Bab 3: Si Teman Begadang

1874 Kata
*** Pasangan itu katanya harus saling melengkapi dari berbagai sisi kan, Mas? Sekarang aku mau kamu lengkapi kantong mata kamu supaya sama dengan kantong mataku, supaya kita menjadi pasangan yang sempurna *** “Sudah makan malam, Ga?” Pertanyaan itu langsung menyambut Angga ketika dia melewati pintu depan rumah keluarga Wikasita. Angga yang malam itu terlihat sangat santai dengan celana pendek dan kausnya langsung mengangguk dan menyalimi tangan Citra, Mami Khalila. “Sudah, Tante,” jawab Angga dengan sopan sembari tersenyum. “Tante baru pulang kerja?” tanya Angga ketika menyadari Citra masih terlihat sangat rapi dengan pakaian kerjanya, Citra adalah seorang Dokter di sebuah rumah sakit yang ada di Yogyakarta. Sebenarnya Angga maupun Khalila adalah dua orang yang hidup di lingkungan, di mana kedua orangtuanya sama-sama sibuk dan sangat jarang ada di rumah. “Iya, ini Tante pulang sebentar aja untuk bersih-bersih dan ambil beberapa berkas pasien yang ketinggalan terus pulang lagi ke rumah sakit,” jawab Citra, Angga mengangguk mengerti. “Ini kamu mau ketemu Khalila?” tanya Cintra, keduanya masuk ke dalam rumah yang sudah sangat Angga tahu sudut demi sudutnya, sejak kecil dia sudah bermain di sini. “Iya Tan, dari tadi siang ngeluh pusing skripsi mulu jadi malam ini minta di temani ngerjain skripsi,” jawab Angga dengan sangat santai, Citra itu adalah seorang ibu yang sangat perhatian walau wanita itu jelas sangat super sibuk, Angga selama tidak pernah mendengar sekalipun Khalila mengeluh tentang kesibukan orangtuanya bahkan juga Rayner yang Angga tahu jarang sekali pulang ke rumah karena kesibukan pria itu. “Kamu susul Lila dulu ya, kalau mau cemilan atau butuh hal lain minta aja sama Bibi seperti biasa, Tante mau bersih-bersih dulu,” ucap Citra, Angga langsung mengangguk kemudian pria itu langsung naik ke lantai atas di mana kamar Khalila berada. Saat Angga sampai di ujung tangga paling atas dia melihat gadis yang ingin dia temani malam ini keluar dari kamar dengan celana piyama dan juga kaus, rambutnya tergerai dengan bibir yang mengerucut dan membawa tumpukan kertas yang Angga sangat yakin itu adalah bagian dari revisian Khalila dan juga tas laptop. “Kenapa wajahnya cemberut gitu?” tanya Angga sambil menepuk puncak kepala Khalila, gadis itu terlihat tersentak namun pada akhirnya tersenyum pada Angga. “Mas Angga bantuin aku bawa buku yang ada di tumpukkan meja belajar ya, kita begadang di ruang keluarga aja,” ucap Khalila. Angga langsung mengangguk dan mendorong pintu kamar Khalila, pria itu langsung menarik napasnya ketika melihat keadaan kamar Khalila, sungguh setiap kali Angga masuk ke dalam kamar ini kondisinya tidak jauh berbeda, selalu berantakan. Angga tidak mengerti apa sebenarnya yang di lakukan Khalila di kamarnya ini. Setiap Angga melangkah masuk doa yang selalu dia rafalkan di dalam hati hanyalah semoga dia tidak melihat benda-benda pusaka milik Khalila yang akan berhasil membuat pikirannya ke mana-mana. “Ada nggak Mas?” tanya Khalila dari luar kamar, Angga langsung buru-buru mengambil tumpukan buku milik Khalila. “Ada,” jawab Angga kemudian dia kembali keluar dari kamar dan tersenyum pada Khalila. “Kamu nggak ada niatan buat bersihin kamar apa La? Itu kamar udah kayak kandang kambing,” ucap Angga sembari menuruni satu persatu anak tangga. “Kalau revisian aku kelar, aku bikin itu kamar bening lagi, tenang, Mas,” jawab Khalila dengan sangat santai, keduanya kemudian berbelok ke ruang keluarga dan langsung lesehan di karpet yang selalu menjadi tempat ternyaman jika sedang ada ruang keluara Wikasita. “Mas mau minum dan cemilan apa? Aku ambilin dulu sebelum Bibi berangkat istirahat, kasihan nanti kalau udah tidur terus di ganggu,” ucap Khalila, ini satu hal yang Angga suka dari khalila, gadis itu selalu tahu caranya menghargai dan mengghormati orang lain di balik sikap manja dan seringkali terlewat santai. “Apa aja, kopi jangan lupa La,” jawab Angga, Khalila langsung mengangguk mengerti kemudian gadis itu langsung beranjak dari posisi duduknya dan melangkah ke arah dapur, menghampiri bi Jum yang sudah bekerja untuk keluarga Wikasita sejak lama. “Loh Mami pulang kapan?” tanya Khalila ketika melihat Citra sedang mengobrol dengan bi Jum di dapur dan terlihat sedang menyiapkan bekal. “Tadi tapi Mami harus pulang ke rumah sakit lagi tapi antar makan malam buat Papi dulu sih,” ucap Citra dia mengecup puncak kepala Khalila, “maafin Mami ya, Nak, nggak bisa nemenin Lila begadang ngerjain skripsi,” lanjut Citra dengan lembut, Khalila langsung tersenyum dan mencium pipi Citra dengan lembut. “Nggak papa, Mi, mas Angga nemenin Lila malam ini,” ucap Khalila sembari nyengir. Citra menepuk puncak kepala Khalila beberapa kali, dia sangat bersyukur putrinya ini tumbuh dengan sangat baik walau dia sangat sibuk, sungguh sejak awal Khalila itu bukan orang yang banyak protes dan penuntut bahkan menurut Citra, Khalila itu adalah anak yang sangat penurut, jarang sekali membantah ucapan orangtua. “Mami pamit ya, kalau ada apa-apa dan butuh apapun jangan lupa kabarin Mami, Papi atau Abang,” ucap Citra, Khalila langsung mengangguk kemudian melambaikan tangannya pada Cita. “Jadi mbak Lila ingin apa?” tanya bi Jum. “Kopi untuk mas Angga, jus Alpukat untuk Lila, air mineral dingin dan cemilan. Lila bantuin Bibi deh biar cepat kasihan mas Angga lumutan di depan sendirian,” ucap Khalila sembari nyengir, dia kemudian mulai membantu bi Jum untuk menyiapkan segalanya. “Abis ini Bibi langsung istirahat aja ya, kalau butuh apa-apa lagi Lila akan ambil sendiri,” ucap Khalila setelah setelah semuanya selesai, bi Jum langsung mengangguk dan tersenyum. “Semangat mbak Lila,” ucap bi Jum, Khalila langsung mengangguk. “Gimana, Mas? Udah lumayan dari sebelumnya?” tanya Khalila saat melihat Angga sedang fokus menatap layar laptopnya, Angga langsung menoleh dan menatap Khalila kemudian langsung menggeleng membuat bahu Khalila langsung merosot dan gadis itu langsung duduk di samping Angga. Menatap layar laptopnya dengan nanar. “Sebenarnya salahnya di mana lagi sih, Mas? Nggak ngerti lah aku, perasaan udah revisi berkali-kali tetap aja salah,” ucap Khalila, dia mulai menyantap cemilannya. “Ada beberapa data yang masih nggak sesuai sih setelah aku lihat, kamu inputnya salah kemudian ada yang salah hitung juga, ngerjain skripsi itu nggak perlu buru-buru Lila, pelan-pelan aja asal kamu teliti, ini banyak banget data-datanya, bisa jadi juga kamu ngitungnya udah bener tapi pas menginput jadi salah,” ucap Angga, pria itu mulai menunjukkan di mana letak kesalahan Khalila, sesungguhnya itu adalah kesalahan yang sama dan berulang kemudian Angga mulai menjelaskan. Walau dia dan Khalila jelas beda jurusan tapi Angga cukup mengerti lah sedikit-sedikit apa yang di pelajari anak sipil karena dulu semasa kuliah Angga juga memiliki teman dari jurusan itu. “Paham nggak?” tanya Angga sembari menatap Khalila yang sedari hanya diam dengan mulut yang asik mengunyah. Gadis itu mengangguk kemudian menggeleng setelahnya. “Pasangan itu katanya harus saling melengkapi dari berbagai sisi kan, Mas? Sekarang aku mau kamu lengkapi kantong mata kamu supaya sama dengan kantong mataku, supaya kita menjadi pasangan yang sempurna,” jawab Khalila ngawur membuat Angga langsung berdecak gemas. Dia memutar posisi duduknya untuk menatap gadis itu dengan lekat. Sungguh untuk membuat Khalila mengerti itu harus sabar banget. Gadis itu mengeluh pusing memang tapi santai tetap hal yang di junjung tinggi oleh gadis ini. “Ini kamu masih dendam karena aku ledekin sama Bhanu tadi sore?” tanya Angga, Khalila langsung mengangguk dengan wajah super lugu dan menyuapi Angga sepotong cake favoritnya. “Jelas dong, mas Angga ngatain kantong mata aku hitam jadi sebagai pasangan yang baik aku malam ini ingin mengajak mas Angga untuk memiliki kantong mata hitam bersama,” jawab Khalila dengan sangat santai. Angga merapatkan bibirnya, menatap gadis yang jelas lebih muda tiga tahun darinya itu dengan gemas. “Nggak gitu konsep pasangan yang saling melengkapi Lila,” ucap Angga dengan nada suara gemes, dia bahkan mencubit pipi Khalila yang penuh dengan cake itu saking gemesnya. “Lagian mas Angga nyebelin banget,” ucap Khalila, dia kemudian memberikan secangkir kopi pada Angga, “ngopi dulu, Mas, abis ini aku janji akan mendengarkan mas Angga dengan sangat baik, aku baru ingat besok mas Angga kerja,” ucap Khalila, Angga langsung menerima kopi itu, meneguknya kemudian pasangan itu kembali menatap layar laptop yang masih menyala di hadapan mereka. Khalila kini mendengarkan segala penjelasan Angga dengan sangat baik bahkan gadis itu mencatat poin-poin penting yang di sebutkan oleh Angga kemudian mulai mengetik dan merapikan beberapa bagian yang menjadi titik letak kesalahannya. Angga kini memperhatian Khalila yang mulai sibuk dengan revisiannya, sesekali Angga mengoreksi ketika Khalila kembali hampir melakukan kesalahan dan Khalila kali ini tidak banyak protes dan mengeluh lagi, gadis itu fokus dan selalu menuruti apa yang di katakan oleh Angga. Sesekali Khalila terlihat menguap karena memang hari semakin larut. “Mas boleh minta tolong ambilin kopi di kulkas, yang dari B&W Caffe masih ada di sana seingat aku,” ucap Khalila sembari menoleh pada Angga yang sudah duduk di sofa, bermain game di ponsel dan tentu sama masih mengawasi Khalila. Pria itu terlihat langsung mengangguk kemudian langsung beranjak dari sofa menuju dapur, mengambil apa yang di minta oleh Khalila, saat kembali dari B&W Caffe tadi, Khalila memang membeli beberapa varian kopi yang katanya untuk teman begadang. “Nih,” ucap Angga sembari menaruh satu cup kopi di meja, Khalila langsung tersenyum dengan mata sayunya. “Makasih mas Angga,” ucap Khalila lalu mulai menikmati satu cup kopi kesukaannya. Angga mengusap kepala Khalila dengan lembut. “Kalau udah nggak kuat matanya udahan dulu, lanjut besok lagi, ini udah tengah malam banget sih,” ucap Angga sambil melihat jam yang ada di ponselnya, sudah hampir pukul dua belas malam. Khalila langsung berpindah duduk di sebelah Angga. “Kayaknya aku memang harus tidur sih, Mas dan lanjut revisi lagi besok,” ucap Khalila. Angga mengangguk setuju. “Aku bantuin kamu beresin ini dan antar kamu ke kamar terus aku pulang ke rumah, nggak papa sendirian, kan?” tanya Angga. “Nggak papa, lagian ada Bibi juga dan kayak nggak tahu aja aku udah keseringan di rumah sama Bibi kali, Mas,” ucap Khalila sambil terkekeh pelan, dia kemudian mematikan laptopnya dan membereskan buku-buku yang terbuka. Angga langsung membantu Khalila membawa tumpukan buku itu ke kamar Khalila dengan gadis itu yang melangkah di sampingnya tentu saja. “Makasih mas Angga udah nemenin aku malam ini,” ucap Khalila sembari berdiri di hadapan Angga di depan pintu kamarnya. Angga mengangguk dan menarik Khalila ke dalam pelukannya. “Habis ini langsung istirahat, kelihatan banget capeknya,” ucap Angga, dia mengecup puncak kepala Khalila kemudian benar-benar pamit. “Aku lihatin mas Angga dari jendela kamar, aku pastikan mas Angga masuk rumah dengan selamat, nyalain lampu kamarnya kalau benaar-benar udah nyampe!” seru Khalila, Angga terkekeh mendengar ucapan Khalila yang sebenarnya tetap sama sejak dulu ketika Angga pulang malam dari rumahnya, Angga mengangkat jempolnya tinggi-tinggi. “Kamu langsung tidur Lila, ada dua satpam yang jaga di depan!” seru Angga ketika dia sudah sampai di lantai bawah, melambaikan tangannya pada Khalila yang di balas gadis itu dengan semangat dan tersenyum dengan mata sayunya, setelah memastikan Angga keluar dari rumahnya, Khalila langsung berlari ke arah jendela kamarnya memperhatikan Angga dengan lekat sampai dia melihat lampu kamar yang ada di seberang kamarnya menyala ketika itu Khalila menarik napasnya lega kemudian gadis itu tersenyum ketika melihat pesan yang baru saja di kirim oleh Angga. Tidur anak cantik bapak Abyaz Wikasita, have nice dream, Cantik.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN