Alan maju kedepan untuk menjelaskan apa yang dia lukis, dan apa makna di dalam lukisan yang dia lukiskan.
"Aku melukis seseorang dari samping suasana perpustakaan dengan teknik pelototan. Tidak ada yang spesial hanya saja, aku ingin menyampaikan bagaimana suasana keadaan seseorang tersebut." Ujar Alan.
Aku melihatnya sambil terkagum-kagum, kenapa ada orang yang mendalahi hal seperti itu ? .
Tapi dari gambarnya mengapa aku merasa, sangat mirip denganku. Rambut pendek sebahu yang terurai, mengingatkanku saat kita bertemu di perpeustakaan tadi pagi.
"Dengan diam kita tidak mengetahui sifat dia, karakter dia, tatapan tajam. Kita tidak tahu dia membenci ataukah tidak, atau memang dia seperti itu. " ucap Alan.
"Jadi kita tidak boleh menilai seseorang, tanpa kita mengetahui dia sebenarnya. Mungkin kita tahu, dari cara dia berbicara, cara dia memandang. Kita hanya bisa untuk mendengar presepsi oranglain terhadap orang tersebut, baik negatif, baik positif. Sifat asli dia seperti apa, kita tidak tau. Maka berpikiran positiflah, agar kita tetap damai. " lanjut Alan.
Wahhh aku sangat terkejut saat mendengar penjelasannya, dia benar-benae hebat.
****
Tapi untuk apa, aku sudah tidak menghiraukannya lagi. Aku ya aku dia ya dia, kita bukan siapa-siapa apa salah aku mengaguminya ?
Kringgggg
Kringgggg
Kringgggg
Bel istirahat pun berbunyi. Aku dan Rani pergi ke kantin, di sana kita bertemu lagi bahkan dia tersenyum padaku.
"Rannnn." Ucapku berbisik kepada Rani.
"Apa sih ngomong mah ngomong aja." Jawab Rani.
"Tadi pagi aku ketemu dia di perpus. Tadi nya aku gak tau dia ada di sana, tapi tau apa ? Dia yg nanya duluan." Ucapku menjawab Rani.
"Dia siapa ? " Jawab Rani.
"Ka Alan lohhh kelas 11. Tadi juga dia lukis aku tauuuuuu." Ucapku sambil memukul-mukul meja.
"Ahh mana ada, halu kamuu Sya." Jawabnya sambil makan.
"Beneran lohh liat aku rambunya pendek, tadi kan dia lukis perempuan rambut pendek juga mana sama di perpus. Kan, beneran aku kannnn." Ucapku menggebu-gebu.
Rani hanya melihat aku dan Alan berulang kali.
"Ahhh gak mungkinnn." Ucapnya sambil mengerutkan dahi.
Selesai makan, kita duduk di teras kelas menunggu jam masuk tiba. Selain itu, siswa laki-laki bermain sepak bola di lapang.
"Eh ada tuh dia." Ucapku semabil tersenyum.
"Ada apaan." Jawab Rani.
"Ka Alan ikutan main tuhh. Emm tadi namanya siapa sih ?" Ucapku sambil membuka medsos.
"Sarlan apa ya tadi, tapi sarlan awalnya." Jawab Rani.
****
Selagi aku mencari nama dia dan melihat foto di medsos. Aku di kagetkan oleh kedatangan Yerru, Fahmi, Arhan, dan Alan. Yang sedang mencari ku.
"Rasyaaaaa, di cari sama Fahmi." Ucap ketua kelas memanggil namaku dengan keras.
"Hah Fahmi ?" Ucapku pada Rani yang sama-sama menoleh.
Akupun berdiri dan meng hampiri, Fahmi, Yerru, Arhan dan Alan pun ikut menghampiri.
Aku bingung jantungku berdegup kencang, karena sebelumnya aku belum pernah seperti ini.
Apa aku punya salah kepada mereka, sampai mereka mencariku.
"Kenapa ka ?" Ucapku pada ka Fahmi.
"Kamu ngerasa punya salah gak ? Pake nanya." Ucap ka Fahmi.
Akupun kaget dengan apa yang dia tanyakan. Satu sekolahapun gempar karna ada siswa SMA yang datang ke kelas 8-b. Dan menonton kita, dimana saat jam istirahat. Apalagi ini kompleks sekolah, ibu-ibu TK pun ikut melihat.
"Apa aku punya salah ka ?" Tanyaku sambil takut dan malu.
"Halah so so lupa kamu." Ucap Fahmi.
"Beneran ka sebenarnya ada apa ?" Tanyaku.
"Minta nomer kamu kata Alan." Ucap Yerru.
"Hah ?" Ucapku kaget sambil memegang d**a.
"Boleh gak ? Cepetan, cuma nomer doang lama banget." Ucap Fahmi.
"A... iya ka boleh." Jawabku.
"08 berapa ?" Ucap Arhan.
Dan akupun memberikan nomerku, saat mereka pergi. Semua siswa menyorakiku.
Cieeeee
Cieeeee
Cieeeee
Aku menjadi bahan olok-olokan mereka sesaat. Wajahku menjadi merah, malu, senang, kaget, menjadi satu.
Ya Tuhannnn, apa yang harus aku lakukan, aku hanya berdiam memegangi pundakku sambil tersipu malu.
"Apakah ini lampu hijau ?" Ucap Rani sambil mengejek.
"Ah kamu bisa aja." Jawabku sambil berbalik arah.
"Ihh berarti beneran yahh, apa yang kamu omongin tadi." Ucap Rani.
"Gak tau ahh, kebetulan aja kali." Jawabku.
Berpura-pura menenangkan diri, papadahal aku sendiri ingin berteriak kencang bergembira.
Akupun pulang dengan kedaan gembira, dan aku selalu menunggu kabarnya untuk menghubungiku.
Satu hari berlalu, karna hari ini libur jadi akutidak tau dia sendang apa. Aku hanya menunggu kabarnya untuk menghubungiku, aneh saja dia meminta nomor telepon ku tipi dia tak kunjung mengabariku.
****
Tiga hari berlalu dia tidak mengabariku, aku tidak berharap lebih karna hal ini. Mungkin kemarin aku terlalu senang.
Di sekolah aku tidak seceria terakhir kemarin. Aku hanya duduk, makan, belajar, diam tidak banyak berbicara untuk hari ini. Dan sejujurnya aku kecewa dengan apa yang aku harapkan.
"Syaaaa....." ucap Fahmi.
Aku hanya menengok, dan hanya melihat ka Fahmi melambaikan tangan. Tapi aku tetap berdiam di teras kelas.
Ka Fahmi dan Yerru menghampiriku dan bertanya.
"Gimana udh ada kabar belum ? Udh ada kelanjutan belum ?" Tanya Yerru.
"Siapa ?" Jawabku, dengan muka datar.
"Yeeee, orang penasaran gimana kelanjutannya." Ucap Fahmi.
"Jadi kita itu udh tau, dia juga udah ngeuh. Yang sorakin dia yang suport dia di teras kelas, teriak-teriak kenceng." Ucap Yerru.
"Oh iya ?" Ucapku sambil melotot.
"Ya beneran lahh orang beberapa kamu gak semangatin dia dia nanyain juga." Ucap Yerru.
"Ah nanyain gimana emang ?" Tanyaku sedikit kepo.
"Ya nanyain siapa, kelas berapa, orangnya yang mana, namanya siapa. Dia udah tau kamu sebenernya, bukan baru kemarin." Jawab Yerru.
"Eh malahan dia minta bantuan ke kita takut salah orang katanya." Ucap Fahmi.
"Trus minta cepet-cepet itu takut, kamu keburu balik." Ucap Yerru.
"Ah masa sihhh ? Gak percaya aku." Jawabku.
"Kenapa gak di coba duluan ? Aku kasih nomernya." Ucap Fahmi.
"Ahh gak mau masa dia yang minta, malah aku yang chat duluan." Jawabku.
"Ya gpplah, emang kenapa sih ? Emang kamu gak nungguin dia ?" Ucap Yerru.
"Gak mau, biarin aja. Aturan kalian tuh yang tanya ke dia bukan malah nanya ke aku, anehh." Ujarku.
Dan memang pada dasarnya seperti itu, ya masa sih aku yang harus ngeduluin chat dia duluan ?. Padahal kan dia duluan yang minta nomer aku.
Ya walaupun dia tau aku suka dia, ya kenapa harus tunggu aku kan aneh aja masa aku sebagai perempuan harus terus-terusan effort ke dia sedangkan dia ?. Minta nomer aja di bantu temen-temennya.
Waktu pulangpun tiba, aku sudah di seperempat perjalanan ke rumah seperti biasa aku selalu jalan kaki. Di tengah perjalan aku di kagetkan oleh motor yang tiba-tiba menghadangku.
Tapi aku tidak menghiraukan itu, cepatnya ku jalan arah tengah jalan untuk mendahului motor tersebut. Setelah aku sudah berada di depan motoritu dan melanjutkan jalan, ada seseorang yang memanggilku.
Heii....
Heii....
Heii....
Terkaget jalanku berhenti, saat aku menoleh.
"Aku cari-cari kamu dari tadi, taunya udh pulang duluan." Ujarnya sambil membuka helm.
"Hah, siapa ? Aku ?" Tanyaku.
"Iya kamu syaaa... siapalagi yang ada di sini selain kamu ?" Ujarnya.
Diamku terpaku melihat dia.