***
Tidak akan selamanya dia akan berada bersama dengan kamu karena kehidupannya memang bukan hanya tentang kamu, dia memiliki hal lain yang harus dia selesaikan
***
“Kenapa wajah lo!” seruan itu menyambut Khalila ketika dia masuk ke dalam B&W Caffe yang ada di dekat kampusnya, gadis yang baru selesai dengan bimbingan skripsinya itu langsung duduk di samping Karlita dengan wajah yang semakin di tekuk. Rindu yang juga ada di sana juga menatap Khalila dengan sangat penarasan, entah apa lagi yang terjadi hari ini namun Rindu sangat-sangat yakin bukan sesuatu yang baik, aura Khalila sangat-sangat negatif sekali.
“Jadi orang dewasa seribet ini ya, Mbak?” tanya Khalila, gadis itu terlihat semakin frustasi, gadis itu menjadikan tumpukan bukunya sebagai bantal.
“Kenapa lagi lo, tumben-tumbenan frustasi, biasanya juga itu otak nggak mikirin apapun selain cara menikmati hidup,” ucap Karlita dengan sinis, memang benar kok, jika kalian ingin melihat orang yang menjalani hidupnya dengan begitu santai dan tanpa beban pikiran maka lihatlah Khalila, gadis itu benar-benar seolah tidak pernah memikirkan apapun. Khalila adalah orang yang tidak mau pusing.
“Gue di suruh revisian lagi sama dosen pembimbing gue, Mbak. Kalau begini caranya kapan gue bisa wisuda dan dapat tiket liburan dari mbak Satya, dapat mobil mewah dari mas Reynar kemudian dapat hadiah dari Mami dan Papi, sungguh gue sudah tidak sabar menikmati keindahan dunia,” ucap Khalila, see, lihatlah anak bapak Wiasita ini, di saat orang-orang di sekitarnya kebanyakan memikirkan di mana dia akan bekerja setelah kuliah atau memikirkan untuk melanjutkan pendidikan mereka berikutnya sedangkan gadis ini justru memikirkan sebuah keindahan dunia, sebenarnya tidak perlu heran juga sih karena Khalila memang sudah hidup seperti itu sejak awal, gadis itu adalah anak kesayangan keluarganya. Benar-benar di treat layaknya seorang princess dan yang lebih mengejutkan lagi, Khalila tidak pernah sekalipun membantah ucapan orangtuanya, gadis ini benar-benar sangat penurut.
“Terus apa lagi masalah lo?” tanya Rindu, dia sangat-sangat yakin hal yang menganggu Klalila tidak hanya skripsi tapi ada hal yang lain.
“Mbak memang kalau orang kerja itu harus sibuk banget ya sampai-sampai nggak pulang ke rumah, nggak bisa ngabarin sama sekali tapi bisa bikin story di i********: dan di w******p, si Angga lagi kerja jadi arsitek atau tukang endorse sih sebenarnya!” seru Khalila, gadis itu kemudian memanggil Kala yang ada di kafe hari ini. Memesan kopi yang paling enak, Khalila memang tidak pernah melihat harga ketika sedang menginginkan sesuatu, gadis itu memiliki banyak sumber uang.
“Memang Angga udah nggak pulang berapa hari?” tanya Karlita karena tidak biasanya juga Angga tidak pulang mengingat kantor Angga juga masih ada di Yogyakarta, pria itu juga mengurus segala hal tentang B&W Coffe bersama dengan Bhanu.
“Udah hampir seminggu, Mbak, sok sibuk banget si Angga sekarang, kesel gue, pengen banget gue kangenin padahal gue nggak kangen tuh!” seru Khalila dengan nada super ngegas.
“Keluar kota La?” tanya Rindu.
“Menurut informasi yang gue dapat dari tante Rinjadi sih gitu, Mbak, dia sama sekali nggak ngabarin gue, kalau dia pulang nanti, gue wawancara sehari semalam, bisa-bisanya dia melakukan itu sama gue!” seru Khalila, nyerocos banget membuat Rindu dan Karlita langsung menggeleng tidak habis pikir, sungguh Khalila yang sangat-sangat luar biasa sekali.
“Ini, Mbak, kopinya,” ucap Kala dengan wajah super kalemnya, Khalila langsung tersenyum cukup lebar pada Kala sembari mengucapkan terimakasih, seperti biasa Kala yang terkenal sangat kalem di antara dua barista lainnya yaitu Arjuna dan Dirga tetap bersikap kalem kemudian berpamitan pada mereka untuk kembali ke depan.
Khalila kini merubah posisi duduknya menjadi tegap dan menatap ke arah Karlita dan Rindu secara bergantian, Khalila yakin dua orang ini pasti juga baru kembali dari kuliah mereka. Benar sekali, Rindu dan Karlita sekarang sedang melanjutkan pendidikan S2 mereka. Satu hal yang membuat Karlita merasa iri memang, kedua Mbak-nya ini sangat-sangat tahu apa yang mereka inginkan sedangkan Khalila selalu mengikuti semua jalur yang sudah di sediakan oleh kedua orangtuanya.
“Mbak," ucap Khalila tiba-tiba setelah dia menikmati kopinya, Rindu dan Karlita yang sedang sangat-sangat asik menikmati cemilan yang mereka beli langsung menatap ke arah Khalila dengan sangat kompak.
“Kala itu kan ganteng banget ya, Mbak, gue kadang suka mikir nanti jodohnya si Kala modelannya kayak gimana, itu anak satu misterius banget, gue bahkan sampai sekarang nggak tahu dia itu sebenarnya berasal dari mana, apa pekerjaan orangtuanya," ucap Khalila. Karlita ikut mengangguk setuju, walau mereka sudah cukup lama mengenal Kala tapi informasi pribadi pria itu tidak pernah mereka ketahui.
“Kalau kata Bhanu yang jelas Kala itu anak yang baik dan berasal dari keluarga yang sangat-sangat luar biasa, jadi udah bisa bayangin lah kira-kira gimana latar belakang kehidupannya, soal sikap diamnya, kata Bhanu juga si Kala udah begitu sejak kecil, setenang telaga,” jawab Rindu, walau sebenarnya Rindu tahu siapa orangtua Kala dan apa pekerjaan orangtua pria itu tapi Bhanu selalu mengakatan padanya untuk tidak mengatakan apapun setiap ada yang bertanya, Kala sangat-sangat tidak suka jika privasinya suda di usik.
“Jadi setelah ini lo mau ke mana?” tanya Karlita pada Khalila ketika hari sudah beranjak sore, seperti inilah jadinya jika mereka sudah berkumpul seperti ini, selalu lupa waktu.
“Gue mau langsung pulang ah, Mbak, sakit kepala gue, kangen rebahan,” jawab Khalila, gadis itu kemudian menatap ke arah Rindu dan Karlita.
“Kalian berdua mau ke mana setelah ini? Mas Bhanu kapan mbak berangkat ke Singapura?” tanya Khalila lagi. Memang benar adanya, Bhanu akan segera berangkat ke Singapura untuk melanjutkan pendidikannya.
“Karlita mau ke Apartemen mas Pra sedangkan gue pulang ke rumah. Bhanu berangkat lusa ke Singapura,” jawab Rindu. Khalila langsung mengangguk mengerti. Mereka kemudian sama-smaa beranjak dari kursi dan membawa semua barang-barang mereka lalu meninggalkan B&W Coffe setelah berpamitan pada Kala.
***
“La masuk, ngapain kau di teras malam-malam begini?!” seruan suara berat itu membuat Khalila yang sedang fokus menatap rumah tetangganya langsung menoleh, di sana berdiri Raynar yang baru saja pulang sepertinya karena pria itu masih menggunakan pakaian sangat rapih dan juga membawa tas laptopnya. Khalila langsung nyengir kemudian langsung memeluk Rayner begitu saja membuat Raynar mau tidak mau membalas pelukan adik kesayagannya itu.
“Kenapa?” tanya Raynar dengan sangat lembut, Khalila mengerucutkan bibirnya.
“Kira-kira kita udah nggak ketemu berapa hari ya, Bang?” tanya Khalila.
“Tiga hari kayaknya, kenapa? Kamu kangen atau mau sesuatu?” tanya Raynar, Khalila langsung tersenyum lebar, ini adalah salah satu hal yang sangat dia sukai dari Raynar, pria ini selalu sangat-sangat peka terhadap apa yang dia rasakan dan apa yang dia inginkan.
“Kangen dan sekalian mau nanya,” ucap Khalila, satu alis Rayner terangkat.
“Nanya apa?” tanya Rayner.
“Kalau gue lulus kuliah dan wisuda, hadiah mobinya masih berlaku kan, Bang?” tanya Khalila, gadis itu melepaskan pelukannya pada Rayner. Rayner langsung mengangguk begitu saja. Dia memang sudah menjanjikan soal ini pada Khalila.
“Masih berlaku dan kamu bisa pilih sendiri nanti,” jawab Rayner membuat Khalila langsung bersorak dengan heboh dan mengecup pipi Rayner dengan kilat kemudian menggandeng tangan Raynar untuk masuk ke dalam rumahnya.
“Bang Ray memang terbaik!” seru Khalila, wajahnya sekarang benar-benar sangat ceria seolah dia sudah melupakan kekesalannya pada Angga yang tetap tidak ada kabar beritanya. Rayner hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Khalila, sungguh baginya Khalila itu masih gadis kecil yang menggemaskan.
***
Bagun kesiangan. Itu sudah menjadi hal yang sangat-sangat biasa untuk Khalila ketika dia tidak memiliki kegiatan apapun di kampus. Rebahan every time adalah hobi Khalila. Mata gadis itu mengerjab perlahan kemudian dia terduduk di tempat tidur. Kondisi kamar Khalila sekarang sudah sangat-sangat rapi karena kemarin dia sempat memberseskannya bersama sang Bibi.
Setelah dia mencuci muka dan menggosok gigi, gadis itu langsung keluar dari kamarnya, Khalila butuh energi untuk menjalankan aktivitasnya hari ini walau dia hanya berniat untuk malas-malasan saja, besok dia baru akan melanjutkan revisian skripsinya.
Langkah santai Khalila langsung terhenti begitu saja di ujung anak tangga terakhir ketika melihat siapa yanga sedang berdiri dengan jarak beberapa langkah darinya, Angga Lakeswara, pria yang sudah menghilang hampir satu minggu tanpa kabar. Alih-alih membalas senyum Angga, Khalila justru membuang tatapannya begitu saja lalu melanjutkan langkahnya ke arah meja makan tanpa menanggapi Angga sedikitpun. Enak saja, pria itu mengabaikannya hampir satu minggu sekarang datang sedang senyum tanpa dosa di hadapannya, apa-apaan itu, Khalila tidak akan membuat semua hal semudah itu.
“La, nggak mau peluk?” tanya Angga sembari berdiri di samping Khalila yang sedang menikmati roti bakar miliknya. Gadis itu menatap Angga dari atas sampai bawah kemudian menggeleng pelan.
“Anda siapa ya?” tanya Khalila, gadis itu masih menatap Angga dan jelas masih menikmati roti bakarnya, Angga yang mendengar jawaban Khalila langsung terdiam seketika, otaknya langsung berkerja dengan sangat keras.
“Kenapa?” tanya Angga dengan ekspresi yang terlihat sangat-sangat polos dan itu terlihat sangat menyebalkan di mata Khalila. Gadis itu mendengus kemudian menaruh roti bakarnya di atas piring dan mentap Angga dengan begitu sengit sambil bersidekap dadaa.
“Serius, Mas, lo nanya gitu sama gue setelah satu minggu berlalu tanpa lo kasih kabar gue sama sekali? Serius Angga Lakeswara?!” seru Khalila, gadis itu sudah seperti seorang istri super galak sekarang.
Angga mengerjabkan matanya seolah dia memang baru menyadari sesuatu hal yang sangat luar bisanya kemudian dia mundur satu langkah sambil meringis pelan.
“Aku minta maaf,” ucap Angga, Khalila terkekeh sinis kemudian mengibas-ngibasnkan tangannya di udara.
“Terserah lo aja deh Mas, aku mah apa atuh di lupakan mulu, maklum sih teman kantornya aduhai semua,” ucap Khalila kemduian gadis itu pergi meninggalkan Angga sendirian. Angga menatap punggung Khalila yang mulai menjauh, ketika melihat gadis itu sudah melangkah melewati taman depan rumah saat itu wajah Angga berubah menjadi panik. Pria itu langsung berlari menyusul Khalila. Hal itu jelas tidak boleh terjadi, Khalila tidak boleh mengadu pada mama-nya, Rinjani. Bisa panas kuping Angga di omlein sepanjang hari.