinjani yang sedang duduk di sofa. “Mas Angga itu siapa ya Tante?” tanya Khalila masih dengan memeluk Rinjani. Wanita yang sedang bersantai itu sambil melihat majalah itu langsung tersenyum dan dia juga menatap ke arah Angga yang terlihat sudah menatapnya dengan penuh permohonan. “Lila nggak kenal?” tanya Rinjani memulai aksinya, kalau tidak seperti ini, Khalila tidak akan mau berbicara dengan Angga dan memperbaiki hubungan mereka. Rinjani yakin ini karena Angga lupa memberi kabar pada Khalila. Itu salah satu sifat buruk Angga memang, selalu lupa memberikan kabar ketika sedang berpergian. Rinjani pun tidak tahu kabar Angga seminggu belakangan ini. “Enggak, orang nggak jelas banget, datang-datang sok akrab!” seru Khalila, gadis itu kemudian melepaskan pelukannya pada Rinjani dan ikut duduk di samping wanita itu. “Lila sudah sarapan?” tanya Rinjani, Khalila langsung mengangguk dengan cepat, dia memang sudah sarapan roti tadi walau sedikit bahkan lupa meminum susunya karena Angga sudah merusakk mood paginya yang awalnya sangat indah sekali apalagi dengan rencana rebahan sepanjang hari. “Sudah tadi dikit tapi keburu orang nggak jelas masuk ke dalam rumah, jadi sekarang aku laper,” ucap Khalila, Rinjani tersenyum kemudian dia berdiri dari sofa dan mengangguk pada Angga. “Tante akan makasin Lila sesuatu yang enak, tunggu di sini ya,” ucap Rinjani kemudian wanita meninggalkan ruang keluarga begitu saja sambil menepuk bahu Angga, memberikan semangat pada putranya yang jelas bersalah itu. Rinjani pernah ada di posisi Khalila dulu saat masih berpacaran dengan Rajendra Lakeswara yang merupakan ayah dari Angga Lakeswara, sungguh Angga itu sangat-sangat mirip sekali dengan Papa-nya termsuk pada sikapnya yang satu ini, selalu lupa mengabari orang. Sepeninggal Rinjani, Angga kemudian memilih duduk di samping Khalila, ketika gadis itu ingin menjauh, Angga langsung menggenggam tangan Khalila, hari Angga benar-benar akan sangat buruk jika dia belum berbaikan dengan Khalila. “Lila, mas Angga minta maaf ya,” ucap Angga, kali ini benar-benar dengan suara yang super lembut banget sampai Khalila pada akhirnya menoleh pada Angga. “Nggak usah sok lembut gitu ngomongnya, mas Angga tuh nybelin banget asal mas Angga tahu. Susah banget buat di temuin, nggak ngasih kabar sama sekali, memang kabar kamu itu harganya mahal banget?” tanya Khalila masih dengan ekspresi wajah yang tidak santai namun gadis itu terlihat sangat menggemaskan. “Aku lupa, La,” ucap Angga. Dia juga kesal pada dirinya sendiri, bisa-bisanya dia tidak mengabari Khalila selama satu minggu karena Angga mikirnya, Khalila sudah tahu dia pergi kemana dan untuk kepentingan apa jadi tidak perlu lagi mengabari tapi ternyata apa yang dia pikirkan tidak sama dengan apa yang Khalila pikirkan. “Mungkin menurut kamu sebuah pesan itu nggak ada artinya apa-apa, tapi buatku itu penting banget, apa salahnya sih kasih kabar? Memang kamu itu kerjanya dari pagi ketemu pagi lagi ya?” tanya Khalila, gadis itu bersidekap d**a, bibrinya mengerucut dan matanya memicing ke arah Angga, masih menatap Angga dengan sengit. “Kamu mau apa?” tanya Angga, dia tidak memiliki jawaban apapun untuk kali ini. Yang salah kali ini benar-benar Angg. “Mau apa? Mas Angga sekarang mau menyelesaikan masalah dengan cara memberikan sesuatu sama aku? Serius, Mas?” tanya Khalila dnegan wajah yang terlihat semakin marah, sungguh Angga sangat-sangat menyebalkan sekarang, bisa-bisanya pria ini ingin menyelesaikan masalah dengan cara menyogoknya, tentu saja tidak semudah itu, lagian seperti itu tidak akan berakhir dengan sagat baik. "Mas Angga kayaknya lagi korslet atau stres berat, nggak usah ngomong dulu sama aku, lurusin aja dulu pikirannya," ucap Khalila, gadis itu bersiap untuk melangkah pergi meninggalkan Angga namun pria itu langsung menahan Khalila dan satu hal yang Angga lakukan setelahnya adalah memeluk Khalila dengan sangat erat. Angga tidak tahu harus melakukan apa lagi sekarang, dia benar-benar salah. Khalila hanya diam saja saat Angga memeluknya, sungguh dia tidak tahu harus melakukan apa lagi. Khalila merasa dia sudah terlalu cerewet dan sekarang diam sepertinya akan jauh lebih baik dari apapun untuk. *** "Ada lagi?" tanya Angga saat melihat tangan kiri dan kanan Khalila sudah penuh dengan kantong yang berisi berbagai macam jajanan yang mereka beli sepanjang jalan yang mereka lewati sore ini ketika berjalan-jalan santai sembari menikmati sore Yogyakarta, tentu saja masih dalam rangka mencoba berbaikan. "Udah," jawab Khalila ketika dia sudah mendapat dadar gulungnya, gadis itu kemudian kembali naik ke motor. Angga kembali melajukan motornya menuju ke arah kompek perumahan mereka. Kedua orang itu tetap diam satu sama lain bahkan Khalila memberikan space yang cukup aman antara tempat duduknya dan juga Angga di tambah lagi kantong yang berisi jajanan membuat jarak mereka semakin paripurna. Khalila juga tidak lagi cerewet seperti sebelumnya. Gadis itu sudah bertekad untuk menjadi gadis yang pendiam dan penuh wibawa walau rasanya sangat sulit sekali. Khalila rasanya hanya ingin memaki-maki Angga. Setelah motor yang di kendarai oleh Angga terparkir dengan sangat sempurna di depan rumah pria itu Khalila langsung saja turun dan ingin kabur ke rumahnya namun Angga buru-buru menahan kemudian membawa Khalila untuk melangkah ke arah gazebo yang ada di belakang rumahnya. Angga tidak akan membiarkan Khalila pergi jika mereka belum resmi berbaikan. "Masih marah?" Tanya Angga ketika Khalila sudah mulai mengeluarkan semua jajanannya dan mulai mencicipinya satu persatu mulai dari cilok, siomay, bakso goreng hingga dadar gulungnya. Semua jajanan itu adalah favorit Khalila, sangat-sangat bagus untuk mengembalikan mood nya yang sedang berantakan. Gadis itu tadi juga sempat membeli Boba dan es kelapa muda. Sungguh ini adalah kenikmatan yang sangat paripurna. "Lila, aku minta maaf ya," ucap Angga lagi ketika Khalila tidak kunjung memberikan respon padanya. Angga semakin di buat ketar-ketir apalagi dengan sikap Khalila yang mendadak diam seperti ini. Angga lebih senang ketika Khalila mengomel dengan heboh padanya di bandingkan di diamkan seperti ini. "Aku benar-benar lupa untuk memberikan kamu kabar, aku nggak terbiasa dengan itu, Mama sama yang lain juga lupa aku kasih kabar La kalau Mama beberapa hari yang lalu nggak nanya kabar aku duluan," ucap Angga. "Dan sekarang mas Angga nyalahin aku karena nggak kasih kabar mas Angga duluan? Kok mas Angga gitu?" Tanya Khalila, dia kembali menatap Angga dengan sengit. Angga kembali merasa serba salah. Sedari tadi Khalila selalu memiliki jawaban yang sangat-sangat berhasil membuat Angga kehabisan kata-katanya. "Kamu lagi datang bulan?" Tanya Angga pada akhirnya, sekarang Angga benar-benar sudah putus ada. Khalila juga ikut bungkam namun tetap melanjutkan menyantap jajanannya. "Mas Angga," ucap Khalila setelah mereka sama-sama diam sejak tadi, Angga juga selama itu tidak melepaskan sedikitpun pandangannya pada Khalila bahkan setiap ekspresi yang terukir bdi wajah Khalila tidak lepas sedikitpun dari pengamatan apa. "Iya, Lila mau apa?" Tanya Angga buru-buru. "Mas Angga akan sulit di temui ya mulai sekarang? Perkejaannya tambah banyak kah?" Tanya Khalila, kali ini suara gadis itu mulai melunak begitu pula dengan ekspres nya, semua rasa kesalnya pada Angga seolah sudah lenyap begitu saja. "Sedikit akan lebih sibuk dari biasanya, aku sekarang lagi mengerjakan proyek baru yang membuat aku harus bolak-balik keluar kota seperti seminggu yang lalu. Aku janji setelah ini akan membiasakan diri untuk memberi kamu kabar. Maaf ya Lila, mas Angga benar-benar lupa karena nggak terbiasa dengan situasi seperti ini. Mas Angga pikir kamu selalu ada di dekat mas Angga, kita nggak pernah pisah lebih dari satu hari," ucap Angga, memang benar kok, mereka itu tipe yang jarang berpisah lebih dari satu hari apalagi sejak berpacaran. Rumah mereka hadap-hadapan jadi ya pasti bertemu setiap hari. Khalila terdiam, apa yang Angga katakan memang benar juga, mereka jarang berpisah, ini adalah hal yang sangat masuk akal, mungkin memang Angga menganggap Khalila selalu ada di sampingnya padahal pria itu sedang ada di luar kota. "Janji sama aku kalau mas Angga akan kabarin aku saat ada pekerjaan ke luar kota. Mas Angga itu nyebelin banget tahu, udah sibuk kemudian sulit di temui kan aku jadi misuh-misuh nggak ada yang bisa aku ajakin ngobrol, mana skripsi aku revisian mulu, aku nggak punya pelampiasan, kan aku kesel sama mas Angga!", Seru Khalila, matanya sekarang berkaca-kaca seolah dia memang merasa sangat sedih sekali. Angga tersenyum kemudian menarik Khalila ke dalam pelukannya. "Maafin mas Angga ya," ucap Angga dengan sangat-sangat lembut. Khalila mengangguk dalam pelukan Angga. "Maafin Lila juga ya mas Angga, Lila kangen tahu di pelukin kayak gini apalagi di bantuin revisian skripsi, sayang Lila sama mas Angga," ucap Khalila, gadis itu kemudian nyengir pada Angga yang membuat pria itu kini yang mendengus pada Khalila. "Dan ujung-ujungnya setelah aku di bawa terbang kemudian di manfaatkan juga," ucap Angga, Khalila terkekeh kemudian memasang puppy eyes-nya. "Bantuin ya, dikit lagi kok dikit," ucap Khalila, matanya mengerjab pelan, benar-benar gadis yang menggemaskan. Kalau sudah seperti ini apalagi yang bisa Angga lakukan selain mengiyakan permintaan Khalila. Gadis menggemaskan yang selalu berhasil membuat Angga merasakan banyak hal. Angga sangat menyayangi Khalila. Tentu saja seperti itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN