bc

Terjerat Cinta Istri Manja

book_age18+
29
IKUTI
1K
BACA
revenge
family
love after marriage
manipulative
doctor
drama
comedy
sweet
city
lecturer
like
intro-logo
Uraian

SPIN OFF- Asisten Tuan Gara

Jika ditanya, apakah Bintang Aurora mencintai sosok suami dingin seperti Bryan Winata?

Jawabannya sudah pasti, IYA.

Meski pernikahan mereka terjadi karena sebuah kesalahan satu malam, Bintang tidak memungkiri jika selama satu tahun menjalani kehidupan rumah tangga bersama Bryan, rasa cinta itu perlahan tumbuh tanpa bisa ia cegah.

Namun, jika pertanyaan yang sama ditanyakan kepada sang suami, Bryan?

Jawabannya mungkin akan bercabang dua. Antara 'belum' atau 'tidak sama sekali'.

Sejak awal, tujuan utama Bryan menikahi Bintang tidak lain hanya sebatas rasa tanggung jawab dari kesalahan yang telah ia perbuat. Sama sekali tidak ada niatan untuk membangun rumah tangga bahagia seperti kebanyakan pasangan lainnya.

Perasaan cinta dan bahagia itu telah lama mati. Seiring dengan hadirnya rasa trauma yang mengurung Bryan dalam titik tergelapnya.

Lantas, apakah kehadiran Bintang lambat laun bisa membantu Bryan keluar dari trauma masa lalunya?

Mampukah tingkah manja Bintang mencairkan hati dingin sang suami?

chap-preview
Pratinjau gratis
1. Terserah
“Sayang, malam ini kamu mau aku masakin apa? Ikan atau ayam?” Suasana petang perlahan mulai beranjak semakin pekat, mengiringi bagaimana suara Bintang terdengar menyapa rungu Bryan yang saat itu tengah duduk di sofa balkon apartemennya. Dia nampak begitu fokus memperhatikan layar laptopnya, sebelum kemudian dengan datar menjawab, “Terserah.” Lugas, padat dan tanpa basa-basi. Membuat bagaimana semburat kekecewaan itu muncul begitu saja dalam tatapan teduh milik Bintang. Namun, buru-buru ia distraksi dengan seuntai lengkungan senyum yang sengaja sang wanita ciptakan. “Oh … terus kalau sayurnya kamu mau apa?” “Terserah. Masak apa saja yang ingin kamu masak.” Mendengar jawaban acuh tak acuh dari Bryan, Bintang tidak bisa tidak menunjukkan rasa kesalnya. Ia terang-terang mengomel, berjalan menghentak-hentakkan kaki sebelum kemudian ikut duduk dan bergelayut manja pada lengan sang suami. Bintang tidak peduli jika dia akan dianggap mengganggu kegiatan Bryan atau tidak. Karena baginya bermanja-manja dengan sang suami adalah salah satu hal yang wajib ia lakukan setiap hari. Kapan pun dan di mana pun. “Ih! Nggak boleh gitu, dong!” rutuk Bintang tidak terima. “Aku kan juga harus mikirin selera kamu. Nggak bisa asal masak aja. Nanti kalau kamu nggak doyan masakan aku, bagaimana?” “Apa selama ini aku pernah mengeluh tentang hal itu?” balas Bryan masih dengan nada kelewat datar. “Tidak pernah, bukan?” Balasan Bryan seketika membuat Bintang mengatupkan kedua rahangnya. Seakan ikut membenarkan apa yang diucapkan oleh suaminya. Benar! Selama ini Bryan memang sama sekali tidak pernah protes tentang apa pun yang menyangkut tentang sang istri. Entah itu masakan, gaya berpakaian, tingkah laku hingga banyak hal-hal lainnya. Bryan seolah membebaskan Bintang untuk melakukan apa saja yang wanita itu suka. Selagi Bintang tidak membuat bumi dipenuhi para kurcaci, Bryan sama sekali tidak pernah mempermasalahkannya. Terlihat seperti suami yang pengertian, bukan? Akan tetapi, jika ditelisik lebih jauh, bukan sebuah pengertian yang Bintang dapat. Melainkan sebuah ketidakpedulian. “Oke. Kalau begitu aku masak mie instan saja,” ujar Bintang pada akhirnya. Berharap sang suami akan memberi sedikit respon berbeda sebab tahu jika Bryan sangat membenci makanan instan itu. Benar saja! Sejenak, dapat dilihat ketukan ujung jemari Bryan yang menari di atas keyboard nampak melambat sepersekian detik sebelum kembali normal ketika pribadi berwajah khas campuran Asia Timur itu dengan tenang berkata, “Terserah.” Nah, kan! Kata itu lagi! Jika dipikir-pikir, selama satu tahun pernikahannya dengan Bryan, sudah tidak terhitung berapa kali pria itu mengucapkan kata ‘terserah’ kepada Bintang. Seolah ‘terserah’ adalah kata yang sudah bisa dideklarasikan sebagai bagian dari nama tengah pria itu. Bryan -terserah- Winata. Cih! Benar-benar menyebalkan! Sayangnya selama itu pula, Bintang sama sekali tidak bisa protes dan hanya memaklumi akan sikap dingin yang diperlihatkan oleh sang suami. Ya, tentu saja. Bintang memang harus punya stok maklum banyak-banyak jika tetap ingin mempertahankan keutuhan rumah tangganya. “Baiklah jika itu memang maumu.” Bintang menghela nafas berat tanda menyerah. “Aku pergi masak sebentar. Nanti kalau sudah selesai aku panggil.” Sembari mengurai pelukannya dari lengan sang suami, Bintang masih sempat-sempatnya mendaratkan ciuman singkat di sudut bibir Bryan. Namun sayangnya pria itu tidak begitu memberi respon dan tetap memfokuskan diri pada pekerjaannya. Membuat Bintang lagi-lagi harus menelan sebuah kekecewaan. Dengan lemah, Bintang lantas secara pasrah menyeret kaki jenjangnya untuk beranjak dari sana. Sebelum terhenti kala gerigi otaknya mengingat kalau ada sesuatu hal penting yang harus Bintang sampaikan pada sang suami. “Oh, ya. Hampir saja lupa!” serunya seraya menatap Bryan penuh pengharapan. “Hari minggu besok, apa boleh aku menginap di rumah Aurel? Kemarin dia telepon, terus aku disuruh untuk nginap di sana. Katanya sekalian ngajarin Daisy untuk belajar beberapa materi ujian. Boleh?” Lama Bintang terdiam untuk menunggu respon dari Bryan. Hingga beberapa saat kemudian, bibir pria itu terlihat mulai bergerak, menyerukan jawaban yang sekiranya membuat Bintang ingin mengutuk bongkahan es berbentuk manusia itu. “Ya, terserah.” *** ‘Oke. Sesuai yang kuucapkan tadi. Menu makan malam hari ini adalah mie instan.’ Kalau dipikir-pikir, sejujurnya Bryan sama sekali tidak mengerti, kenapa tadi dirinya bisa begitu kelewat santai ketika melihat sang istri menyajikan menu makan malam yang jelas-jelas sangat ia benci. Tidak tanggung-tanggung, Bryan bahkan bisa dengan lahap menghabiskan semangkuk penuh tanpa protes hingga tengah malamnya harus berakhir menderita seperti ini. Berteman dengan aliran air dari keran wastafel, Bryan terlihat terus berusaha untuk menguras seluruh isi perut. Mengeluarkan sisa-sisa menu makan malam yang sebagian sudah tercerna oleh lambungnya. “Hah! Dasar mie instan sialan!” umpatnya sembari membasuh wajah dengan air. Nafas pria itu tersengal, seolah dia baru saja selesai mengikuti lomba lari marathon. “Tidak salah jika lembaga kesehatan mengkatagorikannya sebagai salah satu makanan dengan kandungan tidak sehat. Mie instan benar-benar sangat mengerikan.” Bryan masih terdengar menggerutu, menyumpahi hingga mengutuk makanan favorit dari hampir seluruh penduduk yang mendiami bumi. Bukan hal yang mengherankan lagi jika sejak dulu lambung Bryan memang sangat sensitif dengan produk berbau instan. Terutama makanan berbentuk keriting itu. Hingga sepanjang hidupnya, Bryan berusaha sangat keras untuk membuang jauh-jauh nama mie instan dari daftar makanan yang boleh ia konsumsi. Akan tetapi, mulai hari ini sepertinya Bryan sama sekali tidak boleh mengabaikannya. Sebab, ucapan ‘terserah’ yang tadi sempat terucap seolah membuat Bryan terjebak dalam sebuah perangkap. Perangkap yang akan memaksa dirinya untuk belajar menerima sesuatu yang selama ini selalu ia hindari. Tapi tidak apa-apa. Toh! Kata ‘terserah’ kedengarannya lebih baik daripada kata ‘jangan’ bukan? “Ya! Benar! Memang terdengar jauh lebih baik.” Keluar dari kamar mandi, Bryan mendapati bagaimana sang istri tengah tertidur begitu pulas di atas ranjang. Bahkan saking pulasnya, wanita itu sampai tidak sadar jika selimutnya telah tersingkap sebagian. Dengan pelan, Bryan berjalan mendekat. Tanpa suara memandangi wajah sang istri dengan sorot mata yang sulit diartikan. Sempat terbersit dalam benaknya untuk membenarkan letak selimut itu. Namun semuanya urung ketika Bryan hanya menggantungkan kedua tangannya di udara sebelum memutuskan untuk melangkah menuju balkon kamarnya. Suara desingan besi pemantik api terdengar mendayu bersama hembusan angin malam, seiring dengan ujung batang nikotin itu mulai menyala hingga asap perlahan mengepul ke udara. Satu hisap. Dua hisap. Tiga hisap. Bryan terus menyesap tanpa jeda dan baru terhenti ketika dering suara ponsel mendistraksi pikirannya. Dapat dilihat ada sebuah decihan tipis yang terurai, sebelum kemudian tangannya bergerak untuk meletakkan ponsel itu ke salah satu sisi wajah. “Ada apa menelepon malam-malam?” cecar Bryan terdengar tidak ramah sama sekali. Membuat orang yang di seberang sana terkekeh pelan. “Astaga, Bry! Kau ini kenapa, sih?! Setiap kali aku menelepon, kau pasti langsung marah-marah.” “Itu karena dirimu selalu saja menganggu di waktu yang tidak tepat,” jawab Bryan masih dengan nada serupa. Lagi. Terdengar suara tawa dari seberang. “Ck! Kok gitu, sih! Padahal kan niatku baik ingin menemanimu bengong sambil merokok di balkon.” “Darimana kau tahu kalau aku sedang merokok di balkon? Kau sudah beralih profesi sebagai cenayang? Atau kau sedang memata-mataiku, ya? Apa ada cctv di sini?” Bryan melihat ke sekeliling. Memastikan adik sepupu kurang ajarnya itu tidak benar-benar meletakkan kamera tersembunyi di apartemennya. “Aish! Memata-matai gundulmu! Untuk apa aku buang-buang waktu mengintai rebusan batu sepertimu!” “Terus?” Terdengar ada helaan nafas yang Aurel hempaskan. Sebelum pribadi yang menjabat sebagai adik sepupu kesayangan Bryan itu kembali bersuara. “Dua tahun, Bry!” jeda Aurel. “Dua tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk aku bisa memahami kebiasaan burukmu itu. Apa kau sungguh tidak sadar sudah selama itu?” Mendengar perkataan Aurel, Bryan spontan membisu. Membiarkan siulan angin malam menyela di antara keterdiaman mereka. “Bry ….” Suara Aurel kembali terdengar setelah beberapa menit keduanya berada dalam keheningan. “Ya. Apalagi yang ingin kau—” “Kumohon berhentilah,” potong Aurel yang membuat genggaman ponsel Bryan kian mengerat. “Berhentilah untuk menyiksa dirimu sendiri. Kejadian itu … tidak seharusnya kau—” “Sudah terlalu malam. Lebih baik kau segera tidur. Aku tidak mau nanti suamimu marah karena kau lebih memilih begadang bersamaku ketimbang berbaring bersamanya di atas ranjang.” Tidak ingin mendengar lebih jauh balasan sang adik, Bryan begitu saja langsung mematikan panggilan teleponnya. Lantas kembali memandang bentangan pemandangan kota dengan perasaan yang sulit diartikan. Berhenti menyiksa diri? Cih! Bagaimana mungkin dirinya bisa berhenti menyiksa diri di saat rasa bersalah itu tidak pernah mengizinkannya untuk pergi?

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
19.0K
bc

Kali kedua

read
219.5K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
191.5K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.1K
bc

TERNODA

read
200.3K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
32.5K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
78.8K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook