EP 1. Kenapa baru kembali
Dinding kokoh dan rasa dingin yang perlahan meresap ke dalam punggung telanjang Aisya, tubuhnya terus ditekan membuatnya semakin tersudut. Nafas terengah-engah, kedua tangannya mencoba mendorong mundur sosok lelaki bertubuh besar yang saat ini terus saja memojokkannya dengan raut wajah yang tampak setengah gilanya itu. Air mata Aisya menetes disudut matanya ia memalingkan wajah mencoba menyembunyikan kesedihannya.
Sedangkan sosok pria yang ada di hadapannya malah terlihat lebih hancur, seluruh tubuhnya terdapat bekas luka. Pria dengan tinggi 190 cm serta memiliki tubuh besar bertenaga kuda kini terlihat gemetar sekujur tubuh, Wajahnya yang terkesan dominan dan tampan menampakkan kesedihan yang begitu dalam. Sekitar matanya memerah bahkan pucuk hidungnya ikut memerah, gerai air matanya membasahi wajah maskulinnya itu. Perlahan pria itu mendekatkan wajahnya, mengecup lembut setetes air mata di sudut mata Aisya membuat tungkak leher jenjang Aisya memerah dan ia pun terpejam.
"Di saat Aku ingin menikah lagi, kenapa Kau baru kembali?" tanya Aisya menatap pilu.
"Kamu masih ingin menikahinya, hmm... padahal Aku sudah di depan Mu." jawab lembut pria itu, sembari membelai lembut kepala Aisya, berharap menerima sanggahan atau alasan. Pertanyaannya justru hanya mendapat tatapan sunyi, Aisya seakan mengatakan ya aku akan menikahinya.
Pupil matanya gemetar, tatapan lembut dan sayu pria itu telah berubah. Sorot matanya melirik tajam pada gaun putih pengantin yang kini Aisya kenakan. Perlahan tangannya meraih bagian gaun tepat di depan p******a milik Aisya kemudian mencengkramnya. Satu tarikkan brutal gaun bagian atas sobek sampai ke pinggang.
"kreekk.." suara gaun yang tersobek
"Plak!" tamparan keras menggema di kamar yang sunyi
"Apa yang Kau coba lakukan!" teriak Aisya menutupinya dadanya
Pria itu tersenyum tipis, lalu mendengus kasar memiringkan kepalanya menatap lekat-lekat Aisya. Ia tak percaya pada sikap malu-malu yang di tunjukkan Aisya saat ini. Secepat kilat pria itu menarik keatas kedua tangan Aisya menahannya hanya dengan satu tangannya.
"Ku bilang..hentikan kegilaan Mu sekarang." ucap tegas Aisya, tak didengar sama sekali. Pria yang ada di depannya malah tampak kepanasan, tungkak lehernya memerah, ujung telinga semerah tomat. Otot-otot tangan, leher sampai kening pria itu tampak muncul, ia menggila melihat sikap agresif Aisya.
"Kenapa istri Ku? aah! atau kamu bukan lagi istri ku, jangan berkhayal!" jawabnya diakhiri dengan tawaan kecil
Pria itu menarik paha kanan Aisya, menempelkan secara paksa ke arah pinggangnya lalu kembali merobek rok bagian kaki kanan Aisyah. Kini posisi Aisya tampak erotis, kedua tangan yang terikat diatas, dan satu kaki yang terangkat tanpa busana, bagian d**a yang hanya memperlihatkan bra berwarna pink muda. Pria itu menempelkan keningnya sekarang tidak ada jarak antara tubuh mereka, nafas panas mereka saling bersentuhan kearea wajah.
"Aku tahu semua hal tentang tubuh Mu, perlu Ku buktikan kejujuran ku sayang?" pria itu mulai menyentuh setiap detail tubuh Aisya dengan jemari lentik namun kasarnya menyentuh kulit lembut Aisya yang menimbulkan rasa geli.
"Ada delapan tahi lalat di tubuh mu, dari kecil sedang dan besar." ucapnya menatap menggoda, Aisya hanya bisa diam terpaku ia baru mendapati sosok pria itu yang berbeda.
"Satu telapak kaki kanan Mu, dua di paha atas mu, tiga di pinggang mu, empat di jari kelingking kanan, lima di tungkak leher, enam di bawah mata kanan, tujuh di hidung bagian atas dan yang trakhir dua boba besar Aku sangat menyukainya." satu demi satu pria itu memegang dan mencium setiap bagian yang ia sebutkan membuat Aisya menahan mati-matian desahan atas ulah suaminya.
2 jam yang lalu
pesta pernikahan digelar dengan megah banyak hiasan bunga, kupu-kupu yang terbuat dari kaca namun, hanya sedikit orang yang hadir dalam pesta itu.
Ruang pengantin wanita.. Aisyah berdiri di depan cermin ia tidak melihat seberapa bagus make up maupun gaun pengantin yang ia kenakan, matanya hanya menatap hampa ke pada gaun pengantin itu. Pintu ruangan terbuka, seorang wanita masuk dengan seluruh wajahnya yang tertutup.
"Kau tahu Listya.. Aku berharap Kamu datang untuk menghentikan pernikahan ini." ucap Aisya masi menatap hampa sosok dirinya di cermin
"Apa bisa?" jawab Listya tersenyum tipis
"Bagaimana pun ini pernikahan Mu, Aku harus datang walau Ku berharap tidak ada momen ini. Namun, Kamu harus menikahinya dengan begitu Ku baru bisa menikahinya juga. Tapi ingatlah..Mungkin sosok istri baginya adalah diri Mu namun, hanya Aku yang akan menjadi istrinya secara sah." ujar Listya dengan nada lembut tetapi mengandung serpihan kaca yang tajam. Ia meletakkan sebuah kotak yang berisi sapu tangan berwarna hitam melambangkan perpisahan atau duka.
Aisya, tersenyum melihat hadiah yang diberikan oleh sahabatnya tak ada rasa marah dalam dirinya justru rasa tak bahagia yang kini tampak di wajahnya. Saat dirinya membuka mata ia sudah berada di ujung altar, yang tepat di akhir altar itu berdiri sosok pria tampan bermata biru sedang tersenyum hangat mengenakan pakaian pengantin.
"Tirtayasa, haruskah kita sampai sejauh ini?" arti dari tatapan Aisya yang menatap dari kejauhan sosok Tirtayasa
"Ya, Kamu tidak boleh mundur kita sudah sejauh ini jangan balikkan tubuh Mu. Kemarilah kumohonn.." balas tatapan Tirtayasa yang mengetahui ada keraguan di hati Aisya
Kekhawatiran Tirtayasa lenyap ketika melihat Aisya perlahan berjalan ke arahnya, musik dan segala persiapan indah di altar pernikahan mulai menghiasi acara itu. Mereka saling berhadapan sekarang giliran sumpah pernikahan. Terdengar suara pecahan kaca yang berada di luar ruangan.
Aisya dan Tirtayasa melirik ke arah bayangan pintu masuk, bayangan gelap pria bertubuh besar dan kekar perlahan memasuki altar pernikahan mereka, Degh! seketika jantung Aisya berhenti berdetak matanya tak asing dengan sosok pria yang berdiri di ujung altar itu dengan seragam serba hitam, pistol dan pisau khusus yang menempel dibagian sisi kanan kiri kaki jenjangnya.
Mata pria itu menatap tajam sosok Aisya yang tampak syok, Para tamu terdiam bisu keadaan menjadi hening seketika, Tirtayasa segera berdiri didepan Aisya menutupi dengan tubuh besarnya. Kini Tirtayasa saling bertatapan dengan pria yang menghancurkan pesta pernikahannya. Pria itu tampak kesal urat di keningnya dan sorot matanya membuktikan kemarahan yang mencoba ia tahan.
Pertahanan itu runtuh ketika Tirtayasa memegang tangan Aisya, tanpa pikir panjang ia mengeluarkan pistol dan berjalan dengan langkah besar. Pria itu mulai menarik suara pelatuk berdenting, peluru terseret masuk dengan bunyi gesekan logam tipis, para tamu berlari berhamburan teriakan mereka membuat rungan yang awalnya sunyi kini terasa kacau.
Langkah pria itu berhenti, moncong pistolnya mengarah tepat di kening Tirtayasa di ruangan yang luas itu kini hanya tersisa mereka bertiga. "Sayangnya peluru Ku hanya tersisa 2, tapi Ku pastikan itu cukup untuk mu." ucap Angger Aryo Adhiwira