Metha Su: Di bawah.
Pesan itu masuk sesaat setelah rapat harian usai. Aku memasukkan buku catatan ke tas, lalu bergegas keluar. Aku harus cepat agar Metha tidak meninggalkanku. Perempuan itu tidak sabaran, jadi aku harus cepat-cepat. Dua kali dalam seminggu, sebelum menjalankan tugas, aku dan Metha biasanya sarapan bersama. Kebiasaan ini kami bawa sejak kuliah.
Beberapa langkah lagi aku akan menjejakkan kaki di tangga, tetapi lengkingan suara Mbak Vea membuat langkahku seketika berhenti. Aku memejamkan mata demi mengumpulkan kesabaran sebanyak-banyaknya, karena aku sudah bisa memprediksi kelanjutannya.
"Ya, Mbak?" Aku balik badan sambil tersenyum.
"Jangan sok manis!" Senyumku luntur dalam sekejap. "Kamu ini punya salah, bisa-bisanya tersenyum seperti itu.”
"Maaf, Mbak.” Aku menunduk saja, agar kemarahan Mbak Vea tidak makin menjadi-jadi. Selama tiga tahun berkerja dengannya, aku menyadari satu hal. Bahwa menghadapi Mbak Vea tidak boleh dengan sikap keras kepala. Kalau sama-sama keras, perdebatan kami tidak akan pernah ada ujungnya.
"Di artikel kemarin, kamu tidak meminta pendapat Danu. Saya, kan, sudah bilang. Pendapat dari pemain terkenal itu penting agar banyak yang mau baca koran kita."
"Maaf, Mbak, tapi ... Danu kemarin enggak mau diwawancara. Saya dibikin bingung mau tanya-tanya apa."
Aku tidak perlu melaporkan kejadian sebenarnya, kan? Menurutku, terlalu memalukan untuk diingat kembali. Sudah cukup aku membiarkan diriku kehilangan muka di hadapan Danu, jangan sampai aku juga melakukannya di hadapan redakturku ini.
"Kamu itu bukan wartawan yang baru jadi sehari atau dua hari. Sudah tiga tahun, Trisha! Melobi Danu saja tidak mampu, apalagi kalau saya suruh kamu wawancarai Pak Jokowi."
Aku tidak tahu harus terharu atau bagaimana mengetahui bahwa Mbak Vea hafal masa kerjaku di sini. Aku ingin mendecih, tetapi itu tidak mungkin kulakukan. Aku masih tahu sopan santun. Bagaimanapun, wanita ini atasanku. Lagi pula, mewawancarai Pak Jokowi, kan, biasanya berbarengan dengan wartawan lain. Kalaupun eksklusif, harus melalui beberapa prosedur resmi.
"Maaf, Mbak." Aku hanya bisa mengalah dan meminta maaf. Karena biar bagaimana juga, aku masih membutuhkan pekerjaan ini.
"Saya membiarkan berita kamu naik cetak, karena saya kasihan. Kamu sudah jauh-jauh ke Bekasi. Kalau kamu tidak mampu menjadi wartawan profesional, berhenti saja, lah."
Mbak Vea bergegas pergi setelah mengatakan itu, melewatiku tanpa menoleh sedikit pun, lalu masuk ke ruang redaksi tanpa berpamitan atau menutup pembicaraan. Kasihan, katanya? Bilang saja artikelku naik cetak karena memang sudah sesuai prosedur. Keberadaan Danu pada artikel hanya alasan, aku tahu itu.
Aku tidak habis pikir, kenapa dia hobi sekali mencelaku. Ada saja alasan Mbak Vea untuk marah-marah padaku. Apakah karena aku sering terlambat mengumpulkan berita? Kalau hanya untuk alasan itu, aku rasa, terlalu berlebihan. Maksudku, aku tidak membenarkan sifat burukku yang satu itu. Hanya saja, temanku yang wartawan khusus olahraga basket, memiliki masalah yang sama denganku. Namun, redakturnya tidak sesinis Mbak Vea.
Berhenti saja? Tidak semudah itu aku menyerah menjadi wartawan. Ijazah Ilmu Komunikasiku tidak kudapatkan dengan instan. Jika cita-cita ini kuakhiri, aku tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan dalam hidup.
Aku selalu dongkol setiap habis berhadapan dengan Mbak Vea. Jadi, aku bergegas meninggalkan lantai dua, menemui Metha yang kelihatan gusar saat sosoknya sudah tertangkap oleh retina mataku. Teman baikku itu pasti sudah sangat kesal. Aku tidak akan mencari-cari alasan agar dia mau memaafkanku. Hanya kusebutkan nama Mbak Vea saja, perempuan itu pasti akan berbalik memberikan tatapan penuh simpatiknya.
Metha tidak mengatakan apa-apa ketika aku berdiri di hadapannya. Dia hanya menatapku dengan tajam sambil bersedekap.
Aku memasang wajah memelas. "Mbak Vea, Met. Kayak enggak tau aja."
"Mbak Vea melulu," Metha berdecak, "nyari alasan lain, Tris. Aku bosen dengernya."
Dugaanku salah, ternyata. Metha tetap kesal dan tidak bersimpatik lagi. Sepertinya, karena aku sudah terlalu sering dimarahi oleh Mbak Vea dan jadi sering membuat dia menunggu. "Ya, gimana lagi? Kenyataannya emang begitu, kok."
Wanita penyuka mi ayam ini mendelik. "Dah, ah, ayo! Aku udah laper berat." Dia menarikku menuju tempat parkir motor.
"Bubur Senayan, Met," pintaku.
Metha menghempaskan pegangannya, berbalik, lalu menatapku dengan tajam. "Jauh banget, Trisha."
"Lagi pengen makan bubur yang pedes banget, Met."
"Masih pagi. Jangan dibiasain, ah," Metha memakai helm biru kesayangannya. "Nasi kuning deket kontrakan kamu aja."
Aku mendesis tak suka. Aku mau bubur ayam, bukan nasi kuning. Lagi pula, maksudku mengajak Metha makan di Senayan, supaya aku dekat ke tempat tujuanku pagi ini. Aku mendapat tugas meliput perkembangan Stadion Gelora Bung Karno (GBK) yang sedang direnovasi.
"Senayan, Met. Sekalian aku ke GBK."
"Condet aja. Deket." Itu sudah keputusan final Metha. Aku tidak bisa memaksa lagi, karena sahabatku ini lebih keras kepala. Dia tidak akan menyerah hanya karena aku merengek, kecuali untuk sesuatu yang sangat disukainya.
"Oke." Aku pasrah. Berjalan dengan gontai menuju motorku yang terparkir tak jauh dari Metha.
Aku mengambil helm yang kukaitkan di atas kaca spion, lalu memakainya. Setelah itu, merogoh kunci dari tas dan memasukkannya ke lubang kunci. Kemudian, kunyalakan motor bebek kesayanganku ini.
Ketika akan menarik gas, seseorang menahan lenganku. Aku mengurungkan niat, membuka penutup helm, lalu tersenyum lebar melihat Silvia-lah orang itu.
"Aku cuma mau ngasih ini, Kak." Silvia menyodorkan amplop cokelat.
Aku mengernyit sesaat, tetapi kemudian otakku mengingat sesuatu. Aku pernah meminta tolong kepada Silvia untuk membantuku menginvestigasi seseorang. Aku bukan bagian dari tim investigasi, pergerakanku akan sangat terbatas. Jadi, aku memanfaatkan anak baru ini. Hanya sedikit, sih. Tapi ini sangat berarti bagiku.
Aku mengambilnya dengan antusiasme yang kuyakin sangat kentara, serta senyuman yang kian melebar.
"Makasih, ya, Sil."
"Sama-sama. Tapi ...." Wartawan magang itu, yang mulai sekarang kuputuskan menjadi junior favoritku, bergerak gelisah. Kelihatan tidak nyaman, atau mungkin, mencari kalimat yang pas untuk melanjutkan ucapannya.
"Tapi apa, Sil?"
"Em ... gini, Kak. Aku, kan, masih magang di sini. Kak Trisha jangan kasih tau orang-orang, ya, kalau aku yang ngasih ini ke Kakak."
Aku hampir menyemburkan tawa ketika Silvia menyelesaikan kalimatnya dan menatapku dengan wajah memelas. Namun, aku menahannya sekuat tenaga. Takut gadis ini tersinggung. Aku meminta bantuan padanya, karena ini memang rahasia. Mana mungkin aku mengatakan soal ini pada orang-orang? Aku mengerti, sebagai wartawan yang masih belum jelas masa depannya, dia harus berhati-hati dalam bertindak. Aku pun pernah berada di posisinya, tiga tahun yang lalu.
Setelah menekan kuat-kuat tawaku, aku hanya tersenyum kemudian berkata, "Tenang aja, Sil. Ini rahasia, aku enggak bakal bilang-bilang, kok."
Wajahnya berubah cerah bersama senyuman manis yang melebar. Rasa lega yang kentara itu membuatku mau tak mau ikut tersenyum.
"Ya, udah, kalau gitu. Semoga sukses, Kak."
"Iya, makasih. Kamu juga, sukses sama tim investigasinya, ya." Silvia mengangguk lalu berbalik setelah pamitan.
Kutatap amplop cokelat ini lama-lama. Aku masih belum tahu apakah isinya sesuai dengan yang kuharapkan atau tidak, tetapi hatiku sudah berbunga-bunga. Sebentar lagi, aku akan mendapatkan hasil dari kerja kerasku selama empat bulan terakhir.
Setelah puas memandanginya, kugulung lalu kumasukkan ke tas. Tidak masuk sepenuhnya, tapi cukup aman dan tidak akan jatuh, kupikir. Lalu, aku bergegas menyusul Metha yang sudah menunggu di dekat gerbang. Kubunyikan klakson agar dia mengikutiku. Aku bisa membayangkan Metha mencebikkan bibirnya karena lagi-lagi dibuat menunggu.
Berhubung jalanan macet, jarak tempuh yang seharusnya hanya sepuluh menit menggunakan sepeda motor, kini mengahabiskan waktu hampir setengah jam. Aku memilih duduk di meja panjang yang menempel dengan tembok. Beberapa saat kemudian, Metha tiba dan langsung duduk di samping kananku.
Penjual nasi kuning yang dimaksud Metha ini terletak seratusan meter dari gang kontrakanku. Berdiri diapit oleh gedung kantor perusahaan ekspedisi di sebelah kanan, dan bengkel motor di sebelah kiri.
"Mbak Yu, nasi kuning sama teh manis anget dua, ya." teriak Metha. Pemilik warungnya bernama Sarti, tapi karena di banner tertulis Nasi Kuning Mbak Yu, kami pun memanggilnya seperti itu.
"Teh angetnya satu aja, Mbak! Aku mau es jeruk." Aku turut berteriak, meralat pesanan Metha. Aku tidak begitu suka teh manis hangat. Entah kenapa, tapi rasanya aneh saja kalau meminum yang hangat selain kopi.
"Injih!" teriak Mbak Yu dari tempatnya. Aku tidak tahu kenapa kami harus berteriak, sedangkan tempat makan ini tidak begitu luas. Berbicara dengan suara normal saja akan terdengar dengan jelas.
Kulirik Metha, gadis itu sedang menatapku dengan garang. "Masih pagi, Tris. Udah minum es aja."
"Aku udah kebal, kok. Enggak akan sakit perut gara-gara minum es," kilahku sambil menaruh tas di meja.
"Terserah, lah."
Aku cengengesan, merasa bangga telah memenangkan perdebatan dengan Metha. Gadis itu kemudian memandangi sesuatu. Aku mengikuti arah tatapannya, yang ternyata, tertuju pada tasku.
"Amplop apa?" tanyanya.
"Bukan apa-apa."
Aku tidak bermaksud menyembunyikan isi amplop ini dari Metha. Hanya saja, membicarakannya di tempat umum cukup riskan. Memang tempat ini sepi, tapi aku harus berjaga-jaga. Berbahaya kalau sampai ada yang mencuri dengar.
Metha tampak mengernyitkan dahinya. Aku tahu, dia tidak akan berhenti bertanya kalau aku tidak segera berkata, "Aku kasih tahu nanti."
Beruntung, Mbak Yu membawakan pesanan kami, sehingga Metha mulai fokus menyantapnya. Aku pun mulai mencicipi nasi kuning, yang sejujurnya, langka kunikmati. Kontrakanku cukup dekat dengan warung ini, tetapi aku jarang menghabiskan waktu di rumah. Aku lebih sering makan di luar, dan jika mendapatkan libur, aku lebih banyak berdiam diri. Memasak apa saja yang tersisa. Biasanya, aku menyimpan banyak makanan instan di kulkas.
"Mbak Sar, seperti biasa, ya."
Gerakan tanganku terhenti begitu suara lelaki itu terdengar. Aku tidak begitu yakin, tetapi dua kali mendengar langsung suaranya, membuatku berpikir itu memang milik Danu. Demi memastikan, aku memutar kepalaku ke kanan. Ada lelaki mengenakan setelan olahraga—jaket sporty putih, celana training panjang hitam, dan sepatu kets putih, yang kesemuanya berlogo sponsor klub—sedang duduk di meja dekat pintu masuk.
Dia membelakangiku, tetapi belasan tahun mengaguminya, membuatku hafal postur tubuhnya. Pakaian yang dikenakannya pun membantuku mengenali lelaki itu.
Em ... ketika kamu menyukai kakak kelas di SMA, atau senior di kampus, kamu akan berusaha mencari tahu segala hal tentangnya. Benar? Begitu pun aku. Tidak sampai tahap stalker yang mengikuti sampai ke hal-hal kecil, tetapi aku menyukai Danu sudah sangat lama. Menonton setiap pertandingan yang dibela Danu, mengawal perkembangan karirnya, serta ratusan bahkan mungkin ribuan artikel mengenai kesehariannya pun k****a.
Semakin berlimpah yang kamu serap, kamu tidak perlu dengan sengaja menghafalnya, informasi-informasi tersebut akan muncul secara instingtif di kepalamu. Benar, 'kan? Banyak hal tentang lelaki itu yang terpatri secara otomatis di benakku, termasuk bentuk tubuhnya.
Omong-omong, melihatnya hari ini, membuatku kembali mengingat kejadian di Patriot kemarin. Aku mengganggunya seolah kami saling mengenal dekat, seakan-akan dia mau berbicara denganku. Padahal, hanya aku yang mengenalnya. Pasti sangat mengesalkan bagi lelaki itu, dan membuatnya tidak nyaman.
Sebenarnya, aku terus memikirkan hal tersebut. Aku ... haruskah aku menghampirinya? Untuk meminta maaf mungkin?
***
Tim investigasi: Wartawan biasanya memiliki tim ini. Bertugas menguak informasi-informasi khusus yang biasanya berisiko tinggi menimbulkan kegaduhan. Membutuhkan data paling akurat sebelum menyebarnya.