16 ~ Gue...takut kecewa, Matt!

1700 Kata
“Trid, dia keknya mau ngomong sesuatu sama lo!” “Gue tau. Dia bilang kalo dia mau…taubat!” Semua yang mendengar—kecuali Lia, speechles. Benar-benar tidak mengerti jalan pikiran seorang Astrid lagi. Tapi…mungkin itu benar.  “Sekarang bagaimana?”  “Dia bilang, mau bantuin kita juga!” Christopher dan juga Grace yang pertama mendengar itu bersemangat. Jika jalan mereka bisa dipermudah, kenapa tidak? “Tapi Trid, lo…” “Efeknya paling cuman…pingsan lagi?” Kali ini Astrid tidak main-main. Permintaan suster ngesotnya kali ini benar-benar tidak masuk akal. Dia meminta Astrid untuk membelikan KFC ekstra. Mana Astrid bingung lagi, kapan hantu  makan KFC gitu? Tapi demi mendapatkan bantuan, apapun Astrid lakukan.  “Trid!” Matt lagi-lagi menahan Astrid, “gue mau jujur kalau sebenarnya gue…” Bruk Perhatian mereka tertuju pada tubuh Ben yang mendadak terjatuh. Grace dan juga Aress panik, lekas menghampiri Ben yang…bau, dan menjijikkan.  “Kenapa lo?” Aress menatap raut wajah pucat Ben, dan keringat dingin yang lagi-lagi keluar dari dahinya.  Ben menelan ludahnya kasar, sambil menekan perutnya yang sakit. Jujur, ini mah namanya, tubuh Ben lagi main-main sama yang punya.  Masalahnya…perut Ben kembali terasa melilit dan dia ingin berak lagi.  Ben berusaha untuk mengatur nafasnya, dan menatap Aress, Grace, juga Christoper yang melirik ke arahnya.  “Gue…butuh KAMAR MANDI!” Astrid kicep, sudah menduga hal itu.  “Di pojokan sana, ada toilet. Tapi…” Wush Angin menyapu wajah Astrid, mana angin bau semerbak taik lagi. Mereka semua memperhatikan Ben yang kini berlari terkocar-kacir. Dan menghilang di pojokan, ditelan gelapnya ruangan yang tidak ada pencahayaan.  Mereka semua saling menatap. Dan kini menatap Astrid dengan tatapan bertanya.  “Sejak kapan ada toilet di sini?”  “Lah, kan emang ada toilet kok di sini!” “Kenapa lo gak bilang dari awal?” ujar Grace, tidak habis pikir dengan jalan pikiran Astrid.  “Ya…karena ga ada yang nanya!?” Speechless. Semuanya terdiam, tidak lagi menyahut, ataupun memberikan kritik. Toh juga apa yang Astrid bilang itu bener. Satupun dari antara mereka memang tidak ada yang bertanya lokasi toilet. Jadi…Astrid tidak sepenuhnya salah.  Benar, kan?  Beberapa menit berlalu, namun tak satupun dari mereka yang beranjak. Hingga bunyi langkah dari arah pojokan akhirnya terdengar, membuat Aress lekas bangkit.  Wajah muncul dengan tatapan legah luar biasa. Seolah dia baru saja mendapatkan nilai A make plus, jadi A plus, untuk mata pelajaran kuliah yang sulitnya luar binasa, sampai mau ninggoy.  “Jadi gimana, udah legah?” tanya Aress, mengawali keheningan.  “Sudah!”  “Good. Lo juga udah gak bau banget, tapi pertanyaan gue, kenapa muka lo…ada noda darahnya? Lo ngapain aja di sana. Lo gak berantem kan sama hantu di sana? Siapa tau ada jenis hantu lain, misalnya…sundel bolong gitu?” Ben lekas meraba wajahnya. Dan merasa memang ada yang aneh. Dia tadi melihat ada air di ember, jernih dan sangat menggiurkan. Jadi, dia menggunakan air itu untuk membasuh wajahnya. Niatnya agak lebih fresh dan lebih baik.  Tapi…melihat tangannya yang juga bernoda darah, membuat Ben seketika merasa jika ada yang salah.  Wajahnya kembali memucat, dan Ben saat ini menatap Astrid, yang juga menatapnya dengan raut wajah malas.  “Trid, tadi lo ngomong ‘tapi’ pas bilang ada toilet disini, lanjutannya apa…?” Astrid menguap. Dan menatap semua mata yang saat ini juga tertuju padanya. Astrid tahu, mereka pasti penasaran.  “Di sini ada toilet, tapi…airnya jangan lo pegang, karena itu DARAH!” Wajah Ben pias. Dia tidak lagi bisa berkata apa-apa. Dengan marah, Ben lekas menghampiri Astrid, dan berdiri tepat di depannya. Posisi Astrid yang memang tengah duduk, dan bersandar di bahu Matthew harus mendongak untuk menatap seperti apa raut wajah Ben saat ini.  “Lo…LO KOK KEK TAIK, TRID? LO DARI AWAL SUDAH TAHU KALO ADA TOILET, TAPI LO GAK BILANG. LO TAHU KALO AIR ITU DARAH, TAPI APA? LO JUGA GAK BILANG, KENAPA LO EGOIS BANGET SIH, TRID? LO…” Ben mundur saat Aress menarik kerah bajunya paksa. Tatapan Aress tajam, dan menatap Ben dengan helaan nafas panjang.  Cukup kecewa dengan apa yang Ben lakukan saat ini juga.  Berbeda dengan Matthew yang tetap tenang. Dia mengambil tangan Astrid, dan mengelusnya. Membisikkan sesuatu ke daun telinga Astrid, yang membuat gadis itu kembali menguap dan bersandar padanya.  Kemarahan itu berlangsung cukup lama. Aress yang tahu aura mematikan dari Matthew juga lekas menarik Ben sedikit menjauh.  “Lo…apa-apaan sih, Ress? Apa gue salah ngebentak dia, huh? Lo kok jadi kek gini sih, apa jangan-jangan lo tega lihat gue menderita dari tadi? Gue tau gue menjijikkan, gue tahu hidup gue gak berguna, tapi seenggaknya gak gini juga. Dia gak nganggep kita sebagai temannya!” Ben makin kalut, dan makin marah.  “Gosah mancing hal lain, Ben. Lo lebih baik mikir dulu, sebelum lo ntar nyesel.” “Lo…” “BENEDICT, sekali lagi gue denger lo teriak, gue gak bakal segan-segan buat mukul, lo. Tolong jangan jadi bodoh saat ini!” Matthew menatap Ben dengan aura membunuh. Sembari tetap mengelus rambut Astrid yang kembali menguap.  Menatap Ben, juga Matthew, dan Aress yang saling mengibarkan api kemarahan.  “LO BERDUA MEMANG SAMA-SAMA b*****t, GUE NYESEL PUNYA TEMAN KAYAK LO BERDUA!” ketus Ben, dan lekas melangkah menjauh di kegelapan. Sembari berusaha untuk tidak berteriak karena darah yang kini membuat wajahnya bau anyir.  “Ben, lo…” Tangan Grace ditepis, Ben melangkah menjauh semakin cepat. Dan punggungnya menghilang di lorong yang gelap dan terasa mencekam.  Seolah sesuatu ada di balik kegelapan, dan sedang tertawa menyaksikan perdebatan mereka saat ini.  “Kita mesti gimana? Gak ada yang mau nahan Ben gitu?” Grace panik, dia mondar-mandir di depan mereka.  “Biarin aja, toh dia juga tumbal kok!” Mendengar suara Astrid, mendadak Grace juga merasa kesal. Sejujurnya dia sudah berusaha menahan diri untuk tidak membantu Ben tadi. Tapi melihat tidak ada rasa bersalah di wajah Astrid, mendadak membuat amarah Grace juga bangkit.  “Keknya, Ben emang wajar deh marah. Lo…memang keterlaluan, Astrid! Gue pergi ngejar dia!” Grace akhirnya juga menghilang di balik kegelapan. Menyisakan Christopher, Aress, dan juga Lia yang baru saja sadar dengan kebingungannya.  “Trid, lo harusnya gak ngomong gitu juga tadi. Ben itu masih teman lo, dan selama ini dia juga baik sama lo. Aturannya, kalo lo tahu dari tadi ada toilet disini, harusnya ngomong. Karena kita juga gak kepikiran kesana, lo emang keterlaluan Trid kali ini!” Aress menghela nafas, dan menatap bingung antara Astrid dan juga ke arah kegelapan di depannya. Dimana Ben dan Grace yang menghilang di sana.  “Lo…salahin gue, gitu Ress?”  Nada suara Astrid kali ini berubah. Tidak ada nada bergurau seperti biasa. Nada suara itu mirip seperti wajah Astrid yang juga tidak punya…gairah.  Astrid…menatap Aress. Hendak angkat bicara lagi, namun merasakan Matthew yang menggenggam tangannya erat, membuat Astrid memilih untuk bungkam.  Karena yang salah…pasti selalu dia.  “Sekarang lo mau apa? Kalo lo mau pergi, silahkan. Gada yang larang lo pergi atau tetap stay di sini!” Matthew bangkit, dan menatap Aress, “lagian harusnya lo sadar, kalo Astrid itu terjebak karena siapa. Lo harusnya ngaca diri, dan banyak riset kalo mau bicara!” “Gue…” tangan Aress terkepal, dia menatap Matthew tajam, “lo harusnya bilang yang benar, Matt. Dari awal gue sebenarnya curiga kalo lo ada sesuatu yang disembunyikan dari kita. Gue…lebih milih Ben daripada lo dan Astrid. Gue pergi!” Tinggal Lia yang tidak tahu apa-apa—maklum, dia baru sadar dan sudah melihat perdebatan antara Grace dan juga Astrid. Lalu, tanpa ada kata-kata penjelasan barang sedikit pun, Grace pergi dan menghilang.  Rasa ingin bertanya tinggi, namun Lia tidak berani angkat bicara.  Jadilah dia tidak tahu harus berada di kubu siapa, orang dia tidak tahu apa yang sedang terjadi.  Sementara itu, berbeda dengan Christoper yang tetap kelihatan stay cool dengan gayanya. Setelah mendapatkan kembali kendali dirinya, Christopher lebih memilih untuk diam saja. Sekalipun dia tahu jika Astrid salah, tapi ada hal yang membuat Christopher lebih memilih untuk berada di dekat Matthew, juga Astrid.  “Lo…mau ikut gak?” Christopher menatap Aress yang tiba-tiba muncul di depan Lia. Ahh—Lia, dia mungkin tengah bingung dengan apa yang terjadi, batin Christopher.  “Kemana?” “Grace sama Ben!” “Gue…” “Ikut aja!” Tanpa tanya, dan tanpa penjelasan. Aress lekas menarik tangan Lia untuk berdiri, dan membawanya pergi.  Ruangan kembali hening. Astrid hanya menaikkan bahunya, lagipula, semakin sedikit orang, itu semakin baik. Dia…tidak merasa sakit jika terlalu banyak orang.  “Lo gak ikut mereka, Christ? Lo kan…harusnya ikut mereka aja!” Chris menatap Astrid, lalu menggeleng.  “Ngapain gue harus ikut mereka, lagian, mereka gada hubungannya sama gue!” Astrid menaikkan sebelah alisnya, lalu mengangguk. Itu juga bukan urusannya, dia tidak peduli mau siapa yang pergi dan datang. Yang penting, ada Matthew yang terus berada berada di sampingnya.  Namun, Astrid ingin menanyakan suatu hal. Mengenai Matthew, dan sesuatu yang tidak ia pahami sebelumnya. Juga tubuh Matthew yang kadang dingin, dan juga kakinya yang ada kalanya menjadi bolong.  “Jadi, Matt. Sekarang sudah tinggal kita, sesuai permintaan lo. Gue mau nanya, kenapa lo bisa ngilang gitu, dan kenapa lo…terasa berbeda daripada sebelumnya!” Matthew menghela nafas.  Dia tahu, jika Astrid pasti akan bertanya juga. Kendati begitu, Matt juga ingin menjelaskan hal ini sebelumnya pada Astrid, dan juga teman-temannya yang lain.  “Gue…indigo, udah lama.” Astrid diam. Tidak memberi respon, karna jawaban Matthew kurang memberikan hal yang dia inginkan.  “Gue…juga bisa lihat satan, dan…iblis!” Kening Astrid mulai menyatu.  “Dan waktu itu, gue…gue pernah buat perjanjian!” “PERJANJIAN!” sela Christopher, dia…terkejut dengan apa yang baru saja terdengar di telinganya.  “Diam dulu, orang pintar gak kepo. Dia kalem, tapi mematikan di dalam!” seru Astrid kesal, menatap Christoper dengan cibiran yang ketara.  Matthew mengangguk. Dia menjauhkan tubuh Astrid, lalu berdiri tepat di hadapan mereka. Sejujurnya, Matthew harus percaya dengan Astrid, dan seharusnya, tidak membuat gadis itu terjebak di keadaan yang sama dengannya.  Karena ini, bukan murni kesalahan Aress.  Dan sejujurnya, Matthew yang ada di balik ini semua.  “Jelasin, Matt. Gue…gue takut kecewa!” bisik Astrid pelan. Namun, bisikan pelan itu yang membuat Matthew tidak sanggup untuk menatap mata Astrid. Dia salah, dan terjebak dalam pikirannya yang sesat, dan selalu saja berakhir pada keadaan yang seperti ini.  Matt…lagi-lagi melakukan hal yang terlambat dia sesali. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN