Malam hari terasa begitu panjang. Mereka semua tak bisa tertidur. Apalagi Zahra, yang sedari tadi sudah menahan rasa kepingin buang air kecil.
"Duh, kapan sih datang nya pagi?" tanya Zahra gusar.
Sherla yang merasa tak tega melihat Zahra yang sedari tadi terus-terusan tak mau diam, lantas menawarkan diri untuk mengantarnya ke toilet asrama.
"Ayo, gue anter, lo gak usah takut," ajak Sherla.
Zahra menggeleng. Sebenarnya, dari tadi udah banyak orang yang nawarin dia buat pergi ke toilet, tapi Zahra tolak terus-terusan. Karena dia memang benar-benar terlalu takut hanya untuk sekadar pergi dari kamar asrama.
"Udah, ayo sekalian, gue juga mau ke toilet," kata Angga yang juga ingin buang air kecil.
"Ikut dong," rengek Joe yang diam-diam juga menahan rasa ingin buang air kecil dari tadi.
"Yang lain gimana? Ada yang mau ikut gak, supaya sekalian?" tanya Angga.
Sisa nya menggeleng, tanda tak ingin ikut.
Pada akhirnya, mereka berempat pergi ke toilet bersama-sama yang ternyata, sudah ada banyak orang dari kamar asrama lain yang saat ini sedang berkumpul ria di depan pintu kamar asrama mereka masing-masing dengan penuh keceriaan.
Zahra merengut, merasa bad mood. Pantes dari dalam kamar terdengar begitu banyak suara, ternyata ini toh penyebab nya.
Zahra kira, apa yang dia dengar dari dalam, bukan suara manusia. Tapi, kenapa mereka begitu berani? Bukan kah berkumpul di depan kamar asrama pada malam hari adalah sebuah larangan?
"Gue kira dinding asrama kita tipis, ternyata emang lagi pada kumpul di sini," keluh Zahra yang gak mau dianggap bodoh karena sudah mengira suara mereka adalah suara dari para hantu yang bergentayangan di asrama ini.
"Udah ayo buruan, gak usah pikirin mereka lagi," tarik Sherla tak sabaran.
Ada empat toilet sebenarnya. Toilet pertama ada di lantai tiga, disitu cuma ada enam bilik toilet. Toilet kedua ada di lantai dua, cuma di lantai dua ini gak ada tempat buat bab nya cuma ada lima bilik, toilet ketiga ada di lantai satu asrama, disitu ada dua puluh bilik toilet bahkan fasilitas toilet nya pun lengkap banget sedangkan toilet keempat ada di belakang gedung asrama, disitu juga ada dua puluh bilik toilet fasilitas nya pun lengkap gak kayak toilet lantai dua lantai tiga yang fasilitas nya masih belum lengkap banget.
Mereka berempat akhirnya memutuskan untuk memilih naik ke lantai tiga, agar tidak pergi jauh-jauh dari kamar asrama mereka, karena toilet di lantai dua lagi ramai, tetapi pas sampai di lantai tiga, ternyata di sana malah ramai juga, ada banyak anak lain yang lagi pada ngantri di depan toilet.
Karena gak mau nunggu lama-lama, ditambah mereka juga yang udah kebelet banget, pada akhirnya, mereka pun mutusin buat turun ke lantai satu.
Dug, dug, dug, dug.
Zahra komat-kamit, sejak mereka turun dari lantai dua, suasana nya mendadak lebih aneh dan terasa begitu mencengkam.
Apalagi, anak-anak dari asrama lantai satu gak ada yang keluar sama sekali. Itu jadi bikin lorong di bawah sana jadi semakin seram.
"Jangan nengok," bisik Angga.
Di Belakang mereka sudah ada pocong yang diam-diam mengikuti mereka sampai depan toilet.
Gak kebayang betapa seramnya toilet di belakang gedung asrama, walaupun toilet di sana fasilitas nya begitu lengkap, mereka juga ogah buat jalan ke sana.
Lampu terang begini aja mereka masih butuh tenaga lebih buat lari jika sewaktu-waktu ada hal buruk yang tak diinginkan muncul begitu saja.
Makanya, Joe dan juga yang lain nya langsung buru-buru masuk ke toilet setelah sampai di sana. Lebih tepatnya, mereka semua masuk ke dalam bilik toilet masing-masing secara terburu-buru.
"Jangan tinggalin gue," teriak Zahra yang emang bener-bener udah takut.
"Sst, Zahra jangan berisik," omel Sherla.
Angga selesai duluan, dirinya menunggu di depan toilet "jangan lama-lama!" teriak Angga.
"Iya sabar!" jawab Sherla.
Angga udah gak betah lagi buat terus berlama-lama di dalam toilet ini. Apalagi pocong yang sedari tadi mengikuti mereka masih setia menunggu di depan sana.
"Berani juga lo berdiri di sini sendirian," ucap Sherla yang baru saja keluar dari dalam bilik toilet.
Angga tersenyum sombong "namanya juga laki, harus berani lah," lagi pula dari dulu Angga gak pernah takut sama hal beginian, jadi aman.
"Nama lo Angga bukan laki," komen Sherla.
Angga cengengesan, "suka-suka lo aja."
"Kalian jangan lama-lama," teriak Sherla.
"Iya, bentar lagi!" balas Zahra.
Angga berjalan iseng ke arah bilik Joe. "Tinggal nih tinggal." Namun, bukan nya menjawab, Joe malah terdiam. Sherla bisa ngerasain kalau ada yang gak beres pada diri Joe. Dan gak lama dari itu, Zahra pun keluar dari dalam bilik namun tidak dengan Joe.
Angga yang merasa cemas, lantas mengetuk kencang bilik toilet Joe berkali-kali.
"Joe? Joe?! Lo denger gue gak? Lo lagi ngapain di dalem?"
Masih tidak ada jawaban dari dalam sana. Angga melirik Sherla, "lo bisa liat?" Sherla memejamkan mata.
"Jangan dibuka," bisik Sherla.
"Kenapa?" tanya Angga sedikit berbisik.
"Joe jadi pocong, kita gak bisa bawa dia ke atas," jawab Sherla.
Zahra menangis tak bersuara. Bagaimana bisa Joe berubah jadi pocong?
"Dia kan belum mati, masa udah jadi pocong aja sih?" tanya Zahra takut.
"Angga tolong," rintih Joe.
"Jangan Angga, ini semua demi kebaikan dia, nurut sama gue," ucap Sherla geregetan.
"Percaya sama gue, dia bakalan balik lagi ke wujud manusia nya. Asalkan kita sabar nunggu, buat gak buka bilik ini sampai pagi nanti."
Sherla berusaha buat ngeyakinin Angga "kalau lo gak percaya sama gue, sama aja dengan lo ngeremehin kemampuan gue," lanjut Sherla.
Dengan berat hati Angga mengiyakan perkataan Sherla untuk pergi meninggalkan Joe sendirian di dalam sana.
Dug, dug, dug, dug. Joe menggedor-gedor pintu toilet, "buka! Bukain! Pintu nya ke kunci, tolongin gue.
Angga memejamkan mata sejenak "ayo pergi." Akhirnya, mereka bertiga pergi meninggalkan Joe seorang diri dalam sana. Padahal, Joe sudah sangat-sangat ketakutan.
Joe sama sekali gak merasa kalau dia sudah berubah jadi pocong, yang dia tahu, dia cuma lagi terjebak di dalam toilet tanpa ada nya satupun orang yang mau nolongin dia buat keluar dari toilet itu.
Sedangkan, di dalam kamar asrama, Angga gak bisa tenang. Dia tahu kalau Joe lagi kebingungan di dalam sana. Persetan dengan ini semua, kalau Angga bantu buat bukain pintu toilet itu sekarang, Joe pasti bakalan berubah jadi pocong untuk selama-selama nya walaupun dia belum mati.
"Ada apa sih? Kok kalian tega ninggalin Joe sendirian di toilet?" tanya Putri heran.
Sherla berdecak "dia masuk ke bilik yang seharusnya gak di masukin sama orang." Sherla berusaha kasih penjelasan yang logis walaupun apa yang dia bilang gak bisa dianggap logis.
Entah mereka mau percaya atau enggak. Yang jelas, Sherla udah kasih tahu ke mereka kalau Joe terkena kutukan dari bilik toilet itu.
Siapa pun yang masuk ke dalam bilik toilet itu, bakalan jadi pocong dan orang yang terjebak di dalam sana, bakalan cuma ngerasain kalau dia lagi terkunci dengan wujud yang masih sama. Padahal sih wujud nya udah berubah jadi pocong.
Kalau sampai ada orang yang bantuin dia buat bukain pintu toilet, wasallam. Dia bisa selama-lama nya jadi pocong walaupun dia belum mati.
"Jadi, pocong yang sebelum nya kita lihat tadi itu, korban dari bilik toilet?" tanya Zahra cemas.
Sherla menggeleng cepat "bukan."
Karena, rules nya kalau ada orang yang terjebak di dalam bilik itu maka orang yang terjebak sebelum nya akan segera menghilang, alias gak akan pernah kembali lagi dalam bentuk manusia maupun hantu.
"Kalau emang itu benar, berarti bilik itu berbahaya dong?" Putri jadi makin gak bisa tidur, begitu pun dengan yang lain nya.
"Besok kita tempel pake stiker toilet rusak aja biar gak ada yang masuk ke bilik itu," usul Wira yang berusaha keliatan santai walaupun aslinya ambyar.
"Tapi, gimana kalau malam ini ada yang buka bilik Joe?" tanya Putri cemas.
"Kalau begitu gue pergi," Angga mau jagain Joe namun, lagi-lagi Sherla melarangnya untuk pergi.
"Jangan Angga! Nanti kalau ada yang curiga sama kamu gimana? yang ada nanti ketauan, bisa-bisa kita semua langsung disingkirin dari sekolah ini," gemas Sherla.
Angga tahu, tapi dia gak bisa ngebiarin Joe jadi pocong gitu aja selama nya "Sher, gue cuma mau bantuin Joe, udah gitu aja, gak lebih."
"Dengan mengorbankan kita semua?" tanya Sherla kesal.
"Ayolah, lo kan indigo, gunain kemampuan lo dong, jangan dangkal pikiran nya," sinis Aksel.
Angga berusaha untuk berpikir keras "gue panik, gak bisa mikir, "kelemahan Angga cuma disitu aja.
"Cukup lo tutupin aja penglihatan orang dari bilik itu, gampang kan?" jawab Satrio. Tapi, sayang nya gak segampang itu.
"Gue gak bisa ngelakuin hal itu, Satrio."
Angga gak bisa nutupin penglihatan orang lain dari bilik itu, apalagi sosok yang jaga sekolah ini kuat banget. Kemampuan dia masih gak ada apa-apanya di mata para penjaga itu.
"Why?" tanya Putri.
"Pegangan sekolah ini kuat, gue gak bisa nutupin, apalagi bilik itu udah ada yang kuasain jadi kalau sampe gua nutupin bilik itu, siap-siap aja kita diteror ribuan pocong malam ini," jawab Angga.
"s**t! ini sekolah apa tempat pembunuhan?" Wira mulai merasa frustrasi dengan ini semua.
"Gue gak mau mati di sini," lagi-lagi Zahra menangis, dia cengeng, dia penakut, dia juga nyesel karena udah berjuang buat masuk ke sekolah ini.
Sherla berusaha menenangkan Zahra "jangan berisik. Nanti, yang ada, kita malah ketahuan lagi sama si guru gila itu."
Zahra berusaha untuk menangis tak bersuara. Dia penakut. Malam ini, dia benar-benar takut, rasanya seperti sudah berada di akhir kehidupan.
"Dia datang lagi, kita harus pura-pura tidur," bisik Sherla panik. Seketika, mereka semua bergegas tidur di atas kasur nya masing-masing dengan penuh rasa takut.
Kleeeeeek. Suara pintu terbuka, mampu memacu detak jantung mereka semua. Angga memejamkan mata gusar, dia kepikiran Joe, dia juga kepikiran sama guru yang saat ini sudah tersenyum seram di depan pintu kamar asrama.
"Kalian semua akan mati."