Kali ini Liora tidak tersedak, tapi menganga tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Benarkah sahabat akrabnya akan menikah dengan Reza, mantan kekasihnya, laki-laki yang saat ini belum bisa move on darinya hingga menghindarinya dan mengganti jadwal sedemikian rupa agar tidak bertemu dengannya dan suaminya di rumah sakit yang sama di mana mereka bekerja sebagai dokter kandungan?
“Yang bener lo?” ujar Aurel tak percaya.
“Lo nggak sedang main-main, kan, Laura?” tanya Liora mengonfirmasi.
“Apa lo pikir gue akan meluangkan waktu dan juga mengambil waktu lo yang begitu berharga hanya demi main-main?” Laura balik bertanya.
“Lo serius, Laura? Jangan bikin kami penasaran, dong!” Aurel ikut mengonfirmasi.
“Ini fakta. Yang gue bilang ini semuanya benar. Ini gue lakukan karena gue dan juga Reza sudah benar-benar jengah sama mama kami. Apa kalian tahu, tadi gue hampir dilecehkan oleh calon jodoh yang dipilihkan oleh mama gue?”
Laura memutuskan menceritakan apa yang ia alami tadi pagi dan menceritakan bagaimana Reza menyelamatkannya dari laki-laki b******k tadi hingga akhirnya memutuskan untuk melakukan hal gila plus menyampaikan persetujuan dari para mama yang benar-benar tidak pernah ia sangka bisa ia dapatkan di hari yang sama ketika ia dan Reza memutuskan untuk melakukan pernikahan kontrak.
“Gila! Lo benar-benar gila, Laura!” seru Aurel geleng kepala.
“Asli ... lo bener-bener gila kalo mau lakuin ini sama Reza. Apa kalian pikir nikah itu main-main? Kalau kalian tidak mencatatkan pernikahan kalian secara hukum, masih mending. Ini kalian benar-benar akan menggelar pesta mewah, membohongi orang tua kalian, berpura-pura jatuh cinta dan akan hidup serumah, apa itu masuk akal? Lo bukan sedang syuting drama Korea, Laura. Lo sendiri yang akan sengsara nanti.”
“Yang dikatakan oleh Aurel benar, Laura. Apa lo nggak pernah pikirkan dampaknya?”
“Bukannya Reza itu laki-laki baik-baik? Lo tahu dan bisa menjamin itu, kan?” Laura mengonfirmasi soal kebaikan Reza pada Liora.
“Dia laki-laki baik dan gentle, tapi sebaik-baiknya laki-laki kalau sudah serumah apalagi melihat kulit tubuh lo yang mulus yang kemungkinan ke depannya tidak sengaja terekspos, bisa saja ‘kan terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan? Biar bagaimana pun Reza itu pria normal, Laura.” Liora menekankan.
“Nggak mungkin. Reza nggak akan mungkin berani menyentuh gue. Lagian gue juga tidur di kamar yang berbeda. Kami memiliki kesibukan masing-masing. Bahkan gue udah bilang sama Reza untuk tidak saling mengurus sarapan ataupun cucian pakaian masing-masing. Itu semua akan jadi urusan kami sendiri. Yang perlu kami lakukan hanya tinggal di tempat yang sama, tapi kami tidak akan mencampuri urusan satu sama lain. Kami hanya akan berpura-pura mesra ketika mama datang ke rumah ataupun ketika kami berkunjung ke kediaman orang tua masing-masing. Hanya itu yang perlu kami lakukan dan itu hanya berlaku selama 1 tahun.”
“Apa lo yakin itu akan berlangsung hanya satu tahun? Bagaimana nanti ketika tepat waktu 1 tahun usai, kalian tetap tidak bisa bercerai?” ujar Liora menggambarkan situasi terburuk yang bisa dialami sahabatnya.
“Kenapa?” Laura tak paham maksud Liora.
“Bagaimana kalau orang tua kalian sudah benar-benar menaruh harapan pada kalian berdua dan membuat kalian tidak enak hati? Itu artinya kalian harus memperpanjang kontrak kalian ‘kan? Itu artinya kalian akan berpura-pura lebih lama lagi ‘kan?” ujar Liora emosi.
Dokter cantik yang sedang hamil 7 bulan itu tak sanggup membayangkan penderitaan sahabatnya tersiksa dalam sebuah pernikahan palsu.
“Lo kenapa jadi emosi gitu, sih? Lo cemburu sama Reza, ya?” sembur Laura kesal mendengar Liora meninggikan suaranya.
Liora yang memang dalam keadaan hamil tentu saja langsung tersulut emosinya. Bisa-bisanya sahabatnya menuduhnya demikian.
“Lo, kok, jadi nuduh gue gitu, sih? Sejak awal gue nggak pernah cinta sama Reza. Cinta gue hanya untuk suami gue doang. Jangan sembarangan ngomong, lo, ya!” cetus Liora berapi-api.
Aurel pusing melihat perdebatan dua sahabatnya dan berusaha untuk menengahi pertikaian di antara keduanya.
“Kalian apa-apaan, sih?” Aurel menatap Laura kesal.
“Lo juga, Laura. Lo bikin ibu hamil emosi, tahu nggak? Lihat, suaminya sudah menunjukkan gelagat aneh di sana! Bisa-bisa kita kena semprot sama Frans dan kita nggak bisa ketemu sama Liora lagi nanti,” omel Aurel geram.
“Habisnya Liora kayak nggak dukung banget, sih?” protes Laura kesal.
“Bukan hanya Liora yang nggak dukung lo. Gue juga nggak dukung, tahu lo? Pernikahan sakral malah lo anggap main-main, mana melibatkan dua keluarga besar juga terdaftar secara hukum dan negara lagi. Bahkan kalian akan menikah secara resmi, mengadakan pesta besar, mengikrarkan janji suci kalian di depan ribuan tamu. Itu gila, Laura,” tegas Aurel.
Laura mendesah kesal. “Gimana kalau lo berdua di posisi kami? Gue yakin lo pasti akan melakukan hal yang sama. Lo nggak tahu gimana gilanya mama kami berdua. Mereka nekat. Bahkan mereka sampai stalking kami berdua ketika kencan, makanya kami bisa meminta restu hari ini juga. Syukur mama kami nggak mendengar rencana kami apa tadi.”
“Separah itu?” tanya Aurel dan Liora serempak.
“Gue udah bilang kalo mama kami bisa melakukan apa saja. Dalam sekejap mata mama membangkrutkan usaha gue. Begitu juga Reza. Mamanya bisa sekejap mata mencabut izin tugasnya bekerja di rumah sakit dan dia tidak akan mungkin bisa bekerja di rumah sakit mana pun di dunia ini, sedangkan menjadi dokter kandungan itu adalah passionnya. Anggap saja kami sedang berusaha menyelamatkan karir kami di sini.”
Laura menegaskan keterpaksaannya menjalani pernikahan kontrak dengan Reza pada sahabatnya.
Aurel dan Liora membisu. Jika mereka di posisi Laura, pasti mereka juga akan melakukan hal yang sama.
“Gimana kalau kalian ngomong nggak mau menikah dalam waktu dekat?” usul Liora.
“Lo pikir mama kami bakal toleransi hal itu? Nggak, Liora. Mama gue dan Reza sama-sama nekat dan tukang maksa, mana mereka powerful, bukan sekedar seorang mama yang full ibu rumah tangga. Relasi mereka luas dan mereka bisa melakukan apa saja yang mereka mau dan selalu berhasil mendapatkan keinginan mereka.”
“Astaga!” Aurel dan Liora menutup mulut mereka dengan tangannya, tak menyangka kalau orang tua Laura dan Reza benar-benar menakutkan.
“Apa kalian pikir gue rela mengorbankan status single gue dan tiba-tiba harus menyandang status janda setahun kemudian? Gue nggak rela. Namun, gue relain, deh, dibanding gue harus ketemu dengan aneka laki-laki yang gue nggak tahu kapan berakhirnya. Yang jelas mama sudah bilang tidak akan pernah berhenti sebelum gue menikah.”
“Gila!” seru Liora spontan.
“Sekarang yang gila, gue apa mama gue?” tanya Laura lagi.
“Kami berdua speechless, nggak bisa ngomong apa-apa lagi,” kata Aurel stres.
“Karena itulah dengan berat hati gue harus ceritain ide gila kami ke kalian. Saking sayangnya gue sama kalian berdua, gue nggak bisa menyimpan semua ini sendirian. Gue ingin kalian berdua yang sudah gue anggap sebagai saudara, mengetahui kalau gue akan melaksanakan hal gila dalam hidup gue, yaitu menikah kontrak dengan Reza.”
Laura dan Aurel tidak bisa berkata-kata. Meskipun mereka berat untuk menyetujui keputusan Laura.
“Jujur, gue berat hati untuk setuju. Bukan karena gue punya perasaan sama Reza. Gue cuma takut lo menderita. Pernikahan tanpa cinta itu benar-benar akan menyiksa.” Liora menyampaikan kekhawatirannya.
“Karena itulah kami harus melakukan ini untuk membuktikan pada mama kami kalau pernikahan paksa, pernikahan terburu-buru dan pernikahan yang tidak didasari oleh cinta yang begitu tulus pasti akan berakhir menderita. Setidaknya ketika kami sudah bercerai, mama akan berhenti mencampuri urusan asmara kami lagi.” Laura menekankan.
“Apa tante nggak bisa di ajak kompromi baik-baik?” Aurel memastikan.
“Nggak bisa. Yang ada di otak mereka berdua kami harus menikah,” ucap Laura.
“Ya, ampun! Ngenes banget nasib lo sama Reza,” seru Aurel prihatin.
“Apa boleh buat. Ini sudah jalan hidup kami. Yang gue inginkan sekarang adalah kalian berdua mendukung gue. Kalau gue curhat, tolong dengerin gue! Kalian tahu sendiri kalau pernikahan ini pasti tidak akan mudah untuk gue jalani.”
Liora dan Aurel langsung memeluk sahabat mereka secara bergantian, menepuk punggungnya pelan, menyemangatinya.
“Kami dukung lo, Laura. Semoga saja lo nggak tersiksa dalam pernikahan kontrak lo. Semoga perjuangan lo cepat berakhir dan lo bisa terlepas dari semua ini,” doa Aurel.
“Gue juga akan berdoa supaya lo menemukan jalan yang terbaik agar lo bisa menemukan kebahagiaan, entah itu di dalam pernikahan lo ataupun saat lo terlepas dari pernikahan lo nanti,” timpal Liora ikut mendoakan Laura.
Laura merasa begitu lega dan bahagia mendapatkan dua sahabat yang begitu mengerti dirinya. Ia menghela nafas panjang dan merasa begitu gembira juga tegar menghadapi permasalahan yang akan segera ia hadapi saat masuk ke dalam gerbang pernikahan kontraknya bersama Reza nanti.
“Makasih banget, Girls. Dukung terus gue, ya! Gue yakin akan ada kebahagiaan setelah gue berhasil melewati pernikahan kontrak ini. Makasih banyak karena kalian selalu berada di sisi gue.”
Bersambung ...