Kepergok Para Mama

1587 Kata
Dena benar-benar melakukan hal gila dalam hidupnya, yaitu menguntit putrinya sendiri saat sedang berkencan. Ia benar-benar lelah menjodohkan putrinya dengan aneka pria selama kurang lebih 6 bulan. Rasanya tidak mungkin putrinya tidak menemukan satu pun laki-laki yang menarik hatinya. Bukan, lebih tepatnya bukan putrinya yang bermasalah di sini, tapi laki-lakinya. Sebab menurut keterangan anak para sahabatnya, merekalah yang tidak menyukai putrinya. Apa yang salah dengan putrinya? Wajah putrinya cantik, modis, punya salon sendiri, bisa make up sendiri bahkan pakaiannya pun semuanya branded. Mustahil tidak ada laki-laki yang tidak tertarik padanya. Pasti ada sebuah kesalahan di sini dan ia harus menyelidikinya. “Pasti putriku melakukan hal yang aneh-aneh sehingga membuatnya dibenci oleh pasangan kencannya di hari pertama,' batin Dena sambil terus menatap meja seorang laki-laki tampan dari kejauhan. “Kali ini aku akan menangkap basah kamu, Laura. Awas saja kalau kamu bertindak aneh-aneh dan menggagalkan semua kencan buta kamu. Aku akan langsung menikahkan kamu hari ini juga,” gumam Dena pelan. Dena sengaja mengenakan masker hari ini, juga mengenakan topi ala-ala Nyonya Eropa sehingga wajahnya sedikit tertutup dan tidak ada yang mengenalinya. Dena duduk di meja paling ujung, memperhatikan meja yang akan menjadi meja kencan Laura dan bersiap akan menangkap basah putrinya sendiri. “Ah, itu dia datang!” seru Dena. Putrinya datang dengan tampilan yang begitu cantik, mengenakan gaun indah mekar bak barbie yang mahal serta sepatu high heels yang begitu menggoda. “Dia cantik dan laki-laki itu benar-benar tampan dan tinggi. Tidak mungkin anaknya Lisa tidak menyukai putriku. Kalau sampai dia juga tidak menyukai putriku, maka ada yang salah dengan putriku,” batin Dena lagi. Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dan elegan itu terus membuka matanya lebar-lebar, menatap ke arah meja Laura di mana putrinya baru saja duduk di depan laki-laki gagah yang diharapkan bisa menjadi calon menantunya. Dan betapa terkejutnya Dena ketika tiba-tiba laki-laki yang ia ketahui bernama Romi tersebut tiba-tiba menarik tangan putrinya dan sepertinya akan menyeretnya keluar dari restoran. “Apa-apaan ini? Kenapa dia kurang ajar pada putriku? Mau ke mana dia menyeret putriku?" Dena tetap bertahan di mejanya, memperhatikan apa yang akan dilakukan oleh Romi pada putrinya. Dan Dena dua kali dibuat terkejut ketika seorang pria yang ia ketahui adalah anaknya Mira yang harusnya berkencan dengan putrinya minggu lalu, membela putrinya dan merampas tangan putrinya dari tangan Romi. “Ada apa di sini sebenarnya?” Dena bertanya-tanya. Lagi-lagi Dena bertahan untuk tidak meninggalkan tempat duduknya. Dena ingin memperhatikan apa saja yang akan dilakukan oleh Reza, Romi dan juga putrinya karena semuanya masih membuatnya bingung. Namun, semua yang Dena tonton menjadi lebih menarik ketika ia melihat Reza dan Romi terlihat sedang memperebutkan putrinya. “Apakah kedua orang ini mau menjadi calon menantuku? Keduanya sama-sama tampan. Namun, Reza jauh lebih menawan hatiku karena dia adalah seorang dokter kandungan dan orang tuanya memiliki sebuah perusahaan besar. Namun, Romi juga merupakan seorang manajer perusahaan besar. Wah, aku jadi bingung memilih calon menantuku!” batin Dena lagi sambil terus memperhatikan interaksi putrinya dengan dua pria di depan sana. Senyumnya mengembang kala melihat dengan elegannya Reza mengusir Romi dari hadapannya. Entah apa yang mereka bicarakan karena ia begitu jauh sehingga tak bisa mendengar ucapan demi ucapan yang dilontarkan oleh Reza pada Romi. Yang jelas Dena melihat secara gamblang, Reza berhasil mengusir Romi. “Apa Reza mencintai putriku? Apa dia cemburu karena putriku aku jodohkan dengan Romi hari ini? Tapi bukannya minggu lalu aku dapat laporan dari Mira kalau putranya juga tidak menyukai putriku? Ada apa sebenarnya di sini?” ujar Dena dalam hati. Dena benar-benar bingung juga sedikit senang karena sepertinya Reza menyukai putrinya. Namun, ia juga bingung kenapa Reza bisa begitu kelihatan marah pada Romi dan bertindak seolah-olah akan merebut kekasihnya. “Sebaiknya aku segera ke sana. Mereka harus menjelaskan apa yang terjadi di sini.” Dena bersiap beranjak dari tempat duduknya, membuka topinya juga maskernya, ingin segera menghampiri putrinya. Saking buru-burunya, Dena bahkan tidak melihat lagi bahwa ada seorang wanita yang terburu-buru juga melangkah bersama dirinya hingga pada akhirnya mereka tak sengaja bertabrakan bahu membuat Dena refleks menoleh ke arah oknum yang tak sengaja menabrak bahunya dengan keras. Dena ingin marah-marah pada orang itu sebelum ia mengkonfrontasi putrinya dan putra sahabatnya, yaitu Reza. Dan ketika ia melihat wanita yang sudah menabraknya, baik Dena maupun Mira membelalak tidak percaya. “Kamu ngapain di sini?” Mira spontan bertanya. “Aku yang harusnya bertanya,” balas Dena, takut ketahuan oleh putrinya. Dena langsung menyeret tangan Mira menuju ke mejanya kembali seraya memberi kode padanya agar jangan berisik. “Jangan bicara keras-keras! Kita akan ketahuan. Kamu ngapain di sini?” “Aku juga mau tanya, kamu ngapain di sini? Jangan bilang kalau kamu juga menguntit putri kamu berkencan, ya!” tebak Mira. “Kamu juga? Astaga, apa yang kita lakukan sebenarnya?” seru Dena. Mereka geleng kepala dan pada akhirnya mereka cekikikan menahan geli. “Kita ini sudah berumur, tapi kenapa tingkah kita kayak anak kecil, ya?” celetuk Mira tidak habis pikir dengan perbuatannya. “Ya, mau bagaimana lagi? sepertinya anak kita benar-benar membuat kita pusing,” ujar Dena memelankan suaranya lalu kembali memakai topinya dan maskernya, kemudian berbincang sebentar dengan Mira, rekan plus sahabat baiknya sejak masa kuliah. “Siapa duluan yang mau jelasin apa alasan kita berada di sini, nih?” seru Mira tertawa. “Kayaknya nggak perlu dijelasin, deh! Pasti alasan kita sama. Kita sudah terlalu jengah dan lelah menghadapi anak-anak kita yang tidak berhasil mendapatkan pasangan selama 6 bulan,” ujar Dena menganalisa. “6 bulan? Kamu juga menjodohkan putri kamu selama 6 bulan?” tanya Mira mengonfirmasi. “Kamu juga ‘kan? Dan dalam 6 bulan itu tidak ada satu pun yang nempel, tidak ada satu pun yang nyantol. Mustahil ‘kan?” Dena menghela nafas lelah. “Itu makanya aku di sini, Dena.” “Sama, itu juga alasanku,” sahut Dena. “Rasanya tidak mungkin putraku yang tampan rupawan, seorang anak pengusaha kaya juga seorang dokter kandungan yang begitu gagah juga bekerja di rumah sakit berkelas di kota ini, tidak bisa mendapatkan seorang wanita. Padahal, aku sudah memilihkan wanitanya sedemikian rupa. Aku tidak asal memilih. Aku memilih anak-anak dari sahabat dan rekanku yang aku kenal,” ucap Mira menjelaskan. “Sama. Putriku yang cantik jelita yang sudah mandiri, memiliki sebuah toko tas branded dan salon mewah, masa tidak mendapatkan seorang pria satu pun, sih? Masa semua laki-laki bilang putriku bukan tipenya? Makanya aku curiga. Jangan-jangan putriku berbuat aneh-aneh dan melakukan hal yang aneh-aneh atau berpakaian yang tidak menarik sehingga semua laki-laki pilihanku kabur darinya.” “Jadi, apa yang kamu dapat hari ini?” tanya Mira. “Tidak ada. Hanya saja aku begitu kaget hari ini karena putramu tiba-tiba mengusir Romi, anaknya Lisa lalu menarik tangan putriku.” “Wah, menarik! Putri kamu benar-benar menarik. Pasti putri kamu mengatakan atau mengaku-ngaku yang tidak bagus sehingga membuat putranya Lisa berang,” tebak Mira. “Entahlah. Karena itu aku ingin mengonfrontasi mereka tadi. Kalau kamu gimana?” “Aku benar-benar pusing. Ternyata aku baru mengetahui putraku benar-benar dingin dengan semua pasangan kencannya. Putraku sempat-sempatnya main game selama kencan berlangsung. Wajar saja semua wanita kabur melihat pengabaian yang ia lakukan,” keluh Mira stres. “Astaga, wajar kalau 6 bulan tidak ada wanita yang mau sama putra kamu,” seru Dena tak heran. “Nah, benar ‘kan? Putraku melakukan suatu kecurangan begitu juga putrimu. Sekarang aku tidak habis pikir kenapa putraku mengusir putranya Lisa lalu berbicara dengan putrimu. Bukankah mereka berdua gagal berkencan minggu lalu?” Mira merasa heran. “Nah, itu yang membuat aku penasaran! Makanya aku terburu-buru ingin menyusul ke sana bertabrakan bahu denganmu. Sekarang daripada kita sibuk sendiri, lebih baik kita konfrontasi mereka berdua. Mereka berdua sepertinya akan naik lantai 2. Gawat, itu private table! Mana mungkin kita bisa naik ke sana,” seru Dena. “Kenapa kita tidak bisa naik ke sana? Kita bisa juga bisa booking private table di atas. Di sana bukan hanya satu private table saja yang ada, tapi banyak. Kita bisa pura-pura memesan lalu langsung menemui anak-anak kita, minta penjelasan dari mereka.” Mira menerangkan. “Astaga, iya juga, ya! Gara-gara pusing memikirkan putriku, aku nggak kepikiran sampai ke sana.” “Sekarang, buka topimu! Kita temui anak-anak kita dan minta penjelasan secepatnya sebelum kita mati penasaran sendirian karenanya.” Mira dan Dena segera bergandengan tangan melangkah menuju lantai dua, ingin bertanya pada anak-anak mereka, merasa penasaran ingin mengetahui apa yang terjadi sebenarnya. Namun, tak dapat ditampik, di dalam hati mereka berdua berharap bahwa akan ada ketertarikan antara Reza dan juga Laura karena jujur saja, baik Dena maupun Mira benar-benar ingin sekali berbesan karena mereka sudah akrab sejak kuliah. “Nah, itu anak-anak kita! Semoga saja kamu menjadi besanku?” seru Dena berharap sambil tersenyum. “Kamu juga. Semoga anakmu mau sama anakku,” balas Mira. Dena dan juga Mira tersenyum lalu segera melangkah menuju ke meja anak-anak mereka, kemudian berseru dari kejauhan. “Bisa kalian jelaskan apa yang terjadi di sini?” Laura dan Reza terkejut melihat mama mereka berdua sudah berdiri di hadapan mereka dengan sorot mata menyelidik. Laura benar-benar tidak bisa membuka mulutnya sama sekali. Ia gugup dan seketika merasa cemas. Sebaliknya, Reza malah merasa senang. Sepertinya semesta membantunya. Tanpa mereka harus pergi ke rumah masing-masing untuk menyampaikan niat mereka untuk menikah, mama mereka sudah berdiri di sini, siap mendengarkan penjelasannya. Reza langsung menyambut mamanya lalu mencium punggung tangan Dena yang merupakan mama dari Laura, kemudian menyapa mereka dengan ramah. “Duduk dulu, Tante! Duduk dulu, Ma! Aku akan menjelaskan semuanya secara gamblang pada Mama dan Tante.” Bersambung ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN