15 ~ Suster ngesot, kena mental!

1493 Kata
 “Gimana? Kenapa otak-otak manusia seperti kalian gak bisa guna di saat genting seperti ini?” Astrid menguap, dia benar-benar tertidur nyenyak di gendongan Matthew—majikannya, yang kini dengan sabar mengelus kepalanya lembut. Tidak terpengaruh dengan bau nafas Astrid yang seperti aroma kehidupan. “Trid, bisa gak sih, kalo lo itu ngomong nyadar diri dikit. Lo juga manusia!” Grace kesal, dia menatap Astrid yang tetap memasang wajah cuek dengan santainya. Terkesan tidak menghargai. “Lo sih, Matt. Terlalu ngemanjain dia, aturannya lo sadar kalo bahasa dia dari kemarin-marin gada moralnya. Apa dia emang terus seperti itu? Gue salut sama lo yang bisa tahan sama dia!” sambung Grace lagi, kali ini nada suaranya terkesan berapi-api. Sangat pas sekali dengan suasana di ruangan mereka yang terasa panas. “Udah, Grace!” seru Aress, menengahi. “Apa yang gue bilang itu gak bener?” Grace tetap membela diri. Astrid menatap dengan mata malasnya. Matt sejak tadi hanya bisa mengelus punggungnya, dan berbisik agar Astrid tidak peduli. “Gue kan…bukan human!” Mendadak wajah Grace semakin memerah. Kali ini dia kehilangan kata-katanya, entah kenapa dia bisa lupa hal itu. “Gue…peliharaan Matt. Jadi…gue gak punya hak buat mikir dong!” sambung Astrid lagi, kali ini dia menguap semakin lebar. “Lo…” “Grace! Udah, gak usah ikut campur sama masalah gue, dia itu peliharaan gue. Jadi…tolong jangan kata-katamu sekali lagi, gue gak suka denger lo ngomongin Astrid langsung di depannya!” Matt menatap Grace tidak suka. Apapun kecuali Astrid. “Ya kan bagus kali di depan Matt, kalo di belakang, beda lagi urusannya!”kekeh Ben, dia juga mendadak tidak suka dengan Grace. Sepertinya Ben sudah terkena sindrom yang salah dibenarkan deh. Tidak ada sahutan lagi dari Grace. Dia sibuk dengan kekesalannya, dan ruangan mereka yang semakin terasa panas. Aress bangkit. Lalu menatap kasur bernoda darah itu lagi, dan kembali duduk. “Kalo lo gak punya otak, gak usah sok-soan mau diri dan kasih harapan palsu deh, Ress. Lo jangan jadi pengikut Ayu Ting-ting, ntar lo mendadak jadi artis kalo bawain ‘harapan palsu’ versi koplo season dua!” Ben, dan Aress sama-sama ngakak mendengar ocehan garing Astrid. Lia yang tadi tidak terbawa suasana mau tidak mau ikutan tertawa. Dia…entah sejak kapan menyukai ucapan receh Astrid. “Kalo bawain lagunya Ayu Ting-Ting, ntar nama dia ganti dong, Trid!” Ben dari sebelah Lia menyahut lagi, “Lagi Ress Ting-Ting!” Mereka ngakak, semuanya, kecuali Grace yang berusaha mati-matian untuk tidak melekukkan sudut bibirnya. “Jadi Ress Duda aja dong, dia udah gak Ting-Ting lagi!” tambah Astrid. Ben ngakak sejadi-jadinya. “Emang Aress pernah ‘nganu’ sama tante-tante, Trid?” “Gak sama tante-tante lag, kalo tante-tante kan langganan lo, Ben. Kalo Aress itu, sama…” Astrid mengantuk. Dia menahan bibirnya untuk tidak tertawa melihat ekspresi panik Aress. Seringai Astrid benar-benar terlihat senang dan terlihat lebih menang saat ini. “Sama apa, Trid? Gue kepo nih!” ujar Lia, tidak tahan mendengar ocehan unfaedah Astrid lagi. Senyuman Astrid mendadak lenyap. Dia menatap lurus ke bawah kasur, ternyata…dari tadi ada yang ikutan ketawa bareng mereka. Dan Astrid baru menyadari hal itu. Dia mendadak tidak suka. “Lo…lo kenapa?” Lia mendadak panik saat menatap raut wajah Astrid yang serius. Bahkan terkesan tidak ada ekspresi di wajah gadis itu. Dan itu pertanda jika Astrid tengah menatap sesuatu lagi. Terlebih saat memandang mata Astrid yang menatap lurus ke bawah kasur bernoda darah itu. Semakin membuat Lia bergidik ngeri, dia menelan ludahnya kasar. “Apa yang tengah kau tatap, Trid?” bisik Matthew pelan, sangat pelan, takut jika ia yang salah menafsirkan. Astrid kembali menguap, dan merebahkan kepalanya. “Aku hanya teringat dengan bakso buatan mang kasep, baksonya selalu tertawa…tidak pada tempatnya!” Cringe! Ben kali ini tidak dapat jokes dari ucapan Astrid. “Sayangnya, bakso yang aku bayangkan kali ini adalah tumpukan daging dengan wajah menyedihkan!” Matthew menatap lurus kedepan. Kakinya…bolong sedikit. “Dia juga…menatap ke arahku!” Astrid menghela nafas. Dan menatap lurus kedepan. “Jadi, apa yang kau mau? Satan buruk rupa?” Ben merangkak mendekat, juga Lia dan Christoper yang merasa bahwa kali ini lawan mereka tidak seperti biasanya. Melihat raut wajah Aress, Matt dan juga Astrid yang tidak baik-baik saja, sudah cukup untuk menunjukkan pada mereka jika…sosok itu bukan lawan mereka. Tangan di penuhi dengan cairan kental berwarna hitam dengan bau menyengat itu perlahan keluar dari balik bawah kasur. Astrid sudah merasakan itu sebelumnya, itu sebabnya dia tidak tidur di kasur. “Trid, dia…” “Sttt…lo ngomong dia ntar kabur…bego!” Aress kicep. Dia membuang nafas, dan menangkapnya. Hampir saja muntah, dan seketika ia makin kesal saat Grace yang ada di sampingnya memukul pinggangnya keras. “Bau kehidupan di neraka, bego. Busuk amat sih nafas lo, makan bangkai kali lo ya!” “Ya. Bangkai kehidupan lo!” kesal Aress, dia melangkah menjauh dan berdiri di sebelah Astrid. Gadis itu kini di apit olehnya, juga Matthew yang pasti tidak akan pernah menjauh darinya. Astrid menutup hidungnya, dia mual merasakan aroma yang benar-benar busuk. Mengalahkan aroma taik Ben malah. Tangan itu basah ternyata, lalu diikuti dengan kepala dengan rambut panjang yang menutupi wajahnya, menyisakan mata sosok itu saja. Helaan nafas Astrid membuat sosok itu berhenti sebentar, dan menatap Astrid. “Klasik tau gak? Kalo mau keluar ya keluar aja, lo encok apa gak punya tulang belakang gitu? Mau gue sleding keluar dari sini, udah jadi satan…btw, lo satan?” Sosok itu menggeleng. Membuat Astrid mengangguk…paham. “Lo hantu kan ya? Mau mastiin dong, ntar kalo salah sebut kaga enak, demi Alex, benar-benar kaga enak!” Lagi-lagi sosok itu menggeleng. “Woilah, jangan buat otak kecil gue mikir dong. Lo itu kalo bukan hantu, bukan satan, jadi apa dong? Keturunan Lucifer gitu? Behh…naik jabatan lo ya!” Sosok itu lagi-lagi menggeleng. “Dia jenis hantu kali, Trid. Siapa tahu dia…sundel bolong?” guman Aress. “Sundel bolong palamu. Eh…kok bener ya, coba keluar dulu song, mau lihat ada yang bolong gak di tubuh lo!” Sosok itu keluar, dan menunjukkan rupanya. Masih dengan wajah yang ditutupi oleh rambut panjangnya, juga tubuh basah yang terlihat menyedihkan. Keknya dia mati di kali mungkin ya. “Beh…parah!” guman Astrid heboh, “lo ngomong dong kalo lo itu…suster ngesot. Udah-udah, balek ngesot lagi aja, merasa bersalah gue maksain yang bukan tugas lo!” Lia, Ben, dan juga Grace—yang tidak bisa melihat, hanya bisa memperhatikan wajah Astrid yang tetap kalem, tenang, dan santuy. Berbeda dengan mereka bertiga yang kini tengah memegang baju Aress dengan ketat. Hampir merobek bajunya malah. “Jadi…ngapain lo tadi ngintip kita? Lo…genit ya?” “Sumpah Trid, serius dikit nape sih? Gue…takut!” bisik Ben, mendekat. “Coba lo sentuh gue, mana tahu lo pa…” Astrid menahan nafasnya saat tiba-tiba tubuhnya di pegang semua. Ben, Lia, dan juga Grace kini benar-benar memegangi tubuhnya. ARGHHHHHH Bruk Tatapan Astrid, kini tertuju pada Lia yang tidak sadarkan diri usai menatap sosok yang kini ada di hadapan mereka. Wajah Grace begitu pucat, seolah wajahnya saat ini tidak dialiri oleh darah. Sementara Ben sudah terberak-berak lagi. Menyedihkan. Dan lebih mengerikan lagi, mereka juga bisa melihat ‘MEREKA’. “Aturannya lo ngomong dong, Trid, kalo rupa dia kek gitu banget!” guman Ben, dia mengalihkan perhatiannya agar tidak tertuju pada sang suster ngesot yang merasa tidak bersalah. “Kan, siapa suruh lo berdua…maksudnya bertiga megang gue?” “Ya…” “Lo mau gue tumbalin duluan, Ben?” Ben kicep. Tidak berani membuka suara lagi. Aress menghela nafas. Dia tiba-tiba teringat jika mereka…kehilangan Christopher? Begitu berbalik, Aress, juga Matthew terkejut saat mendapati tubuh Christopher yang mematung di depan mereka. Matanya melebar, dan tubuhnya benar-benar kaku. Seolah tidak dialiri oleh darah. Dia…jauh lebih menyedihkan. Perhatikan Astrid tertuju ke bawah Christopher, lalu mendekat dan mencium aroma tubuhnya. Beruntung, Christoper tidak seburuk Ben. “Lo…kenapa?” seru Aress, menepuk bahu Christopher. Kepala Christopher memutar pelan, dan perhatiannya kini tertuju pada Aress. Sama-sekali tidak ada pergerakan. “Christ, lo…” ARGHH…ARGHHH…ARGHH…uhuk Teriakan Chirs berhenti begitu Astrid memasukkan coklatnya ke dalam lubang mulut Christopher. Wajah Christopher mulai memerah, dan mulai kembali normal. Terlihat…jauh lebih baik daripada sebelumnya. “Lo… uhuk… uhuk,” Christ masih terbatuk. Dia lekas mengambil botol mineralnya, dan menegak airnya hingga kandas. Lalu mengatur nafasnya setelah merasa jauh lebih baik. Mereka terdiam. Suster ngesot itu juga tidak berani untuk bergerak. Seolah kekacauan yang terjadi saat ini memang karenanya. Kendatipun memang demikian. “Lihat kan? Harusnya lo tetap aja di sana, gosah muncul lagi, g****k!” kesal Astrid. Dia kembali merebahkan dirinya di pangkuan Matthew, dengan tatapan masih tertuju pada sosok di depannya. “Rambut lo, gak bisa di ikat gitu ya? Atau mau gue potong?” Sosok itu lekas mengikat rambutnya. Dan menatap Astrid takut. Bentar, ini kok jadi hantunya yang takut ya? “Jadi…lo itu ngitip kita, ya?” Suster ngesot itu menggelek. Dan menatap Astrid yang melebarkan matanya semakin takut. Dia bahkan menundukkan kepalanya. “Jadi?” “Trid, emang dia bisa ngomong?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN