Three

1306 Kata
Ruangan bercatkan putih bersih, dengan sengatan matahari yang kentara menyorot kearah jendela yang terbias oleh tirai tipis bernada sama dengan dindingnya. Dengan dikelilingi bau obat obatan dan antiseptik yang begitu menyengat menusuk indra penciuman bagi siapapun yang ada di dalam ruangan ini. Dengan sebuah pergerakan kecil dari tubuh Qilo yang masih belum sadarkan diri, kini berhasil membuat sean dan riana menanti gerakan gerakan selanjutnya. Dan saat mata lentik itu mengerjap beberapa kali, barulah matanya terbuka menandakan bahwa Qilo sudah tersadar dari pingsannya ini. "Dad, Bibi Qila?" tanyanya saat matanya menatap ke segala arah ruangan namun yang di carinya tak kunjung ia temukan. "Grammy? Apa grami mengusir bibi Qila?" kini pandanganannya beralih kearah riana yang tidak jauh berada di dekatnya "Mana mungkin amy mengusirnya sayang" jawab perempuan tua itu. "Sepertinya Qilo sangat menyayangi bibi Qila itu, benar bukan?" lanjut ucapannya. "Tentu saja Qilo menyayangi dan mencintai bibi Qila amy"  balas Qilo sembari memandang kedua orang dewasa itu "Apa Qilo ingin mempunyai mom seperti bibi Qila?" pancing riana "Iyaa, Qilo ingin bibi Qila jadi mommy Qilo" balas Qilo bersemangat saat membahasnya. Binar bahagia yang terpancar dari wajah imutnya, sangat berarti bagi sean yang kini  sedang menyimak apa yang sedang mommy dan anaknya perbincangkan. Tidak tahu kenapa, tiba tiba saja Sean tersedak oleh air liurnya sendiri, dan diikuti oleh tawa Riana yang menggema diruangan sunyi ini. "Darimana kau dapat pemikiran seperti tadi Qilo?" Sahut sean memandang lurus kearah anaknya, dan anak itu? Anak itu malah tersenyum lebar seakan akan ucapannya itu adalah gurauan. Tapi, beda lagi jika dengan dirinya sendiri, "Haha kalian, yatuhan! Haha" tawa riana seakan akan mengejeknya "Mom..!" rajuk sean memandang kearah ibunya. "Oh iya, dimana mom Qila gramy?" tanya Qilo kembali kepada riana yang baru saja berhenti dari tawanya. Seketika membuat keduanya terdiam kembali "Qilo berbicaralah dengan benar" tegur sean dengan tegas "Akuu dataaaang.." sorak seseorang yang baru saja memasuki kamar Qilo dengan sebuah senyuman manis. Riana juga menyambut selena dengan senyuman lebar dan juga membantu selena untuk menyimpan beberapa barang bawaannya. "Bibi darimana saja?" tanya Qilo to the pointl "Tadi bibi pulang sebentar ke rumah, sayang" balas Selena langsung tersenyum saat mengetahui jika Qilo sepertinya sudah nempel sekali dengan dirinya. "Nah, jika sudah ada bibi Qila sebaiknya amy pulang dulu" ucap riana sembari membereskan barang barangnya, dirinya sudah menenteng sebuah tas limitid dan kini ia mendekat kearah Qilo, ingin mengelus puncak kepala cucu kesayangannya. "Gramy akan kemana?" tanya Qilo bersamaan dengan sean yang ikut bertanya. "Aku harus menyelesaikan urusanku sebentar, paling tidak besok atau lusa aku akan kemari dengan granpa mu" tutur riana. "Baiklah, cucuku Qilo cepat sembuh sayang. Sean jaga dia dengan baik, selena aku titip anakku dan cucuku kepadamu ya!" pamit riana setelah mereka menganggukan bahwa mereka setuju atas pesan darinya, kemudian ia langsung saja berlenggang keluar dari ruang inap ini. Hening sesaat, di tambah lagi suasana awkward sepertinya sangat mendukung keadaan mereka --- selena dan sean--- "Jangan di fikirkan atas ucapan ibuku" sergah sean Dan selena hanya mengangguk kecil. "Pak, tadi saya menyempatkan untuk membawa ini, saya fikir, sedaritadi bapak belum mengisi perut" ucap selena menyerahkan kepada sean paperbag yang berisi tupperware pink nya. "Thanks, Seharusnya kau tidak perlu repot repot untuk mengurusiku" "Ya sudah jika tak ingin kembalikan lagi kepada saya" garang selena melotot karena ucapan sean "Barang yang sudah di beri tidak bisa diminta kembali" ujarnya sembari membuka isi kotak tersebut dan berancang ancang akan langsung ia makan. "By the way, kau sendiri sudah makan?" tanya nya "Tadi sebelum saya kembali ke Rs. Saya menyempatkan untuk mengisi perut saya terlebih dahulu pak" jawab selena kemudian suasana kembali hening. "Qilo, sebaiknya Qilo tidur kembali" ucap selena menyuruh kepada Qilo untuk tertidur "Tapi bibi harus berjanji bibi tidak akan kemana mana?" tawar Qilo "Bibi berjanji akan terus disini menemani Qilo" balas Selena tersenyum, dan mereka sama sama tersenyum kemudian dengan perlahan Qilo memejamkan matanya, dan terlelap dengan saling menautkan jemari mereka. "Apa dia tertidur?" gumam sean "Ya, dia tertidur" balas selena tanpa memandang kearah sean "Pak, bagaimana dengan pekerjaan saya yang sering bolos seperti ini? Apa saya akan di pecat?" tanya selena dengan pandangan menerawang kedepan saat keduanya tidak mempunyai topik yang akan dibahas lagi "Tidak akan ada yang berani memecatmu di bawah perintah saya" jawab sean enteng dengan pandangan nya yang tidak pernah terlepas dari ipadnya. "Bagaimana jika karyawan lain menuntut keadilan kepada bapak?" lanjut ucapannya membuat sean berhenti sejenak untuk mengechek Emailnya. "Selena, begini saja. bagaimana jika kamu saya pindahkan kebagian sekretaris, lebih tepatnya menjadi sekeretaris saya sendiri?" tanya sean perlahan lahan "Bagaimana dengan sekretaris bapak yang lama?" tanya nya mengalihkan pandangannya kearah sean "Itu biar jadi urusan saya, dan saya lihat dari kinerja mu bekerja itu sangat lihai, dan itu akan sangat memudahkan jalannya" lanjutnya dengan nada yang menerawang "Apa kau setuju?" Beberapa waktu sepertinya selena sedang berfikir keras sehingga ia sendiri menggeleng gelengkan kepalanya. "Bagaimana selena?" "Baiklah Jika begitu, siap tidak siap akan saya persiapkan dari awal pak" balas selena Dan Senyuman indahpun tersungging di bibir sexy sean. **** Sudah satu minggu ini jabatanku naik dan sah menjadi sekretaris baru CEO, yang tak lain dan tak bukan adalah Pak Arsean sendiri. Sebenarnya aku tidak enak dengan karyawan lain, baru training saja sudah diangkat menjadi sekretaris ceo, bahkan aku saja sudah bertaun taun bekerja disini masih saja menjadi admin -_- huft . cela seseorang kepadaku Bahkan hampir semua karyawan menyerangku dengan sindiran sindirannya. Tapi mau bagaimana lagi? Aku tidak bisa melakukan apapun selain manut pada atasan atau konsekuensi yang akan kudapat adalah pekerjaanku yang melayang . Memang sebenarnya aku turut senang atas kenaikan jabatanku ini, tapi di satu sisi aku kasihan kepada sekretaris yang dulu mengabdi kepada pak sean, yang kini berada jauh dengan keluarganya, memang ia tidak di pecat namun ia di pindahkan ke washington untuk bekerja di cabang yang lain. Bukan kasihan yang mendominasi di hatinya, sepertinya bahagialah yang lebih tepat, karena selain bekerja disana, ia bisa berjalan jalan di negri indah itu pak sean juga memberikan fasilitas yang nyaman dan sangat layak untuk ia tempati. Huft, ternyata pak sean orang yang baik, bagaimana bisa orang orang menilainya dengan pandangan sebelah mata? Dan di saat aku asik melamun di sini, ya tuhan mengapa aku bisa terhanyut dalam fikiranku? Sedangkan saat ini aku sedang berada di dalam toilet? Apa sedari tadi orang melihatku seperti orang gila yang senyum senyum sendiri? Ya ampun selena apa yang terjadi dengan dirimu? Dan tepat saat aku akan keluar, seseorang yang tidak ingin aku lihat sudah berdiri dengan sombongnya di hadapanku. "Tepat sekali kita bertemu disini nyonya selena" ucapnya kepadaku "Ada perlu apa sehingga kau harus mencariku?" tanyaku dengan pandangan menyelidik, apa maksud kedatangannya ini? Cih, apa maksudnya di tersenyum licik seperti itu kepadaku? "Aku hanya ingin kau angkat kaki dari kantor ini selena! Gampang bukan?" "Atas dasar apa sehingga kau berani beraninya mengusirku nyonya viola?" tantangku "Aku memang berhak mengusirmu, karena aku lah calon istri arsean selena! Sebentar lagi aku akan menikah dengannya!" balasnya dengan nada menyombongkan diri. yatuhan, perempuan ini benar benar memalukan! Bagaimana bisa dia berkata dengan entengnya bahwa dia akan menjadi nyonya arsean? Bermimpilah gadis malang "Cih! Sombong sekali anda! Baru menjadi calon nya saja sudah So berkuasa, bagaimana jika sudah menikah nanti?" "Aku memang pantas menjadi ratu berkuasa selena, karena aku bisa menaklukan semuanya dengan mudah" seringaian licik berhasil tertangkap olehku "Dengan cara menjual diri anda eh? Ya tuhan mengapa jalang bisa berada dikantor ini?" potongku dengan nada meremehkan, lalu dengan mudahnya aku melenggang melewatinya begitu saja, saat aku melirik dari sudut mataku ia seakan akan seperti patung pancuran yang sedang menganga dengan wajah me-merah seperti tomat busuk. "Sialan kau selena! Lihat saja nanti, akan aku balas kau!" jeritnya namun masih terdengar jelas di telingaku. Dan saat aku sudah berbelok menuju lobi, disana sudah terlihat pak sean yang sepertinya sedang menungguku. "Selena mengapa lama sekali?" tanyanya yang sekarang sudah berada di hadapanku. "Maaf pak, jika saya telah membuat anda menunggu" sopanku kepadanya Dan dia hanya mengangguk kecil "Tidak masalah, sebaiknya kita berangkat sekarang, sebelum meeting dimulai" balasnya dan segera memutar balik arah tubuhnya dan berjalan di depanku dengan gagahnya, sedangkan aku sendiri langsung membawa berkas yang dibutuhkannya, kemudian menyusul langkah lebarnya itu sampai aku dan dirinya memasuki sebuah mobil mewah, dan pergi menuju kantor yang dituju. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN