01. AWAL
Langit tampak mendung, menyesakkan perasaan Angga yang sedari awal gelisah tak menentu. Hari ini hari upacara penerimaan murid baru di SMA favorit yang paling disegani di negara ini.
Mereka yang keterima masuk di sekolah ini, lantas bertukar peluk kasih, bersama keluarga yang sebentar lagi akan segera pergi meninggalkan mereka untuk tinggal di asrama sekolah, walau berat.
"Bunda yakin nih? mau ngebiarin Angga tinggal di asrama?" tanya Angga manja, sambil memeluk erat Ibunda nya.
Jujur, perasaan Angga udah gak enak banget. Apalagi, ditambah sama cuaca yang lagi gelap kayak begini, makin gak enak aja perasaan Angga dibuat nya.
"Bunda yakin, nak. Kamu harus rajin sekolah ya, jangan males-malesan, toh di sini masih ada Satrio yang bisa nemenin kamu di sekolah."
Satrio tersenyum manis "tante tenang aja, Satrio pasti bakal jagain Angga kok di sini." dari dulu pun sudah seperti itu.
Satrio merasa, kalau diri nya hidup di dunia ini hanya untuk menjaga Angga yang tak lain adalah sesosok manusia yang seringkali dianggap aneh oleh orang lain, termasuk dirinya sendiri.
"Oh, iya, nak. Maafin ayah kamu juga ya, yang gak bisa anterin kamu ke sekolah, padahal kan hari ini hari pertama kamu masuk ke SMA. Bunda harap kamu ngerti betapa sibuk nya ayah kamu itu."
Angga mengangguk lesu "bunda hati-hati dijalan, Angga sama Satrio mau masuk dahulu."
"Iya sayang, semangat ya belajar nya, simpan barang-barang kamu dengan baik nanti Bunda kirimin lemari besar deh buat kamu."
"Iya, bunda, terima kasih," jawab Angga.
"Bunda sayang Angga."
"Angga juga sayang bunda."
Setelah itu, mereka berdua pun masuk ke dalam sekolah dan benar saja, perasaan Angga semakin kalang kabut dibuat nya.
Mustahil rasanya saat Angga tak melihat ada nya satu pun hantu di sekolah yang begitu besar ini. Padahal, sekarang lagi mendung, tapi kenapa gak ada hantu sama sekali? Pasti ada yang gak beres.
"Lo ngerasa ada yang aneh gak sih di sekolah ini?" tanya Angga sembari terus menatap lurus.
Satrio terkekeh "gak usah mulai lagi deh, lo. Gue gak ngerasain ada nya apa-apa tuh di sini."
Dahi Angga mengkerut saat mendengar nya. entah mengapa, dirinya malah semakin curiga dengan sekolah ini.
Sebenarnya ada apa di sini? mengapa aura nya sangat tidak mengenakkan? Padahal kelihatannya aman-aman saja di sini.
Angga merasa seperti ada sesuatu hal yang berusaha menekan kemampuan nya agar tidak keluar.
Angga memang bukan orang sakti, tapi kata bunda, Angga itu anak yang spesial, beda dari manusia kebanyakan.
"Baris yang rapi! Jangan ada yang berisik!" perintah ketua Osis.
Mendengar teriakan anak-anak osis yang begitu lantang, membuat Angga mau gak mau harus mengesampingkan rasa penasaran nya dan ikut berbaris rapi di tengah-tengah lapangan bersama para murid lain nya agar tidak terkena amarah.
Perlahan, satu persatu dari calon murid kelas sepuluh mulai menerima payung hitam yang diberikan secara bergantian oleh kakak kelas dengan alasan takut nanti turun hujan.
Padahal, Satrio udah ngarep-ngarep, semoga nanti turun hujan, supaya mereka semua gak upacara lama-lama, tapi ada aja ide unik dari pihak sekolah yang bikin harapan Satrio pupus seketika.
"Emang ada-ada aja ya ide kepala sekolah di sini. Pake acara kasih payung segala, udah tahu lagi males upacara," batin Satrio gondok.
Satrio menoleh malas. Dia tahu kalau sahabat nya ini lagi nggak enak hati. Dari awal mereka berdua masuk ke sekolah, Satrio bisa ngerasain, kalau sahabat nya ini pasti bakalan berpikiran aneh. Apalagi, Satrio tahu kalau Angga gak bakalan pernah mau masuk ke sekolah ini kalau bukan karena ada nya paksaan dari sang ayah dan juga dirinya sendiri.
"Lo kenapa sih? Kok muka nya asem banget?"
Angga mendesah kesal "perasaan gue gak enak, Sat." Entah mengapa, Angga yakin kalau sekolah ini pasti menyimpan sesuatu hal yang sedang mereka sembunyikan.
"Udah lah, nama nya juga kita baru sampai di sekolah, masa lo udah mau suudzon aja sih?" jawab Satrio berupaya menenangkan Angga.
"Tapi di sini gak ada hantu, Satrio."
"Terus? Menurut lo, itu aneh gitu?" kesal Satrio yang gak habis pikir sama tingkah laku Angga.
Jelas aneh. Pasti ada sesuatu hal yang buruk di sini. Feeling Angga gak enak. Rasa nya seperti dia ingin cepat-cepat pergi dari tempat ini, tapi gak bisa.
"Kenapa diem? Emangnya aneh ya, kalau di sekolah ini gak ada hantu? Justru bagus dong? Artinya kita bisa hidup tenang di sekolah ini."
Angga melengos, mengabaikan Satrio yang tak akan pernah bisa mengerti perasaan nya yang jelas-jelas berbeda dari manusia biasa.
Ya, Angga indigo, jelas ketidakadaan nya hantu di sekolah ini membuat Angga merasa janggal. Rasa nya aneh banget kalau di gedung sebesar ini gak ada hantu sama sekali.
Apalagi di cuaca yang lagi mendung kayak begini, harus nya sih makhluk-makhluk itu sedang berkeliaran bebas di hadapan mereka.
"Udah-lah jangan dipikirin. Nanti juga setan nya muncul sendiri tanpa diminta." Angga mengangguk, mengiyakan ucapan Satrio yang mungkin ada benar nya juga.
Tanpa mereka berdua sedari, ada seorang gadis cantik yang tanpa di sengaja mendengar obrolan mereka berdua yang ujung-ujung nya bikin diri dia sendiri jadi ikut penasaran juga, kenapa gak ada satupun hantu di sekolah ini.
"Ehm. Baiklah, saya akan memulai pidato saya pada pagi hari ini. untuk anak-anak sekalian dilarang berisik saat saya sedang memberikan arahan, karena di sini, saya akan memberitahukan kalian tentang beberapa hal yang ada di sekolah ini, jadi harap tenang," ucap Bu Ajeng selaku kepala sekolah.
Seketika, keadaan di lapangan menjadi lebih hening. Bu Ajeng lanjut memberikan arahan. Beliau juga menceritakan tentang bagaimana sekolah ini dibangun dan apa saja manfaat dari sekolah ini untuk para alumni saat lulus nanti.
Bisa dibilang, bu Ajeng terlalu antusias untuk membangga-banggakan sekolah ini. Padahal, pada kenyataannya, sebagian dari calon murid baru yang ada di sini sama sekali gak ada yang peduli sama pencapaian sekolah yang sudah ibu ajeng beritahukan.
Hingga pada akhirnya, mereka pun sampai di titik pembicaraan tentang apa saja peraturan sekolah yang ada di sekolah ini. Mereka syok, cemas, gelisah, mual dan bingung diwaktu yang bersamaan saat mendengar apa saja peraturan-peraturan yang ada di sekolah ini.
"Apa?! Kami semua gak boleh megang alat elektronik apa pun?" kaget Satrio.
Semua murid berbisik panik, mengutarakan rasa ketidaknyamanan nya terhadap satu peraturan tersebut, sebelum peraturan lain nya makin membuat kaki mereka lemas dibuatnya.
Selain gak boleh megang alat elektronik apa pun, mereka juga cuma di izinkan pulang satu tahun sekali, itu pun, mereka sama sekali gak diizinkan untuk menerima tamu apalagi berkomunikasi sama orang rumah.
Jujur, peraturan ini memberatkan mereka. Apalagi, di formulir pendaftaran sekolah terpampang jelas, kalau mereka masih di izinkan untuk memegang handphone bahkan, disitu juga tertulis kalau mereka boleh pulang ke rumah sekiranya dua Minggu sekali. Tapi kenapa sekarang berbeda?
"Orang tua kalian sudah setuju dengan peraturan ini, jadi untuk satu tahun ke depan, kalian semua tidak akan pernah bisa keluar dari sini," ujar Bu Ajeng.
"Satu lagi, jangankan untuk kabur, untuk keluar dari sekolah ini saja, kalian tidak bisa. Karena sekolah ini sudah dijaga ketat oleh para satpam."
Angga bergidik ngeri saat mendengar ucapan bu Ajeng yang seperti itu. Yang seolah-olah ingin mereka semua terus berada di sekolah ini, selama nya.
"Ah sial, gue salah masuk sekolah!" Satrio merasa begitu frustrasi. Andai saja dirinya masih diizinkan untuk memegang handphone, mungkin gak akan seberat ini rasanya.
"Buka payung kalian," perintah Bu Ajeng.
Dengan serempak, mereka semua membuka payung hitam itu sesuai perintah Bu Ajeng.
Melihat kenurutan calon para murid nya, membuat Bu Ajeng merasa puas menampilkan senyuman misterius nya tanpa dia sadari.
Tapi, siapa dia? Yang dengan berani-berani nya menolak perintah bu Ajeng?
"Buka payung kamu!" perintah bu Ajeng. Sherla memutar mata jengah "buat apa saya buka payung ini? Toh gak hujan," jawab Sherla malas.
Bu Ajeng menatap datar Sherla namun, Sherla malah menatap nya balik dengan tatapan sinis.
"Baiklah jika itu mau kamu. Mulai sekarang, kamu saya larang untuk membuka payung hitam itu sekalipun nanti turun hujan," ujar bu Ajeng.
"Baik." Sherla membuang muka. Bu Ajeng pun kembali melanjutkan pidato nya yang sempat tertunda tadi.
Dan benar saja, tak lama dari itu, hujan pun turun, mengguyur mereka semua yang berada di lapangan dengan penuh semangat.
Namun, dengan tega nya, Bu Ajeng malah tetap melanjutkan pidato nya yang terlalu begitu panjang, tanpa mau memedulikan kondisi dari anak-anak murid yang perlahan-lahan mulai mulai merasa lemas dan juga kedinginan.
Angga meringis, dirinya sama sekali tak tega saat melihat Sherla si gadis satu-satu nya yang terkena guyuran hujan yang begitu deras tanpa ada nya perlindungan dari payung.
Hingga pada akhirnya, mereka yang lemah pun tumbang dan dibiarkan begitu saja oleh pihak sekolah dengan alasan, ini semua adalah contoh dari salah satu pertahanan diri.
"Biarkan saja jangan dibantu, ini salah satu contoh dari pertahanan diri," ujar Bu Ajeng.
Setengah jam kemudian, upacara pun telah diselesaikan. Mereka semua langsung disuruh pergi ke asrama yang letak nya berada tak jauh dari gedung sekolah. Lebih tepat nya, asrama mereka berada tepat di belakang gedung sekolah.
"Kamu gak papa?" tanya Angga saat melihat Sherla berjalan di depan nya. Sherla menggeleng "gak, kita semua harus buru-buru pergi dari sekolah ini, secepatnya."
Satrio menyipit curiga, "emang nya kenapa?"
"Ayo kita pergi dari sini. Pokok nya kita harus pergi dulu dari sini!" ajak Sherla panik.
"Ya, tapi kenapa? kenapa kita harus pergi?" tanya Satrio kesal. Sherla menggeleng, tanda tak tahu. yang jelas, dia takut.
Angga memeluk Sherla erat-erat "kamu pasti kedinginan, kita ke asrama aja yuk? Sekalian, kita anterin kamu ke asrama."
Sherla mengangguk pelan, membiarkan Angga menggenggam hangat jemari nya yang sudah mengkerut akibat kedinginan.
"Cih, kalian berdua apa-apaan sih?" kesal Satrio membatin saat melihat tingkah kedua nya yang begitu akrab walau baru kenal beberapa menit yang lalu.
Pada akhirnya, mereka bertiga bergegas pergi menuju gedung kamar asrama mereka yang ternyata, sudah terpampang jelas siapa pemilik dari kamar asrama di tiap-tiap pintu.
Satrio berdesis kaget "ini gak salah?" tanya nya saat melihat nama-nama di depan pintu kamar asrama.
Setau Satrio, orang tua mereka membayar seratus juta lebih hanya untuk satu kamar asrama, tapi apa ini? Satu kamar diisi sepuluh orang? Apa gak gila?! ini sih namanya penipuan.
Dengan kesal, Satrio membuka kencang pintu kamar asrama nya. kebetulan, Angga dan juga Sherla berada di satu kamar yang sama dengan dirinya.
Mereka bertiga pun masuk ke dalam kamar untuk memastikan kalau kamar ini benar atau tidak diisi oleh sepuluh orang.
Ternyata, di dalam sana sudah terdapat tujuh murid lain nya, termasuk gadis yang sempat pingsan tadi di lapangan.
"Apa-apaan ini?! Orang tua gue udah bayar mahal-mahal, tetapi mengapa malah dapet kamar sumpek kayak begini?"
"Gila, ini sih namanya penipuan! Masa kita disuruh tidur di kasur lantai kayak begini? Kayak orang gak mampu aja!"
Anak-anak dari kamar lain mulai protes besar-besaran di belakang pihak sekolah, karena mereka gak berani kalau harus protes langsung dihadapan pihak sekolah yang begitu menyeramkan.
Tapi, disaat anak-anak lain sibuk protes sana-sini, Angga malah gak protes sama sekali yang ada, dia malah asyik melirik teman sekamarnya satu per satu.
"Hai, boleh bicara sebentar sama kalian?" tanya Angga sopan.
Mereka semua mengangguk pelan. Di sini, Angga minta ke mereka semua buat ngenalin diri mereka masing-masing supaya mereka bisa saling kenal satu sama lain.
"Kenalin. Gue, Angga. Ini Satrio, sahabat gue," salam Angga membuka perkenalan.
"Gue, Sherla."
"Gue, Aksel."
"Gue, Putri."
"Gue, Wira."
"Gue, Zahra."
"Gue, Joe."
"Gue, Ira."
"Gue, Mila."
Angga tersenyum kikuk, "salam kenal ya kalian, gue harap kita semua bisa akur di sini."