6. Pengumuman

1183 Kata
Reysha melihat penghuni meja makan itu secara bergantian. Ibu, ayah, dan adiknya Irsya. Makan malam adalah waktu yang tepat untuk memberitahukan rencana pernikahannya dengan Asta. Pastinya mereka semua akan terkejut, tidak percaya, dan pasti akan bertanya banyak hal tentang calon pasangannya. Terutama ibunya. "Kalau mau ngomong nanti habis makan, " Kata ibu tiba-tiba. Sepertinya wanita itu mengamati gerak gerik putrinya. Reysha kembali menyantap makanannya. Tidak ada yang beranjak dari meja makan setelah selesai makan sebab ibu melarangnya. "Nanti kamu masih nungguin Agnes di rumah sakit? " "Enggak, bu. Ada sepupunya yang jagain." Ada yang aneh. Kemarin ibunya menuduhnya berbohong soal Agnes yang sakit tapi sekarang malah membahas teman baiknya itu. "Kalau kamu mau jagain Agnes, nggak apa-apa. Ibu kasih izin. Tapi jangan sekali-kali kamu bohongin ibu." Meskipun ibunya tampak keras, Reysha merasa wanita yang sudah melahirkannya itu menyayangi dan memperhatikannya. "Aku nggak pernah bohongi ibu. " "Bagus." Reysha menegakkan punggung sebelum menyampaikan kabar yang akan membuat orang tuanya bahagia. "Ibu, ayah... Aku mau ngomong sesuatu. " "Ngomong saja. Ibu sama ayah pasti mendengarkan. Setelah bicara bersihin meja makan terus cuci piring. " Perintah sang ibu. "Bicara saja, Sya." Suruh sang ayah. "Eeemmm... Reysha bingung mau ngomongnya gimana. " Jujur Reysha. "Tinggal ngomong aja susah. " "Bu-" Tegur sang suami. "Ayah, ibu... Reysha mau menikah. " Yani menyemburkan air yang baru masuk ke mulutnya. Terlalu terkejut dengan kabar yang disampaikan putrinya. "Kamu jangan gila, ya, Sha. Memangnya kamu mau menikah sama siapa? Pacar saja kamu nggak punya. " Omel Yani. "Jangan kasih harapan palsu sama ibu dan ayah. Kami memag mengharapkan kamu segera menikah supaya nggak jadi peraawan tua. Tapi kalau kamu menghalu seperti ini ujung-ujungnya nanti kamu bisa gila. " Ucapan Yani memang kasar namun Reysha berusaha tidak terprovokasi. Tiada hari tanpa omongan yang menyakitkan hati. "Aku serius, bu. Aku mau menikah sama pacar aku. Dia juga udah lamar aku. " Reysha menunjukkan cincin yang melingkar di jari manisnya. Yani yang kurang yakin memegang tangan putrinya dan mengamati cincin itu. Cincin seharga hampir seratus juta itu sangan cantik dan elegan. Reysha kemarin hampir mau pingsan saat tahu harga cincin yang kini sudah menjadi miliknya. "Kamu nggak bohong, kan? " Yani mencari kebohongan di mata putrinya tapi dia tidak menemukannya. "Enggak, ibu. Aku serius." Wajah Reysha begitu meyakinkan. "Kalau hal itu benar, ayah senang mendengarnya. " Pak Rahmat tentu saja senang putrinya akan segera menikah. "Selamat, ya, kak. " Irsya juga turut senang. "Nggak akan ada lagi yang tanya kapan kakak nikah lagi? Dan jodoh-jodohin kakak. " Bocah kelas enam SD itu terkekeh. Reysha tersenyum lebar. Ucapan adiknya memang benar. "Makasih, Irsya." "Tunggu-tunggu. Kamu nggak lagi bohong, kan? Nggak nge-prank keluarga ini, kan? Ibu masih nggak percaya kamu mau menikah dan bilang udah di lamar sama pacar kamu. Selama ini yang ibu tau kamu jomblo. Nggak dekat dengan cowok manapun. " "Sudah, bu." Rahmat mencoba menenangkan istrinya. "Seharusnya kita senang Reysha membawa kabar baik. Sebentar lagi Reysha pasti ngenalin calonnya ke kita." "Tapi... Ibu masih tidak percaya. Bisa aja Reysha bohong. " Reysha berdaham kecil. "Besok malam, Asta mau kesini. " "Jadi namanya Asta? " Tanya pak Rahmat. "Berapa umurnya?" Sahut Yani. "Kerjanya apa? Jangan bilang dia kerja satu tempat sama kamu. Ibu bukanya ngerendahin. Gaji kamu disitu itu sedikit. Apa cukup gaji segitu buat kebutuhan kalian setelah menikah. Apa dia punya rumah? Atau dia sandwich generation. Kalau seperti itu ibu nggak akan setuju. " Astaga... Ternyata menikah seribet ini. Bukan hanya ribet tentang persiapan pernikahan tetapi juga tentang asal usul, bibit, bebet, dan bobot calon pasangan. "Bu, seharusnya kita mendukung Reysha. Kalau soal rejeki itu bisa di cari. " Rahmat mencoba memberi pengertian. "Dan mereka hanya bermodalkan cinta? Begitu. " Yani menggeleng. "Enggak. Ibu nggak mau anak ibu hidup sengsara. Kita rawat Reysha dari bayi hingga besar dengan besar baik. Ibu nggak mau dapat calon mantu yang nggak jelas, pekerjaannya juga nggak jelas." Irsya yang ada di meja makan tampak bosan dengan perdebatan disana. Tangannya memainkan sendok yang ia masukkan didalam gelas dan memutarnya pelan. "Calonnya kak Reysha kerjanya apa? " Tanya Irsya yang ingin menghentikan perdebatan orang tuanya. Pertanyaan Irsya menghentikan perdebatan kedua paruh baya itu. Mereka ingin mendengar jawaban Reysha. "Dia... Maksud aku Asta. Dia bekerja di perusahaan telekomunikasi. Di perusahaan XC. " Satu Indonesia tahu perusahaan telekomunikasi XC. Itu adalah salah satu perusahaan raksasa telekomunikasi yang ada di Indonesia. "Kerja di bagian apa? " Tanya Yani. Sebelum menjawab Reysha melihat ayah, ibu, dan adiknya bergantian. Ada sedikit keraguan, takut keluarganya akan terkejut jika tahu calon menantu mereka adalah CEO serta pewaris perusahaan tersebut. Awalnya Reysha juga terkejut luar biasa saat tahu pekerjaan Asta dan asal usulnya. Rasanya seperti mimpi. Curiga juga jangan-jangan dia dibohongi Asta. Namun setelah itu Reysha browsing di internet tentang perusahaan XC dan benar saja wajah Asta muncul sebagai CEO. Wajah kakeknya juga beserta biodata lengkap. "Asta itu... " Agak ragu tetapi Reysha harus mengatakannya. "Dia CEO di perusahaan XC. " "APAAA??? " Teriak ayah dan ibu saking terkejutnya. "Kamu jangan bercanda Reysha. Jangan-jangan kamu cuma menghalu." "Enggak, ibu. Aku masih waras. Calon suami aku itu Asta Mahendra Murtopo. Kakeknya Rizky Murtopo." "Enggak mungkin. " Yani menggelengkan kepala pelan. Masih tidak percaya apa yang dikatakan putrinya. "Kalau ibu sama ayah nggak percaya nggak apa-apa. Aku cuma kasih tau kalau besok Asta akan ke rumah ini untuk bertemu ayah dan ibu. Untuk selanjutnya kakek Murtopo dan Asta juga akan kesini untuk melamar aku secara resmi. " Reysha berdiri dari tempat duduknya. Mengambil piring-piring kotor yang ada diatas meja untuk dibawa ke bak cuci. Yani masih terdiam ditempat duduknya. "Ayah... " Panggilnya dengan nada pelan. "Ya, bu? " "Tolong, cubit ibu. " Yani menyodorkan tangannya. Rahmat mencubit tangan istrinya tetapi pelan. "Udah." "Yang keras, yah! " Rahmat mencubit istrinya lagi masih dengan cara yang sama. "Yang keras ayah. Nggak ke-aaaaaaaaa.... " Teriak Yani kesakitan. Bukan Rahmat yang mencubit tangan Yani dengan keras namun anak bungsunya Irsya. "Sakit Irsya. " Omel Yani. "Kata ibu minta di cubit yang kuat, biar berasa. " Bantah Irsya. "Tapi nggak sesakit tadi Irsya. " Yani mengelus bekas cubitan yang sakit. "Salah ayah juga nggak nyubit ibu keras-keras. " "Jadi ibu nggak mimpi, kan, kalau mau punya besan orang kaya. Aaaaaa.... " Teriak Yani senang. "Ibu semalam mimpi apa, ya? Dapat kabar sebahagia ini." Rahmat senang melihat istrinya bahagia. Yani melihat kearah Reysha yang sedang mencuci piring. "Kamu pinter banget, Sa, cari pasangan. Ibu setuju kalau kamu sama cucunya yang punya perusahaan XC. Keluarga besar kita harus tau hal besar ini. Mereka harus tau, biar nggak menghina kamu terus. Kemarin tante-tante kamu ngatain kamu terlalu pemilih jadi perempuan, bakal jadi perawan tua karena nggak nikah-nikah. Kalau kayak gini ceritanya ibu nggak masalah kamu telat nikah. Selama ini ibu nahan kesel, nahan dongkol sama orang-orang yang ngatain kamu. Ternyata Tuhan punya rencana yang lebih indah. Kerabat kita yang ngatain kamu pasti nggak nyangka kamu dapat pasangan hebat. Rata-rata mantu mereka cuma pegawai kantor, mentok polisi. Tapi calon menantuku... Adalah seorang konglomerat." Reysha sanang melihat kebahagiaan ibunya namun disisi lain dia juga merasa bersalah karena membohongi keluarganya. Yang akan ia jalani adalah pernikahan kontrak yang berbatas waktu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN