“Atur senyum kamu! Jangan cemberut di depan orang-orang!” tegur Reza.
“Aku juga sudah berusaha. Jangan bawel, deh!” bisik Laura kesal pada suaminya.
Pesta pernikahan Reza dan Laura digelar cukup meriah. Semua urutan acara satu persatu pun sudah selesai dilaksanakan. Kini Reza dan Laura sudah resmi menjadi suami istri di mata hukum, negara dan di mata masyarakat. Laura seketika tidak bisa berkata-kata, bahkan raut wajahnya pun tidak bisa diatur ceria seperti biasanya.
Jujur saja ia merasa benar-benar gugup karena mulai hari ini statusnya berubah menjadi seorang istri, meskipun istri di atas kertas dan setahun kemudian ia harus bersiap dan ikhlas menerima statusnya sebagai seorang janda. Bagaimana ia bisa mengatur wajahnya agar bisa tersenyum saat ini? Meski ia berusaha, tetap saja kecemasan di raut wajahnya tidak bisa disembunyikan.
Dan pertengkaran-pertengkaran pun terus terjadi di masa-masa menuju ke pesta pernikahan yang dihelat hari ini. Namun, Laura dan Reza selalu membayangkan profesi mereka di tengah pertengkaran dan perdebatan mereka sehingga mereka bertahan dan tetap melanjutkan pernikahan kontrak mereka. Itu juga salah satu hal yang membuat Laura benar-benar cemas karena setahun ke depan ia pasti akan sering berkonflik dengan suaminya.
“Usahakan untuk tersenyum lebih lebar lagi! Nanti dikira orang aku yang tergila-gila sama kamu, aku yang memaksa kamu menikah denganku. Soalnya aku dari tadi senyum-senyum melulu, sedangkan kamu cemberut terus,” omel Reza lagi sambil mendekatkan bibirnya di telinga istrinya, pura-pura berbisik mesra.
Dengan kesal Laura memejamkan matanya, kemudian berusaha tersenyum menatap para tamu yang ada di depan sana, berusaha melebarkan senyum terindahnya. Semoga saja ia bisa bertahan hingga pesta ini selesai. Sungguh rasanya ingin berteriak dan memaki serta memarahi laki-laki mengesalkan yang sudah bertatus sebagai suaminya.
Bagaimana tidak? Laura baru mengetahui kalau suaminya adalah tipikal yang suka menyindir. Reza tidak pernah mengeluarkan kata-kata kasar padanya. Namun, kata-kata yang keluar dari bibir suaminya jauh lebih menyakitkan dibanding kata-kata yang keluar dari mulutnya. Kalau dirinya kasar dan cenderung blak-blakan, Reza lebih ke lembut penuh sindiran. Terkesan jarang bicara, tapi ketika sudah berbicara sungguh hatinya kesal dan geram, terutama ketika Reza mulai membandingkannya dengan Liora.
Dua minggu ini misalnya, tidak pernah sedetik pun Laura mendengar suaminya tidak membandingkannya dengan sahabat akrabnya tersebut. Belum lagi ia harus menahan iri mendengar ucapan Reza yang selalu memuji-muji Liora di depannya.
“Nah, gitu dong!” ujar Reza ikut tersenyum menyapa para tamu dengan sorot mata dan gerak tubuhnya.
“Bagaimana keadaan kamu, Menantu?” sapa Mira yang tiba-tiba saja sudah berada di dekat Reza dan Laura yang sedang bersanding di pelaminan.
“Aku baik-baik saja, Ma.”
“Kaki kamu?” tanya Mira lagi.
Laura spontan melihat ke arah kakinya dan mencari tahu apa ada yang aneh di sana.
“Tidak ada apa-apa, Ma. Tidak ada masalah,” sahut Laura polos.
Mira spontan tertawa melihat reaksi yang ditunjukkan oleh menantunya.
“Maksud Mama kaki kamu pegel nggak? Sepatu kamu itu nggak main-main lho tingginya.”
Laura tersipu malu, menyadari kepolosannya.
“Ah, itu ... nggak, apa-apa, Ma! Aku sudah terbiasa pakai sepatu tinggi, kok.”
“Masuk akal, sih! Soalnya kamu adalah wanita karir. Namun, biarpun wanita karir juga tetap aja kaki kita pegal, kan? Ya, nggak, Dena?”
Dena yang sudah berada di dekat Mira pun, menimpali perkataan sahabat plus besannya tersebut.
“Tentu saja. Paling enak itu pakai flat shoes. Itu jauh lebih santai dan kaki kita juga nggak sakit ataupun lelah, tapi balik lagi itu nggak cantik sama sekali buat wanita karir seperti kita.”
“Iya, itu bener banget,” sahut Mira tertawa.
Reza benar-benar lelah. Ia ingin segera beristirahat. “Kapan pestanya selesai, Ma?” tanya Reza pelan.
“Kenapa? Kamu yang lelah, ya?” tanya Mira geli.
“Bisa dibilang gitu, Ma. Ternyata lelah juga berdiri setengah hari.”
“Pestanya, sih, sudah usai. Para tamu juga sedang menikmati momen kebersamaan mereka. Ada yang mencari celah untuk mendapatkan klien baru, ada yang sedang menikmati sajian dan tidak akan mempedulikan kalian berdua lagi karena mereka sudah pada bersalaman sama kalian. Tinggal satu lagi acaranya, yaitu dansa pengantin.” Mira menerangkan.
“Bisakah itu diskip, Ma?” pinta Reza.
“Lho, kenapa? Bukannya itu puncak acara sebuah pesta pernikahan?” tanya Mira heran.
“Aku kelelahan dan istriku juga pasti sudah pegal berdiri dengan high heelsnya,” kilah Reza mencari alasan.
“Nggak bisa gitu, dong! Pesta pernikahan tidak akan lengkap tanpa dansa pengantin dan wedding kiss. Kamu, kok, kayak nggak cinta sama istri kamu? Apa kamu nggak ingin menunjukkan pada seluruh tamu kalau kamu begitu mencintai istri kamu?” Mira sengaja memojokkan putranya agar mau berdansa dengan menantunya.
Dan benar saja, Reza benar-benar mati kutu. Dia tidak mungkin mengatakan tidak satu kali lagi karena itu pasti akan membuat mamanya curiga. Mau tidak mau ia menatap Laura, memohon dengan matanya untuk melakukan permintaan sang mama.
Laura sebenarnya sangat keberatan, tapi ia juga tidak ingin sandiwaranya diketahui oleh orang tuanya. Dengan terpaksa ia tersenyum lebar dan pura-pura mengomeli suaminya lalu memanggil suaminya dengan panggilan mesra.
“Mama benar. Nggak mungkin ‘kan kita nggak dansa di depan para tamu? Kita pengantinnya, Sayang? Jarang-jarang juga bisa dansa kayak gini. Belum tentu di hari lain kita bisa dengan kesibukan kita masing-masing.”
Reza akhirnya tersenyum lebar, kemudian berusaha untuk menunjukkan kasih sayangnya pada Laura dengan pura-pura semangat memegangi pinggangnya lalu mengucapkan kata sayang yang sebenarnya membuatnya mual.
Namun, mau tak mau Reza harus melakukan itu. Dokter rupawan itu ingin menunjukkan pada mamanya kalau ia benar-benar mencintai Laura.
“Maafin aku, ya, Sayang! Aku nggak ke pikiran sampai sana karena aku tipikal laki-laki serius.”
Laura tersenyum, menahan rasa jijik di hatinya karena harus berpura-pura mesra dengan suaminya di depan orang tuanya. Tidak pernah mereka bayangkan akan melakukan hal-hal seperti ini di depan umum.
“Kalau gitu kami ke lantai dansa dulu, Ma. Nanti para tamu udah keburu pulang lagi,” seloroh Reza bersiap mengajak istrinya meninggalkan mama mereka.
“Tunggu!” panggil Mira menghentikan langkah putranya.
Reza menoleh lalu bertanya pada mamanya. “Kenapa, Ma?”
“Mama ingin memberitahukan kalau kalian akan menginap di kamar di hotel ini malam ini. Besok kalian baru boleh pulang ke rumah. Rencananya kalian mau tinggal di mana?”
“Baik, Ma,” sahut Reza tak punya alasan untuk menolak permintaan sang mama walaupun ia malas karena harus sekamar dengan si bawel Laura.
“Seperti yang kami bicarakan waktu itu, Ma. Aku akan tinggal di rumah Laura karena istriku ini tidak mau tinggal di apartemen karena semua perabotannya, alat-alat untuk salonnya serta saat ada barang branded datang, Laura akan menyortirnya di rumahnya. Sedangkan kalau itu dibawa ke apartemen, pasti nggak bakal muat,” kilah Reza mencari alasan.
“Oke, kalau gitu kami akan berkunjung setiap saat. Siap-siap saja, ya, dengan kunjungan kami yang tidak terduga-duga!” ucap Mira tertawa.
Laura dan Reza tersenyum, kemudian langsung naik ke lantai dansa. Mereka ingin segera menuntaskan pesta pernikahan pura-pura ini secepatnya.
“Bisa nggak jangan terlalu rapat?” omel Laura kesal saat Reza memaksanya menempelkan tubuhnya merapat padanya.
Reza mendengus kesal. “Ya, mana bisalah? Yang namanya dansa pasti saling merapat satu sama lain. Kenapa kamu nggak nolak saja tadi? Kamu ‘kan bisa pura-pura sakit, pura-pura pegal, biar nggak dipaksa oleh mama?” sindir Reza.
“Eh, kamu pikir aku bisa melakukan itu? Kalau sejak awal aku sudah terlihat kesakitan, mungkin aku bisa berpura-pura kelelahan dan menolak dansa sialan ini. Tapi kamu tahu sendiri, kan, mama sejak awal menatap kita terus? Mereka tahu persis kalau aku baik-baik saja. Nggak mungkin ‘kan pas waktu mau dansa aku pura-pura sakit?” omel Laura berapi-api.
“Sudah, jangan berisik! Kita masih diawasi oleh mama dan satu lagi. I am not gonna kiss you in the lips karena aku tidak akan mungkin bisa mencium wanita yang tidak aku cintai,” bisik Reza, menyulut emosi Laura.
“Sialan kamu! Kamu pikir aku mau dicium sama kamu? Amit-amit! Aku mau jaga bibir dan seluruh tubuhku untuk suami yang aku cintai nanti,” desis Laura kasar.
Reza benar-benar lelah menghadapi sikap Laura. “Aku nggak mau berdebat dengan kamu, Laura. Aku hanya memberitahu supaya kamu nggak kaget saat tiba-tiba aku mencium kening kamu nanti. Ini hanyalah ritual yang harus dilakukan oleh pasutri di depan umum di pesta pernikahannya. Setidaknya aku akan menunjukkan kasih sayangku padamu di depan para tamu. Jadi, nggak kelihatan banget kalau kita ini bohong.”
Mau bagaimana lagi? Meski berat, Laura harus menuruti kata-kata suaminya karena hari ini adalah hari di mana ia mengumumkan pada dunia bahwa dirinya sudah resmi menjadi seorang istri dari seorang dokter kandungan yang bernama Reza.
“It’s up to you. Asal jangan lama-lama! Jangan sampai aku kebablasan mendorong tubuh kamu!”
Reza tersenyum miring, meremehkan Laura. “Jangan terlalu GR, Laura! Tidak mungkin aku menginginkan skinship darimu.”
“Dasar b******k!” maki Laura geram.
Reza menatap lamat-lamat wajah Laura lalu mengultimatumnya. “Jaga suara kamu! Mari kita lanjutkan dan selesaikan semuanya secepatnya!”
Bersambung ...