Restu Para Mama

1218 Kata
Dena merasa tidak percaya mendengar perkataan Reza barusan. Laki-laki muda yang sejak awal dia inginkan menjadi menantunya dengan gamblang mengatakan rasa sukanya pada putrinya. Bagaimana tidak bahagia dibuatnya? Spontan ia langsung mengangguk setuju. “Kamu serius memang benar-benar suka pada Reza dan ingin menikah dengannya?” tanya Dena pada putrinya. “Iya, Ma. Aku pastikan kalau pernikahan ini memang didasari rasa suka dan rasa klik satu sama lain.” Laura mengikuti sandiwara yang digagas oleh Reza dan sepertinya sudah berjalan dengan cukup baik saat ini. “Apa kamu sudah pikirkan dengan matang?” tanya Dena memastikan. “Iya, Ma. Aku mau menikah dengan Reza meskipun memang terlalu cepat. Namun, aku rasa Reza bisa menjadi seorang suami yang baik untukku. Aku juga tidak ingin beresiko bertemu dengan laki-laki seperti anaknya Tante Lisa di pertemuan ataupun di kencan-kencan berikutnya karena kalau aku pikir-pikir Rezalah laki-laki terbaik di antara semua laki-laki yang sudah mama jodohkan denganku kurang lebih 6 bulan yang lalu.” Laura berusaha keras membuat agar mamanya dan juga mamanya Reza percaya padanya. Mira ikut tersenyum meskipun ia tertawa dalam hati, merasa geli melihat sandiwara Reza dan Laura. Namun, ia benar-benar menyukai Laura karena ia sudah tahu siapa mama dan papanya. Mendapatkan Liora menjadi menantunya, benar-benar merupakan anugerah. Seorang wanita cantik, seksi, mandiri juga berprinsip kuat itu akan memberikannya cucu yang luar biasa hebat juga rupawan nantinya. Saat ini ia akan mengikuti sandiwara yang dilakukan oleh Reza dan Laura. Namun, ia bisa memastikan kalau pernikahan ini tidak akan pernah bisa berakhir. Bukannya dirinya seorang cenayang, tapi Mira tahu persis kalau Reza dan Laura membuat sebuah kompromi. Mira yakin mereka akan menandatangani surat perjanjian pernikahan dan akan bercerai di waktu yang telah ditentukan. Hal ini sudah klise dan kecil baginya untuk mengetahuinya. "Kenapa kamu tidak berpikir kalau Mama bisa menebak semua ini, Putraku? Kamu sudah memulai sebuah permainan dan kamu tidak akan pernah bisa mundur karena Mama yang akan menyelesaikan permainan ini dan mewujudkan pernikahan kamu menjadi pernikahan yang begitu bahagia. Tidak akan Mama biarkan pernikahan ini bubar sampai kapan pun karena Mama sangat menyukai calon menantu Mama," batin Mira. “Kalau Mama gimana, Ma? Apa Mama setuju dengan pernikahan kami?” tanya Reza sambil menatap wajah sang mama, menyelidiki apa mamanya curiga akan sandiwaranya. Mira tersenyum lebar, menutupi semua yang ia ketahui lalu mengangguk. Tentu saja ia setuju karena sejak awal ia memang sudah ingin menikahkan putranya dengan salah satu anak dari temannya dan kini pilihan Reza benar-benar tepat. Anaknya Dena, sahabat kentalnya sejak kuliah akan menjadi istri dari putranya ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. “Tentu saja Mama setuju. Sejak awal memang Mama ingin menikahkan kamu dengan salah satu teman Mama dan ketika kamu memutuskan untuk memilih Laura yang adalah anak Tante Dena, tentu Mama tak akan menolak. Mama benar-benar bahagia bisa mengukuhkan kedekatan dan persahabatan kami menjadi ikatan yang lebih kuat lagi yaitu berbesan.” Laura dan Reza tersenyum, kemudian menatap orang tuanya. “Jadi, apa yang harus kami lakukan, Ma?” “Kita akan mengatur pertemuan dua keluarga sekaligus mengatur pernikahannya.” Mira menyampaikan. “Kalau bisa nggak usah ada acara tunangan-tunangan lagi, deh, Mira. Langsung nikahin aja! Untuk apa membuang-buang waktu dan uang, sedangkan kita tahu tujuan putra dan putri kita memang untuk menikah. Bukankah semakin cepat semakin baik?” saran Dena. “Kamu benar. Kita langsung nikahkan saja nanti,” timpal Mira tersenyum senang. Laura sebenarnya keberatan, apalagi melihat gerak-gerik mamanya dan mama Reza, membuatnya yakin mereka akan dinikahkan secara besar-besaran. Itu artinya semua orang pasti akan tahu statusnya yang akan berubah menjadi janda 1 tahun ke depan. Dirinya adalah anak tunggal, sementara Reza sepertinya adalah anak kesayangan dari Mira. Tidak mungkin pesta pernikahan ini akan digadang secara sederhana. Pasti pesta pernikahannya akan digadang luar biasa mewah. “Aku setuju,” seru Reza lega lalu menatap Laura. “Kamu juga setuju, kan, Laura?” “Aku ikut kata Mama dan kata Tante Mira saja,” sahut Laura tersenyum. “Nggak usah panggil Tante lagi,” ujar Mira menegaskan. “Kamu juga, Reza. Jangan panggil Tante lagi! Panggil saja Mama!” Dena ikut menimpali. Laura dan Reza mengangguk pelan. “Baiklah, Ma,” sahut mereka kompak. “Sekarang kalian mau ke mana?” tanya Dena. “Aku ada janji sama teman-temanku, Ma.” “Aku juga, Ma,” timpal Reza. “Ya, udah, kalau gitu kami pergi sekarang. Kami ingin merencanakan pesta pernikahan kalian yang akan kami selenggarakan secepat mungkin. Kami ingin langsung menemui papa kalian dan membahas soal ini.” Mira menyampaikan. Laura dan Reza kembali mengangguk, kemudian mempersilakan mama mereka meninggalkan restoran. “Apa keputusan kita tidak salah, Reza?” tanya Laura sambil menatap kepergian mama mereka. “Kita sudah maju dan tidak bisa mundur lagi. Aku lebih suka bertemu dengan kamu selama setahun daripada harus bertemu dengan aneka wanita yang membuatku jengah,” ujar Reza. “Sama, aku juga lebih memilih ketemu kamu daripada aku harus bertemu dengan laki-laki b******k seperti orang tadi.” “Karena itu, bulatkan tekad kamu! Kita bisa menjalaninya sebagai sahabat. Satu tahun tidak akan terasa lama. Apalagi kita memiliki kesibukan masing-masing.” “Ya, sepertinya begitu. Kalau begitu aku pamit. Aku ada janji dengan kedua sahabatku.” Laura mulai beranjak dari kursinya. “Oke, aku mau langsung pulang saja. Aku bisa menceritakan soal ini dan di rumah sakit saja nanti. Aku akan mencuri waktu menemui Firza dan Reno.” “Kalau gitu, sampai jumpa. Nanti kabari saja perkembangan dari mama kamu soal jadwal pertemuan kita nanti.” *** “Aku mau menikah, Girls.” Liora dan Aurel tersedak, sungguh syok mendengar ucapan sahabatnya. Weekend ini Liora terpaksa merayu suaminya untuk mengantarnya pergi ke restoran di dekat rumahnya karena Laura mengatakan ingin menyampaikan hal penting. Meskipun sedikit susah, akhirnya Frans, suaminya mengizinkannya ketemuan dengan Laura dan Aurel dan seperti biasa ikut mengawasinya dari meja di ujung sana. Selain karena dirinya yang sedang hamil 7 bulan, suaminya juga terlalu bucin padanya sehingga tak bisa membiarkan dirinya jauh darinya sedikit saja. “Yang bener lo?” tanya Liora menyeka bibirnya dengan tisue lalu memberi kode pada suaminya agar tidak mendekat padanya yang berpotensi mengganggu pembicaraannya dengan sahabatnya. “Gila suami lo, ya? Bisa-bisanya dia mau menyusul lo ke sini hanya gara-gara lo tersedak doang,” cibir Laura tak habis pikir. Aurel tertawa pelan. “Kalau gue sih malah iri. Pengen rasanya punya suami kayak suami Liora di mana dia begitu bucin dan nggak bisa jauh-jauhan. Kalaupun Liora mau janjian sama kita, suaminya pasti ikut mengawasi kayak bodyguard.” “Eh, jangan sembarangan ngomong lo! Nanti lo dapet yang super posesif, lo nggak bisa bergerak lagi. Lo sendiri nanti yang susah. Ingat, ucapan adalah doa.” Laura mengingatkan. “Udah, kalian berdua nggak usah ngalihin topik, deh! Kembali lagi ke soal Laura tadi. Suami gue nggak bakal ke sini. Dia udah gue kasih kode. Dia hanya takut melihat gue tersedak dan dia pikir akan membahayakan bayi dan gue sendiri. Wajar juga dia menghambur kemari dan semua itu gara-gara lo. Sekarang lanjutin yang tadi! Apa bener lo mau nikah?” tanya Liora penasaran. Laura kembali menyesap espressonya lalu tersenyum getir pada kedua sahabatnya. “Itu benar. Aku akan menikah dan jangan terkejut mendengar siapa yang akan menjadi suamiku nanti.” “Siapa?” tanya Liora dan Aurel serempak. “Reza. Aku akan menikah dengan Reza dalam waktu dekat.” Bersambung ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN