TUJUH - "Saya Ingat Kamu."

1717 Kata
"Sekarang ceritain soal amplop yang kemarin." Aku dan Metha berada di kamarnya. Setelah makan siang bersama keluarga Metha, seperti yang telah kami sepakati, aku beristirahat sejenak di kamar ini. Membaringkan tubuh yang lelah akibat kurang tidur. Selalu kekurangan tidur, maksudku. Menjadi wartawan memang bukan pekerjaan yang mudah, tapi aku sangat menyukainya. Terlebih lagi, ada Metha yang bisa menjadi sandaran di kala aku merasa dunia akan runtuh sesaat lagi. Ya, meski aku harus mengorbankan banyak waktu tidurku untuk menulis artikel-artikel sesuai target. Sering kali aku tidak tidur semalaman demi menulis berita terbaru yang kejadiannya menjelang tengah malam. Kuhela napas dalam-dalam, lalu kuembuskan secara perlahan. Kami memang tak pernah punya rahasia. Saling terbuka terhadap apa pun. Jadi, bukan masalah untuk mengungkap hal ini kepadanya. Aku sangat percaya pada Metha. Dia tidak akan melakukan apa pun yang dapat melukaiku. "Isinya hasil investigasi Silvia. Aku yang minta, sih. Soal Indra Maksum terlibat dalam kasus sepak bola gajah beberapa tahun lalu. Aku nemuin bukti itu udah lama banget, sih. Cuman baru kepikiran buat ngangkat ini beberapa bulan terakhir. Aku minta bantuan wartawan magang, soalnya dia punya akses lebih. Ya ... meskipun perannya cuman bantu-bantu, seenggaknya dia ada di tim investigasi. "Danu juga bilang pas wawancara kemarin, dia pernah disuruh ngalah. Dia nggak nyebutin nama klub, tapi selama berkarir, Danu setia sama klub yang sekarang. Kurasa, itu ada hubungannya sama Indra Maksum." "Jadi, maksud kamu, kamu mau nulis berita utama?" Aku mengangguk yakin. Tulisanku memang tersebar di beberapa halaman sepak bola setiap hari, tetapi sebagai manusia yang tidak pernah puas, aku ingin namaku terpampang di halaman utama. Itu memang bukan satu-satunya jalan untuk menjadi jurnalis potensial. Namun, aku memilihnya. Aku ingin menununjukkan pada diri sendiri bahwa aku bisa berbuat lebih dari sekadar julukan wartawan yang sering telat mengumpulkan berita. Lagi pula, Indra Maksum sudah terlalu menjalani hidup dengan tenang. Dia dan klubnya beruntung tidak tertangkap. Mereka bermain begitu licin, tanpa tercium sedikit pun oleh yang berwenang. Sementara tidak sedikit pemain dari klub lain, yang ternyata hanyalah korban, harus menerima hukuman dari Komisi Disiplin PSSI. "Hati-hati, Tris. Indra Maksum deket banget sama Pak Rusdi. Kalau bukan karena mereka temenan, koran kita belum tentu bisa keluar-masuk klub mereka dengan leluasa." Benar. Aku tidak melupakan fakta itu. Pak Rusdi adalah pemilik tempatku bekerja. Dia mempunyai wewenang yang sangat kuat. Namun, kenyataan itu yang justru membuatku mengusutnya secara diam-diam. Kalau aku tertangkap aku bisa dipecat. Makanya, aku meminta Silvia untuk merahasiakan ini. Namun, bukan itu yang sebenarnya kutakutkan sebagai wartawan yang menjadi pihak paling bertanggung jawab atas pengungkapan sebuah kebenaran. Aku takut bahwa suatu saat, bukti-bukti yang telah aku kumpulkan akan musnah secara sengaja, dan Indra Maksum menjalani hidup tanpa harus membayar dosa-dosanya. Paling tidak, akan kusembunyikan hal ini sampai bukti kuat kudapatkan. Aku harus membawa dosa-dosa orang itu ke permukaan. "Makanya, cuman kamu sama Silvia doang yang kukasih tau. Bantu aku jaga rahasia ini, ya?" Aku menatap Metha dari samping. Perempuan itu mengangguk tanpa membalas tatapanku. Metha berbaring di samping kananku. Aku memperhatikan Metha yang menatap langit-lagit kamar dengan raut tenang. Rasanya, aku harus berterima kasih kepada Tuhan, karena telah mengirim teman sebaik perempuan ini. Kalau tidak ada dia, aku tidak tahu akan seperti apa menjalani hari-hariku hingga bisa mencapai titik ini. "Kamu tahu, Tris." Metha akhirnya menoleh ke arahku. "Ada banyak misteri yang sebaiknya dibiarkan menjadi misteri." "Maksud kamu?" Dahiku mengernyit dalam. "Manusia memang diberi akal yang tak terbatas, sehingga apa saja yang dianggap misteri itu bisa dipecahkan. Meski tidak begitu akurat, tapi mereka berhasil membeberkan bukti-bukti. Konsekuensinya, diterima dengan suka cita, atau ditolak dan dihujat habis-habisan." Aku mengubah posisi menjadi miring, menghadap Metha dengan tatapan tajam. Jujur saja, aku merasa tersinggung. Aku menganggap ucapan Metha seolah memintaku untuk berhenti. Sunggh. Aku terbiasa dengan Metha yang selalu menyemangatiku, mendukung apa saja yang kulakukan, dan berdiri tepat di sampingku untuk menjadi penopang. Bukan Metha yang memintaku berhenti mengungkap kebenaran. "Aku nggak nyuruh kamu berhenti. Indra Maksum punya banyak koneksi. Dia bisa ngelakuin apa aja buat nyingkirin kerikil kecil yang dianggap mengganggu. Aku cuma minta kamu hati-hati. Pikirin lagi keputusan kamu mengusut kebusukan Indra Maksum." Rupanya, dia mengerti arti tatapanku meski tak kusuarakan pemikiranku itu. Memahami makna reaksi yang secara otomatis kutunjukkan. "Aku udah mikirin ini selama berbulan-bulan," suaraku meninggi, "dan aku nggak akan berhenti buat ngusut penjahat ini." Meski begitu, aku tetap pada pendapatku bahwa Metha memang ingin aku berhenti mengusut kasus Indra Maksum. Aku beringsut dari tempat tidur, menatap Metha sekilas lalu bergegas ke luar. Sebut saja aku kekanak-kanakkan, tetapi dukungan Metha adalah satu-satunya yang kuinginkan saat ini. Kukira orang ini sudah sangat memahami prinsipku. Kuhentikan langkah begitu sampai di ruang tamu. Ibu dan ayah Metha sedang berbincang, yang artinya aku harus terlihat biasa-biasa saja. Kekesalanku terhadap anak mereka tidak boleh kutunjukkan kepada dua orang tua yang selalu baik padaku ini. Setelah emosi terkendali, aku menghampiri mereka lalu berkata, "Pak, Bu, Trisha pulang dulu, ya." Ratna dan Jainudin adalah pasangan paling bahagia—menurutku. Mereka mengalihkan fokus mereka dari televisi jadi ke arahku. Senyum yang muncul di wajah renta mereka membuat hatiku terenyuh. Mereka selalu mampu menyentuh hatiku hanya dengan hal-hal sederhana seperti ini, dan aku iri pada Metha karena mempunyai orang tua yang penuh dengan kasih sayang. "Katanya mau tidur dulu? Udah cukup memangnya?" tanya Bu Ratna. "Trisha kelupaan. Abis ini ada janji ternyata, Bu." "Padahal ibu kamu katanya masih pengin kamu di sini, Nak," sambung Pak Jainudin. Inilah yang membuatku merasa lebih baik tinggal di Jakarta daripada di kampung halaman. Aku memiliki orang-orang yang perhatian, menunjukkan kasih sayang secara tulus, dan mengungkapkan apa yang mereka pikirkan tentangku tanpa sungkan. Potret keluarga sesungguhnya, yang tidak pernah—lebih tepatnya tidak lagi—kudapatkan dari keluarga asliku. "Duh, Ibu kangen Trisha banget, ya?"Aku mendekat ke arah ibu lalu memeluknya. "Trisha juga kangen banget. Tapi harus pergi dulu untuk sekarnag. Nanti Trisha main lagi, deh, kalau off." Aku merasa bersalah karena harus berbohong. Padahal, aku pergi gara-gara sikapku yang seperti anak kecil, tidak mau mendengar pendapat Metha. Ibu mengusap-usap lengan atasku. Terasa begitu hangat dan nyaman. Aku tidak rela kalau harus kehilangan mereka. "Jangan kelamaan. Kalau bisa, kamu ambil cuti terus nginep di sini. Tidur bareng ibu, biar bapak di luar sendirian," balas ibu. "Orang tua hanya bisa mengalah. Demi istri, bapak rela, deh, kedinginan di sofa." Bapak meladeni candaan Ibu. Aku tertawa pelan. Orang-orang ini baru beberapa tahun mengenalku, tetapi mereka tidak pernah menganggapku sebagai orang asing. "Ya, udah." Melepaskan pelukan ibu keduaku adalah sesuatu yang berat. Kalau bisa, aku ingin berada dalam dekapannya setiap saat, menggantikan hangatnya kungkungan ringkih perempuan yang telah melahirkanku. "Trisha berangkat dulu." Setelah mencium tangan Ibu dan Bapak, aku bergegas keluar dari rumah besar ini. Aku menjalankan motor ke arah kanan sambil sesekali menelusuri toko-toko yang berjajar. Sampai di halaman depan kedai kopi yang terletak beberapa blok dari rumah Metha, kuhentikan lanju kendaraan ini. Aku sangat membutuhkan moccaccino dingin. Benar-benar dingin untuk memulihkan fungsi berpikir otak. Aku tidak pernah memasuki tempat ini. Jadi, aku sedikit terperangah begitu melihat interior kafe yang ternyata menggunakan tema klasik. Kalau tahu ada kedai yang nyaman dan indah seperti ini, sudah dari lama aku mendatanginya. Memindai seisi ruangan ini, aku melihat ada tiruan Monalisa menggantung di belakang meja bar. Furniturnya didominasi oleh warna hitam dan cokelat. Berbagai miniatur kendaraan yang sempat terkenal dan digandrungi banyak orang beberapa dekade lalu juga tertata rapi di setiap sudut. Tadinya, aku akan membawa pulang mocaccino dinginku, tetapi kuurungkan niat tersebut. Desain interior tempat ini sungguh memesona. Sangat disayangkan jika aku melewatkan keindahannya. Setelah memesan dan menerimanya, aku berkeliling mencari meja kosong, dan menemukan satu di sudut utara ruangan. Namun, tinggal beberapa langkah lagi aku mencapainya, langkahku terhenti secara otomatis. Sensor otomatis pada tubuhku sedang bekerja. Selalu bereaksi dengan cepat begitu lelaki itu berada di sekitar. Seolah kami memiliki ikatan. Meski nyatanya hanya aku yang merasa seperti itu. Aku sangat ingin tertawa sekarang. Bahkan aku pernah berdoa agar kami tidak dipertemukan kembali, tetapi hanya melihatnya duduk sendirian di tempat ini sudah memacu denyut jantungku begitu hebat. Membuatku antusias dan adrenalinku sangat terpacu. Aku melihatnya. Melihat Danu. Dia duduk di samping meja incaranku, yang berarti saat ini berada tepat di hadapanku. Rupanya pandanganku tidak menemukan lelaki ini ketika menemukan meja tersebut. Dia sendirian, berhadapan dengan secangkir kopi hitam, sedangkan tatapannya fokus pada buku. Aku tidak akan terkejut, karena dia memang terkenal sebagai salah satu pesepak bola yang suka membaca. Namun, yang membuatku bingung, kenapa dia sendirian? Bukankah Danu pernah berkata tidak menyukainya? Aku kemudian menggeleng. Bukan urusanku, dan aku harus berhenti memikrikan segala tentang privasi Dani. Ketampanana Danu meningkat dengan sebuah buku di tangannya. Terlihat dewasa dan seksi. membuatku ingin sekali menyapa, bergabung dengannya, lalu mengajak lelaki itu mengobrol. Namun, beriringan dengan keinginan tersebut, rasa takut pun ikut muncul ke permukaan. Bagaimana kalau penolakan lagi yang kudapat? Di sini cukup ramai, dan aku tidak boleh mengambil risiko dengan mempermalukan diri di hadapan orang-orang yang tidak kukenal sama sekali. Penolakan-penolakan yang telah lalu membuatku berpikir ulang untuk bertindak agresif. Aku tahu, tidak seharusnya menyerah begitu cepat. Akan tetapi, rasa sakit akibat ditolak ternyata lebih hebat daripada yang kuperkirakan. Kenapa menyedihkan sekali, sih? Orang yang kukagumi selama belasan tahun ada di sini, dan aku hanya berdiri sambil memandanginya seperti orang d***u. Semakin t***l ketika dia mendongak dan mata kami bertemu. Tuhan. Jantungku menggila. Tubuhku bahkan ikut membeku. Aku selalu menyukai mata laki-laki itu. Netranya yang indah telah menyihirku bahkan sejak aku berusia tiga belas tahun. “A Danu." Aku memanggilnya tanpa sempat kusadari. Lagi! Aku melakukan kebodohan lagi. Sudah jelas lelaki ini menolak dipanggil seakrab itu. Dia juga telah mengatakannya secara gamblang. Kenapa aku selalu bertindak ceroboh? Kini, aku hanya perlu menunggu hingga saatnya tiba lelaki itu akan memarahiku lagi. Menghitung dalam hati. Namun, sampai habis hitungan jemari tangan, tidak terjadi apa-apa. Lelaki itu hanya menatapku dengan alis terangkat sebelah. Tatapannya membuat firasatku memburuk. Seperti ada hal tidak menyenangkan yang akan terjadi. Seolah pandangan itu menyalurkan aura negatif yang begitu kuat. "Oh, kamu!" Danu mengarahkan jari telunjuk padaku. "Saya ingat kamu." Danu mengingatku. Dia mengenaliku. Apakah aku bermimpi? Tuhan, jangan bangunkan aku! Senyuman lebar menghiasi wajahku. Pipi ini terasa menghangat, dan mungkin saja warnanya memerah. Akan tetapi, kalimat selanjutnya yang dia ucapkan membuat semuanya luntur. Seharusnya aku menyingkir dari sini sebelum kami sempat bertemu. Aku naik pitam. Aku ingi mencabik-cabik wajah tampannya agar sifat takaburnya ikut hancur. "Kamu wartawan bodoh itu, kan?" ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN