EMPAT - bintang yang Sulit untuk Diraih

1403 Kata
Seminggu sejak wawancara dengan Danu, rasa penasaranku terhadap laki-laki itu semakin tak terkendali. Setiap hari, selama beberapa waktu, aku selalu menyempatkan diri hanya untuk mencari berita perkembangannya. Aku juga menjadi sedih ketika Danu dan klub sepak bolanya tidak lolos babak semi final Piala Presiden, alias gagal di babak penyisihan grup. Lelaki itu bersama klubnya sedang fokus pada Liga 1 yang akan dihelat dalam waktu dekat. Berkat Danu pula, aku gagal meliput laga final Piala Presiden. Mengapa? Setelah hujan reda dan kami berpisah waktu itu, aku melaksanakan tugas lain, yakni meliput perekrutan salah satu SSB terkenal di Jakarta. Pulangnya, hujan kembali mengguyur kota. Aku tidak membawa jas hujan apa lagi payung, sehingga tubuhku basah kuyup sesampainya di kontrakan. Jadilah aku demam sepanjang malam. Daya tahan tubuhku memang sangat cetek jika harus berhadapan dengan hujan. Tidak jarang, aku meratap. Ingin seperti orang-orang yang tidak akan sakit hanya karena menerjang hujan satu kali. Seperti Metha, teman baikku itu sering hujan-hujanan, dan paling parah, dia hanya akan terserang flu dan batuk. Artikel hasil mewawancarai Danu pun tidak kuserahkan tepat waktu. Aku harus merelakan kupingku panas oleh ocehan khas nenek sihir bernama Vea Aprilia keesokan harinya, setelah tenggat waktu tersebut. “Kamu itu tidak bertanggung jawab sama sekali, Trisha! Saya sudah memberi kamu kesempatan besar, malah kamu kecewakan saya!” kata Mbak Vea waktu itu. Aku tidak bisa mengatakan apa-apa selain menunduk dan meminta maaf setelah redakturku itu berhenti marah. Selain itu, aku juga mati-matian memohon pada Metha, agar perempuan itu mau mengambil alih liputan di Stadion Pakansari. Semua rayuan mautku dipatahkan mentah-mentah, padahal dirinya sedang tidak mempunyai jadwal apa-apa. hanya traktiran mi ayam favorit kamilah yang berhasil membuat wanita cerewet itu bersedia. Orang-orang di sekelilingku memang kebanyakan cerewet. Jangan heran. Apalagi Mbak Vea. Cerocosannya hampir menyerupai kecepatan cahaya. Sangat cepat. Menjengkelkan pula. Beruntung, cerewetnya Metha berbeda dengan redakturku itu. Hari ini, dengan hati yang berbunga-bunga, aku mendatangi Stadion Patriot Chandrabaga di Bekasi. Klub yang menaungi Danu menyewa tempat ini hanya untuk latihan beberapa kali, karena selama pertandingan, Persija Jakarta yang akan menjadi tuan rumah di sini. Persija Jakarta adalah tim besar ibu kota dengan suporter solid dan sangat royal. Aku beberapa kali menulis tentang hubungan antar klub dan suporter. Hubungan antara Persija Jakarta dan The Jakmania yang paling bekesan. Tuhan sedang berbaik hati dengan menggerakkan pikiran sang redaktur, untuk menugaskanku ke stadion dengan daya tampung 30.000 orang ini. Aku akan ber-te-mu Danu. Bertemu seseorang yang selama ini aku kagumi. Aku benar-benar antusias unutk bertemu dengan laki-laki itu. Semoga saja lelaki itu masih mengingatku meskipun ingatan nya tentang ku mungkin tidak begitu bagus. Mengingat wawancara pertamaku denganya berakhir seperti itu, rasanya sangat memalukan. Namun, aku juga tidak akan menghindarinya jika bertemu. Kesempatan untuk bertatap muka dengan seorang Pramudya Danu Wikrama itu tidak banyak. Jadi, aku harus memanfaatkan kesempatan ini dengan semaksimal mungkin. Ketika sesi latihan selesai, aku memanfaatkan kartu saktiku untuk masuk ke ruang ganti. Percayalah, dengan kartu anggota wartawan, aku bisa ke mana pun yang kumau. Menyenangkan, ya? Akan menjadi lebih menyenangkan kalau Mbak Vea diganti dengan redaktur lain yang ramah. Setelah mendapat izin, aku mengajak berbincang salah satu pemain. Gio Muhamad, teman dekat Danu baik di klub maupun di Timnas. Kerja sama apik keduanya di lapangan membuat semua orang terpukau. Persahabatan mereka di luar lapangan lebih memesona, sehingga banyak yang merasa iri. Kedua pemain bola yang banyak digandrungi suporter perempuan itu sering terlihat hang out bersama-sama. Juga sering tertangkap kamera saling mendukung dalam berbagai kesempatan. Obrolan ku dengn Gio tidak begitu serius, hanya seputar kesiapan laki-laki itu bersama klubnya menghadapi Liga 1 setelah kompetisi resmi di negara ini dipaksa mati suri. Lelaki yang kabarnya berasal dari SSB yang sama dengan Danu ini cukup menyenangkan untuk dijadikan teman ngobrol. Dia tidak menganggap aku wartawan yang harus dijauhi. "Suka sekali sepak bola, ya, Mbak? Kalau tidak salah, kebanyakan artikel tentang sepak bola di Harian Arena Laga ditulis oleh Mbak Trisha." "Oh, iya, saya penggemar berat sepak bola. Masnya pembaca setia koran kamikah?" Gio mengangguk dua kali sebagai jawaban. Aku tersenyum lalu mengedarkan pandanganku ke seluruh penjuru ruangan. Beberapa pemain sedang beristirahat sambil berbincang dengan rekannya. Ada pula yang hanya diam, duduk dengan menjadikan loker sebagai sandaran. Salah satunya Danu. Dia kelihatan lelah sekali. Ah, aku bersedia menjadi sandaran lelaki itu jika "Penggemar Danu juga, ya?" Pertanyaan itu membuatku mengerjap. Kualihkan pandanganku dari Danu demi melihat Gio tersenyum menggoda. Demi motor Batman yang bisa terbang, aku malu! "Danu emang banyak penggemar ceweknya, Mbak. Cuman dia cuek orangnya. Maklumlah, cogan." Gio melanjutkan. Yahelah, cogan juga harusnya ramah, enggak boleh cuek sama fans. "Cuek banget, ya, Mas?" "Iya. Followers-nya di medsos aja banyakan cewek, banyak yang minta di-follow balik, kagak ada yang dia gubris." Benar juga. Followers Danu di i********: dan Twitter mencapai ratusan ribu, tetapi following-nya bahkan tidak menyentuh angka lima puluh. Omong-omong, aku mengikuti lelaki itu di semua media sosial yang dia punya. Aku bahkan mengirim permintaan pertemanan di f*******: sejak aku SMA, tetapi sampai sekarang tidak pernah dia terima. Menyedihkan. "Terima kasih atas waktunya, Mas Gio. Semoga sukses di Liga 1 nanti." Percakapan ini harus kuakhiri demi merealisasikan rencana yang sudah kususun. Gio Mengangguk. Kami berjabatan sebagai salam perpisahan. Tidak ada getaran seperti yang kurasa saat bersalaman dengan Danu. Padahal, Gio tidak kalah tampan. Biasanya aku selalu terpesona oleh mereka para cowok ganteng alias cogan. Sepertinya, hatiku benar-benar sudah terpaut kuat pada striker Timnas itu. Tuhan, kalau begini, aku takut akan membanding-bandingkan lelaki yang datang ke hidupku dengan Danu. Lalu, aku akan sulit mendapat jodoh. Danu memang ketidakmungkinan yang selalu kusemogakan, tapi aku juga harus realistis, bukan? Omong-omong, kesampingkan dulu persoalan jodoh, karena sekarang aku harus mencari keberadaan Danu. Lelaki itu telah beranjak dari tempatnya, dan setelah kupindai ruang ganti, sosoknya tak kutemukan. Kuputuskan untuk mencarinya di luar. Aku berjalan menyusuri koridor sambil melepas ID card dari leherku. Kan, sudah kubilang, aku akan melancarkan aksiku sebagai fangirl. Berusaha sekuat tenaga agar bisa mengobrol ngaler-ngidul dengan Danu, meski kemungkinannya sangat kecil. Jadi, kartu anggota harus kusembunyikan di tas selempang butut kesayanganku. Tidak begitu jauh dari ruang ganti, aku menemukan Danu sedang duduk di kursi panjang. Sendirian. Tatapannya menerawang ke depan. Begitu serius. Aku jadi penasaran, apa yang sedang dia pikirkan, ya? Bukankah waktu itu dia bilang tidak suka sendirian? Kenapa sekarang malah memisahkan diri dari teman-teman klubnya? Mencurigakan sekali. Kudekati lelaki itu secara perlahan. Mengendap-endap seperti akan merampok jemuran tetangga. Aku merasa bodoh juga, tapi kuteruskan saja. Tempat ini sepi, tidak akan ada yang memperhatikan kelakuanku. "A Danu," panggilku pelan begitu sampai di sampingnya. Danu menoleh, mendongak karena posisiku berdiri, sehingga wajahku lebih tinggi darinya. "Ya?" Dia bertanya dengan dahi mengernyit seperti orang kebingungan. Mungkinkah dia lupa padaku? Kejam sekali. Padahal, pertemuan pertama kami berlangsung cukup lama. Sekarang, hanya dalam waktu satu minggu, dia sudah tidak mengingatku? Dia ini benar-benar sesuatu. "Apa kabar?" "Baik," jawabnya sambil berpaling, kembali menerawang ke depan. Kalau tidak salah, aku melihat kupingnya memerah. Sepertinya efek capek sehabis olahraga. Apalagi Bekasi hari ini sangat panas. Aku dengan mengesampingkan rasa malu, memutari Danu lalu duduk di sampingnya. Lelaki itu bergeming, seolah tidak terganggu oleh kehadiranku. "Ngapain, A? Katanya enggak suka sendirian." Dia diam. Mengabaikanku. Seolah aku ini makhluk berambut panjang tak kasat mata. Padahal aku cantik, kata kakak lelakiku. Ya, ya, ya. Setidaknya ada yang mengatakan aku cantik meski itu saudara kandungku. "A Danu lagi mikirin apa?" Aku harus tetap berusaha. Tujuanku, kan, untuk membuat dia melirikku. Kalau aku begitu cepat menyerah, rasa penasaran ini tidak akan terpuaskan. Rasa penasaran akan kepribadian Danu yang sesungguhnya. Jujur saja, pertemuan kami kemarin membuatku bingung. Menyebabkan daya KEPO-ku meningkat drastis. Lelaki itu seperti orang yang memiliki kepribadian ganda. Aku tidak bisa menebak dirinya yang asli. Apakah Danu yang ramah di hadapan wartawan, atau dia yang seenaknya mengatur durasi wawancara? Harus kudapatkan jawabannya. Harus! "A Danu," panggilku lagi. Kali ini kubarengi dengan menyentuh bahunya pelan. Berhasil! Dia menoleh, tetapi tatapannya membuat nyaliku menciut. Pandangan tajam yang cenderung menyeramkan. Good God, sepertinya aku melakukan kesalahan. "Kita tidak sedekat itu untuk saling bercerita, dan saya tidak pernah mengizinkan sembarang orang menyentuh saya." Danu beranjak, sedangkan aku melongo. Luar biasa! Lelaki itu membungkamku hanya dengan satu kalimat. Tidak bisa kubantah, karena kami memang tidak cukup dekat. Hanya pernah bertemu sekali, dan kebetulan dia tidak suka dipanggil mas. Jadi, panggilan aa itu hanya berlaku ketika wawancara 'eksklusif' berlangsung saja. Aku menunduk sedih. Seharusnya, aku sadar, yang ingin kutaklukkan ini bukanlah kumbang di taman, melainkan bintang di langit malam, yang amat sulit untuk diraih. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN