10. Kegiatan

1454 Kata
Jam tiga pagi, anak-anak asrama dihebohkan dengan pengumuman dari pihak sekolah yang mengatakan bahwa mereka harus segera pergi ke kuburan sebelah selatan. Pemakaman murid-murid yang tewas akibat kejadian semalam akan segera dilaksanakan. Tidak ada isak tangis di sana, semua hanya terdiam, memperhatikan orang-orang berbaju putih itu turut menguburkan jasad mayat-mayat secara asal tak beraturan. Tubuh Zahra bergetar dengan begitu hebat. Sayang nya, dia gak berani nangis, dia takut. Peraturan nya memang sudah seperti itu. Untuk siapa pun yang menangis di pemakaman akan dikubur secara hidup-hidup. Bu Ajeng menjelaskan bahwa keluarga dari para murid yang sudah meninggal ini, akan melupakan memori nya tentang orang yang meninggal itu. Dengan kata lain, keluarga yang ditinggalkan akan segera lupa dengan anak, saudara atau kerabat yang mati karena bersekolah di sekolah ini. Entah magic apa yang pihak sekolah punya sampai-sampai Angga pun tidak mampu menembus sisi gelap nya. Hanya tiga puluh menit saja untuk memakamkan jasad-jasad itu. Setelah selesai, mereka semua disuruh kembali menuju kamar asrama mereka tanpa adanya kebisingan sama sekali. Zahra yang udah bener-bener takut lantas ambruk di hadapan Angga. "Zahra!" Angga bergegas membopong tubuh Zahra yang sudah terkulai lemas. Sedangkan di sisi lain, di kamar asrama lantai dua F, Daniel sudah marah-marah tidak jelas, bahkan sudah berkali-kali dirinya menendang kencang tubuh Lios secara kejam. "Lo cuma orang miskin yang kebetulan bisa masuk ke sekolah ini, jadi gak usah belagu! Gua tahu, ini semua pasti ulah lu kan?" Daniel yang sudah bisa melihat hantu lantas langsung menuduh Lios sebagai dalang dari semua kejadian ini. "Keluarin jin sialan itu! Gue gak takut!" pinta Daniel. Lios berusaha untuk sabar agar Sakti tetap diam di dalam kalung. "Kalau perlu, gue kerja sama aja bersama guru terkutuk di sini buat ngabisin lo," sinis Daniel. Ayu menampar kencang wajah Daniel, "sadar! Yang ada, lo malah ngebantu guru-guru di sini buat ngebunuh kita semua!" "Biarin, asal gua hidup itu gak masalah." "Stres ya, lo?!" Ayu gak habis pikir sama Daniel. "Daripada kita ribut, mendingan kita ngantri aja buat mandi," Fitria pergi begitu saja dari kamar asrama. Fitria juga udah muak sama ucapan Daniel. Kenapa juga harus dia yang sekamar sama orang bengis kayak Daniel dari banyak nya para murid yang ada di sekolah ini? Kenapa juga sih mereka harus terjebak di sekolah ini? Sekolah yang katanya sangat menjanjikan masa depan para murid nya namun sangat mematikan. Biaya mahal, belajarnya pun ekstrem, gak ada kebahagiaan yang ada malah rasa takut dan takut. Cantika meludahi wajah Lios begitu juga dengan Raksa yang juga sahabat dari Daniel. "Harusnya lo ngomong! Jangan diemin Daniel!" Cantika gak suka kalau ada orang diajak ngomong sama Daniel tetapi diam terus. "Lo mau gue bunuh hah?" teriak Raksa. Angga yang mendengar keributan dari kamar sebelah jadi kepingin tahu dan jadi melihat ke kamar sebelah "Ada apa?" tanya Angga. Daniel menendang pintu asrama. "Lo ngapain ke sini?" tanya Daniel sinis. "Ada yang mau gue omongin sama Lios," jawab Angga. "Lo pasti dukun kan? Lo pasti bersekutu sama si setan Lios ini kan?" tuduh Daniel. Angga melirik Lios yang masih saja diam, padahal dia yakin kalau Lios bisa aja ngeluarin Sakti buat bungkam mulut Daniel. "Jangan salah paham," jawab Angga. Daniel mendorong tubuh Angga tepat dihadapan Sherla yang kebetulan nyusul Angga ke kamar sebelah. "Heh, orang jahat, lo bisa santai dikit gak?!" geram Sherla. Hancur sudah pertahanan Sherla yang sok feminim di hadapan Angga. "Berisik! Cewek lemah kayak lo diem aja deh, gak usah banyak tingkah," balas Daniel senga. Angga menahan Sherla supaya gak tambah marah "gue ke sini cuma mau ngajak Lios pergi aja, gak lebih." Daniel tertawa sinis "bawa dia, gua juga gak mau deket-deket kali sama orang yang bersekutu ke setan kayak dia!" teriak Daniel. Lios bangkit dengan amarah yang sudah menggebu-gebu. "Sudah Lios.Dia bisa keluar kalau kamu marah," cuma itu yang bisa Angga ucapin. Setelah itu, Angga pun membawa Sherla pergi ke kamar asrama,sedangkan Lios memutuskan untuk mandi buat ngeredain amarah nya yang sudah menggebu-gebu minta dikeluarkan. ... Untuk pertama kali nya, Daniel cs berserta dua murid lainnya masuk ke dalam kelas di hari kedua setelah menderita seharian penuh akibat terjebak di dalam kamar asrama. "Minggir, gue mau duduk di sini," ucap Daniel, mengusir Aksel dari tempat duduk nya namun, Aksel tetap diam mengabaikan Daniel dengan terus mendengarkan musik dari headset yang selalu dia pakai setiap hari nya saat pelajaran belum dimulai. "Lu b***k apa gimana? Gue bilang minggir! Gue mau duduk di sini!" pekik Daniel tak sabaran. Aksel menatap tajam daniel "sampah harusnya duduk di tong sampah, bukan malah duduk di kursi," jawab Aksel dingin. Daniel melotot, hendak memukul wajah Aksel namun, sudah di tepis duluan oleh Satrio. "dia duluan yang duduk disitu lo gak berhak buat ngusir dia!" "Suka-suka gue lah mau duduk di mana." Aksel tertawa sinis "suka-suka gue juga lah mau duduk di mana," dia pikir Aksel takut begitu sama dia? Big no! Daniel menggeram kesal, menarik paksa tubuh Aksel sampai Aksel terjatuh ke dasar lantai. "Denger ya, gue mau duduk di sini bukan di tempat lain!" Satrio tersenyum sinis "biarin aja dia duduk disitu, biar tahu rasa," bisik Satrio pada Aksel. "Arkh…." Satrio menertawakan Daniel yang sudah tersetrum aliran listrik dari bangku Aksel. Cantika Raksa yang melihat itu lantas langsung buru-buru menarik Daniel. "Bos, lo gak papa?" tanya Raksa. Daniel ngos-ngosan melihat Satrio yang. terus saja tersenyum sinis seolah mengejek. "Gua lupa kasih tahu lo, kalau disekolah ini, di setiap kelas nya udah ada peraturan yang gak bakalan pernah bisa diganggu gugat sekalipun lo langgar pasti lu bakalan kapok," ujar Satrio. "Lo gak lihat di meja sama bangku itu ada nama gue?" tanya Aksel. Peraturan nya adalah b****g siapa yang pertama kali menempel pada kursi, maka secara secara mutlak kursi itu akan menjadi milik nya selama satu tahun ke depan gak ada satupun orang yang bisa mengambil tempat duduk dia karena itu sudah mutlak menjadi milik dia kalaupun ada yang memaksa maka yang di dapat hanya-lah sebuah setrum yang mampu menggetarkan jiwa raga dari si pembangkang. Daniel masih bingung "Sekolah ini aneh." Buru-buru dia duduk di tempat duduk yang masih kosong. Untung saja yang tersisa bukan hanya bangku depan jadi Daniel gak perlu repot-repot memaksakan diri duduk di bagian depan Pintu kelas kembali tertutup dengan sendiri nya saat jam pelajaran pertama dimulai. "Selamat pagi anak-anak, hari ini kita akan memulai pelajaran biologi mengenai virus." Sherla melirik Angga, perasaan dia mulai gak enak. Daniel menguap lebar-lebar "mendingan kita makan di kantin daripada duduk di sini." Daniel hendak pergi tetapi sayang, pintu kelas vak bisa dibuka dia pun gak bisa bolos begitu aja ke kantin sekolah. "Woi bantu bukain pintu," teriak Daniel. Cctv mulai bermunculan "bos ada Cctv," adu Raksa. "Biarin," jawab Daniel masa bodo. Raksa menendang pintu berkali-kali namun hasilnya tetap nihil. "Percuma, tuh pintu gak bakalan bisa dibuka kalau jam pelajaran pertama belum habis," kata Ayu. Daniel memekik emosi "sekolah aneh!" "Kalian bisa buka lemari yang ada di pojok kelas, di sana udah ada satu virus beberapa bahan untuk membuat penangkal nya." Daniel menendang papan tulis "sialan, sialan, sialan!" "Daniel! Udah dong, lo jangan kayak orang kesetanan begitu!" jengah Fitria. "Lah, dia kan emang setan," cibir Satrio. "Sini kalau berani!" teriak Daniel ngegas. "Siapa takut?!" Satrio menendang meja emosi. "Kalian mau dihukum, hah? Kalian gak takut sama ancaman dari bu Ajeng waktu itu?!" teriak Ira. "Dia duluan!" jawab Daniel kesal. "Udah diem!" pekik Ira. "Kalian saya beri waktu lima belas menit untuk menentukan siapa yang akan kalian suntik virus. Waktunya dimulai dari sekarang." Mereka langsung berdiskusi. Daniel menyarankan agar Lios saja yang dijadikan percobaan virus ini tapi, mereka gak bisa asal mutusin gitu aja kalau Lios sendiri gak mau. "Siapa yang secara sukarela mau disuntik virus?" tanya Mila. Joe dan Ira saling tatap, kalau soal ramuan sih mereka jago nya. "Gue boleh lihat bahan ramuan nya dulu gak?" tanya Ira hati-hati. Angga memberanikan diri untuk bertanya pada guru yang masih memantau via Cctv. "Apa boleh kita lihat bahan ramuan nya dulu? "Tidak." Permintaan Angga di tolak mentah-mentah, karena mereka semua harus nentuin dulu siapa yang bakalan mereka kasih virus, baru habis itu mereka boleh melihat serta mengambil bahan-bahan yang ada di lemari. Angga berusaha untuk menembus isi lemari dan dia langsung paham kenapa mereka harus disuruh memilih. "Bahan nya kurang satu," cuma itu yang bisa Angga kasih tahu ke Ira. "Kita bakal usahain, asal kalian percaya sama gue dan juga Joe buat ngeracik ramuan penangkal virus itu," ucap Ira. "Ra, kita emang bisa sembuhin penyakit tapi kalau virus kayak begini, gue gak yakin kalau gue bisa," Joe takut gagal. "Gue percaya kok sama kalian,"ucap Angga. "Kalau gitu biar Angga aja tuh yang jadi kelinci percobaan kita," usul Cantika yang langsung disetujui oleh Angga sendiri. "Gue siap kok di jadiin bahan percobaan kalian." "Lo yakin?" tanya Joe sedikit ragu. "Ya, gue yakin." jawab Angga mantap.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN