Aksel melirik Sherla sinis "jangan bikin becek kamar," tegur Aksel yang tak suka pada Sherla.
Sherla mengangguk, "gue mau ke toilet dulu."
"Mau gue anter gak?" tanya Mila.
"Boleh deh," jawab Sherla gak keberatan.
"Gue ikut juga dong," ujar Ira, yang tak lain adalah gadis yang sempat pingsan tadi di lapangan.
Sebenernya, Ira juga mau pergi ke toilet dari tadi, cuma ya begitu, dia bingung aja kalau harus pergi ke toilet sendirian.
"Ayo," jawab Sherla tak keberatan.
Akhirnya mereka bertiga pergi ke toilet, sedangkan tujuh orang lainnya tetap berada di dalam kamar walaupun keadaan di dalam sana menjadi begitu canggung.
Di sini, di kamar asrama ini, mereka cuma dikasih kasur lantai, bantal, selimut dua lemari baju berukuran besar yang mungkin sebentar lagi bakalan dibagi jadi dua kubu.
"Kita bakalan aman gak sih, tinggal di satu kamar kayak begini?" tanya Putri cemas.
Seumur-umur, baru kali ini Putri nemuin asrama sekolah yang dicampur kayak begini, itu pun bikin Putri jadi gak nyaman.
Satrio juga bingung, kenapa kamar cewek sama cowok dicampur jadi satu.
Padahalkan bisa aja di sini ada siswa nakal yang dengan jahat nya manfaatin situasi itu. Emang nya, pihak sekolah mau tanggung jawab gitu kalau para siswi nya hamil di luar nikah karena hal ini?
"Gimana kalau nih kamar kita bagi jadi dua? Jadi nanti tinggal kita bates aja pake hordeng atau kain? Jadi yang cewek gak perlu khawatir lagi buat tidur di kamar ini," usul Angga yang langsung disetujui oleh mereka semua, terutama anak-anak perempuan.
"Kebetulan gue bawa paku, palu sama kain nih," ucap Mila yang masih rebahan santai di atas kasur lantai bernamakan dirinya.
Semua orang tertegun, buat apa gadis semanis Mila, wait?! Mila ada di sini? Lalu siapa yang tadi ikut pergi sama Ira, Sherla?!
"Mila? Lo kok ada di sini sih? Bukan nya tadi lo ikut sama Ira, Sherla?" tanya Joe panik.
"Lah, kalian tahu nama gue? tahu dari mana?" tanya Mila kebingungan. Pasalnya, dia baru saja terbangun dari tidur pagi nya.
"Dari tadi gue ada di sini kok," ucap Mila.
"Lho, bukannya tadi ikut pergi bersama Sherla, Ira?" bingung Joe. Mila mengernyit kebingungan.
"Baru aja gue bangun tidur. Soalnya tadi gue bolos, gak ikut upacara, maklum udaranya lagi dingin begini, jadi enak nya tidur aja deh di sini," jawab Mila yang sama sekali tak lagi bohong.
Perasaan Angga jadi gak enak, "gue mau susul mereka berdua."
Satrio mengangguk, dia juga mau ikut sama Angga buat susul mereka berdua tapi.
"Haaa, kita harus pergi dari sini," teriak Ira.
Ira dan Sherla bergegas pergi, mengambil barang-barang bawaan nya.
"Tenang jangan pergi dulu," tahan Satrio, berusaha menenangkan mereka berdua yang lagi panik tak karuan.
Angga menghampiri Sherla, "kalian berdua tenang dahulu. Kita di sini ramean, jadi jangan takut, oke?"
"Kita beneran harus pergi dari sini," isak Sherla ketakutan. Satrio menyuruh mereka berdua untuk duduk tenang.
"Emang kalian lihat apa?" tanya Satrio.
Sherla terduduk lemas di samping Satrio, Ira Angga pun ikut duduk dengan tenang walau gusar sebenarnya.
"Tadi kita berdua gak sengaja denger percakapan dari salah satu guru di sini." Sherla masih syok, dia gak pernah nyangka kalau dia bakalan sekolah ditempat para psikopat.
"Apa?" tanya Satrio penasaran
"Kita semua bakalan mati di sini," jawab Sherla.
Angga menggenggam jemari Sherla, "sst, ini obrolan rahasia, jangan keras-keras ngomongnya, nanti ada yang denger."
Sherla mengangguk ngerti, "tadi gue sama Ira gak sengaja denger percakapan dari salah satu guru yang ada di sini."
"Mereka lagi bicarain apa?" tanya Angga.
"Mereka berdua bilang kalau mereka bakalan bunuh kita semua yang ada disekolah ini. Tadi, gue sama Ira juga gak sengaja ngelihat anak dari kelas lain lagi dimakan zombie, di dekat ruangan samping toilet guru." Sherla gak bohong dia benar-benar ngelihat kejadian itu.
Mila tertawa sinis, dirinya sama sekali tak percaya dengan ucapan Sherla, "kalian berdua kalau mau ngeprank kita jangan berlebihan dong, gak lucu tahu."
Ira yang sudah pucat pasi lantas berusaha meyakinkan mereka semua agar mau segera pergi dari sini sekarang juga, "please, percaya sama kita berdua, kita semua harus pergi dari sini, di sini gak aman."
"Argh."
Tiba-tiba saja, kepala mereka sakit di waktu yang bersamaan. Detik itu juga, kemampuan mereka kembali ada seperti semula.
Di sini, Angga dan juga beberapa anak lain nya sudah mulai bisa melihat beberapa hantu yang sedari tadi sedang melayang-layang di depan pintu kamar asrama mereka dengan mata yang sudah melotot besar yang seakan ingin menakut-nakuti mereka semua yang jelas-jelas sudah terbiasa melihat hantu, walau kadang masih takut juga.
"Kalian lihat hantu?" tanya Aksel.
"Kok lo tau?" tanya Wira.
"Gak usah nanya kok gue tau. Udah jawab aja, kalian lihat hantu kan?" tanya Aksel sekali lagi.
Sebagian menggeleng, sebagian mengangguk.
"Gue, indigo," ungkap Angga to the point.
Mereka semua menoleh, menatap Angga dengan penuh tatapan serius "jangan bilang, kalau kalian indigo juga?" duga Satrio cemas.
"Mungkin," balas Zahra.
Satu persatu dari mereka mulai memberi tahu Angga tentang kelebihan yang mereka punya masing-masing.
Sherla bilang kalau dia bisa melihat hantu, dia juga bilang, kalau dia itu sensitif banget sama keadaan sekitar dan yang lebih luar biasanya lagi, Sherla juga bisa melihat apa pun yang akan terjadi di beberapa waktu kedepan.
Aksel juga mulai jujur. Dia bilang kalau dirinya juga punya dua kelebihan khusus. Tapi, dia gak bisa lihat hantu dan dua kelebihan yang dia punya antara lain adalah, dia bisa mendengar suara-suara hantu yang berada di sekitar nya dan dia juga bisa lari cepat.
Makanya, jangan heran kalau kalian melihat Aksel yang selalu pakai earphone atau headset setiap hari nya. Karena dia gak suka dengar bisikan hantu yang gak enak banget untuk didengar. Tapi, untuk kali ini, seperti nya Aksel harus menyembunyikan earphone atau headset nya lebih dulu agar aman.
Wira juga kasih tahu mereka, kalau dia juga bisa melihat hantu. Kelebihan lain dari diri nya adalah, dia mampu melihat kejadian di masa lalu.
Joe juga bilang kalau dia bisa melihat hantu, dia juga bisa menyembuhkan rasa sakit yang berada di tubuh orang lain dengan kajian yang sudah diturunkan oleh keluarga nya.
Sama seperti yang lain nya. Mila juga bisa melihat hantu. Bahkan, epic nya, Mila juga bisa mengusir hantu kalau dia gak suka sama hantu itu. Tapi balik lagi, kalau dia lagi panik ya, dia gak akan pernah bisa kepikiran buat usir hantu. Apalagi kalau yang di usir hantu kuat, pasti bakalan kelabakan juga dia ngadepin nya.
Kalau Ira sendiri, dia ngaku kalau dia bisa mengetahui orang yang ditemui nya itu orang baik atau jahat. Dia juga sama seperti Joe, sama-sama bisa menarik atau menghilangkan rasa sakit dari tubuh orang lain. Tapi, kadang-kadang, prediksi nya juga suka salah, lebih tepatnya Ira masih bisa dimanipulasi oleh sosok yang lebih kuat begitupun dengan yang lain nya.
Dan yang terakhir, ada Zahra yang bisa melihat warna dari aura orang lain yang dia lihat. Ini juga efek nya sama, dia jadi bisa tahu mana orang baik dan mana orang jahat.
Putri, Ira, Zahra, Aksel sama Satrio emang gak bisa melihat hantu tapi, mereka semua punya kelebihan nya masing-masing. Walaupun sejauh ini hanya Satrio lah yang terlihat seperti anak normal biasanya. Tapi tak apa, Satrio pintar.
"Kalian mau gak, gue buka mata batin nya?" tanya Angga.
"Gue rasa, ini penting banget buat keselamatan kalian semua, itu juga kalau kalian mau," lanjut Angga.
Karena Angga tahu, semua hantu yang ada di sekolah ini bisa saja melukai mereka sewaktu-waktu bahkan, hantu-hantu itu juga bisa saja membunuh mereka.
Maka nya, Angga saranin ke mereka buat buka mata batin aja supaya mereka aman dan juga jadi bisa ngebedain mana hantu, mana manusia.
Aksel percaya sama Angga "silakan."
"Kita juga mau kok," jawab Ira mewakili.
Akhirnya,Angga membuka mata batin mereka berlima secara bergantian. "Mungkin kalian bakalan terganggu karena belum terbiasa melihat hantu, tapi ingat, usahain buat bersikap biasa aja, jangan sesekali kalian ngobrol sama hantu yang ada di sini."
Mereka mengangguk patuh, mendengarkan saran dari Angga. Kini, mereka pun bisa melihat hantu untuk berjaga-jaga. Satrio menyusun strategi. Dia bilang ke mereka, kalau mereka gak bisa main kabur gitu aja dari sekolah ini tanpa ada perencanaan yang matang. Jadi, mereka harus tahu dulu, gimana keadaan sekolah ini. Lagipula, Satrio yakin, di sekolah yang sebesar ini mana mungkin gak ada penjaga nya.
"Kita bisa aja ketangkep sama guru-guru yang disini kalau kita asal kabur gitu aja tanpa ada nya persiapan yang matang," ucap Satrio.
Satrio gak mau, mereka gugur dengan mudah sebelum permainan yang sebenarnya dimulai. "Oh jadi kalian indigo." Mereka semua tertegun saat salah satu guru dari sekolah ini memergoki pembicaraan mereka.
"Lupakan semua hal yang sudah terjadi sebelum nya, saat saya mengedipkan mata." Detik itu juga mereka semua tertidur pulas tanpa ada nya perlawanan dan juga ingatan yang perlahan-lahan mulai ikut menghilang.
Namun, tidak dengan Angga Aksel. Mereka berdua kembali terbangun saat guru aneh tadi sudah pergi dari hadapan mereka.
"Lo gak kena?" tanya Aksel sedikit lega.
"Iya."
"Gue juga aman karena ini," kata Aksel sambil menunjuk earphone yang sedari tadi sudah menempel di telinga yang tertutupi oleh hoodie.
Syukurlah, Angga masih punya Aksel yang gak ikut terkena hipnotis. jadi dia bisa bagi tugas. "Kita semua dalam bahaya, Angga." Angga juga tahu kalau mereka lagi dalam bahaya. Tapi, hal utama yang harus dia lakukan sekarang adalah menyadarkan teman-teman nya terlebih dahulu.
"Gue mau bikin mereka sadar dulu, lo jagain pintu ya, jangan sampe ada yang masuk," pinta Angga. Aksel mengangguk dan mulai berjaga di sekitar pintu dengan cara menahan pintu kuat-kuat.
Dimulai dari Sherla, Angga benar-benar membangun kan Sherla beserta ingatan nya tentang kejadian tadi.
"Angga," lirih Sherla. "Sst, gua mau sadarin mereka dulu," Angga menyadarkan mereka satu persatu secara bergantian. Setelah selesai, Angga meminta mereka semua agar terus bersikap kalau seolah-olah, mereka ini masih dalam keadaan di hipnotis, supaya kejadian tadi tak terulang kembali.
"Kita semua harus bersikap normal di sini, supaya kejadian tadi gak ke ulang lagi," pinta Angga.
"Lagi pula, sekalipun kita kabur dari sini sekarang juga, kita bakalan langsung mati, jadi jangan pernah berpikiran buat kalian kabur dari sini sendirian," ingat Angga.
"Kita harus bertahan, setidaknya sampai akhir." lanjut Angga menyemangati. Sherla mengangguk. Daripada menangis, dirinya lebih baik melawan.
"Angga bener. Setidaknya, kita harus bisa bertahan sampai akhir. karena siapa pun yang berusaha pergi dari sekolah ini sekarang juga, pasti ujung-ujung nya bakalan mati sia-sia," ucap Sherla prihatin.
"Satu-satu nya tempat yang aman di sini cuma kamar asrama doang, gak ada yang lain," ucap Wira memberi tahu. Di sini Wira langsung ngejelasin, kalau dia sudah melihat semua kejadian dari masa lalu di sekolah ini.
"Kita semua bisa selamat kalau kita terus berada di dalam kamar asrama ini. Terutama saat malam hari," ucap Wira.
"Toilet aja ada di belakang asrama, gimana kita bisa tahan di sini coba? Yang ada, kita malah jadi orang gila di sini," keluh Zahra menahan tangis.
"Sial, sial, sial! Kita semua udah kejebak di sini, sampai kapan pun, kita gak akan pernah bisa keluar dari dalam sini," panik Joe.