Viona melirik bucket bunga yang ditelantarkan oleh Racka, ia perlahan mengambil benda itu. Memandangnya lekat dan terdiam. Dadanya terasa sedikit nyeri dan berdesir, ada rasa bersalah yang bergelayut dalam sanubari karena telah berdusta. Sisil menghampiri Viona yang masih tampak shock, ia menepuk bahu saudarinya dengan lembut. "Ada apa, Vi? Mengapa kamu mematung seperti itu?" "Sini biar kubuang bunga yang sudah rusak itu." Sisil merebut bucket bunga yang tampak hancur itu dan membuangnya ke salan satu tempat sampah. "Aku merasa sangat bersalah, Sil. Seharusnya aku memang tidak berbohong," ucap Viona ketika Sisil kembali padanya selepas membuang bunga. Sisil mengangkat satu alisnya." Untuk apa? Kamu tidak perlu merasa bersalah. Bukankah Racka yang memulai terlebih dahulu, hah? Dia kan y

