“Keknya gue nemu dimana Puzzle kedua!” guman Lia, dia mengambil langkah ke depan dan berjongkok. Mengambil sesuatu dari bawahnya.
Lia lekas berdiri dan menunjukkan potongan puzzle yang dia dapat. Astrid turun dari gendongan Matt, dan menatap puzzle kedua. Potongan kedua terlihat jauh lebih besar, namun bentuknya unik, tidak seperti puzzle pertama yang mereka dapat tadi.
“Ini…mata! Ya…ini memang bagian mata!”
Astrid memperhatikan detail puzzle bagian kedua. Bentuknya memang…mirip mata, tapi ada yang aneh. Rasanya seperti mata, tapi bukan mata. Jadi…apa Astrid salah?
“Keknya memang mata, tapi kalo ngeliat dari bentukannya yang kayak gini…keknya matanya ditusuk juga, bener gak?” Aress memperhatikan puzzle itu seksama.
Yang lain hanya diam, dan memperhatikan. Sambil menatap ke sekeliling mereka. Jelas-jelas tadi di bagian belakang mereka, ada sebuah lorong panjang yang menyeramkan. Namun kini…lorong itu menghilang dan hanya digantikan dengan tembok.
Lia dan Ben saling menatap satu sama lain.
“Menurut lo, lorongnya kemana lagi?”
Ben juga tidak bisa menjawab. Semenjak berada disini, banyak hal mistis yang membuat Ben kehilangan akal sehatnya. Lorong itu benar-benar tidak ada, sama seperti hal yang terjadi sebelumnya.
“Gue…gak tau!” bisik Ben pelan, dia kikuk harus menjawab apa.
Selain itu, dia juga benar-benar kehilangan muka. Perutnya benar-benar tidak bisa diajak kompromi, sejak tiba sudah membuat malu tuannya saja.
Grace dan Christopher ikut mendekat, dan memperhatikan puzzle kedua yang memang sedikit lebih berbeda daripada puzzle pertama.
“Keknya Aress benar, ini memang untuk bagian mata. Tapi matanya emang di tusuk, gue makin ngeri deh makin kesini. Rasanya kek…sekolah kita dulunya banyak misterinya gitu!” ujar Grace, dia merapatkan diri pada Astrid karena tiba-tiba merasakan bulu kuduknya merinding.
“Keknya memang iya, jadi sekarang gimana?”
“Mungkin kita tunggu dulu klue yang kedua, tadi usai kita nemu puzzle yang pertama, bunyi pianonya langsung ada. Tapi ini gak ada, gue jadi heran!”
“Atau mungkin kita salah tebak? Pas puzzle yang pertama, kita cuman bilang itu bagian kepala, trus langsung ada backsoundnya, lah ini…” ujar Astrid.
“Piano, Trid. Bukan Backsound, kita gak lagi main opera…”
“Opera?” ujar Christ, menatap Ben dengan kening berkerut, “maksud lo Teater kali, gada Opera yang pake backsound!” Christopher menatap Ben rendah.
“Ya kan mungkin aja ada, lagian lo kok nyolot banget sih?” guman Ben tidak terima.
“Mungkin Astrid bener, kita mungkin salah nebak ini bagian apa. Tapi yang pasti, ini sudah pasti bagian mata yang di tusuk. Sekarang…kita menebak apa lagi biar musiknya keluar?”
Semua tengah sibuk dengan pikiran masing-masing. Memikirkan apa kiranya hal yang mereka lewatkan hingga bunyi piano itu tidak muncul seperti kali pertama mereka menemukan puzzle.
“Apa mungkin, itu mata sebelah kiri? Dilihat dari posisinya, ini emang mata bagian…”
Lantai tempat mereka berpijak seolah bergetar. Semuanya panik berusaha untuk mencari tempat aman. Namun tidak ada yang berhasil menyelamatkan diri saat tiba-tiba lantai di bawah mereka benar-benar runtuh.
Beruntungnya, mereka terjatuh di atas sesuatu yang empuk.
Astrid memegangi kepalanya yang terasa pening. Dia bangkit pertama kali dan menatap jika mereka ada…di kasur?
Mendadak Astrid lekas turun, diikuti dengan Matthew dan yang lainnya. Mereka menatap kasur putih, namun di penuhi dengan noda darah. Tepat ada di tengah ruangan yang kini sudah berbeda lagi. Auranya semakin terasa horror.
Dan musik piano itu terdengar saat Aress tidak sengaja menyenggol lampu yang ada di sebelah kasur ukuran king size itu.
Kali ini suara pianonya terdengar lebih memilukan daripada sebelumnya. Beberapa menit berlalu, bunyi piano itu tidak berhenti.
Astrid memperhatikan ke arah kasur yang terasa bergerak. Di tengah, seperti ada sepasang manusia yang tengah…berperang? Astrid tidak tahu pastinya, dia terhanyut dalam lamunannya dan memperhatikan arah kasur yang kini sudah berhenti.
Lalu, kasur yang sempat putih, kini dipenuhi dengan bercak darah, seperti sebelumnya.
Aress, dan juga Matthew yang juga melihat itu saling menatap satu sama lain. Kini keduanya tengah berpikir keras.
Astrid memasukkan tangannya ke dalam sakunya, mencari beberapa kali hingga…dia tersenyum dan membuka bungkusan coklatnya. Menggigit bagian kiri, dan membaginya pada Matthew.
Decakan kesal terdengar dari arah belakang. Membuat Astrid membalikkan badannya dan menatap Ben yang menatapnya horor.
“Kenapa? Lo mau?”
Mendadak, wajah Ben yang tadi suram berubah ceria.
Namun hanya terjadi sepersekian detik, karena Astrid hanya mempermainkan Ben.
“Lo tega banget sih, Trid. Gini-gini gue pernah loh berbakti sama lo, tapi buat berbagi makanan aja lo gak bisa? Apa begini cara lo melayani…bukan, maksudnya memperlakukan sahabatmu?”
“Lo bukan sahabat gue!” ujar Astrid—datar.
Ben speechles.
“Jadi selama ini?”
“Lo cuman salah satu manusia aja sih, yang kebetulan deket sama, Matt. Sejujurnya, lo itu lebih cocok jadi tumbal kita saat ini. Dan…lebih baik lo jujur sama kita semua kenapa ada hantu yang terus nempelin lo.”
Astrid mengunyah, dan memperhatikan Ben.
“Gini amat ya punya teman!”
“Bodo amat…jadi gimana? Ada yang bisa ngartiin bunyi piano tadi gak? Capek gue diri terus nih. Matt…gendong!”
Dengan sigap Matt menundukkan dirinya, dan Astrid langsung melompat ke punggung Matt. Menyilangkan kakinya di pinggang Matt dengan mulut yang tetap mengunyah.
“Keknya peliharaan lo udah mau tidur lagi, Matt!”
Christopher tidak memberikan jawaban. Dia masih tidak mengerti apa maksud dari bunyi piano yang kali ini mereka dengar.
Mata sebelah kiri ditusuk, kasur, dan piano yang terlihat mengenaskan. Seolah-olah pemain yang tadi memainkannya dilanda dengan depresi, dan ingin bunuh diri. Dan semakin ke sini, Chris merasa jika ada yang janggal.
Tidak berbeda jauh dengan Chris, Matthew dan juga Aress, sama-sama masih tidak paham kenapa piano tadi berbunyi, namun tidak menunjukkan adanya clue.
“Apa mungkin, korban yang dibunuh itu di perkosa dulu, lalu dibunuh gitu?” celetuk Aress, dia memainkan dagunya dan sesekali memperhatikan ke arah kasur.
Berpikir, apa yang mungkin terjadi bila di kasur. Dan kenapa ada darah.
“Apa mungkin, korbannya diculik pas tidur gitu?” ujar Grace, memberi masukan.
“Kayaknya gak mungkin. Di puzzle pertama, kita nemuin bagian kepala, dan itu artinya dia dibunuh pertama kali di kepala. Kalo dia dicekik di kamar atau di perkosa, keknya gue gak yakin kalo itu.” Lia menatap ke arah Aress, juga Ben.
“Jadi…kalo bukan kedua kemungkinan itu, kenapa ada kasur di sini?”
“Buat tidurlah!” ujar Astrid.