Dea membereskan pakaian dirinya dan juga Adam yang akan mereka bawa untuk beberapa hari di Jakarta, di pernikahan Sandy dan Nadia. Tidak banyak hanya beberapa potong. Setelah selesai mengemasi semua barang keperluannya, Dea keluar kamar menghampiri neneknya yang sedang duduk menatap halaman luar yang di penuhi bunga mawar. Maklum Lilik adalah penggila bunga mawar berbagai macam warna Ia tanam terlebih Dahlan, suaminya tak keberatan membantunya merawat taman kecilnya itu. "Dea berangkat jam berapa nanti?" Tanya Neneknya begitu merasakan ada beban di pundak kanannya dan juga rangkulan erat di tangannya yang mulai renta termakan usia. "Nanti jam 9 pagi nek. " jawab Dea sambil memainkan cincin di jari jemari yang sudah keriput namun masih begitu sehat. "Pintu rumah akan terbuka buat kamu s

