PROLOG
On memories
Kala itu, aku dan istriku merencanakan untuk mendatangi rumah kedua orang tuaku dan menikmati weekend disana.
"Waah.. Itu ide yang bagus lici, jadi kau tak perlu merasa kesepian jika ditinggal sean saat ia bekerja." komentar seseorang saat kami sedang asik membahasnya.
Dan saat aku lihat siapa yang sedang berbicara itu, aku sama sekali tidak mengenalnya, tapi lici pernah memberi tahuku bahwa dia adalah teman barunya yang hampir 2 minggu belakangan ini ia sering mengunjungi kediaman kami.
Dan tanpa sedikit kecurigaan apapun aku tersenyum kearahnya, dan setelah aku mengusap puncak kepala istriku, segera lah ku langkahkan kaki ini kesebuah tempat peraduanku dengan istriku.
Biarlah mereka kutinggalkan, lagipula mereka sesasama wanita, pasti akan sibuk dengan gosip gosip yang akan diobrolkannya.
***
Dan disaat aku dan lici akan berangkat untuk mengunjungi rumah ibu dan ayah, tiba tiba saja perasaanku mendadak tak enak, entah mengapa rasanya aku ingin sekali mengganti mobil ini dengan yang lain.
"What's wrong babe?" tanya istriku yang sepertinya sudah terlihat nyaman dengan posisinya saat ini, karena sedari tadi kulihat ia selalu mengelus perut buncitnya dan tersenyum manis.
"Sebaiknya kita pakai mobil yang lain saja" ucapku perlahan dan menghadap wajahnya sedang menggambarkan sorot akan kebingungannya.
"Mobil ini kan mobil kesayanganmu sean, mengapa kita harus mengganti dengan mobil yang lain?"
"Perasaanku tidak nyaman, sayang" tuturku menjawabnya dengan apa yang sedari tadi hatiku rasakan.
"Itu Hanya perasaanmu saja honey" ucapnya diikuti dengan senyuman khas darinya.
"Baiklah" aku hanya bisa menuruti ucapannya semoga saja apa yang sedang aku rasakan ini hanya sebuah perasaan was-was saja, tidak lebih.
Dan di seperempat perjalanan, kami hanya terdiam, terdiam karena diantara aku dan lici tidak ada yang ingin berbicara,
So, I'm gonna love you
like I'm gonna lose you,
I'm gonna hold you
like I'm saying goodbye
Forever will stay in,
I won't take you for granted
'Cause we'll never know it
when we'll run out of time
So, I'm gonna love you
like I'm gonna lose you,
I'm gonna love you
like I'm gonna lose you
Like Im gonna lose you
Meghan trainor
Suara merdu istriku berhasil membuat bulu kuduk ku meremang.
"Kenapa harus menyanyikan lagu itu, disekian banyaknya lagu di dunia ini?" tanyaku dan sedikit demi sedikit rasa ketakutan yang tadi hampir membunuhku, kini menyeruak kembali kedalam hatiku.
Dan dia? Dia hanya tersenyum,
"Sean, aku mempunyai permintaan padamu" ucapnya mengalihkan topik pembicaraan kami
"Apa itu?" tanyaku
"Aku ingin anak kita bernama RaQilo bard adalard" ucapnya dengan penuh keyakinan.
"Nama lakilaki, Jika perempuan?" tanyaku kepadanya
"Tidak, anak kita tampan sayang, bukan cantik." ucapnya percaya diri
"Bagaimana kau tahu? Jangan bilang kau diam diam memeriksakan kelaminnya tanpa sepengetahuan dariku?" tuduhku, ya kami tidak pernah memeriksakan jenis kelaminnya, karena aku dan licia ingin kelahirannya ini menjadi surprise karena tidak mengetahui jenis kelaminanya.
"Tidak sayang, semalam aku memimpikannya, bahwa anak kita ini lakilaki, dan ia sangat tampan sayang" aku lihat dia menjeda ucapannya sebentar "dan aku mau, jika aku mati mendahuluimu, aku ingin kamu secepatnya melupakanku, dan membuka hatimu kembali untuk wanita lain." lanjutnya memancing amarahku untuk meluap.
"Apa yg kau ucapkan licia?!" tanyaku terkejut dan dengan sedikit penekanan
"Aku tidak ingin kau terpuruk saat aku tidak ada, pasti suatu saat kau akan menemukan wanita yang pantas untuk bersanding denganmu lagi setelah aku." lanjutnya membuat aku menatap tajam matanya
"Jika kau mati, lebih baik kita mati bersama sama saja" jawabku tanpa ekspresi
"Kau harus menjaga, merawat, dan membesarkan Qilo sampai ia menjadi sepertimu walaupun aku tidak ada di sisimu" serunya
"Cukup Licia! Aku tidak mengerti, apa yang sedang kau ucapkan" sentakku
"I love you, selamanya aku akan selalu mencintaimu" serunya kembali
Dan aku yang sedang diselimuti rasa amarah tidak menjawab ucapan cinta darinya. Sampai sampai tak terasa aku sudah menjalankan mobil ini dengan kecepatan maximal, saat kami sudah memasuki jalan yang lumayan sepi dan terjal, dengan rasa sakit hati, takut kehilangan dan amarah sudah bercampur aduk di dalam hatiku.
"SEAAAN!! KENDALIKAN MOBILNYA!!!"
saat aku kembali fokus, tak kusangka di depan mobil ini, sebuah truk pengangkut barang sedang melaju kencang berlawanan denganku. Dan saat aku ingin mengendalikannya, rem yang tadi baik baik saja saat ini sudah blong, dan saat aku ingin memakai rem tangan, tiba tiba saja mobil sudah terpental dan berguling guling
KYAAAAAAaaaakk...
Rintihan dan jeritan bercampur di dalam mobil ini. Aku yang sedari tadi berhasil melepaskan sealtbeat langsung berpindah untuk meraih licia.
"Aaaaa... SEAAAAN!!!!" jeritnya
"Bertahaaan laaah.."
Dan setelah itu yang kutahu mobil sempat berguling-guling, setelah aku berhasil keluar dari mobil itu bersama dengan licia namun dia terpental jauh dengan keberadaanku.
DUAARRR!!
PRANGG!!
detik kemudian mobil itu meledak terbakar,
"hiks!! LICIAAA? KAU DIMANA?" dengan keadaan darah bercucuran dikepala dan lenganku, aku memaksakan untuk mencarinya.
Yatuhan! Tolong selamatkan anakku dan istriku..
"Seaan!! Se aan!!, a kh u d di sini" erang seseorang, dan saat aku lihat dimana asal suara itu, aku menangkap keberadaan tubuh kecil istriku yang sudah terkapar tak berdaya di sana, dengan darah yang juga membasahi sekujur tubuhnya hampir membasahi dan juga menutupi warna putih bajunya.
"S s sayang, bertahanlah! Jangan tinggalkan aku" ucapku dengan rasa ke takutan yang menggila.
"S s se an" serunya memanggil namaku dengan senyuman.
"Iya sayang, aku disini dengan mu hiks, kau harus bertahan" ujarku sembari tak henti hentinya menciumi wajahnya dan menangkup tubuhnya
"A- aku mencintaimu" serunya
"Aku lebih lebih mencintaimu dari apa yang kamu tahu" balasku yatuhan hatiku sakit sekali
"Jika aku per-ghi, aku thi-tip dia" ucapnya terbata bata dan menuntun tanganku kearah perutnya
"Kita akan membesarkannya bersama-sama sayang, kau tidak boleh pergi"
"Iz- zhin k an a aaku p perg gi se sean!"
"Ti dak ,
" selamat tinggal, aku me menc chin t taimu"
Uhuk uhuk tiba tiba saja nafas ku sesak dan darah yg lain berhamburan keluar dari rongga mulutku dan hidungku
dan saat mataku kembali menatapnya, licia sudah tertidur untuk selamanya dengan darah yang sama keluar dari telinga, hidung, dan mulutnya.
Maafkan aku yang tidak bisa menjagamu.. Aku sangat mencintaimu, hari ini, hari yang sudah kita lewati, dan sepanjang hari yang akan datang..
*****