Perdebatan

1770 Kata
“Apa Mama yakin ingin meneruskan semua ini?” tanya Evan menatap serius istrinya sambil memegangi tangannya. Saat ini mereka akan bersiap-siap berangkat ke kediaman Dena, orang tua Laura di mana calon besannya tersebut sudah menyiapkan jamuan makan malam untuk mereka dan juga untuk putranya yang akan menyusul ke sana untuk membahas pesta pernikahan yang akan diselenggarakan dua minggu lagi. Mira sudah bertekad akan menjadikan Laura menantunya selamanya sehingga ia benar-benar tidak ragu untuk menuruti semua permainan yang putranya mulai. “Kenapa? Apa Mama terlihat tidak yakin?” Mira balik bertanya. “Bukan itu, Ma. Papa benar-benar takut kita menjerumuskan putra kita ke sebuah pernikahan yang akan menyengsarakannya.” Evan mengkhawatirkan putranya. “Mana mungkin kita membuat putra kita sengsara, Pa. Papa belum pernah ketemu sama Laura, sih! Dia benar-benar cantik dan cerdas, memiliki usaha, benar-benar mandiri. Dia seorang wanita karir yang sukses yang membuat Mama takjub.” “Tapi ‘kan harus ada rasa cinta di antara mereka, Ma?” Evan terus berusaha menggoyah hati istrinya agar membatalkan pernikahan yang menurutnya terlalu tergesa-gesa. Mira mencebik pada suaminya. “Apa kita berdua waktu itu menikah karena cinta?” “Tapi ‘kan Papa akhirnya cinta sama Mama?” “Itu juga yang akan terjadi pada putra kita tepat ketika mereka serumah nanti. Mama pastikan mereka pasti akan saling memperhatikan satu sama lain dan cinta lama-lama akan tumbuh di antara mereka,” tandas Mira yakin. “Tapi, Mama ‘kan bilang sama Papa kalau kemungkinan mereka hanya akan menikah kontrak? Itu yang bikin Papa cemas, Ma.” “Karena itulah Mama sudah punya banyak rencana yang membuat mereka tidak akan hanya menikah kontrak saja,” seru Mira tersenyum lebar. “Maksud Mama?” Evan mengernyitkan kedua alisnya kebingungan. “Mama belum bisa cerita detailnya sekarang. Setelah mereka resmi menikah baru Mama akan cerita.” “Apa, sih, Ma? Kok, main rahasiaan sama suami sendiri?” seru Evan memeluk pinggang sang istri dari samping lalu menatapnya serius. “Bukan Mama ingin main rahasia-rahasiaan sama Papa. Mama hanya ingin merencanakan semuanya dengan matang karena salah sedikit saja, semuanya gagal dan Laura tidak akan menjadi menantu kita selamanya, Pa,” jelas Mira tertawa sambil mendaratkan kecupan di bibir suaminya, merayunya agar tidak ngambek padanya. “Mama pastikan Reza tidak akan mungkin bisa menceraikan Laura jika rencana Mama berhasil.” Evan benar-benar penasaran dengan apa yang akan dilakukan istrinya. Yang ia tahu, istrinya benar-benar cerdas luar biasa dan memiliki banyak trik dan tips, termasuk untuk membuatnya jatuh cinta dulunya, mengingat dirinya dan istrinya menikah karena perjodohan orang tua di mana saat itu dirinya sudah memiliki seorang kekasih. Dan hebatnya istrinya berhasil membuatnya menoleh ke arahnya. Setelah Evan telusuri ternyata istrinya sudah memendam cinta padanya sejak lama dan pengorbanan serta perjuangan sang istri memang sukses membuatnya jatuh cinta pada istrinya tersebut dan melupakan mantan kekasih yang tidak direstui oleh orang tuanya. Apakah trik-trik ketika ia masih muda dulu akan istrinya terapkan pada pernikahan putranya? “Jangan aneh-aneh, ya, Sayang!” tegur Evan mengingatkan istrinya. Mira tertawa renyah. “Lho, aneh-aneh juga nggak masalah karena mereka sudah menikah ‘kan, Pa? Mama akan membuat putra kita tergila-gila pada istrinya.” “Bagaimana caranya, Ma?” tanya Evan penasaran. “Mama tidak tahu persis gimana. Yang jelas Mama akan lihat dulu gimana reaksi mereka berdua pasca Mama menjalankan rencana Mama. Mama akan mencoba segala macam cara. Namun, Mama harap Laura dan Reza memiliki perasaan satu sama lain secara alamiah nanti sehingga Mama tidak perlu repot mengatur hal-hal gila lainnya untuk membuat mereka jatuh cinta.” Evan geleng kepala. Namun, ia mempercayai istrinya karena istrinya tidak akan mungkin menyengsarakan putranya sendiri. “Baiklah, Papa percaya sama Mama. Papa yakin Mama tidak akan mungkin membuat putra kita menderita.” “Tentu saja,” sahut Mira tersenyum penuh keyakinan. “Mama akan membuat putra kita tidak menyesal memilih Laura menjadi istrinya. Pegang kata-kata Mama! Pernikahan ini akan berlangsung selamanya hingga akhir hayat mereka.” *** “Here we go ...!” seru Laura ketika ia dan Reza sampai di kediaman mamanya. Laura sengaja meminta Reza untuk menjemputnya di kediamannya sekaligus mengajak calon suaminya tersebut berkeliling rumahnya di mana mereka akan tinggal selama 1 tahun ke depan. Kemudian setelah puas house touring, Laura bersama-sama dengan Reza langsung menuju ke rumah orang tuanya di mana akan ada pertemuan dua keluarga yang akan membahas soal pesta pernikahan yang akan segera digelar dalam waktu dekat. “Ini kediaman Mama kamu?” tanya Reza mengonfirmasi. Ia takjub melihat sebuah mansion besar yang hampir sama dengan kediaman orang tuanya. Bertambah yakinlah Reza kalau mama mertuanya setipe dengan mama kandungnya alias memiliki power untuk mewujudkan apa saja yang mereka mau. “Mansion mama kamu besar, ya!” celetuk Reza pelan. Laura menoleh heran. “Emang kediaman mama kamu nggak sebesar ini?” “Kurang lebih sama, tapi aku lebih memilih tinggal di apartemen sementara mama tinggal sama papa bersama adik perempuanku,” terang Reza. “Kamu punya adik perempuan?” “Punya,” sahut Reza cepat. “Dia pasti cantik kayak mama kamu,” tebak Laura yakin. “Memang.” “Apa pekerjaannya?” tanya Laura ingin tahu. “Dia masih kuliah di semester akhir. Sepertinya dia yang akan menggantikan papa karena kuliahnya mengambil jurusan bisnis sama seperti papa.” “Ya, mau bagaimana lagi? Kamu harus merelakan perusahaan papa kamu direbut oleh adikmu sendiri,” seloroh Laura gamblang. “No problem. Aku lebih rela dia yang mengambil alih perusahaan daripada orang asing karena aku memang sejak awal tidak menginginkan menjadi seorang CEO. Aku sudah memilih profesiku sebagai seorang dokter. Aku sama sekali tidak tahu urusan bisnis dan tidak mau tahu juga,” papar Reza. “Papa kamu pasti begitu kecewa karena keputusan kamu.” “Papa tidak begitu kecewa padaku. Mama yang sangat kecewa dengan keputusanku dan mama adalah orang yang paling menyeramkan yang pernah aku lihat seumur hidupku.” “Ya kurang lebih sama dengan mamaku,” tukas Laura. “Iya, kayaknya. Aku nggak tahu kadarnya. Yang jelas mamaku juga bisa melakukan segalanya. Dia super nekat, Laura.” “Kurasa sama saja, Reza. Itulah kenapa mereka berdua bisa akrab. Mamamu dan mamaku memiliki karakter yang sama. Mereka berpikir dari sisi mereka sendiri kalau pernikahan adalah yang terbaik bagi kita, padahal kita yang akan menjalaninya. Namun, apa pun itu kita harus menghadapi semuanya dan ingat kamu harus benar-benar memegang janji kamu. Jangan pernah menyentuhku ketika kita sedang berdua saja! Jangan pernah mengambil keuntungan dariku!” Reza merasa tersinggung dengan penegasan Laura. Siapa juga yang sudi menyentuhnya? “Skinship hanya akan kita lakukan di depan keluarga kita,” sambung Laura kembali menekankan. “Iya, harus berapa kali kamu bilang? Kan, aku sudah tahu?” sungut Reza kesal. “Kenapa kamu jadi sewot? Aku ‘kan hanya mengingatkan? Biar bagaimanapun kamu 'kan laki-laki?” “Kamu pikir aku laki-laki apaan?” “Lho, kenapa kamu marah? Wajar ‘kan aku berkata demikian karena faktanya, sekalem-kalemnya laki-laki kalau melihat wanita terus-terusan berhari-hari, bisa jadi kamu bisa khilaf juga ‘kan?” tukas Laura sengit. “Astaga, mulut kamu kasar banget, ya!” keluh Reza tak habis pikir. “Kan, sudah aku bilang aku memang bawel dan cerewet plus blak-blakan? Kamu harus benar-benar sabar menghadapi sikapku. Aku tidak mau ditekan dan aku tidak mau berdebat.” Reza tercengang. “Dia memang benar-benar berbeda dengan Liora. Sekeras-kerasnya Liora, tapi tidak sekeras ini kalau berbicara dengan orang lain. Liora masih memiliki sisi lembut dan suka bercanda. Aku tidak tahu apa wanita barbar ini bisa bercanda. Sepertinya dia selalu bicara dengan nada tinggi. Bahkan di depan mamanya pun ia berkata begini. Gila! Apa aku tak salah langkah memperistri dia?” keluh Reza dalam hati. “Kamu nggak bisa, ya, melembutkan suara kamu saat sedang berbicara dengan orang lain?” Laura naik darah mendengar kata-kata berbau protes dari dokter kandungan yang akan jadi suami kontraknya tersebut. “Nggak usah mengaturku, deh! Aku sejak dulu memang kayak gini. Kemandirianku yang membuat aku menjadi tegas seperti ini. Kamu nggak akan bisa mengaturku dan aku juga ga sudi diatur-atur.” Laura menaikkan nada suaranya lebih tinggi dari yang tadi. Reza menghela nafas. “Ya, mau bagaimana lagi? Aku tidak bisa memaksa kamu jadi seperti Liora, kan?” seloroh Reza santai semakin menyulut emosi Laura. “Jangan bandingkan aku dengannya!” sembur Laura geram. “Aku nggak berniat membandingkan, tapi ‘kan aku mengenal kalian berdua, terutama Liora? Tentu saja aku langsung membayangkan dan tak sengaja membandingkannya denganmu. Bagaimana mungkin wanita semenyenangkan Liora bisa berteman dengan kamu?” ceplos Reza jujur. Laura makin meradang. “Sialan! Apa ada masalah denganku?” “Kamu itu terlalu kasar untuk ukuran wanita. Bahkan kamu biasa bicara dengan nada yang cukup tinggi dengan mamamu.” “Kenapa memangnya? Kamu ingin berubah pikiran? Kamu nggak jadi menikah denganku karena sifatku? Kan, sudah aku bilang tahan-tahan saja dengan sifat asliku? Aku tidak bisa bicara manis karena aku bukan seorang yang munafik.” “Jadi orang sebaik Liora kamu anggap munafik?” Reza tak sadar pertanyaan-pertanyaan yang ia lontarkan kian menyulut emosi Laura. “Kenapa kamu bawa-bawa Liora terus, sih? Jangan mentang-mentang dia mantan pacar kamu, maka kamu bebas membanding-bandingkannya denganku.” “Kalaupun aku membanding-bandingkannya denganmu, apa masalahnya? Kita ‘kan nggak ada perasaan apa-apa?” sungut Reza kesal. “Bukan soal perasaan, tapi aku juga punya harga diri. Meski dia sahabatku, jangan pernah membanding-bandingkan kami, sifat kami, karir kami dan kebiasaan kami karena kami adalah dua orang yang berbeda, ngerti kamu! Sekarang pilih, kamu mau tetap melanjutkan pernikahan ini denganku atau tidak! Karena sepertinya kita akan mengalami konflik panjang kalau ini diteruskan!” tegas Laura garang. Hati Reza seketika ketar-ketir mendengar ancaman dari Laura. Tidak pernah ia duga di hari besar di mana dirinya akan bertemu dengan kedua pihak keluarga, ia malah berdebat habis-habisan dengan Laura. Apa masalah wanita ini? Kenapa dia begitu ngotot dan marah ketika dirinya membandingkannya dengan Liora? Wajar ‘kan kalau dia membandingkan dua orang wanita yang tiba-tiba hadir dalam hidupnya? Namun, Reza tidak mau memperpanjang urusan karena ia sudah kepalang tanggung saat ini. Reza sudah berada di depan rumah calon mertuanya dan kemungkinan orang tuanya juga akan sampai sebentar lagi. Sebaiknya ia mengalah. Setelah menikah nanti baru Reza akan mengatur poin-poinnya agar Laura tidak sewenang-wenang padanya. “Oke, fine. Sorry, aku akan berusaha nggak berdebat sama kamu lagi. Sekarang mending kita turun. Ubah raut wajah kamu! Ingat, kita menikah demi profesi kita! Jadi, apapun sifat kita, kita berdua harus menghadapi dan memaklumi satu sama lain. Aku memiliki sifat yang mungkin kamu tidak sukai, begitu pun aku yang tidak menyukai sifat kasar kamu. Namun, apa pun itu aku bersedia menikah dengan kamu selagi aku bisa mempertahankan profesiku.” Bersambung ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN