Tolong Restui Pernikahan Kami!

1763 Kata
Mira dan Dena saling menatap satu sama lain, kemudian menuruti kata-kata Reza. Mereka berdua ikut duduk di dekat Reza dan Laura, menanti penjelasan dari Reza yang sepertinya ingin menyampaikan hal penting pada mereka berdua. Dena akan sangat berbahagia jikalau laki-laki ini memang benar-benar memiliki perasaan pada putrinya karena selain ia benar-benar akrab dengan mamanya yaitu, Mira yang merupakan sahabatnya, Dena juga suka pada laki-laki santun yang ada di depannya. “Semoga saja dia menyukai putriku,” harap Dena dalam hati. Sedikit banyak Dena sudah mengetahui sepak terjang Reza terutama di rumah sakit karena Mira selalu membanggakan putranya ketika berjumpa dengannya di momen tertentu dan itu benar-benar membuat Dena berkeinginan kuat untuk menjadikan Reza sebagai menantunya. Lain yang dipikirkan oleh Dena lain pula yang dipikirkan Mira. Pengusaha cantik itu benar-benar takut Reza merencanakan sesuatu. Ia tahu persis kegiatan putranya karena ia suka memata-matainya. Memiliki putra tampan yang digandrungi oleh banyak wanita benar-benar membuatnya menjaga dengan kuat pergaulan putranya agar tidak terjerumus dan Mira tahu persis kalau Reza tidak pernah dekat dengan wanita mana pun kecuali satu orang yaitu Liora, seorang dokter cantik yang saat ini sudah menikah dengan Frans sahabat Reza sendiri. Bahkan Mira mengetahui bahwa Reza saat ini menjauh dari Liora dan Frans karena belum bisa melupakan patah hatinya. Jadi, Mira tahu persis kalau putranya belum move on dari wanita cantik bernama Liora yang sedang hamil 7 bulan saat ini yang sedang berbahagia dengan suaminya. “Apa yang kamu rencanakan, Putraku?” batin Mira penasaran. Jangan sampai Mira mendengar kalau Reza menyukai ataupun mencintai Laura karena sudah pasti itu adalah sebuah kebohongan. Namun, tidak bisa ditampik, Mira sungguh menyukai Laura anak dari sahabatnya. Apapun yang akan dikatakan oleh putranya Mira pasti akan mewujudkannya dan akan melakukan apa saja untuk membuat Reza benar-benar mencintai Laura. “Sebelum aku menyampaikan apa yang aku inginkan, bolehkah aku tahu apa hubungan Tante dan Mama?” tanya Reza sopan pada Dena. Dena tersenyum, semakin menyukai Reza yang menurutnya begitu sopan dan berpendidikan. “Tante adalah teman dari mamamu. Bukan teman, sih, lebih tepatnya sahabat. Kami bersahabat sejak kuliah hingga kami memutuskan untuk bekerja di perusahaan masing-masing. Kami bahkan saling mengunjungi ketika sama-sama menikah,” jelas Dena membuka cerita tentang keakrabannya dengan Mira. “Tapi aku, kok, nggak pernah ketemu Tante? Apa Tante tidak pernah main ke rumah kami?” Dena tertawa pelan. “Kami lebih banyak janjian di luar dibandingkan main ke rumah masing-masing. Aktivitas kami begitu padat di mana kami harus berbisnis, mengurus suami dan anak. Namun, pertemuan kami intens, kok. Kami bahkan masih sering makan bersama di waktu senggang kami.” “Astaga! Ternyata semua laki-laki yang dijodohkan padaku itu merupakan kerabat dekatnya mama,” batin Laura tak percaya. Muncul pertanyaan di benak Laura terkait laki-laki b******k yang hampir melecehkannya tadi. “Kalau begitu Mama kenal dong sama Tante Lisa?” “Kan, kamu sudah tahu kalau yang ketemu sama kamu tadi anaknya Tante Lisa, teman Mama?” Dena mengingatkan. “Apakah kedekatan Mama dengan Tante Lisa sama seperti kedekatan Mama dengan Tante Mira?” tanya Laura penasaran, berusaha menyelidiki sejauh apa kedekatan mamanya dan Lisa yang memiliki anak kurang ajar seperti laki-laki tadi. “Jelas beda, dong! Tante Mira ‘kan sudah berteman dengan Mama sejak zaman kuliah? Jadi, Mama sudah tahu persis bagaimana karakter Tante Mira, keluarganya dan lain sebagainya. Sedangkan Tante Lisa hanyalah rekan yang berbisnis dengan perusahaan papa kamu. Kami sering bertemu meeting dalam rangka bekerja sama di proyek perusahaan papa kamu.” “Ah, jadi bukan teman dekat Mama, ya?” ujar Laura mengerti. “Bukan. Hanya saja kami sering bercerita satu sama lain dan ujung-ujungnya Mama mengetahui siapa-siapa saja anaknya Tante Lisa dan akhirnya Mama memilih satu untuk dijodohkan dengan kamu, yaitu laki-laki tadi.” “Laki-laki tadi? Mama menguntitku, ya?” tuduh Laura telak. Dena tersenyum pada Mira, kemudian kembali menatap putrinya. “Ya, kami berdua menguntit kalian,” aku Dena gamblang. Reza ikut terkejut mendengar pengakuan Dena. “Mama juga menguntitku?” ujar Reza tidak percaya sambil menatap serius pada mamanya. “Iya, hari ini kami memang benar-benar melakukan hal aneh, gila dan kekanakan dan itu gara-gara kalian.” Mira menjelaskan sambil menunjuk wajah putranya. "Maksud Mama?” seru Reza dan Laura serempak. “Kalian berdua membuat kami stres karena 6 bulan sudah kami menjodohkan kalian dengan berbagai pasangan kencan yang kami pilih secara selektif, tapi tak satu pun ada yang bisa nempel dan jadian dengan kalian berdua. Jelas kami berdua berpikir kalau kalian punya masalah,” ujar Mira blak-blakan. “Benar apa yang dikatakan Tante Mira. Mama juga benar-benar sudah lelah mengaturkan kencan buta untuk kamu, Laura,” timpal Dena. Reza dan Laura geleng kepala. Ternyata mama mereka satu tipe, mana sahabat akrab lagi. Mereka adalah tipe yang sama-sama suka memaksakan kehendak juga sama-sama gila dan nekat mencarikan mereka jodoh. “Sekarang berhentilah menginterogasi Mama dan Tante Dena! Jelaskan saja apa yang terjadi di sini! Bukankah kalian sudah kencan Minggu lalu dan bubar? Tidak usah berkelit lagi karena kami sudah memperhatikan kalian sejak awal,” desak Mira tegas. Reza menghela nafas, tidak bisa berbohong lagi pada sang mama. Yang bisa ia lakukan saat ini adalah membuat kebohongan baru terkait pernikahan kontrak yang sudah dia ajukan pada Laura barusan. “Karena Mama sudah melihatnya, maka tak mungkin lagi aku mengelak. Seperti yang kalian lihat tadi, aku benar-benar tidak nyaman dengan calon pasangan yang dijodohkan oleh Mama hari ini. Dia bukan tipeku, Ma.” “Alah, sejak awal kamu bilang tidak ada yang sesuai dengan tipemu! Jadi, tidak usah berkilah. Emang kamunya yang nggak mau berhubungan dengan wanita,” cecar Mira sengit. “Tapi itu tidak berlaku untuk Laura, Ma.” “Maksud kamu?” ujar Mira menyangsikan, tapi akan mengikuti permainan putranya. “Kamu menyukai putriku?” potong Dena. “Iya, Tante. Sepertinya aku menyukai putri Tante.” “Oh, ya? Kalau itu memang benar terjadi, Mama akan sangat bahagia, tapi Mama akan sangat murka kalau kamu bermain trik di sini. Kamu tahu siapa Mama ‘kan?’ ujar Mira tegas, membuat Laura ketar-ketir. “Gila! Calon mertua kontrakku ternyata benar-benar mengerikan. Wajar saja Reza tak berkutik. Mamanya kemungkinan lebih menyeramkan dibanding mamaku. Dan seperti Tante Mira akan lebih nekat dibanding Mama,” batin Laura ngeri. “Mama apa-apaan, sih? Malu sama Laura dan Tante Dena. Yang aku katakan tadi benar, Ma. Kami benar-benar tidak menyangka di pertemuan Minggu lalu dan itu benar-benar membuat kami memutuskan untuk berpikir sejenak. Aku sudah mengenal Laura beberapa bulan yang lalu karena Laura adalah sahabat dari Liora istri Frans, sahabatku sendiri. Jadi, aku mengenal Laura dari istrinya Frans.” Reza menutupi kegetiran hatinya di depan Dena, meskipun ia tahu mamanya pasti mengetahui isi hatinya. “Jadi, semuanya terjadi begitu saja. Selama satu minggu ini aku terus memikirkan Laura. Membayangkan dia akan kencan dengan beberapa laki-laki itu benar-benar membuatku kesal hingga akhirnya aku tak sengaja bertemu dengannya lagi hari ini di kencan kami berdua dan benar-benar geram setengah mati kala melihat pasangan kencan Laura berniat melecehkannya,” urai Reza melanjutkan perkataannya. “Apa!? Anaknya Lisa berniat melecehkan putriku?” seru Dena tak percaya. “Iya, Tante. Beruntung aku berada di dekat mejanya tadi sehingga aku mendengar dengan jelas bahwa laki-laki itu ingin mengajak Laura check in di hotel ini,” sambung Reza lagi. Laura menggamit lengan Reza lalu memelototinya. “Kenapa kamu bilang soal itu pada Mama?” tegur Laura, takut masalah ini akan menjadi besar. Reza tersenyum lembut pada Laura, meyakinkannya kalau semuanya akan baik-baik saja karena ia tidak punya jalan lain untuk meyakinkan Dena dan juga mamanya kalau ia menginginkan pernikahan ini. “Nggak apa-apa, kok. Kamu jangan khawatirkan soal itu! Mama kamu berhak tahu apa yang dilakukan oleh anak Tante Lisa tadi.” “Tapi, nanti ....” “Nggak apa-apa. Kamu tenang aja!” potong Reza sambil tersenyum. Dena dan Mira mengamati Liora dan Reza, menunggu penjelasan Reza selanjutnya. “Seperti yang Tante dengar tadi kalau laki-laki itu benar-benar melecehkan Laura dan aku sudah berhasil mengusir serta mengancamnya tadi. Aku mengancamnya akan menyebarkan CCTV hotel ini di mana terlihat jelas kalau dia ingin berbuat jahat pada Laura. Dia ketakutan dan akhirnya undur diri. Dia memintaku untuk tidak mempermasalahkan masalah ini lagi karena ia takut dipecat dari perusahaannya.” “Dia memang harus dipecat. Biar Mama nanti yang membantu mengerahkan orang untuk memecatnya,” ucap Mira geram. “Nggak usah, Ma. Nggak usah ikut campur,” ujar Reza menasehati mamanya. “Dia tidak ada urusannya dengan kita.” Reza menatap lembut wajah Dena lalu meyakinkannya untuk tidak memperbesar masalah ini. “Aku mohon jangan mempermasalahkan lagi soal ini, Tante. Cukup kita mengetahui saja kalau orang itu tidak baik dan keluarga Tante Lisa ternyata bukan keluarga baik-baik.” “Astaga! Tante tidak menyangka orang sekeren dia, seorang manajer di perusahaan besar bisa melakukan perbuatan tidak baik begitu,” seru Dena tak habis pikir. “Dia sudah biasa tidur dengan wanita, Ma. Dia bilang padaku tadi.” “Gila!” seru Dena. “Makanya Mama jangan asal jodohin aja, dong!” protes Laura kesal. “Kamu nggak boleh ngomong gitu sama mama kamu.” Reza langsung menegur calon istri kontraknya. “Habisnya ....” “Sstttt!” Reza langsung menutup bibir Laura dengan telunjuknya, membuat Laura berdebar. Jari telunjuk Reza yang menempel di bibirnya benar-benar membuat jantungnya berdegup kencang. Secara spontan Laura langsung menyingkirkan tangan Reza dari bibirnya. “Nggak usah tutup mulutku juga, dong!” Laura menutupi rasa gugupnya. “Habisnya kamu suka bandel sama mama kamu. Kamu nggak boleh ngelawan Tante. Biar aku yang menjelaskan semuanya, ya!” ujar Reza lembut, membuat Dena semakin menginginkan Reza menjadi menantunya. “Dia benar-benar bisa menjinakkan Laura. Laki-laki lembut seperti ini pasti bisa membuat kebarbaran serta sikap garang dan gamblang Laura terbungkam begitu saja. Aku semakin ingin menjadikan dia sebagai menantuku,” batin Dena penuh harap. Sementara Mira memperhatikan lamat-lamat wajah putranya. “Pintar! Kamu benar-benar pintar membuat ini menjadi natural, Putraku. Namun, kamu tidak mengetahui siapa Mamamu ini. Mama bisa membaca gerak-gerik orang dan juga bisa membaca psikologis seseorang. Kamu sedang berusaha membuat kami percaya kalau kamu benar-benar serius dan mulai menyukai ataupun mencintai Laura. Oke, Mama akan ikuti permainan kamu. Teruskan saja apa yang ingin kamu lakukan!” batin Mira. “Jadi, aku memutuskan ingin menikahi Laura, Tante. Mungkin terlalu terburu-buru, tapi aku sudah mengenal siapa Laura. Berkaca dari fakta di mana aku benar-benar tidak rela Laura dilecehkan oleh laki-laki lain dan aku benar-benar tidak senang Laura kencan dengan aneka laki-laki untuk ke depannya, maka aku memutuskan untuk menikahinya. Kami sudah membicarakannya barusan dan Laura pun setuju. Kami merasakan hal yang sama. Jadi, aku harap tolong restui pernikahan kami!” Bersambung ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN