24 jam berlalu dengan cepat. Ben, dan juga Aress sama seperti biasanya. Menginap di rumah Astrid, dan makan dengan sesukanya. Bahkan tanpa meminta izin dengan sang empunya lebih dulu.
“Trid, lo belum jawab David?”
Astrid yang tengah rebahan sambil mengunyah permen karet menatap Ben, dan juga Aress. Kedua bahunya tertarik.
“Belom. Kayaknya besok bakal gue tolak dia!”
“Kenapa lo tolak?”
“Kata Matthew!”
Ben tersenyum miring, lalu memainkan alisnya sambil menatap Aress. Matthew masih keluar untuk membelikan beberapa jenis makan yang bisa disantap malam-malam begini.
“Kenapa harus ngikutin kemauan Matthew, Trid? Itu kan kemauan Matt, bukan lo. Sekarang lo cuman perlu jujur sama diri lo sendiri, kalo lo mau, tinggal bilang aja. Lagian, kasihan lo di David!”
Astrid memperbaiki posisi duduknya, dan menatap Ben.
“Lo setuju kalo gue jadian sama dia?”
Ben dan Aress kompak mengangguk. Hal itu membuat Astrid menyipitkan matanya, dan memandang kedua temannya yang terasa aneh kali ini.
“Sebenarnya, selain karena Matt yang bilang. Gue juga mager pacaran, gue gak suka diatur-atur.”
“Lo…mager?”
Astrid mengangguk keras. Tidak hanya untuk pacaran, terkadang, Astrid juga merasa mager hidup. Rasanya dia ingin tetap berada di kasurnya, dengan ada orang yang memberinya makan 24 jam, lalu memberikan apapun kebutuhannya. Memandikannya, dan semuanya.
Intinya, Astrid ingin hidup yang sederhana, tanpa melakukan apapun.
“Gile lo ya, Trid. Mosok pacaran aja mager!”
“Boro-boro pacaran, Astrid hidup aja mager. Udah sana, dasar curut lo berdua. Gue tau lo berdua mau pengaruhi Astrid biar mau jadian sama David.”
Mendengar suara itu, mendadak Aress dan juga Ben langsung mengambil posisi pura-pura tidak tahu.
“Iya, mereka bilang gue harus ambil keputusan sendiri, bukan keputusannya lo!” ucap Astrid, sambil kembali merebahkan kepalanya di pangkuan Aress.
“Sialan lo ya Trid, gak usah bilang napa sih?”
Matt menatap Ben, dan juga Aress tajam. Mungkin tatapan Aress bisa menggunduli rambut mereka berdua saat ini.
“Pindahin ini ke mangkok!” perintah Matt mutlak.
Ben lekas mengangguk, dan berlari ke dapur. Sama-sekali tidak berani untuk menatap Matthew yang terlihat siap untuk menguburnya hidup-hidup.
“Gue gak tahu kalo lo juga suka ngurusin kehidupan pribadi orang, Ress. Mau gue bunuh lo malam ini gak?”
“Serem banget lo, itu idenya Ben keles. Gak usah ngegas, lagian kita cuman bantu kok. Bantu Astrid nyari belahan jiwanya gitu!”
“Bajengann!” teriak Matthew.
Aress sudah lebih dulu kabur sambil tertawa keras. Hal itu ikut membuat Astrid terkikik tidak jelas. Bersama dengan mereka memang adalah kesenangan tersendiri. Dan Astrid tidak akan pernah mendapatkan hal ini dari manapun.
“Lo ketawa, Trid?”
“Gak, gue nangis!”
Matthew semakin menekuk wajahnya. Dia benar-benar tidak bisa marah jika Astrid sudah ikut-ikutan.
Namun, yang membuat Matthew merasa tidak enak adalah saat tidak tahu dimana keberadaan ibu Astrid. Sudah berkali-kali Matthew menelepon, sayangnya tidak ada jawaban sama sekali.
“Ini, lo beli bakso, Matt? Wihh…hedon banget ya!”
“Lo seneng kan tapi?”
Ben terkekeh, lalu memasang dua jarinya.
“Ya gue senang lah. Mana baksonya jumbo lagi, bisa puas gue makan malam ini!”
“Gak usah kebanyakan bacot lo, Ben. Ntar gue potong pala lo, gue jadiin bakso, mau lo?”
“Ya…gimana ya, ya gak mau sih. Ngeri soalnya!”
Menatap Ben kesal, Matthew lekas mengambil beberapa bakso, dan meletakkannya di piring. Dengan sigap menyuapi Astrid yang sudah duduk dengan benar. Sesekali mereka melontarkan bahan candaan, yang di tanggapi oleh Astrid.
“Lo gak nyari tante-tante malam-malam gini, Ben? Kayaknya, malam-malam gini lebih banyak tuh yang nongol di jalanan. Kali aja lo dapat tante-tante yang sultan!”
Aress terkekeh lebar saat mendengar celotehan Astrid, namun tidak dengan Ben yang hanya menekuk wajahnya kesal.
“Lo kenapa sih masih ngungkit masa lalu, Trid? Gue udah tobat lo, harusnya lo gak ngundang dosa itu lagi.”
“Lo mau tobat pun, surga gak bakal nerima lo, Ben. Lo itu terlalu hina, dekil, dan bau tante-tante!”
“Trid…lo kok gitu sih!” Ben meletakkan alat makannya, dan menatap Astrid tajam.
Atmosfer di ruang tengah itu mendadak suram. Astrid menyipitkan matanya, dan tidak peduli dengan Ben yang marah. Gadis itu tetap membuka mulutnya saat Matthew menyodorkan bakso lagi. Aress menatap Ben, dan menyiku lengan lelaki itu.
“Lo mau ngapain? Bukannya Astrid tuh salah ya? Dia itu terlalu naif banget!”
“Bukannya gue naif, tapi cuman mau bilang aja kalo lo udah terlalu berdosa banget. Jadi gak cocok buat surga!”
“Trid, lo siapa sih ngejudge hidup gue? Kok lo yang ngatur gue bisa masuk neraka atau surga. Lo itu Tuhan? Lo itu cuman manusia biasa, Trid. Dan gada satupun dari kita yang bisa buat mastiin bakal masuk surga atau neraka. Lo jangan buat emosi deh. Kesel gue!”
“Lo kok emosian sih?” Astrid bertanya dengan wajah datar.
“Lo…”
“Gue cuman pancing emosi lo kok. Biar ngingetin gimana sikap lo waktu kita terjebak di ruangan itu. Lo sembarangan ngejudge gue, dan Matthew, padahal lo sendiri gak tahu kebenarannya. Jangankan lo, kita sendiri aja gak tahu kebenaran mengenai apa yang terjadi!”
Semuanya terdiam. Begitu juga dengan Matthew.
Padahal mereka semua sudah berjanji untuk tidak membicarakan apa yang terjadi di dalam gedung kelas sewaktu mereka terjebak di sana. Namun kali ini, tatapan marah Astrid cukup memberikan tanda tanya besar.
“Trid, kenapa lo mendadak bahas ginian coba?” Aress menatap Astrid, dia tidak tahu penyebab percakapan mereka sampai pada titik kali ini.
“Gak karna kenapa sih, gue cuman kesel aja waktu itu. Tadi, pas makan bakso, tiba-tiba aja ingatan gue jadi keinget ke sana.”
Menghela nafas, Aress hanya bisa memberikan tatapan damai pada Ben. Setidaknya agar lelaki itu tidak emosian lagi.
“Sudah Trid, Ben, kita sekarang lagi dikasih kesempatan buat menghirup udara bebas. Waktunya gak lama, jadi tolong jangan cari masalah lagi saat ini. Kita gak tahu kapan lagi kita bisa mengulang hal seperti ini, dan tolong pergunakan waktu kita buat kesempatan kali ini!”
“Matt benar, Trid, Ben!”
“Emang dia bener kok, yang bilang salah siapa?”
Aress tertawa, lalu diikuti oleh Astrid lalu Ben. Mereka bertiga hanya bisa tersenyum menatap kecerobohan masing-masing. Matthew tersenyum tipis, yang tidak seorangpun sadar akan hal itu, karena wajahnya selalu saja datar.
“Besok kita sekolah, atau mau bolos aja?”
“Gundulmu, besok kita tetap sekolah, lo udah cabut tadi siang!” Matthew menatap Ben dan juga Aress dengan datar.
“Ya, siapa tahu aja kalian mau bolos besok. Kita jalan-jalan gitu, kan enak bisa menghirup udara segar. Lo mau gak, Trid?”
“Kalo kita jalan-jalan, gue gak yakin Mata setuju atau enggak. Kita harus berada dalam pengawasan Mata, jika tidak, kita bisa dalam bahaya!”
“Maksud lo?” Ben menatap Matthew penuh pertanyaan.
“Jangan lupakan fakta kalo kita masih dalam bahaya, Ben. Jadi, tanpa Mata, kita tidak akan bisa sebebas ini. Mungkin, kalo dia gak ada, kita gak bisa selamat!”
“Akhirnya, lo ngelakuin hal itu juga, Matt?” Aress memainkan alisnya.
“Diam ah, jadi besok kita harus tetap pergi ke sekolah. Gak usah banyak dramanya, kalo udah, lo…”
Melihat Ben yang menyuruhnya untuk diam, membuat Matthew mengikuti kemana arah pandang Ben. Dan menatap wajah Astrid yang sudah damai, dan matanya yang sudah terpejam sempurna membuat Matthew terdiam.
Lelaki itu mengamati wajah itu dengan penuh perhatian.
Dia sudah sering kali mengamati wajah Astrid yang tertidur. Tidak ada raut wajah marah, tatapan tajam, yang yang sejenis dengan itu. Hanya ada wajah polos, yang ingin sekali Matthew lindungi.
***
Grace POV
Grace tengah terdiam di bawah pohon dekat dengan rumah kumuhnya, sambil memperhatikan bintang-bintang yang semakin ramai. Malam semakin larut, namun gadis itu tidak beranjak dari sana sama-sekali.
Tatapan Grace tertuju pada rumahnya. Kecil, dan terbuat dari kayu, tidak seorangpun temannya pernah diajak ke rumahnya.
Grace terlalu tidak percaya diri untuk menunjukkan keadaannya yang sebenarnya. Dia selalu saja minder jika teman-temannya meminta agar melakukan kerja kelompok di rumahnya.
Namun, sekalipun kecil, Grace sudah nyaman di sana. Bersama dengan sosok yang kini baru saja kembali.
“Ma?”
“Loh, Grace? Belum tidur sayang?”
Suara itu sangat merdu, dan membuat Grace merasa tenang. Ada kedamaian yang dia dapat jika mendengar suara itu. Kedamaian yang selalu saja membuat Grace bisa berubah menjadi orang yang sedikit serakah.
“Kenapa mama lama pulang?”
Sarah, wanita paruh baya dengan warna putih yang hampir mendominasi rambutnya itu tersenyum lembut. Lalu lekas memarkirkan sepedanya di samping rumah. Membawa Grace ke dalam pelukannya, dan membawa gadis itu masuk ke dalam rumah kecil mereka.
Tidak ada ucapan dari Sarah. Wanita paruh baya itu, lekas pergi ke dapur dan menuangkan Grace secangkir air hangat.
“Kamu pulang kapan nak? Kenapa gak kabarin mama?”
“Sudah dari pagi, ma. Cuman Grace gak nemu mama!”
Sarah kembali tersenyum, dan menahan batuknya. Dia menatap Grace yang ternyata sudah tumbuh dewasa. Wajah Sarah ada di sana.
“Mama udah makan?”
“Udah, kamu udah?”
“Udah juga!”
Tatapan Grace sama-sekali tidak teralihkan dari wanita paruh baya itu. Setiap inci berusaha untuk Grace pindai dalam otak kecilnya. Rasanya dia masih tidak siap jika harus berpisah dengan ibunya besok, dan Grace juga tidak tahu harus mengatakan apa-apa.
Dan saat melihat ibunya yang tidak baik-baik saja, semakin membuat semuanya terasa runyam. Grace tidak punya pendirian saat ini.
“Kamu sepertinya mau bicara sesuatu sama mama, nak. Ada hal yang tersembunyi dalam hatimu ini?”
“Ma…”
Suara Grace serak. Dia benar-benar tidak bisa membohongi dirinya sendiri, jika dia pun tidak menginginkan keadaan ini. Rasanya Grace ingin menghilang saja dengan membawa ibunya ke tempat yang damai.
“Semalam mama mimpi, nak. Kalo Grace mau pergi jauh dari mama, rasanya sangat tidak enak, karena Grace tidak izin dulu dari mama. Padahal mama gak pernah ngelarang kalo Grace mau pergi jauh. Tapi apa itu benar?”
Grace tercekat. Dia menyandarkan kepalanya di bahu Sarah.
“Ma…ada hal yang gak bisa aku jelasin ke mama. Dan apa yang mama bilang benar, Grace lagi ada urusan yang penting. Dan mungkin bakalan lama, mama keberatan gak kalau Grace ikut?”
Sarah tersenyum, dan mengelus rambut panjang Grace.
“Kapan mama bilang begitu, sayang? Apapun yang Grace mau lakuin, itu semua adalah keputusan Grace. Mama selalu ada di sini, di hati Grace. Kalo Grace ragu tentang apapun itu, atau takut, tinggal bilang aja. Mama bakal ada, dan selalu ada di sisi Grace!”
“Ma…”
Grace tidak bisa menahan isakannya. Kali ini dia benar-benar menjadi lemah di hadapan mamanya.
“Sayang, kamu sudah tumbuh besar seperti ini. Kamu bahkan melakukan apapun demi mama, dan tidak seharusnya mama menjadi beban buat kami. Mama sangat menyayangi kamu!”
“Ma…Grace gak pernah anggap mama jadi beban, dan jangan pernah bilang gitu. Aku cuman punya mama, tolong jangan pergi dari aku, ma!”
“Hey…” Sarah menyentil dahi Grace pelan, “siapa yang bilang mama mau pergi? Jangan terjebak dalam pemikiranmu sendiri nak. Apapun itu nanti kegiatanmu, mama ijinin kamu pergi kok. Tadi pagi, ada seorang pemuda tinggi, yang juga udah bilang ke mama kalo kamu bakal ikut lomba!”
“Seorang pemuda?”
Sarah mengangguk.
“Iya, namanya Mata! Namanya lucu, mama sampai ketawa dengar namanya dia!”
Mendengar itu, Grace lekas bangkit dan menatap Sarah dengan tatapan penasaran. Dia tidak tahu jika Mata akan mengunjungi ibunya lebih dulu.
“Dia pemuda yang baik, Grace. Mama percaya sama dia. Bahkan, dia juga bantu ngebayar biaya perawatan ibu, mama harap kamu bisa menang lombanya nak!”
“Dia gak ngomong apa-apa lagi, Ma?”
“Gak kok. Tapi…apa dia pacar kamu?”
Sarah dengan tatapan jenakanya membuat Grace tertawa sambil tetap menangis.
“Dia itu temannya Matthew ma. Teman aku juga, aku gak kenal sama dia kok. Tapi aku pasti bakal menang lombanya, dan kembali secepat yang aku bisa!”
“Anak mama udah dewasa ya!”
"Jangan berkata begitu,Ma. Aku jadi merasa seolah mama ingin pergi jauh!"
"Ada-ada saja, sini mama peluk dulu. Kamu kan mau pergi!"