04. Bantu Joe

1478 Kata
Jam empat pagi, Angga bergegas, membangunkan Satrio dan juga teman-teman lainnya yang mungkin baru saja bisa tertidur satu jam yang lalu. "Kayak nya di luar udah ramai tuh, udah pada mau mandi, ayo buruan ke bawah," ajak Angga yang masih aja kepikiran Joe. Sherla terbangun disusul dengan yang lainnya yang secara kompak melihat ke arah jam dinding. "Lo aja deh yang ke toilet bawah, gue mau di toilet atas aja," jawab Satrio. "Yang mau ikut gue ke toilet bawah siapa?" tanya Angga. "Gue," jawab Sherla, mengangkat tangan sendirian. "Ayo, bawa handuk sama baju. Gak mungkin kan lo dari bawah ke atas cuma pake handuk doang?" tanya Angga. "Iya, iya," jawab Sherla. Setelah itu, mereka berdua langsung bergegas pergi ke toilet bawah. Untung nya, toilet bawah masih sepi, di tambah bilik toilet Joe juga masih tertutup rapat yang berarti keberadaan Joe masih aman-aman saja. Setidaknya butuh dua jam lagi buat Joe lepas dari kutukan itu. "Lomandi duluan aja gih, biar gua yang ngejagain bilik toilet Joe, baru habis itu kita gantian." Sherla mengangguk nurut, tanpa disuruh dua kali, dirinya bergegas mandi lebih dlu supaya Angga gak antre panjang nanti nya. "Tolong buka," pinta Joe lemas. "Sabar Joe," jawab Angga yang sama sekali tak terdengar oleh Joe. Joe sudah menangis semalaman, sekarang dia haus, kepingin minum. Buat denger suara orang pun Joe udah gak sanggup lagi, saking haus nya dia saat ini. "Buka." Joe penakut, dia gak bisa diginiin, dia gak bisa diam terus-terusan. Bahkan sedari tadi malam, Joe sudah berusaha semaksimal mungkin buat berteriak sekaligus mendobrak pintu agar bisa keluar. Namun bukan nya bisa keluar, dia malah ditertawakan oleh penghuni-penghuni toilet. Sial memang, tapi mau gimana lagi? Nasi sudah jadi bubur. Sebenarnya Angga juga tahu kalau Joe menangis semalaman di bilik toilet, bahkan Angga juga tahu kalau Joe sudah berusaha mati-matian buat keluar dari dalam bilik, walaupun yang Joe terima hanyalah tertawaan dari para penghuni di sana. Tapi Angga selalu bersyukur. Karena sepenakut apa pun Joe, dia gak pernah mau minta tolong sama hantu padahal Joe bisa aja minta tolong sama hantu-hantu semalam yang ngetawain dia habis-habisan, tapi Joe gak begitu, karena dia masih inget sama perkataan Angga dan Angga senang, Joe mau ngedengerin apa kata teman. Lama kelamaan. Toilet semakin ramai, sedangkan Sherla masih mandi dan itu bikin Angga jadi bad mood. Sherla keluar, "sorry lama. Tadi, gue ngeringin rambut dulu supaya baju gue gak basah." Angga cuma bisa mengangguk pelan saat mendengar alasan dari Sherla yang terlampau lama di toilet. Sherla melirik sosok yang sedari tadi sudah ikut antre di bilik toilet nya. "Sorry, Angga udah booking duluan, dia mau pake bilik toilet ini buat mandi," ujar Sherla. "Ah, tapi kenapa dia berdiri disitu?" "Dia jagain temen gue," jawab Sherla. "Yaudah, sana mandi duluan. Tapi inget, jangan lama-lama, udah mau telat nih," jawab siswi tersebut. "Thanks ya, gue gak akan lama-lama kok mandi nya," jawab Angga sebelum masuk ke toilet. "Itu di dalem ada siapa sih? Kok lama banget mandi nya?" tanya salah satu siswa. "Temen gue, dia lagi boker, lo semua kalau mau nunggu, di bilik yang lain aja, mumpung belum panjang antrian nya," jawab Sherla. "Ih males banget bau, mending ngantri di bilik sebelah." Seketika, yang tadi nya ngantri di bilik Joe langsung pada pindah ke bilik lain nya dan itu jadi bikin Sherla merasa sedikit lega. Sedangkan di sisi lain, ada Satrio yang lagi turun ke lantai bawah buat ngecek keadaan Joe dan juga yang lainya. "Sher, gimana? Udah beres?" tanya Satrio. Sherla melotot, "apa sih, Yo! Gak jelas." Mulut Satrio kok gak bisa liat keadaan banget, di sana kan lagi ramai, nanti kalau pada ingin tahu gimana? Kan berabe urusan nya. "Mending lo diem aja deh, jangan banyak omong," balas Sherla ketus. "Nih cewek kenapa kali, di tanya baik-baik kok malah ketus begini jawab nya," batin Satrio. Karena Satrio lagi gak mau ribut, Satrio pun memilih untuk tetap diam dan ikut menunggu Angga yang masih asyik mandi di dalam toilet. Sepuluh menit kemudian, Angga pun keluar dengan rambut yang masih basah. "Sher, lo ke atas aja, biar gua yang jaga nih bilik, tapi nanti turun lagi ya? Sekalian bawa air minum buat gue, soalnya gue haus," pesan Angga. "Udah, kalian berdua ke atas aja, biar gua yang jaga nih bilik," kata Satrio berbaik hati. Satrio gak mau Angga mikirin hal ini sendirian. Lagi pula, Satrio juga udah mandi kok, peralatan sekolah nya pun juga udah dia siapin, jadi gak ada masalah sama sekali buat dia nungguin Joe di sini. "Serius?" tanya Angga masih gak percaya. "Iya, asal jangan lama-lama," jawab Satrio. "Thanks, bro!" senang Angga. Akhirnya Angga dan Sherla bergegas pergi menuju kamar Asrama. "Itu ruangan apa?" tanya Sherla saat sampai di dalam kamar. "Ruang rahasia," jawab Mila. Sebenarnya bukan ruangan rahasia sih. Lebih tepat nya, ada satu petak ruangan yang bisa mereka jadiin sebagai tempat ganti baju. "Ternyata di belakang lemari ini ada ruangan kosong, jadi lemari nya gue pepetin aja deh ke sini," ucap Mila yang bangga karena bisa mengatur posisi perabotan kamar. "Jadi, kalian para cowok, kalau kalian mau ganti baju di sini aja biar kita para cewek ganti baju di ruangan rahasia itu," lanjut Mila. "Yaudah, gue mau pake seragam dulu, sana pergi jangan di sini," usir Angga. Para cewek yang sudah rapi pun bergegas pergi, keluar dari kamar asrama, membiarkan Angga berganti pakaian dengan penuh rasa tenang. Gak butuh waktu lama-lama. Angga pun sudah siap dengan baju seragam sekolah nya. "Gue mau ke bawah, nyusul Satrio," kata nya sambil memegang satu botol air minum buat dibawa ke bawah. "Gue ikut," cicit Sherla. Angga menggeleng, "rapiin dulu penampilan lo, gue bisa ke sana sendirian kok." Sherla merengut "hm, yaudah!" jawab Sherla bete. Angga bergegas pergi ke toilet sendirian. Makin lama, antrian di toilet semakin panjang dan itu jadi bikin Angga jadi gak bisa masuk. "Ngantri! Jangan asal serobot," protes anak lain saat melihat Angga yang berusaha masuk ke dalam toilet. "Woi lama banget! Gue dobrak juga nih pintu." Satrio mendorong siswa tersebut "santai dong, gue aja yang nunggu dari tadi gak marah, woles aja." "Lo udah rapi sedangkan gue belum." "Berisik," jawab Satrio. Bugh. Siswa tadi menonjok wajah Satrio dengan penuh rasa kesal "pergi lo!" teriak siswa tadi. Satrio menatap sinis siswa tersebut "siapa lo?! Gue berhak ya make toilet ini," Dan, terjadilah perkelahian hebat antara Satrio dengan siswa berandal tadi. Keadaan semakin ricuh, mereka yang berada di dalam toilet semakin memperpanas keadaan Satrio yang sudah terbakar api emosi. Di sisi lain, Angga masih berusaha memaksakan diri untuk masuk ke dalam toilet. Aksel yang diam-diam nungguin Joe di luar toilet, lantas ikutan kepo dan memutuskan untuk masuk ke toilet tanpa sepengetahuan Angga. "Woi apa-apaan nih?" teriak Aksel saat melihat Satrio lagi bikin babak belur anak orang. "Ini juga apa-apaan sih?" pekik Aksel saat dirinya tak sengaja melihat Angga yang lagi asyik berdiri sendirian, berupaya menghalangi pintu bilik toilet Joe supaya gak dibuka dengan cara membiarkan kaki-kaki manusia jahat itu menendang kencang permukaan perut nya secara brutal. Joe yang mulai tersadar dari kutukan nya, perlahan-lahan mulai bisa mendengar kembali teriakan dari luar bilik dan entah kenapa rasanya seperti sedih. Aksel mendorong kencang orang-orang yang berusaha menendang perut Angga secara brutal. "Woi! Lo kalau berani sini, lawan gue! Jangan pukuli dia!" pekik Aksel. Sherla yang melihat kejadian buruk itu dari penglihatan nya lantas langsung menyuruh teman sekamar nya untuk segera turun ke bawah menyusul mereka bertiga. Seumur-umur, baru kali ini Sherla nemuin orang yang sifat nya kayak Angga. Dia baik, selalu berusaha buat bantu orang lain tapi dia gak sadar kalau apa yang dia perbuat bisa berakibat fatal. "Berhenti woi! Nanti yang ada kita semua dihukum sama pihak sekolah!" teriak Wira. Seketika, semua orang terdiam. Mereka takut terkena hukuman yang sudah kepala sekolah janjikan untuk mereka yang tahu mau menuruti peraturan sekolah. "Lo gak papa?" tanya Mila yang langsung membopong tubuh Angga begitu saja, dibantu oleh Sherla. "Joe masih ada di dalem," lirih Angga sambil menahan rasa sakit di perut nya. Sherla melirik jam tangan "masih jam lima lewat sepuluh," mereka masih gak di izinin buat buka bilik toilet itu. "Gue harap kalian tenang, biar kita gak dapet hukuman." Wira sengaja menekan mereka dengan kata hukuman supaya mereka semua takut dan mau menurut sama perkataan dia. "Itu bilik pasti gak ada orang, dari tadi gue tungguin, masa hening gak ada suara sama sekali. Daripada nunggu mending dia yang gak pasti, mending kita dobrak aja pintunya," kompor siswa tadi. Wira menahan emosi. Dia gak boleh marah, karena orang-orang di sini gak tahu, ada apa dibalik toilet ini. Dengan terpaksa, Wira memanggil para hantu untuk menampakkan diri, supaya para hantu itu menakut-nakuti mereka semua yang masih mau bertahan di bilik toilet ini. "Hihihihi," kuntilanak yang sudah kepo dari tadi lantas langsung muncul di hadapan mereka saat mendapatkan panggilan. "Ngrok, ngrok," pocong pun tak mau kalah, dia juga datang untuk menakut-nakuti mereka semua. "Tolong! Ada hantu!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN