"Tris, minggu ini ada free, nggak?" Pertanyaan Metha membuatku mengalihkan pandangan dengan tidak rela. Aku masih ingin memandangi punggung Danu, tapi kalau sampai Metha menyadari ini, dia akan dengan senang hati membuat keributan.
"Ada, hari Jumat. Kenapa?"
"Nah, pas." Metha menyeruput tehnya. "Ayah ngajak kamu makan siang. Katanya, dia kangen berat sama kamu. Udah berapa bulan, coba, kamu enggak ke rumah?"
Ah, aku juga merindukan mereka. Keluarga Metha sudah seperti keluarga kedua bagiku. Pertemanan kami sangat erat, sehingga sudah seperti saudara kandung. Apalagi, ayah dan ibunya pun menyayangiku seperti mereka menyayangi Metha.
Aku menyuapkan sesendok nasi kuning beserta tempe keringnya. Sambil mengunyah, aku menjawab, "Dua bulan." Aku selalu mengingat tanggal berkunjung ke rumahnya.
Metha mengangguk-angguk, membenarkan. "Datang, ya?"
"Boleh. Mendekati akhir bulan, dompetku menipis. Makan di rumah kamu bisa bantu aku menghemat uang makan," candaku.
Metha mendecih sebal. "Pelitnya masih sama aja kayak pas kuliah."
"Demi masa depan, Met. Aku itu harus hemat sehemat-hematnya."
"Hemat apa emang enggak punya duit, sih, Tris?"
Aku tertawa atas tuturan Metha. Sahabatku ini selalu kesal setiap aku membahas persoalan hemat-menghemat. Sejak kuliah, aku tidak pernah bisa seperti mahasiswa lain yang bisa memakan apa pun yang diinginkan. Aku hanya membeli makanan yang sesuai dengan isi kantongku. Keuanganku tidak sebagus Metha dan beberapa mahasiswa lainnya. Jadi, aku selalu mengusahakan yang terbaik dan berusaha bijaksana dalam mengatur pengeluaran. Aku tidak suka jika di akhir bulan harus berteman dengan mi instan saja.
"Dua-duanya." Aku menjawab singkat.
Aku terus menyuapkan nasi kuning yang sekarang sudah hampir habis. Makanku tidak secepat Metha, tetapi juga tidak tidak selambat jalannya siput.
"Aku duluan, ya," Metha berdiri sambil merapikan pakaiannya, "ada wawancara sama tim futsal dari Bandung yang lagi tandang ke UI."
Mulutku masih penuh oleh nasi kuning. Jadi, aku hanya mengangguk sebagai jawaban. Aku tidak begitu memperhatikannya. Fokusku kembali pada makanan di atas piring yang terus memanggilku agar aku segera menyantap mereka.
Nasi kuning Mbak Yu sangat enak. Perpaduan bumbu rempahnya sangat pas, sehingga tidak menimbulkan rasa aneh di lidah. Tempe keringnya juga juara. Manis dan pedasnya sangat pas. Aku tidak pernah menemukan tempe kering seenak ini di tempat-tempat makan yang pernah aku singgahi.
Sambil mengunyah, aku terus memikirkan lelaki itu. Sungguh, aku tak enak hati. Aku mengakui, kemarin aku keterlaluan dengan menginvasi privasi Danu, yang secara de facto, bukanlah orang dekatku. Kami hanya pernah bertemu sekali, dan kedua kalinya, aku sudah menganggap diriku mengenalnya dengan baik.
Aku mengerjap ketika lagi-lagi suara Danu menyapa gendang telingaku. Tidak bermaksud menguping, tetapi tempat ini memang tidak begitu luas, sehingga aku bisa mendengar percakapan mereka. Inti yang kutangkap, dia tidak membawa uang tunai. Aku beralih memandangi Danu yang sedang berhadapan dengan Mbak Yu. Aku dapat menangkap ekspresi serba salah di wajahnya. Lelaki itu jelas kebingungan.
Aku ingin sekali menolong lelaki itu, tapi ketakutan akan penolakan pun mulai membayang. Jujur saja, aku sangat tidak suka melihat wajah sinisnya ketika menolak kehadiranku. Errr ... bagaimana ini? Kakak lelakiku selalu menasihati agar senantiasa membantu sesama yang membutuhkan.
Setelah menimbang-nimbang beberapa saat, kuputuskan untuk membantunya. Urusan belakangan kalau seandainya dia menolak. Berbekal pemikiran itu, aku pun bergegas menyampirkan tas di bahu, kemudian menghampiri Danu dan Mbak Yu.
Untung saja, nasi kuningku sudah tandas. Jadi, aku tidak perlu membuang-buang makanan demi membantu seorang Pramudya Danu Wikrama.
"Saya mau bayar, Mbak." Sengaja aku berpura-berpura tidak mengenal Danu. Takut lelaki itu berkata sinis lagi, atau lebih parah, mempermalukan diri di hadapan beberapa orang yang baru saja datang memesan makanan.
"Dua sama Mbaknya yang tadi, toh?" Pantas Metha tidak menungguku selesai makan. Rupanya, dia memiliki niat terselubung. Memeras uang bulananku yang hanya tersisa beberapa lembar warna biru. Aku menggeram pelan. Ini, sih, bukan hanya membantu Danu. Tapi juga membantu nenek lampir itu juga.
Aku ingin sekali berteriak, memaki Metha yang seenaknya saja pergi tanpa membayar dulu. Akan tetapi, ada lelaki yang kukagumi di sini. Bisa-bisa, image-ku semakin rusak di matanya, dan tidak tersisa sedikit pun kebaikan.
Jangan salah paham dulu. Aku tidak hanya menjaga sikap di hadapan Danu, kok. Aku juga selalu memperhatikan sikapku di depan yang lainnya. Kakak lelakiku selalu menekankan agar aku berlaku baik, di mana pun aku berada
"Oh, eh ... i-iya, Mbak." Aku merogoh saku celana jin, mengambil selembar uang pecahan lima puluh ribu, lalu menyerahkannya pada Mbak Yu dengan terpaksa.
Seharusnya Mbak Yu memberiku lebih dari dua lembar uang sepuluh ribu sebagai kembalian, tetapi metha ... ah, lihat saja nanti. 'Kan kuadukan dia pada ibuku—maksudku ibunya Metha.
Aku berterima kasih, lalu dengan sengaja mengambil dompet dari tas secara lambat untuk mengulur waktu. Menunggu Mbak Yu atau Danu membahas soal pembayaran lagi, tapi mereka masih diam.
Setelah beberapa saat, pemilik warung itu pun memecah keheningan. Nada suaranya terdengar dibuat-buat, dan nada suaranya itu membuat kupingku panas. Bukan hanya kuping, sih. Tapi hatiku juga.
"Mas Danu saya gratiskan saja. Ndak apa-apa. Biar latihannya semangat, terus bawa klubnya juara."
"Waduh, jangan begitu, Mbak. Saya pulang dulu sebentar, deh, habis itu kembali ke sini."
"Ya, sudah, kalau seperti itu. Saya ndak bisa maksa Mas Danu buat ndak bayar, toh?" Mbak Yu berkata dengan jenaka, sehingga aku bisa mendengar Danu terkekeh pelan.
Mendengar percakapan mereka yang seperti itu, setelah memasukkan kembali dompet ke tas, aku segera undur diri. Danu sudah ditolong Mbak Yu, dan aku tidak mungkin menyela mereka, yang dari gaya percakapan itu, aku tahu keduanya sudah saling mengenal. Mbak Yu juga membiarkan Danu pulang terlebih dahulu, berarti niatanku menolongnya sudah tak diperlukan.
Sebenarnya, aku masih ingin berlama-lama di sini. Melihat Danu yang mengobrol cukup lepas dengan Mbak Yu membuatku merasakan suatu ketidakrelaan. Aku tidak suka melihat dia berlaku ramah pada orang lain, terkekeh menunjukkan suara berat khas lelaki, dan memberikan wajah cerah bersinar akibat tawa kecilnya.
Aku berjalan sambil terus memasang telinga, siapa tahu saja obrolan Danu dan Mbak Yu masih bisa kudengar. Sayang sekali, jalanan sangat ramai. Jadi, tidak ada sisa percakapan mereka yang dapat kutangkap.
Sesampainya di tempat motorku terparkir, aku megambil dan memakai helm hitamku yang sudah mulai usang, yang kubeli dengan uang hasil menabung ketika SMA. Sudah sangat lama, tapi masih nyaman dipakai. Kalau kebutuhan lain sudah terpenuhi, akan kupertimbangkan untuk membeli yang baru, menggantinya dengan desain teranyar berwarna abu-abu.
Aku melirik sekilas ke dalam sebelum menstater kendaraan bermotor ini. Gelagapan ketika kulihat Danu sedang berjalan ke arahku. Netranya memandangi jalanan yang ramai, berjalan dengan irama pelan yang membuatnya semakin terlihat keren. Jantungku berdebar kencang. Ingin sekali menyapa lelaki itu, tetapi bayang-bayang akan penolakan dari mulut tajam beserta tatapan sinisnya mulai mengekspansi kepalaku.
Selain bayang-bayang itu, aku juga jadi teringat sesuatu. Danu seorang atlet sepak bola. Setiap makanannya diperhatikan. Kandungan gizi, kalori, dan lain-lainnya. Lalu, kenapa dia bisa dengan bebas makan nasi kuning Mbak Yu? Tampaknya juga sudah sering makan di sini?
Aku menggeleng. Biarkan saja. Aku seharusnya sudah tidak heran dengan kebiasaan atlet sepak bola. Sudah banyak yang tertangkap basah memakan makanan tidak sehat (setidaknya bagi seorang atlet), sehingga rasanya aku tidak terlalu terkejut lagi. Aku hanya bingung saja, kupikir Danu orang yang sangat taat pada pengatura makan bagi atlet.
"Mas Danu."
Aku terkejut mendengar suara itu keluar begitu saja. Terkadang, otak dan anggota tubuhku tidak bisa bekerja sama dengan baik. spontanitas di kepalaku harus diperbaiki agar tidak mempermalukan diri sendiri di hadapan orang lain, apalagi di depan Danu. Bisa-bisanya aku memanggil Danu begitu saja bahkan ketika aku masih melamun.
Apa yang harus kulakukan sekarang? Berlari? Terlambat. Kaki-kaki panjangnya sudah berhenti melangkah, dan lelaki itu berdiri tepat di sampingku. Kerutan di dahinya membuat kegugupanku semakin menjadi.
Demi apa pun, aku masih belum siap menerima penolakan lagi, dan ekspresi yang dia tunjukkan sudah menjawabnya. Dia. Lupa. Lupa padaku. Menyedihkan sekali, bukan?
"Trisha, Mas," aku berkata dengan pelan sambil menelan kekecewaan. "Wartawan Arena Laga yang mewawancarai Mas Danu juga sempat ngobrol dengan Mas Gio waktu itu."
Danu mengangguk kecil, tetapi ekspresinya tidak berubah sama sekali. "Ya, saya ingat."
Hanya dengan mengetahui bahwa dia mengingatku, meski harus kuingatkan terlebih dahulu, sudah menimbulkan efek sehebat ini. Kupu-kupu di perutku beterbangan, menari ke sana-kemari. Biar kuberitahu. Sejak bertemu Danu untuk pertama kali setelah belasan tahun hanya bisa mengaguminya, aku selalu merasa hidupku diberkahi Tuhan.
Well, dua kali pertemuan kami meninggalkan kesan yang cukup buruk, tetapi tidak mengurangi rasa kagumku terhadapnya. Meski sering muncul rasa kesal karenanya, namun itu semua bukan masalah. Bagiku, Danu selalu menjadi idola teratas.
"Mas Danu habis jogging, ya?" Sebenarnya aku sedikit ragu akan sebutan mas, tetapi memanggilnya A Danu juga akan membuatku rikuh. Mengingat di awal wawancara, dia tidak suka dipanggil mas, lalu di Patriot ... ah, aku benar-benar ingin melupakan peristiwa itu. Sangat memalukan.
Danu mengangguk lagi, kemudian hening. Dia belum beranjak sedikit pun dari tempatnya, dan aku enggan mengakhiri pertemuan—kebetulan—kami. Belum tentu setelah ini, aku akan mendapat kesempatan untuk bertatap muka dengannya lagi.
"Mas Danu tinggal di daerah sini? Er ... saya tinggal di gang itu." aku menunjuk gang sempit di samping kantor perusahaan ekspedisi. "Tapi ini pertama kalinya saya lihat Mas Danu."
Lelaki tampan ini mengangkat alis sebelah kanan, memandangku dengan tatapan yang—aku tidak yakin—aneh? Dia juga seperti mempelajariku. Entah dandananku yang kelewat less make-up, atau helm bututku yang sebagian catnya sudah mengelupas, aku tidak tahu. Matanya benar-benar menelitiku dari atas ke bawah, lalu dari bawah ke atas.
Jujur saja, aku merasa tidak nyaman diperhatikan sampai seperti itu. Namun, ekspresi wajahnya membuatku berpikir bahwa dia sangat lucu. Alisnya mengangkat sebelah, tetapi bola matanya bergerak-gerak mengamatiku. Mengingatkanku pada salah satu tokoh kartun, tetapi aku lupa namanya.
"Bukan urusan kamu," jawabnya ketus.
Bibirku mengerucut. Bukan kesal atas jawabannya, tapi sebal karena dia benar. Dia tinggal di mana pun, itu bukan urusanku. Aku bukan siapa-siapanya. Bukan teman lama yang perlu mengetahui alamatnya agar mudah menjalin silaturahmi kembali, pun bukan pacarnya yang bisa dengan bebas bertanya ini dan itu.
Lalu, aku hanya bisa tersenyum canggung sambil memakinya dalam hati. Ah, daripada berada dalam situasi kikuk, lebih baik aku memintanya berfoto denganku. Segera saja kuambil ponsel lalu membuka aplikasi kamera.
Wawancara kami beberapa saat lau berlangsung awkward, dengan dia yang banyak mengatur. Sesungguhnya, itu adalah pengalaman pertamaku diatur oleh narasumber. Meskipun waktu itu dia membocorkan sedikit masa lalunya, yang bersyarat off the record, namun kondisi tetaplah canggung. Ketika aku menemaninya menunggui hujan reda pun, dia tetap bersikap defensif. Jadi, tidak terpikir untuk memintanya berfoto denganku sama sekali. Sekarang, mumpung takdir mempertemukan, aku harus mendapatkan potret kami dalam bingkai yang sama.
"Saya tidak suka berfoto." Dia menolakku.
Aku melongo. Aku lupa akan fakta itu. Dan lagi-lagi, kau mempermalukan diri di hadapan seorang Danu Wikrama yang ternyata, ketusnya melebihi pada media jika diwawancara.
"Kamu cari saja di internet. Foto saya banyak," titahnya dengan ketus, lalu pergi.
Aku berdiam di tempat, di samping motor bebek yang telah menemaniku sejak kuliah. Tubuhku terpaku, dihantam rasa kesal luar biasa akibat penolakan yang kesekian kalinya kudapatkan dari orang yang sama.
Kuhela napas dalam-dalam, lalu kuembuskan dengan kasar. Kutatap Danu dengan nyalang. Dalam imajinasiku, aku sedang menerjang tubuhnya yang sedang melambaikan tangan untuk menghentikan kendaraan umum, lalu mencakar wajahnya. Ya, Tuhan, dia benar-benar arogan.
Aku sebenarnya bertanya-tanya, apa yang salah denganku? Dia tertawa, bercanda dengan Mbak Yu, tapi sikapnya dingin sekali padaku. Cari saja di internet, katanya? Aku tidak membutuhkan fotonya yang sendirian, atau bersama orang lain. Hanya potret aku dan dia yang kuinginkan.
Ah, kuharap, aku tidak bertemu lagi dengannya. Meski aku sangat mengidolakan laki-laki itu, rasanya sangat melelahkan juga harus menjadi orang yang paling aktif melakukan inisiatif. Memang tidak salah, sih. Posisinya, Danu memang tidak tertarik pada kehadiranku. Dia juga berhak untuk bersikap terbuka atau tertutup pada siapa saja.
Tapi ... tetap saja, aku kesal setiap kali dia bersikap seperti itu padaku. Jadi, lebih baik kami tidak perlu dipertemukan lagi saja, Tuhan. Biarkan aku mengagumi sosok itu dari layar televisi saja.