Bab 4: Si Netijen Menyebalkan

2123 Kata
*** Semua hal yang ternyata benar-benar sebuah titipan, kita nggak bisa menilai orang dari apa yang dia dapatkan, nilailah seseorang dari cara mereka bertutur kata dan cara mereka menghargai orang lain *** Malam ini Khalila tampil dengan sangat cantik dengan gaun yang di belikan oleh Satya untuknya, tanganya di genggam oleh Angga memasuki ballroom sebuah hotel tempat di mana resepsi rekan kerja Angga di gelar. “Aku nggak papa memangnya Mas datang ke sini?” bisik Khalila ketika dia melihat wajah-wajah asing yang sama sekali tidak dia kenali. “Memangnya kenapa? Kamu pacar aku, jelas kamu boleh datang ke tempat ini,” ucap Angga dengan senyum menenangkan, Khalila langsung mengangguk paham. Sejak di perjalanan tadi sampai dia dan Angga sampai di tempat ini, Khalila merasa perasaanya tidak enak. Otaknya selalu berpikir negatif entah karena alasan apa, sungguh Khalla tidak suka ada di tempat ini. Tapi dia tidak perlu menunjukkan itu, Khalila tidak boleh bertingkah kekanakan dan mempermalukan Angga sedikitpun. “Angga!” seruan itu membuat langkah Angga dan Khalila langsung terhenti begitu saja, di salah satu meja, beberapa orang terlihat melambai ke arah mereka, Khalila melihat senyum Angga terukir begitu saja saat itu Khalila langsung menyimpulkan bahwa meja itu berisi teman-teman kantor Angga. “Kita gabung sama mereka ya,” ucap Angga, Khalila langsung mengangguk patuh dan mengikuti langkah Angga ke arah meja itu, genggaman Angga di tangan Khalila sudah lepas, mereka melangkah beriringan ke arah meja itu. “Adik, Ga?” pertanyaan itu langsung menyambut Angga dan Khalila bahkan ketika dua orang itu belum di persilahkan duduk, Angga hanya tersenyum kemudian menarik salah satu kursi yang masih kosong untuk Khalila. “Ga, boleh temenin aku sebentar?” pertanyaan itu langsung membuat orang-orang di meja itu langsung menatap seorang gadis yang memakai kebaya yang sangat Khalila yakini adalah seragam bridesmaid. Angga terlihat langsung mengangguk dan melangkah meninggalkan meja itu sembari berjalanan beriringan dengan gadis itu. Khalila hanya terdiam di tempatnya, berusaha keras untuk tidak melakukan tindakan apapun, mungkin memang mereka berdua memiliki urusan yang sangat penting dan berkaitan dengan dengan pesta pernikahan ini. “Adeknya Angga?” tanya seorang gadis lain yang masih bertahan di meja itu, ada tiga orang laki-laki juga, satu orang Khalila yakin seumuran dengan Angga dan dua orang lainnya mungkin berusia tiga atau empat tahun lebih tua dari Angga. “Pacar, Mbak,” jawab Khalila dengan sangat santai dan dengan senyum terbaiknya. Orang-orang itu terlihat menatap ke arah Khalila dengan tidak percaya, ada tatapan merendahkan yang jelas-jelas sekali membuat jiwa tenang Khalila mulai terusik. “Seriusan pacar?” tanya seorang laki-laki yang seumuran dengan Angga. “Memangnya kenapa. Mas?” tanya Khalila. Kata mbak Satya kalau ada orang yang berusaha merendahkan kita atau meremehkan kita maka hadapi dengan santai dan balas ucapan mereka dengan tepat. “Nggak percaya aja seorang Angga Lakeswara pacaran sama anak kecil,” ucap seorang yang lain, tangan Khalila langsung mengepal di atas pangkuannya. “Khalila sabar, lo bukan anak kecil mereka aja yang wajahnya tua!” seru Khalila dalam hati, bibir gadis cantik itu membentuk sebuah senyuman, senyuman yang jelas sekali kepasluannya. “Gue pikir Angga sama Manika setahun belakangan ini karena mereka terlihat sangat dekat dan pergi kemana-mana bareng eh ternyata udah gandeng Bocil!” seru pria yang lain. Khalila kali ini berusaha untuk tidak terpengaruh walau sebenarnya dia sudah gerah sekali, mulai hari ini, Khalila tidak akan mau lagi ikut jika Angga mengajaknya ke acara teman-teman kantor Angga Khalila tidak percaya aja teryata teman-teman kantor Angga itu isinya setann semua. “Mau cari apa sih Dek dari Angga? Uang jajan dari Mama-nya kurang memang?” tanya seorang wanita yang baru saja bergabung namun Angga belum kembali bersama gadis yang Khalila yakin bernama Manika itu. Tangan Khalila mengepal semakin erat ketika mendengar pertanyaan itu. “Memang kalau orang pacaran selalu tentang uang ya, Mbak?” tanya Khalila, tatapan gadis itu berubah menjadi sinis. “Anak jaman sekarang kan begitu, mengadalkan berbagai cara untuk mendapatkan uang, udah di apain aja sama Angga?” tanya gadis yang sama. Khalila langsung beranjak di tempat duduknya, berdiri dan menatap orang-orang di meja itu dengan sangat sinis bahkan gadis itu terkekeh sinis. “Gue baru tahu loh Mas dan Mbak ternyata ada orang yang sudah berpendidikan tinggi dan punya pekerjaan yang bagus bisa berpikir sesempit ini. Dunia memang kejam banget ya, kalau kalian punya otak untuk berpikir, kalian seharusnya nggak berbicara seperti ini. Gue adalah gadis dua puluh satu tahun, Angga hanya tiga tahun lebih tua dari gue, wajah lo semua aja yang terlalu tua dan untuk uang, gue bahkan nggak pernah merasa kekurangan uang sejak gue kecil!” seru Khalila, bilang saja Khalila kekanakan, kurang ajar namun jika harga dirinya sudah mulai di sentil maka Khalila rasa ucapannya tidak ada yang salah, setelah menatap wajah orang-orang penghuni meja itu bergantian, gadis itu langsung meninggalkan meja itu begitu saja dengan emosi yang memburu, dia tidak peduli lagi apa yang di pikirkan oleh orang-orang yang ada di meja itu, orang-orang yang mengaku lebih dari segalanya padahal otak dan atitude-nya nol besar. Khalila memilih memesan taksi untuk kembali ke rumahnya, demi apapun Khalila sangat membenci teman-teman Angga. Sungguh seharusnya Angga tahu seperti apa teman-temannya itu. *** “Khalila mana?” Angga menatap bingung para menghuni meja itu ketika tidak menemukan Khalila di meja yang di tempati oleh teman-teman kantornya. “Beneran pacar lo, Ga?” tanya salah satu teman Angga. “Gue pikir lo sama Manika loh eh tau-taunya sama Bocil yang ngomong aja masil belum benar.” “Gue sama Angga dari dulu cuma teman aja kali, Din,” ucap Manika dengan gaya super kalem, dia kemudian kembali duduk di kursinya. Angga menatap ke berbagai arah namun dia tidak menemukan sosok Khalila di manapun, kekhawatiran Angga semakin menjadi ketika dia menyadari ponselnya dia titipkan pada Khalila. Saat Angga ingin beranjak meninggalkan meja itu, pergelangan tangan pria itu langsung di tahan oleh Manika. Gadis itu tersenyum menenangkan. “Dia sudah besar, Ga, bisa lah jaga diri sendiri, kamu nggak mungkin dong ninggalin pesta gitu aja, kamu bahkan belum ngucapin selamat sama Arfan yang paling deket banget sama kamu di antara kita semua,” ucap Manika, walau terlihat sangat ragu, Angga pada akhirnya tetap bergabung di meja itu, dia berharap Khalila benar-benar baik-baik saja. Lagian sebentar lagi acara salam-salamannya di mulai. “Gue kira dia adik lo, Ga, ternyata siapa namanya tadi?” tanya Dinda sambil menatap Angga. “Khalila,” ucap Manika, Dinda mengangguk. “Gue kira Khalila itu adik lo Ga, eh nggak tahunya pacar,” ucap Dinda, Angga lagi-lagi hanya tersenyum menanggapi ucapan gadis itu. Yang memenuhi pikiran Angga sekarang hanya lah Khalila, bisa-bisa Angga hanya tinggal nama saja ketika terjadi sesuatu pada Khalila. Mau bagaimanapun selain pacar kesayangannya yang sudah hampir dua tahun menemaninya Khalila adalah gadis kesayangan penghuni dua rumah, belum lagi anak-anak B&W Caffe dan juga Rindu dan Karlita. Ketika acara mengucapkan selamat pada pengantin itu di mulai saat itulah Angga langsung beranjak dari kursinya *** “Kenapa, Ga?” pertanyaan itu langsung menyambut Angga ketika dia sampai di ruang keluarga Wikasita, di sana terlihat Rayner yang sedang bersantai sambil menonton acara olahraga. “Lila sudah sampai rumah, Bang?” tanya Angga dengan napas yang sedikit tersenggal. Rayner menatap Angga dengan wajah datarnya. Dia sangat yakin sekali dua orang itu pasti baru saja bertengkar karena seingat Rayner keduanya tadi izin ingin menghadiri pesta pernikahan teman Angga. “Kalian ribut lagi?” tanya Rayner, Angga mau tidak mau langsung mengangguk walau dia sebenarnya tidak tahu, dia sedang bertengkar atau tidak dengan Khalila karena gadis itu meninggalkannya begitu saja tanpa pamit. “Dia tadi chat gue lagi di B&W Caffe, gue kira bareng lo,” ucap Rayner, Angga diam-diam menarik napas lega dan tersenyum pada Rayner. “Makasih, Bang, gue susulin dia dulu deh sambil gue bawa pulang,” ucap Angga, Rayner mengangguk. “Yang sabar Ga, you know lah Lila gimana,” ucap Rayner penuh pengertian, Angga tersenyum kemudian meninggalkan kediaman Wikasita begitu saja menuju B&W Caffe. *** Angga langsung mendorong pintu masuk Caffe yang dia kelola bersama Bhanu, mata pria itu langsung tertuju pada gadis yang masih menggukanan gaun itu yang terlihat asik bercengkrama dengan Rindu dan Karlita dan juga Barista B&W Caffe yang lain. Angga menarik napasnya sejenak kemudian melangkah ke arah meja bar itu. "Mas Angga capek yahhh?!" seruan penuh ledekan itu jelas Angga dapatkan dari Arjuna, salah satu barista di B&W Caffe dan juga teman berantem Khalila tentu saja. Akibat serun pria itu membuat ketiga gadis yang sedari tadi membelakangi Angga kini menoleh ke belakang, ekspresi wajah Khalila terlihat langsung berubah muram dan kesal sekali membuat Angga meringis pelan, Angga sangat yakin ada hal yang mengganggu gadis ini saat dia tinggal pergi bersama Manika tadi. "Napas dulu Ga, Napas, Khalila baik-baik aja," ucap Karlita dengan nada yang cukup sinis membuat Angga semakin yakin bahwa memang terjadi sesutu yang buruk pada Khalila. "Mbak gue izin bawa Khalila pulang ya," ucap Angga sembari menatap Rindu dan Karlita bergantian. "Masalahnya Lila mau nggak tuh Ga pulang sama lo?!" seru Karlita, suaranya terdengar semakin sinis, Karlita itu walau sering saling ledek dengan Khalila tapi mereka sudah seperti kakak dan adik kandung, jika ada salah satu yang tersakiti maka yang lainnya siap pasang badan, sebenarnya Rindu juga sama saja namun gadis itu pembawannya lebih tenang. Pokoknya jika ada salah satu dari tiga gadis itu yang di usik maka dua lainnya akan siap pasang badan dan saling mendukung. "Khalila, ikut aku ya," ucap Angga dengan ekspresi wajah super memohonnya. Khalila terlihat mendengus. Gadis itu kemudian beranjak dari kursinya dan memeluk Karlita dan Rindu bergantian. "Gue ikut sama si Angga dulu, Mbak," ucap Khalila kemudian dia melangkah lebih dahulu keluar dari kafe membuat orang-orang di sana menggeleng maklum, mereka sudah sangat terbiasa dengan keributan Angga dan Khalila "Si Angga nggak tuh, Mas, mbak Lila kalau udah marah memang paling bisa bikin orang kena mental tapi gue ngakak!" seru Arjuna sambil ngakak, Angga menonyor kepala mahasiswa teknik eletro itu, kemudian berpamitan pada Karlita dan Rindu dan menyusul Khalila yang sudah bersandar di mobilnya, masih dengan bibir yang mengerucut. Ketika Angga ingin membuka pintu mobil untuk Khalila, gadis itu sudah terlebih dahulu membuka pintu mobil kemudian menutup pintu mobil itu dengan cukup keras di depan wajah Angga membuat Angga terjingkat kaget, walau sudah terbiasa dengan aksi ngambek Khalila sejak kecil tapi tetap saja kalau di tutupin pintu mobil depan wajah Angga tidak bisa untuk tidak kaget. "Aku punya salah?" tanya Angga ketika dia sudah duduk di balik kemudi, dia merubah posisinya duduknya miring pada Khalila yang menatap lurus ke depan sembari bersidekap dadaa. "Salah banget, kalau udah punya gandengan di tempat resepsi terus apa gunanya aku di bawa sih? buat di jadikan bahan cibiran?" tanya Khalila dengan sinis. "Manika hanya teman aku, Lila," ucap Angga. "Kata kamu iya temen tapi kata si Manika bukan kedelai pilihan itu kamu bukan temannya, peka dikit kenapa sih!" seru Khalila semakin emosi, sungguh teman-teman Angga itu netijen tukang julid sekali, bisa-bisanya mereka berpikir Khalila adalah anak kecil yang kekurangan uang jajan dan rela di apa-apain sama Angga. "Yang penting aku nggak pernah menganggap Manika lebih dari seorang teman, Lila," ucap Angga, dia meraih tangan Khalila namun gadis itu menolak dengan keras dan menatap Angga dengan lekat. "Bilangnya doang bukan teman tapi pas dia minta tolong kamu iya-iya aja, mana perginya nggak pamit aku, jangankan pamit ngelirik aja enggak terus kamu ninggalin aku gitu aja sama sekumpulan netijen tukang julid, sok tahu tentang kehidupan orang, kalau tahu teman kamu kayak gitu semua, aku mending revisian skripsi semalam suntuk!" seru Khalila melepaskan rasa kesalnya. Kedua tangan Angga menangkup pipi gadis itu, menatap Khalila dengan lembut. "Mereka bilang apa sama kamu?" tanya Angga. Kalau Khalila sudah dalam mode emosi seperti ini maka Angga harus menurunkan sedikit emosinya karena bagaimanapun Angga juga menjadi alasan Khalila bersikap semarah ini, seharusnya memang Angga tidak meninggalkan Khalila sendirian. "Kalau aku ceritakan memang kamu akan percaya sama aku? Pasti enggak kan, yaudah kamu tanya aja sama temen kantormu yang sok tahu itu, gerah banget aku, emosi!" seru Khalila. Angga semakin menatap Khalila dengan lekat. "Aku minta maaf ya, jangan marah-marah, nanti cantiknya ilang," ucap Angga berusaha sesantai mungkin, berusaha mengembalikan mood Khalila. "Nggak tahu pokoknya, teman mas Angga tuh jahat semua, nggak mau lagi aku ketemu sama mereka," ucap Khalila, dia mengerucutkan bibirnya, Angga menghembuskan napas lega kemudian menarik Khalila ke dalam pelukannya, beginilah mereka, ributnya jalan cepat tapi baikannya juga cepat. "Maafin aku ya, Lila," ucap Angga sambil mengusap rambut Khalila dengan pelan. "Maafin aku juga mas Angga, tapi aku beneran nggak mau nemenin kamu ke acara teman kantor kamu lagi, nggak suka aku sama mereka," ucap Khalila. Angga langsung mengangguk saja dan mengecup puncak kepala Khalila beberapa kali kemudian mereka meninggalkan B&W Caffe untuk kembali ke rumah mereka untuk mengistirahatkan diri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN