Tatapan Viona masih lurus memandang secarik kertas yang mulai basah oleh air nestapa. Entah, hatinya merasa sangat terluka. Bukan karena ia membenci Kiki atau dendam kepada Bu Miranda. Namun, mengapa dirinya harus ikut berperan di atas panggung ini? Sekuat apapun berusaha mendayuh akhirnya tetap terseret arus. "Ma, mengapa kalian berada di luar? Kok, tidak masuk menjaga Varo?" tanya Racka yang tiba-tiba datang. Bu Miranda tersentak dan melepas genggaman tangannya pada Viona. Sementara Viona yang juga terkejut langsung memasukkan surat mendiang Kiki ke dalam saku celana jeansnya. Ia menyeka air mata dengan gesture tubuh seperti orang yang sedang kelilipan. "Aduh, kemasukkan apa, sih mataku?" rintih Viona mengada-ngada sembari menyeka air mata. Racka hanya mengerutkan dahi melihat tingka

