42 ~ Astrid dan segala keunikannya

2326 Kata
Tinggal beberapa jam lagi, agar 48 jam itu berlalu. Dan kini terlihat jika semuanya sudah bersiap-siap untuk menghadapi kenyataan. Termasuk Lia, gadis yang sejak dulu manja ini kini berusaha untuk tidak bergantung pada kedua orang tuanya lagi. “Nak, kamu yakin buat ikut?” Lia tersenyum lebar, dan mengangguk. Gadis itu saat ini tengah mengambil beberapa pil obatnya, dan juga perlengkapan seadanya. Setidaknya dia harus lebih bersiap, dan juga siaga untuk dirinya sendiri. “Kamu bukannya marah sama mama kan, nak?” Tangan Lia berhenti memasukkan benda-benda yang dia perlukan, lalu menatap ayah dan mamanya yang berdiri di ambang pintu kamarnya. Seolah melarang Lia untuk keluar dari rumah tempat ia dibesarkan selama ini. Lia sejujurnya juga tak ingin berpisah, namun dia harus, karena dia tidak ingin kehilangan kedua orang tuanya. Karena Lia terlalu sayang, hingga dia tidak berani untuk memberitahukan pada orang tuanya apa yang terjadi. “Ma…sejak kapan Lia pernah bilang gitu? Selama ini, Lia itu sudah dibesarin sama ayah, sama mama juga. Lia bersyukur banget punya orang tua seperti kalian. Dan aku mau ikut sama temen-temen bukannya mau pergi selamanya ma, Lia cuman mau berani aja nunjukin kalo Lia juga bisa buat mama sama ayah bangga!” “Kamu yakin, nak?” Senyuman Lia membuat kedua paruh baya itu ikut tersenyum, dan tak lagi berpikir macam-macam. Menarik Lia ke dalam pelukannya, mereka bertiga berbagi kehangatan seperti biasanya. “Ayah senang kalau kamu sudah mau berani mengambil langkah ke depan nak, ayah selalu dukung kamu!” Melepas pelukan sayang ayah, tatapan Lia tertuju pada wajah yang sangat dia sayangi itu. “Bukan berarti, karena Lia tumbuh tidak seperti anak-anak pada umumnya, Lia jadi minder yah. Keberanian ini dari ayah, yang selalu ajarkan selama ini sama Lia.” “Kamu buat ayah mau nangis nak, darimana kamu belajar kata-kata seperti itu?” Mama Lia hanya bisa tertawa pelan saat kedua orang yang amat dia sayangi itu berpelukan erat. Jam hampir menunjukkan pukul 9 malam, sebuah mobil berhenti tepat di depan rumah Lia. Mata turun dengan pakaian kasualnya, dan di ikuti dengan Astrid yang ikut untuk memastikan rencana mereka terlihat natural. “Sudah siap, Lia?” Mendengar suara Mata, Lia mengangguk antusias. Mata mengambil ransel punggung Lia yang cukup besar. “Kamu akan menjaga putri om kan nak, Mata? Lia banyak bercerita mengenaimu, dan juga mengenaimu gadis cantik. Pasti namamu, Astrid, benar begitu?” Astrid mengangguk dan memasang senyum ramah, sekalipun tidak tulus. “Iya om, saya akan menjaga putri om. Kami hanya akan melakukan perlombaan yang berpikir, tidak akan melakukan hal lainnya.” “Baiklah, aku bisa yakin sekarang!” “Aku pergi dulu ayah, mama. Jaga kesehatan kalian, jangan sampai terjadi apa-apa pada kalian, Lia sayang kalian!” Lia lekas memasuki mobil Mata, mereka menghilang dari komplek perumahan elit itu. Lalu disusul dengan Grace yang sudah menunggu di terminal. Matthew, Ben, Aress, dan yang terakhir masuk ke dalam mobil adalah Christopher. Usai semuanya selesai, dan ada pada posisi masing-masing, Mata memeriksa semuanya sekali lagi. Barulah lelaki itu melajukan mobilnya di tengah jalanan malam yang sudah mulai lenggang, hanya 1 atau 2 mobil yang terlihat melintasi jalan yang mereka lalui. Lampu-lampu malam kota menghiasi perjalanan. Tidak banyak yang berbicara, hanya terdengar bunyi kunyahan Ben yang berkata jika dia tidak sempat makan malam karena hanya mengurus sesuatu yang sedikit penting dulu. “Jadi…kemana kita akan pergi? Aku tidak mengenali jalan ini, Mata!” Aress yang duduk di sebelah Mata memulai percakapan. Matthew yang mengelus rambut Astrid ikut melirik jalanan yang sudah semakin sepi. Mungkin, hanya mobil mereka yang memasuki jalanan itu untuk saat ini. Kedua sisi jalan diapit oleh pepohonan. “Ini adalah daerah hutan terlarang. Hutan ini sering digunakan oleh anak-anak pecinta alam untuk uji nyali, mereka pikir itu adalah hal yang menyenangkan dan menantang.” Mata berbicara dengan nada santai, seperti ciri khasnya. Lelaki itu mengeratkan mantel berwarna biru tosca yang ia kenakan. Dan menggunakan lampu tembak. “Bukankah itu memang menyenangkan, Mata? Aku sudah beberapa kali ikut kegiatan seperti itu di hutan sekolah, dan daerah-daerah yang dekat dengan sekolah. Selama ini terlihat baik-baik saja dan tidak ada hal buruk yang terjadi!” Bibir Mata tertarik dan membentuk sebuah senyuman. “Tapi tidak dengan hutan ini!” Matthew kali ini yang menjawab. “Matthew benar. Mungkin kalian sering mendengar anak pecinta alam yang hilang di hutan ini. Itu karena hutan ini memang hutan terlarang. Seharusnya, dari namanya saja sudah harus membuat mereka sadar jika hutan ini tidak untuk dijadikan tempat melakukan kegiatan semacam itu. Di hutan ini, banyak jenis hantu jahat, juga iblis yang hidup. Mereka mungkin ada yang seperti Lucy, dan Lana. Iblis yang serakah, dan bahkan bisa membunuh manusia.” Ben menelan ludahnya kasar. Dia mendekat ke arah Christopher, dan menutup jendela kaca mobil yang sejak tadi terbuka sedikit. “Jadi, mereka yang mencuri para pecinta alam itu?” Mata mengangguk, dan juga menggeleng, membuat Aress ikut bingung. “Kenapa kau menggeleng dan mengangguk?” “Mereka menghilang bisa saja karena dua keadaan. Pertama karena penghuni hutan ini, dan yang kedua, adalah karena kecerobohan mereka sendiri.” “Kecerobohan mereka sendiri?” ulang Ben. “Ya, karena hal itu. Terkadang, sekalipun dihuni oleh makhluk jahat, mereka biasanya tidak akan peduli dengan manusia jika mereka memiliki tutur. Namun, ada beberapa manusia yang berbicara sembarangan di tempat mereka, atau membuang sesuatu yang membuat mereka marah. Jadi…pada akhirnya merekalah yang memulai duluan.” “I see. Aku juga sering mendengar mengenai hal itu, aku juga sering melarang hal-hal itu di organisasi pecinta alam atau pramuka!” “Sejak kapan lo peduli?” Suara serak khas orang baru bangun tidur itu mengalihkan perhatian Ben yang duduk di belakang. Perhatiannya kali ini tertuju pada Astrid yang menatapnya hina, seolah dia penuh dosan. Lagi-lagi Ben harus menghela nafas kasar. “Gue gak pernah peduli kok, Trid. Muka lo tolong kondisiin ya, udah semalam kita berantem gara-gara ucapan konyol lo juga!” Astrid menaikkan bahunya tidak peduli, lalu menguap dan menggerakkan tubuhnya pelan. “Lo haus?” Astrid mengangguk, dan sebuah botol minum segar langsung ada di depannya. “Lo lapar?” Lagi-lagi Astrid mengangguk. Dan sebuah botol berisi bekal yang masih hangat ada di depannya. Astrid tersenyum, dia memang bangun karena kelaparan. Jika tidak, mana mungkin Astrid mau bangun dari tidurnya yang sangat nikmat? Mata yang menyetir hanya bisa geleng-geleng kepala. Dia benar-benar ikut bingung dengan ikatan hubungan antara kedua manusia yang duduk tenang di belakangnya itu. “Trid, lo udah jawab perasaan David gak?” Pertanyaan Ben membuat Matthew membalikkan matanya dan menatap Ben dengan tatapan membunuh. Tubuh Ben mundur, berusaha untuk menghindar dari jangkauan Matthew. “Soal itu…” Astrid berhenti mengunyah, dan tersenyum. Kali ini dia benar-benar merasa senang saat mengakhiri sesuatu dengan baik, dan tidak menimbulkan keributan. FlashBack Seperti biasa, Astrid hanya rebahan di lengan Matthew selama jam pelajaran berlangsung. Gadis itu tetap tidak peduli, sekalipun sudah berkali-kali ditegur oleh guru yang masuk. Astrid hanya senang, dia senang saat masih ada yang mempedulikannya. Dan Matthew benar-benar dibuat pusing oleh temannya itu. Bel istirahat pertama selesai, dan Astrid masih tertidur. Sampai sebuah ketukan pelan di wajahnya membuat gadis itu terbangun. Dan wajah yang dia lihat adalah wajah David.   “Lo…udah mutusin, Trid?” Aress, dan juga Ben bergidik ngeri saat merasakan aura membunuh dari Matthew. Hal itu membuat Ben, dan juga Aress lekas menghilang dan tidak berani mencampuri urusan Astrid. Terlebih ada Matthew ada di sana. “Kita ngomong di atap, habis pulang sekolah. Mau gak lo?” David masih tersenyum cerah, lelaki itu mengangguk dan lekas kembali ke tempat duduknya dengan semangat. Beberapa teman kelas mereka yang masih ada di sana bertanya-tanya dengan wajah heran. “Apa David suka sama si malas itu?” “Mungkin begitu. Gue bersyukur jika itu memang benar, karena gue gak suka dia nempel mulu sama Matt. Secara mereka itu benar-benar gak seimbang banget. Yang cocok tuh, lo jadian sama Matt, dan Astrid jadi pembantunya. Gimana, oke gak ide gue?” Gadis dengan rambut kuncir kuda itu tersenyum malu-malu saat dipuji. “Lo bisa aja, kenapa lo gak jodohin diri lo sendiri sama Matt? Secara kan, semua juga suka sama dia!” “Gue sadar diri gak bakal dilirik sama dia. Tapi kalo sama lo, gue masih ada…” “Bahkan mau lirik rambut lo dari belakang Matthew gak mau, lo itu gada bandingannya sama Astrid, dasar j*****m!” Kedua cewek tadi terkejut mendapati Ben yang mendadak ada di belakang mereka. Astrid yang menatap itu hanya menaikkan bahunya, dan kembali rebahan. “Lo kenapa sih rese banget sama kita, Ben?” “Karna lo…cewek malam!” Ben langsung kabur dan tertawa puas, meninggalkan gadis tadi yang wajahnya langsung memerah. Jam pelajaran terakhir sudah selesai. Astrid bangkit dari tidurnya, dan menatap Matthew yang tengah merapikan bukunya. Lelaki itu sedang mendapat jatah piket. “Matt…gue pergi dulu bentar!” “Hmmm!” Sebelum Astrid menghilang di balik pintu, Matthew langsung berlari dan menahan tangan gadis itu. Tatapan mata Matthew dipenuhi dengan rasa khawatir, dan kecemasan. “Lo harus jawab perasaan David kah, Trid?” Kening Astrid saling bertaut. Padahal, mereka sudah setuju dengan hal ini semalam, bahkan mereka membicarakannya baik-baik. Namun sepertinya masih ada yang mengganjal di hati Matthew, membuat Astrid kembali berdiri diam dan memperhatikan Matt. Menunggu apa yang kali ini lagi-lagi membuat Matthew menahannya. “Kenapa lagi, Matt? Lo gak percaya sama gue?” “Bukan gitu, tapi…” Menurunkan tangan Matthew, Astrid tersenyum lebar. “Kali ini, biar gua yang mutusin, Matt. Gue pergi dulu,mungkin David udah nungguin dari tadi!” “Tapi, Trid. Gue harus…” Sayangnya, Astrid tetap melangkah menjauh dan tidak mendengarkan lagi perkataan Matthew yang terdiam di depan pintu. Ben dan juga Aress yang menatap itu dari kejauhan hanya bisa menaikkan bahunya. “Emang, kalo cowok sama cewek sama-sama gak peka, gini jadinya!” Ben nyolot sambil mengisi mulutnya dengan pentol dan gorengan yang dia beli di kantin. “Gue kasihan lihat mereka berdua. Sama-sama gak peka, sama-sama t***l juga!” “Gue setuju sama lo, Ress!” “Mau ngikutin Astrid gak?” Ben tersenyum lebar. “Masa kali enggak. Gue aja udah ambil banyak gorengan biar ada teman nonton gratis, kuy lah ke atap!” “Tapi, kalo Astrid tahu, lo bisa jadi bahan bulan-bulanannya dia!” “Kok cuman gue sih? Tega amat lo lihat gue menderita seorang diri!” “Ya kan emang lo lebih suka menderita seorang diri!” “Emang taik punya teman kayak lo, Aress!” Aress terkekeh pelan. Mereka berdua lekas menaiki lift, dan berhenti di lantai atas. Lorong lantai paling atas sudah kosong, hal itu memudahkan mereka berdua menyelinap ke atap. Di atap, Astrid yang baru saja tiba di sambut dengan senyuman ramah David. Lelaki itu membenahi kacamatanya, dan juga menghapus jejak keringat yang membasahi wajahnya. “Lo udah lama ya?” “Iya, udah lama. Lo ketiduran lagi ya?” “Maaf, badan gue capek banget soalnya.” David hanya tersenyum penuh pengertian. Dia tahu apapun pekerjaan kecil yang Astrid lakukan bisa membuat gadis itu kelelahan. “Jadi…” David menggantungkan ucapannya. “Gue nerima lo!” Ben hampir saja berteriak, namun Aress lebih dulu menyumpal mulut lelaki itu. Bisa gawat jika Astrid sampai tahu jika ada penguntit. Dan lebih bahaya jika dia tahu kalau penguntit itu adalah Ben, dan Aress. “Lo…lo nerima gue?” ucap David gugup. Astrid mengangguk lagi. Wajahnya tetap tenang, tidak ada raut emosi di sana. “Lo…lo serius, Trid? Gue…gue masih gak nyangka kalo lo…nerima gue?” Senyuman Astrid membuat David melayang, rasanya dia tidak bisa menggapai dirinya. David begitu senang, namun ada juga rasa yang aneh saat Astrid terlihat tidak memiliki emosional saat mengatakan hal itu. “Gue nerima lo, sebagai…teman!” Hampir saja Ben ngakak keras, beruntung Aress lagi-lagi menyumpal mulut lelaki itu dengan tangannya. Lalu melepaskannya setelah keadaan Ben bisa terkendali. David langsung berhenti senang, wajahnya langsung pucat. Tatapannya nanar, dan tidak yakin saat menatap Astrid yang bisa mengatakan hal seperti itu dalam waktu yang bersamaan dan dengan raut wajah yang sama. “Lo…permainin perasaan gue, Trid?” Lagi-lagi Astrid yang menggeleng membuat David bingung. “Jika bukan begitu, lo…” “Rasa suka lo sama gue, adalah ketertarikan antara beda jenis, David. Sementara gue, gue gak pernah tertarik dengan hubungan semacam itu. Setelah mempertimbangkan mana yang terbaik, Matthew tetaplah yang terbaik. Ototnya lebih besar, dan dia pasti sanggung untuk menggendong gue kemana-mana. Sementara lo, semenit aja lo gendong gue, mungkin tubuh lo dah tepar.” David bengong. “Jadi, karena alasan siapa yang lebih macho, Trid?” Astrid mengangguk, dan juga menggeleng. “Selain itu, Matthew juga sudah seperti majikan gue. Dan gue gak butuh majikan baru, dia masih hidup, dan gue udah betah di rawat sama dia. Kecuali ntar, lo jadi lebih kuat dari Matt. Mungkin gue bisa pindah majikan!” “Lo gak…” “Udah, gue capek ngomong. Intinya, kita tetap teman, dan lo pantas dapat yang terbaik daripada gue. Inget Vid, lo itu berharga apapun keadaan lo. Jangan pernah sepele sama diri sendiri. Gue juga mau pergi besok, semoga lo baik-baik saja!” “Trid…boleh gue peluk lo?” Astrid mengangguk, dan merentangkan tangannya. David memeluknya erat, di selingi dengan tawa. “Baru kali ini gue suka sama cewek unik kayak lo. Mungkin, setelah lo balek, gue bakal jadi lebih macho. Tapi, makasih udah ngasih sesuatu yang berharga buat gue. Lo itu mengubah cara pandang gue mengenai hidup gue, dan gue bakal tetap jadi temen lo. Apapun yang terjadi, karena gue udah sadar kalo kita hanya bisa jadi temen!” “Lo gak marah sama gue kan?” David tertawa lagi. “Gimana bisa gue marah sama lo, Trid? Lo itu sangat istimewa, dan gue janji bakal jadi best part dari diri gue sendiri!” “Bagus, itu cocok jadi ciri-ciri majikan gue. Udah, gue pergi dulu!” David tersenyum dan menatap punggung Astrid yang sudah menghilang di balik anak tangga. Lelaki itu melepas kacamatanya dan tersenyum lebar. Astrid dan semua keunikannya tidak pernah berhenti membuatnya jatuh dalam pesona gadis itu. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN