Meminta Dukungan Reno dan Firza

1762 Kata
“Sayang, kamu tadi kenapa tersedak?” tanya Frans ketika dua sahabat istrinya sudah pulang meninggalkan istrinya di restoran di sekitar kediamannya. Sesungguhnya kehadiran dua sahabat Liora memang benar-benar mengganggu waktunya dan istrinya. Namun, karena Frans sudah pernah berjanji akan menuruti semua kata-kata istrinya dan memberikan ruang untuk bernafas di mana istrinya sesekali masih ingin bertemu dengan dua sahabatnya pasca menikah, maka Frans dengan sangat terpaksa mengikuti istrinya untuk menemui sahabatnya. Dan dirinya tadi hampir saja menghambur ke meja istrinya dan para sahabatnya ketika melihat istrinya tersedak. Bukan hanya itu, Frans juga melihat istrinya terlihat benar-benar emosi ketika berbincang dengan Laura, salah satu sahabatnya. Frans benar-benar takut itu akan mempengaruhi emosional istrinya yang sedang hamil 7 bulan. Karena itulah saat ini ia mengajak istrinya segera pulang dan menemaninya bersantai di balkon belakang sambil memijat kaki istrinya yang pastinya kelelahan. Liora menghela nafasnya, benar-benar pusing juga merasa cemas akan nasib sahabatnya. “Sahabatku Laura akan menikah, Sayang.” Frans mengernyit heran. “Lho, kenapa kamu tampak begitu sedih mendengar sahabatmu mau menikah? Bukannya doa kamu terkabul karena saat kita menikah di mana kamu melempar buket bunga pengantin kamu yang akhirnya bisa ditangkap oleh Laura? Bukankah saat itu kamu berdoa agar Laura segera menyusul kita menikah?” “Aku senang kalau dia memang menikah karena cinta.” Liora kembali menghela nafas lelah. “Emang dia nggak menikah karena cinta?” tanya Frans heran. “Dia menikah karena terpaksa, Sayang.” “Hah!? Masa?” “Iya, Sayang. Aku sudah pernah bilang ‘kan kalau Laura dijodoh-jodohkan oleh mamanya dan yang paling membuatku terkejut Laura akan menikah dengan Reza.” “Reza? Reza mana?” tanya Frans memastikan. “Reza sahabat kamu,” jelas Liora. “Reza mantan kamu?” Frans mengonfirmasi sambil cemberut. Liora mencebik. “Yeee, nggak usah dibahas lagi masa laluku, Sayang.” “Maaf, Sayang. Tapi kamu serius Reza yang akan menikah dengan Laura?” “Iya, makanya aku jadi pusing sekarang.” Frans tiba-tiba merasa cemburu karena melihat sorot keberatan di mata istrinya. Kenapa? Apa istrinya cemburu dan tidak rela Reza menikah dengan Laura? “Kenapa kamu sepertinya tidak rela Reza menikah dengan Laura, Sayang? Jangan katakan kalau kamu cemburu padanya, ya!” “Astaga, Sayang! Lihat ini!” ujar Liora menunjuk perutnya yang buncit. “Anak siapa yang sedang aku kandung?” “Anakku,” sahut Frans langsung mengecup perut sang istri. “Nah, bagaimana kamu bisa berpikir kalau aku bisa mencintai laki-laki lain sedangkan aku sedang mengandung anak kembar kita, anak kembarmu, benihmu?” seru Liora geleng kepala. “Habisnya kamu menunjukkan sorot keberatan di mata kamu, sih?” celetuk Frans sebal. “Bukan itu masalahnya. Aku bukan khawatir pada Reza saja, tapi aku khawatir pada sahabatku. Aku benar-benar tidak habis pikir bagaimana mereka berdua bisa memutuskan untuk menikah kontrak selama 1 tahun.” “Hah!? Pernikahan kontrak?” seru Frans tercengang. “Kamu terkejut ‘kan?” Liora lalu menceritakan semua yang disampaikan Laura secara detail pada suaminya. Alhasil, Frans benar-benar menganga tak percaya dengan apa yang ia dengar. “Kamu syok ‘kan?” “Gila! Apa benar mama mereka kayak gitu?” Frans tak percaya rasanya. “Bener, Sayang. Mereka menikah karena ingin mempertahankan karir mereka. Itu yang bisa Laura simpulkan dan itu benar-benar tidak baik. Selain sahabat kamu, aku juga benar-benar mencemaskan kebahagiaan Laura. Aku benar-benar takut mereka akan menderita menjalani pernikahan ini dan akan tersiksa di dalamnya.” Frans langsung memeluk istrinya lalu menepuk punggungnya pelan. “Sudahlah, Sayang! Nggak usah kamu pikirkan. Aku benar-benar nggak mau anak kita terganggu gara-gara kamu kepikiran soal ini. Reza sudah cukup dewasa untuk memutuskan sesuatu bagi hidupnya. Kita lihat saja bagaimana akhirnya!” “Tapi ....” “Udahlah, Sayang! Aku yakin mereka akan baik-baik saja. Seperti kebanyakan cerita, baik itu di drama, sinetron ataupun di dalam novel, kebanyakan pernikahan kontrak akan menjadi pernikahan sesungguhnya,” ujar Frans menjeda ucapan istrinya sambil menenangkannya. “Iya, kalau itu memang terjadi. Aku akan senang hati. Aku takutnya mereka berdua memang akan memutuskan bercerai. Aku benar-benar tidak rela sahabatku menyandang status janda, Sayang.” Frans memeluk istrinya erat-erat. “Kita doakan saja yang terbaik, Sayang. Aku yakin baik Reza maupun Laura akan saling mencintai kalau sudah satu rumah. Mau tidak mau mereka akan selalu berinteraksi, kan? Pegang omonganku! Mereka berdua tidak akan bercerai. Mereka berdua akan menjadi pasangan sesungguhnya.” Frans meyakinkan. “Semoga saja. Semoga semua doamu terwujud karena kalau tidak, alangkah menderitanya sahabat kita.” *** Untuk pertama kalinya dalam kurun masa 6 bulan, Reza akhirnya bisa sedikit tertidur nyenyak. Selama ini ia benar-benar gelisah karena harus mempersiapkan diri menghadapi kencan setiap Minggu. Dan kini Reza benar-benar bisa bernapas lega karena mulai Minggu depan ia tidak akan bertemu dengan wanita mana pun lagi kecuali Laura. Reza sudah ikhlas menerima Laura sebagai partner in crime-nya, partner untuk membohongi orang tuanya demi menyelamatkan karir mereka berdua. Saat ini Reza bersiul riang mengendarai kendaraannya ke rumah sakit. Dokter tampan itu benar-benar tidak sabar ingin merawat pasien-pasiennya. Reza serasa mendapatkan sebuah energi baru karena ia tidak akan mendengarkan ocehan dari sang mama lagi dan akan mulai bekerja sama sebaik-baiknya dengan Laura. Harapannya Laura tidak akan begitu cerewet seperti wanita-wanita lainnya selama setahun ke depan dan akan tetap memberikan kenyamanan satu sama lain. “Hai, Za. Lo baru datang?” sapa Reno ketika Reza baru saja memarkirkan mobilnya. Tak lama kemudian, Firza pun turun dari mobilnya. “Hai, tumben kita ketemu di sini. Biasanya lo datang pas jadwal lo aja,” sapa Firza. “Gue sengaja datang cepat biar bisa ketemu dengan kalian karena jadwal kita sekitar jam 09.00 pagi, sedangkan jadwal Liora dan Frans jam 10.00 pagi. Itu artinya kita punya banyak waktu untuk bercengkrama dan berbincang-bincang sampai jadwal kita tiba,” ucap Reza. “Kenapa? Lo kangen sama kami?” seloroh Reno iseng. “Pastinya kangen, dong!” timpal Firza yakin. “Sebenarnya gue kangen sama kalian semua, termasuk sama Frans, tapi dia tidak akan mungkin bisa menjauh dari istrinya, sedangkan gue bener-bener nggak mampu ketemu istrinya lagi dalam waktu dekat,” lirih Reza jujur. “Sampai sekarang pun lo belum bisa move on juga dari Liora? Dia udah hamil 7 bulan, lho!” seru Reno tak habis pikir. “Mending kita bicarakan di atas aja, di rooftop. Gue enggak mau ini didengar oleh staf lain. Biar bagaimanapun juga Liora adalah menantu pemilik rumah sakit ini dan gue benar-benar enggak mau tersebar gosip aneh-aneh tentang mereka berdua. Bagaimana pun juga gue enggak pernah ingin menyingkirkan mereka berdua. Gue hanya butuh waktu untuk meredam perasaan gue sendiri pada Liora.” “Ya, udah, kita langsung naik aja ke atas! Kami benar-benar penasaran soal perasaan lo ke Liora,” ajak Reno cepat. “Gue enggak akan bicara soal Liora saat ini.” Reza menyampaikan. “Terus ngapain, dong, kita di atas?” tanya Firza. “Gue mau bicara soal pernikahan gue.” “Hah!?” seru Firza dan Reno kaget. “Lo mau nikah? Semendadak ini? Yang bener aja, Reza?” tandas Reno tak percaya. “Makanya kita ke atas, biar gue bisa bicara lebih leluasa,” tambah Reza. Dengan terburu-buru Reno langsung menarik lengan Firza dan Reza ke dalam lift. Ia benar-benar tidak sabar ingin mendengar cerita dari Reza, terkait pernikahan dadakannya. “Kita udah sampai sekarang dan masih terlalu pagi buat kita untuk minum es, kan? Apa mau pesan coklat hangat sekalian?” kata Reno cepat. “Nggak perlu, Reno. Sebaiknya kita bicara sebelum banyak orang. Kita ke sudut sana saja. Kita duduk di kursi lalu dengarkan apa yang akan gue sampaikan. Gue benar-benar butuh dukungan kalian.” Reza kemudian mengajak dua sahabatnya duduk di kursi panjang di ujung rooftop di mana mereka biasa berbincang-bincang lalu tanpa membuang waktu dokter rupawan itu menceritakan semuanya secara detail karena ia tidak ingin ada rahasia sama sekali terhadap sahabat-sahabatnya. “Apa? Apa lo serius?” tanya Reno tak bisa berkata-kata. “Gue nggak butuh penghakiman dari kalian berdua. Yang gue butuh hanya dukungan karena kalau kalian ada di posisi gue kalian pasti akan melakukan hal yang sama. Berat bagi gue untuk mengorbankan profesi yang sudah gue jalani selama ini. Menjadi dokter kandungan itu adalah passion gue sejak dulu dan gue benar-benar nggak mau hanya karena gue nggak mau menikah, gue harus melepas passion gue, melepas profesi gue dan menggantikan papa gue menjadi seorang CEO.” “Itu rasanya nggak worth kalo ditukar dengan pernikahan yang pastinya akan menyengsarakan lo,” ucap Reno menganalisa. “Nggak, kami akan membuat pernikahan itu tidak menyengsarakan karena wanitanya adalah Laura, sahabat Liora, yaitu wanita yang pastinya baik-baik, mengingat Liora juga adalah wanita baik-baik.” Reza menjabarkan. “Itu benar-benar beresiko, Za. Bagaimana kalau mama kalian tahu?” Firza mengkhawatirkan Reza. “Gue akan tinggal di rumah Laura. Jadi, tidak ada yang akan mengetahui rahasia kami. Dengan gue cerita kayak gini sama kalian berdua, gue percaya kalian berdua nggak mungkin bongkar rahasia gue sebagaimana kalian menjaga rahasia Frans soal kehamilan Liora dan soal terjebaknya Liora dan Frans dalam hubungan cinta satu malam mereka hingga berbuah manis di mana mereka akhirnya saling mencintai satu sama lain. Di situ juga gue percaya sama kalian berdua.” “Tapi masalahnya kami benar-benar nggak rela lo sengsara dalam pernikahan kontrak lo,” ujar Reno cemas. “Lo bukan sedang syuting drama, Za.” “Gue dan Laura sama-sama ingin menyelamatkan profesi kami aja. Jadi, nanti kami akan bekerja sama secara profesional. Bahkan kami tidak akan saling mengurusi makanan, minuman, dan cucian kami. Kami hanya akan bercengkrama dan bermesraan di depan orang tua kami saja. Itu nggak berat, kok. Setahun itu nggak lama. Yang penting Laura bisa menyelamatkan usahanya, sedangkan gue bisa menyelamatkan profesi gue. Please, jangan goyah keinginan gue lagi karena gue rela melakukan apapun demi profesi gue!” Reno dan Firza tidak bisa mengatakan apapun. Mereka hanya berharap yang terbaik bagi sahabatnya. Itulah yang mereka inginkan. Reno dan juga Firza lalu menepuk punggung Reza, kemudian mengangguk serempak. “Semoga saja lo enggak salah jalan, Bro. Semoga saja lo bisa melewati semua ini.” Reno mendoakan. “Makasih atas dukungan kalian. Gue jadi semangat untuk menjalani semuanya selama setahun ke depan. Satu lagi, tolong sampaikan kalau gue akan menikah pada Frans. Biar bagaimanapun juga dia adalah sahabat gue. Meskipun dia mungkin sudah tahu dari istrinya karena gue yakin Laura pasti sudah menyampaikan semuanya pada Liora, tapi gue ingin kalian menyampaikan juga dari sisi gue.” “Oke,” sahut Firza dan Reno sambil menganggukkan kepalanya. “Tolong juga sampaikan semua rencana gue akan menikah kontrak dengan Laura pada Frans agar dia tahu kalau gue nggak pernah benci sama dia.” Bersambung ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN