TIGA – Gengsi, Oh, Gengsi

1086 Kata
"Maaf?" Aku gelagapan. "Ah, maksud saya begini," aku menggaruk kepala belakangku dengan canggung, "Anda, kan, sangat terkenal di kalangan perempuan. Penggemar Anda di luar sana pasti penasaran apakah ...." Suaraku memelan, bahkan menghilang. Aku tidak sanggup menanyakannya untuk kedua kali. Memang benar banyak wacana dalam benakku, mengenai hal-hal yang akan kulakukan di sela-sela wawancara ini. Namun, realisasinya sangat sulit. Aku dilanda rasa gugup yang luar biasa, padahal pertanyaan tersebut tidak hanya untukku, tetapi juga demi fangirls Danu di luar sana. Ah, lagi pula, kenapa aku bertanya seperti itu tanpa diberi kalimat pengantar dulu? Aku benar-benar merasa bodoh sekarang. "Saya rasa, itu urusan pribadi. Saya tidak ingin membaginya. Nanti, kalau saatnya sudah tiba, akan saya umumkan." Nah, kalau dia menjawab seperti ini menjadi fifty-fifty. Antara punya dan tidak. Sok misterius sekali, sih. Bambang Pamungkas saja yang sedikit bicara di hadapan wartawan, tidak menyembunyikan status perkawinannya. Pada akhirnya, aku hanya mengangguk sambil tersenyum kikuk. Aku benar-benar tak berani menatap matanya. Sungguh. Tatapannya tajam, menakutkan, melebihi tajamnya silet. Apakah dia selalu memandang lawan bicaranya seperti itu? "Kalau begitu, terima kasih ... atas kesediaan Anda menjadi narasumber kami." Aku membereskan barang-barangku dengan tangan yang gemetaran. Demi Tuhan, aku gugup. Matanya! Ingin kucongkel saja netra cokelat kehitaman itu. Kenapa memperhatikanku sampai segitunya, sih? Serius. Aku meliriknya melalui sudut mata, dan dia benar-benar menelitiku. Mengikuti setiap gerakan yang kubuat. Menyebabkan aku ingin cepat-cepat pulang. Maksudku, melanjutkan pekerjaan, karena ini belum waktunya kembali ke kontrakan dan berleha-leha. Itu lebih baik daripada berada di depan lelaki arogan ini. Setelah kumasukkan semua, tas pun kusampirkan di bahu kiri. "Saya permisi," pamitku. "Kenapa buru-buru sekali?" Kutatap lelaki di hadapanku ini penuh tanya, tetapi tidak ada satu pun ekspresi yang ia tampakkan untuk menjawab rasa penasaranku. Hanya matanya saja menatapku—masih—dengan tajam. "Di luar hujan," lanjutnya sambil menunjuk jendela dengan dagu. Ah, benar. Ini tidak baik. Hujan yang mengguyur tidak melulu menumbangkan pohon. Tergantung intensitas hujan dan kekuatan pohon tersebut. Akan tetapi, hujan selalu menyebabkan daya tahan tubuhku menurun hingga ke titik terendah. Bagaimana ini? Aku tidak mungkin menerjangnya. Bisa-bisa aku batal meliput pertandingan final Piala Presiden akibat kehujanan, tapi duduk di sini dengan si pemilik mata tajam juga bukan pilihan bagus. Tidak baik untuk kesehatan jantungku. Kalau momen ini pertemuan biasa, dengan aku sebagai fangirl dan bukan wartawan, aku tidak perlu menyembunyikan jati diriku. Sudah kuterjang lelaki ini, menodongnya agar mau memberiku pelukan, meminta tanda tangan, dan sedikit kecupan di pipi. Terdengar lebih baik daripada menerjang hujan, 'kan? "Saya akan pindah ke meja lain agar Anda bisa bersantai." Baru aku akan beranjak, Danu bersuara, "Di sini saja." "Ya?" Aku melongo seperti sapi d***u. Dia kenapa? Sepertinya tadi dengan jelas dia mengatakan hanya ingin diwawancara selama tiga puluh menit. Artinya, dia tidak ingin berlama-lama duduk di sini bersamaku, dengan wartawan. Lalu mengapa .... "Saya tidak setega itu mengusir kamu." "Tidak apa-apa, saya bisa mencari tempat duduk lain." Aku bersikeras. Percayalah, aku sangat menginginkan ini, duduk berdua dengan Danu sambil menghitung kapan hujan akan mereda, tapi arogansinya beberapa saat lalu membuatku segan untuk berdekatan dengannya. Juga tidak ada jaminan, apakah jantungku akan menggila atau tidak. "Saya bilang, kamu di sini saja." Bibir penuhnya menipis, seperti tidak suka akan penolakan ini. "Tapi, kenapa saya harus di sini? Anda sendiri yang menginginkan wawancara ini berakhir dengan cepat." Danu menarik napas dan membuangnya dengan kasar. "Saya ...." Dia menunduk sambil memainkan cangkir kopi. Sepertinya lelaki ini suka sekali memegang cangkir, ya? Beberapa saat kemudian, dia mendongak, menatapku dengan tajam. "Duduk di sini saja, apa susahnya? Kamu tidak perlu repot-repot mencari tempat duduk lagi, 'kan?" Aku masih berdiri. Bergeming. Menatapnya dalam-dalam seolah mengatakan bahwa aku menunggu dia memberikan alasan. Menanti beberapa menit, menunjukkan sifat keras kepalaku. Sampai akhirnya dia berkata dengan cepat, "Saya tidak suka sendirian." Aku tertegun. Dia barusan mengungkapkan sesuatu yang orang lain tidak mengetahuinya, 'kan? Sungguh, ini pertama kali aku mendengar Danu tidak suka sendirian. Tidak pernah ada artikel atau pun berita di televisi yang membahas soal ini. Danu mendongak, kembali menatapku tajam. "Kamu di sini saja. Sebagai gantinya, kamu boleh menanyakan apa pun yang ada di daftar pertanyaan." "Tapi, Anda bilang—" "Tidak perlu terlalu formal. Danu saja." Fixed. Danu Wikrama lelaki aneh. Kelakuannya membingungkan, melemparku ke segara penuh tanya. Aku harus berpikir keras demi menebak ke mana arah pendiriannya. "Saya panggil Bang Danu saja, boleh?" Dia mengangkat sebelah alisnya. "Maksud saya begini, Anda tadi bilang, tidak suka dipanggil mas. Kalau saya panggil Aa, er ... terlalu Nyunda." Aku mesam-mesem tak jelas. Dia menatapku, kali dengan kedua alis yang terangkat. "Aa saja. Saya suka panggilan itu," tuturnya sembari tersenyum tipis. "Oh," aku merespons dengan canggung, "oke. Aa." Daripada berada dalam situasi canggung lebih lama, kuputuskan untuk mengeluarkan kembali catatan wawancaraku. Senyum tipis yang menghipnotis itu benar-benar melumpuhkan saraf. Aku sungguh tidak sanggup. Beri aku kekuatan untuk menghadapi serangan semacam ini lagi, Tuhan. "Boleh saya mulai bertanya lagi?" tanyaku hati-hati. Aku tidak ingin disela lagi, di saat aku berbasa-basi. Danu tidak bersuara, hanya mengangguk lalu menyimpan cangkir ke meja. Syukurlah, lelaki ini tidak menyebalkan seperti sebelumnya. Cih, tentu saja dia bersikap baik. Aku di sini, kan, atas permintaannya. "Tadi, A Danu bilang, Aa tidak suka sendirian. Boleh saya tanya kenapa?" Jantungku berdentum hebat memanggilnya A Danu. Rasanya sulit untuk kujabarkan. Terlalu ... kompleks. Ya, Tuhan. Aku yakin wajahku benar-benar memerah sekarang. Kualihkan perhatianku pada Danu yang tampak berpikir. Melihat air muka yang muram, aku yakin, jawabannya merupakan sesuatu yang berat untuk diungkap. Aku jadi merasa bersalah. Seharusnya tidak kutanyakan hal itu. "Off the record, ya?" Dia meminta dengan suara pelan. Aku mengangguk saja, masih merasa bersalah. Danu menghela napas dalam-dalam lalu melanjutkan, "Saya pernah tawuran. Lawan saya sekarat, dan saya masuk penjara. Sendirian di sel yang gelap sepanjang malam, benar-benar hal paling buruk yang pernah saya alami. Sejak saat itu, saya tidak suka sendirian." Masa lalu yang mengerikan. Aku tidak menyangka, pesepak bola tersohor ini memiliki kenangan buruk semacam itu. Jika menjadi dirinya, aku tidak akan mampu menanggungnya sendirian. Aku menatapnya nanar, menunjukkan rasa simpatiku akan masa lalunya. Namun, rupanya, dia menangkap lain dari raut wajahku ini. Membuatku kesal dan menyesal, karena telah bersimpati. "Saya mengatakan itu bukan untuk dikasihani. Saya hanya tidak ingin dianggap aneh, karena dengan tiba-tiba meminta kamu tetap di sini. Sementara beberapa saat lalu, saya meminta waktu wawancara dipersingkat." Sialan! Mood lelaki ini cepat sekali berubah. Gengsinya tinggi sekali, sih! Sepertinya, aku tidak perlu memperpanjang soal alasan ini. Aku juga tidak menyimpannya di catatan. Tidak perlu, karena dia sudah meminta off the record. Aku ... aku hanya merekamnya di memori kepalaku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN