Asta menjemput Reysha di tempat kerjanya. Padahal tadi pagi sudah mengantarnya. Awalnya Reysha menolak tetapi Asta meyakinkan supaya mereka berangkat bersama agar kakek Asta percaya dengan hubungan mereka.
Saat sarapan tadi Asta dan Reysha sudah sedikit banyak membicarakan rencana mereka. Nanti malam juga mereka berencana bertemu untuk kembali membahas rencana pernikahan kontrak mereka. Keduanya senang karena akhirnya bertemu dengan orang yang mau, bersedia untuk mewujudkan keinginan mereka.
Murtopo tampak lebih sehat dari yang Reysha ingat kemarin malam. Entah kenapa ada keraguan kalau kemarin laki-laki tua itu tensi darahnya naik.
"Kakek senang kalian datang," Ucap Murtopo.
"Iya, kek. Bagaimana keadaan kakek? " Tanya Reysha sopan.
"Sangat baik. Apalagi kakek bisa ketemu sama kamu. " Reysha tersenyum namun dalam hati muncul rasa bersalah. Kebohongannya bersama Asta dimulai dari sini.
Acara makan siang berjalan dengan semestinya. Asta mengakui kepawaian Reysha dalam bermain peran. Wanita itu mudah akrab dengan kakeknya. Tampak kakeknya juga menyukai Reysha.
Reysha juga lancar dalam menjawab tentang hubungannya dengan Asta. Tadi pagi saat sarapan bersama keduanya sudah membuat skenario tentang hubungan mereka.
***
"Sepertinya kakek menyukai kamu, " Ucap Asta saat berada di mobil. Mengantarkan Reysha kembali ke tempat kerja.
"Tadinya aku malah takut kalau kakek kamu nggak suka sama aku. " Jujur Reysha.
"Kakek itu kalau nggak suka sama orang pastinya bakal diem aja. Nggak akan banyak bicara."
"Gitu, ya? Syukurlah kalau begitu. " Rasanya lega sudah berhasil berpura-pura menjadi pacar seorang Asta Hendra Murtopo.
"Sepertinya besok kita harus ketemu lagi. Ada banyak hal yang harus kita bicarakan dan rencanakan untuk pernikahan. "
"Secepat itu? "
"Kita sudah sepakat mau menunggu apa lagi. Kakek pasti senang melihat aku menikah dan kamu juga akan lebih cepat keluar dari rumah orang tua kamu. "
Asta benar. Semakin cepat semakin baik. Reysha tidak sabar untuk bisa keluar dari rumah orang tuanya.
"Jadi kapan kamu akan memberitahu orang tuamu? "
"Secepatnya."
"Kamu sudah bertemu kakek. Aku juga harus bertemu dengan keluarga kamu. Mereka harus tahu siapa yang akan menjadi menantu mereka. "
Reysha tersenyum kecil. "Sepertinya kamu nggak sabar buat ketemu calon mertua. " Canda Reysha.
"Tentu saja. Mereka pasti senang bertemu calon menantu. "
Keduanya tertawa.
"Sepertinya kita harus membeli sesuatu untuk membuat mereka yakin tentang hubungan kita, " Kata Asta.
"Beli apa? "
"Cincin."
"Ah, cincin. Dengan adanya cincin mereka akan berpikir jika kamu sudah melamar aku. Hubungan ini serius dan akan berlanjut ke jenjang yang lebih serius. "
"Pintar." Asta melirik jam digital yang ada di mobilnya. "Apa kamu nggak keberatan jika kita cari cincin itu sekarang? "
"Apa? Sekarang. " Ajakan yang bagi Reysha terlalu cepat. "Kalau kamu nggak bisa kita bisa melakukannya lain hari. "
"Bukannya nggak bisa. Aku hanya kaget saja. "
Terdengar kakehan Asta. "Kaget atau senang mau diajak cari cincin sama calon suami. " Gurau Asta.
"Sepertinya dua-duanya. "
Mereka kembali tertawa bersama.
***
Sebelum sampai ke mall Reysha mengirim pesan pada salah satu teman kerjanya jika dia ada urusan dan akan terlambat kembali bekerja. Seharusnya Reysha laporan pada bos mereka, masalahnya bos mereka sedang berada di rumah sakit untuk operasi ambeyen.
Toko perhiasan yang ada di mall itu tampak sepi saat Asta dan Reysha masuk kesana. Pegawai toko menyambut mereka dengan ramah.
"Ada yang bisa kami bantu? " Tanya pegawai toko.
"Kami mau mencari cincin." Balas Asta.
Petugas toko membawa Asta dan Reysha ke etalase yang menampakkan deretan cincin.
"Kamu bisa pilih model yang kamu suka. " Suruh Asta.
Reysha melihat deretan cincin-cincin itu. Cantik tetapi Reysha lebih suka model yang simple. Pilihan Reysha jatuh pada cincin polos dengan permata kecil di tengah.
"Coba lihat yang ini. " Pinta Reysha sambil menunjuk cincin yang ia maksud.
Pegawai toko mengambilkan lalu memberikannya pada Reysha. Reysha mencobanya di jari manisnya kemudian menunjukkannya pada Asta.
"Bagus, kan? "
"Bagus, sih... Tapi apa nggak terlalu biasa untuk cincin lamaran. "
Dalam hati Reysha membenarkan ucapan Asta.
"Coba cari lagi. Aku nggak masalah soal harga. "
Dalam hati Reysha menggerutu. Kenapa Asta tidak bilang dari tadi. Kalau Asta tidak masalah dengan harga Reysha pasti meminta cincin terbaik di toko itu. Dituduh matre Reysha tidak masalah sebab wanita yang matre itu normal. Kalau ada yang bagus kenapa harus memilih yang biasa.
"Mbak, bisa kasih rekomendasi cincin pertunangan yang paling bagus. Saya tidak masalah dengan harga, " Kata Asta tiba-tiba.
Pegawai toko perhiasan itu menghampiri salah seorang temannya. Beberapa saat kemudian pegawai toko itu kembali membawa kotak kecil berwarna biru.
"Ini koleksi terbaru kami."
Cincin itu sangat cantik. Terbuat dari emas putih. Setengah cincin itu berbentuk gelombang. Ada dua gelombang. Satu gelombang berbentuk polos dan satunya dihiasi permata kecil mengikuti garis gelombang.
"Kamu suka? " Tanya Asta.
Reysha menoleh sekilas pada Asta. "Cincinnya cantik."
"Kamu bisa mencobanya. "
Dengan senang hati Resya mencobanya. Cincin itu benar-benar cantik dan pas di jarinya.
"Cincinnya cocok di kamu." Semua wanita suka perhiasan tapi entahlah cincin yang dipakai Reysha sangat cocok di jari calon istrinya. "Kalau kamu suka kita ambil yang itu saja."
Reysha setuju-setuju saja tetapi harus jaga imej dulu. Jangan sampai terlihat norak. "Harganya pasti mahal. " Reysha melepas cincin itu dari jarinya dan meletakkan barang itu kembali di kotak perhiasan.
"Aku nggak masalah dengan harga. Wanita spesial harus mendapatkan yang terbaik."
Hati Reysha menghangat tetapi sadar Asta tidak serius dengan ucapannya. Asta mengambil cincin itu dari tempatnya kemudian meraih tangan Reysha dengan tangan satunya.
"Will you Mary, Reysha? "
Reysha tidak bisa menahan senyuman. Dia tidak menyangka Asta akan melakukan hal itu, melamarnya. Hal yang tidak pernah Reysha sangka seumur hidupnya bahwa dia akan di lamar didepan umum. Mungkin beda jauh dari kata romantis seperti di lamar saat makan malam romantis atau di lamar di tempat spesial. Bagi Reysha tidak masalah, setidaknya sekali dalam hidupnya, Reysha pernah dilamar oleh laki-laki. Meskipun pernikahan mereka nanti hanyalah pernikahan kontrak yang memiliki tengang waktu yang akan berakhir.
"Iya, aku mau, " Jawab Reysha.
Asta kemudian menyematkan cincin itu di jari manis Reysha. Dan yang tidak disangka-sangka Asta mencium jarinya.
Para pegawai toko tampak iri dengan apa yang mereka saksikan. Setiap wanita pasti ingin di sayang dan di ratukan oleh pasangannya. Walaupun ini hanya pura-pura, Reysha ingin menikmatinya.